Melati (Istri Yang Tak Dianggap)

Melati (Istri Yang Tak Dianggap)
Bab Tujuh puluh Satu


__ADS_3

Setelah mama bercerita tentang dirinya, Melati masih memilih diam. Ia tak tau harus bicara apa setelah mendengar kenyataan jika ia dan Kai adalah saudara kandung.


Mama memberi waktu buat Melati, ia pamit pulang.


"Mama pamit dulu. Mungkin kamu perlu waktu sendiri. Maafkan, mama"


"Ma, aku sudah memaafkan mama. Aku percaya semua yang terjadi dalam hidup ini adalah takdir dari Tuhan. Kita hanya menjalankan. Aku tak boleh menyesalinya"


"Terima kasih, nak. Karena kamu mau memaafkan mama"


"Ngga perlu terima kasih, ma. Aku yang seharusnya berterima kasih karena mama telah melahirkan aku"


Mama memeluk Melati erat sebelum meninggalkan ruangan tempat Rendra dirawat.


Setelah kepergian mama, Melati mendekati tempat tidur putranya, Melati menatap wajah Rendra yang tampak sedikit pucat.


Sudah satu minggu Rendra tampak kurang ***** makan. Dan sejak kemarin suhu badannya panas.


Melati memegang tangan putranya dan mengecupnya.


"Apa kamu kangen papi, sayang. Sejak seminggu yang lalu kamu selalu memanggil papi. Bunda memang salah, sudah satu tahun bunda membawa kamu pergi menjauh dari papi. Pasti papi juga kangen dengan Rendra. Bunda aja sehari nggak bertemu kamu, rasanya kangen banget"


Melati menangis sambil terus mencium tangan putranya yang saat ini telah berusia dua tahun.


"Bunda janji sayang, jika kamu sembuh ...bunda akan bawa kamu bertemu papi"


Kai masuk ke ruang rawat Rendra tanpa mengetuk pintu. Ia melihat Melati yang menangis sambil mencium tangan putranya.


"Dek..." ucap Kai menyentuh bahu Melati.


"Abang..." ujar Melati kaget


Kai menghapus air mata Melati dan memeluk Melati. Membawa kepala adiknya ke dekapan perutnya. Melati memeluk pinggang abangnya yang berdiri.


"Kenapa abang tak jujur dari awal padaku"


"Abang takut kamu pergi setelah tau kenyataan ini"


"Abang...kalau mau jujur, aku ingin marah rasanya dengan mama. Tapi apa kemarahanku akan mengembalikan keadaan. Aku juga tidak boleh egois. Mama pasti juga sedih selama ini karena mengira aku telah tiada"


"Abang paham dengan perasaanmu. Abang juga salut dengan pikiran dewasamu itu. Mama memang selama ini telah banyak mengeluarkan air mata, berduka karena mengira kedua anak perempuannya meninggal"


Melati melepaskan pelukannya. Baju Kai telah basah karena air matanya.


"Jika kamu telah memaafkan mama, kenapa kamu masih bersedih dan menangis, dek"


"Aku hanya memikirkan Rendra, bang. Aku takut Rendra memiliki penyakit serius"


"Kita doakan saja semua baik baik. Abang boleh temani kamu"


"Tentu saja boleh, bang."


Kai memilih duduk di sofa. Ia memandangi Melati dan putranya.

__ADS_1


Suara ketukan pintu membuat Melati dan Kai menoleh. Melati menyahut mempersilakan masuk.


Pintu terbuka dan tampak sesosok pria masuk berjalan mendekati Melati. Melati tampak sangat kaget.


"Selamat malam , Melati"


"Selamat malam, mas." ucap Melati pelan


Pria itu yang tak lain adalah Jino, ia berjalan mendekati tempat tidur putranya. Seakan tau kedatangan papinya Rendra membuka mata.


"Sayang, ini papi nak" ucap Jino mengusap pipi putranya


"Papi...."


"Iya , sayang...."


Jino memeluk tubuh Rendra. Air matanya jatuh tak terbendung. Setahun sudah ia memendam rindu. Terkadang ia hanya dapat melihat dari kejauhan Melati dan Rendra. Mendengar putranya di rawat, ia tak tahan lagi untuk bertemu.


Jino duduk di ranjang dan memangku putranya. Ia mengecup kepala putranya terus.


"Mas...maafkan aku" ucap Melati pelan


"Kenapa minta maaf"


"Aku salah, aku telah membawa Rendra tanpa izin mas"


"Nggak ada yang perlu dimaafkan , Melati. Kamu nggak salah membawa Rendra, karena ia putramu juga. Tapi yang aku sayangkan kamu juga memutuskan komunikasi antara aku dan Rendra. Aku tak melarang jika memang kamu ingin tinggal bersama Rendra. Kenapa kamu harus menjauhinya dariku"


Rendra yang berada dipangkuan Jino tampak tenang dan nyaman. Ikatan darah dan batin seorang anak pada ayahnya membuat ia merasa nyaman dalam pangkuan Jino.


Setelah makan, Jino membawa Rendra bercanda sebentar sebelum akhirnya ia tidur karena pengaruh obat yang diminumnya.


Jino meletakan Rendra kembali di tempat tidur. Ia melihat ke arah Kai yang duduk di sofa.


"Selamat malam...." ucap Jino ke arah Kai


"Selamat malam. Apa kamu Jino, ayahnya Rendra"


"Iya..." ucap Jino.


Kai berdiri dan mendekat ke tempat Jino. Ia mengulurkan tangannya.


"Kai...abangnya Melati"


"Abang Melati..." ucap Jino. Ia pura pura kaget agar Kai dan Melati tak curiga. Padahal Jino udah tau dari orang suruhannya jika Kai adalah saudara kandung Melati. Makanya Jino tak pernah kuatir Rendra dan Melati tinggal bersama Kai.


Jino telah belajar banyak dari apa yang dilakukan Nia. Saat ini ia lebih berhati hati dalam bersikap dan bertindak.


"Iya, mas. Nanti aku ceritakan semuanya. Mas ...udah makan"


"Makan malam sebenarnya belum..."


"Melati, kamu pergilah temani Jino makan. Biar abang yang menjaga Rendra"

__ADS_1


"Tapi kalau Rendra bangun bagaimana, bang"


"Rendrakan udah biasa sama abang...kamu tak perlu kuatir"


"Abang segera hubungi aku aja kalau Rendra bangun"


"Baiklah. Kamu pergilah makan. Dari siang kamu belum makan"


"Ya, bang. Aku cari restauran terdekat aja"


"Iya...."


"Bang, aku pamit bawa Melati sebentar" ucap Jino.


"Ya...hati hati"


Kai tak pernah tau masa lalu Jino dan Melati. Yang ia dengar dari cerita Melati, mereka berpisah karena kesalah pahaman dan perbedaan prinsip.


Melati tidak pernah sekalipun menceritakan keburukan Jino. Karena baginya tak ada guna mengungkit masa lalu. Lagi pula Jino adalah ayah Rendra.


Melati dan Jino memilih duduk di sudut agar tak terganggu.


"Mas...dari mana kamu tau aku ada di sini. Dan juga Rendra di rawat"


"Aku telah lama tau kamu ada di sini"


"Telah lama...tapi kamu tak menemuiku dan meminta Rendra kembali"


"Melati...aku sengaja tak menemui kamu karena aku ingin memberi kamu waktu untuk berpikir"


"Mas...terima kasih"


"Untuk apa...."


"Karena kamu telah membiarkan aku mengasuh Rendra dan tak melaporkan pada polisi jika aku melarikan Rendra"


"Melati...bagaimana mungkin aku melaporkan kamu. Kamu adalah bundanya Rendra. Jika aku melaporkan kamu, Rendra pasti akan kecewa ketika ia telah besar dan mengetahui ini"


Melati dan Jino terdiam sejenak. Mereka menyantap hidangan. Melati tidak memakan pesanannya, ia hanya minum.


"Kenapa kamu malam itu pergi tanpa pamit. Dan kamu tau, Raka tampak putus asa setelah tau kamu pergi...."


"Mas pasti tau apa yang terjadi di malam itu. Aku tak mungkin menghancurkan hubungan keluarga. Aku sengaja pergi tanpa pamit. Jika Raka tau, ia pasti tak mau aku pergi dan memutuskan hubungan kami. Aku tak boleh egois. Aku tak ingin Raka terpaksa harus memilih antara aku atau keluarga. Raka pasti akan sulit menentukan dua pilihan itu. Untuk itu aku putuskan pergi jauh"


"Mas mengerti maksud kamu, Mel. Dan tentang Kai, kenapa kamu tadi bilang ia saudara kandungmu" ucap Jino. Ia ingin mendengar dari mulut Melati cerita sesungguhnya.


Melati menceritakan semua tentang Kai. Dari awalnya Melati hanya sebagai adik angkatnya dan akhirnya ia tahu jika ia memang adik kandung Kai.


Melati mengatakan semua yang di ceritakan mama padanya. Kenapa ia bisa berpisah dari keluarga.


Jino hanya tau jika Kai adalah kakak kandung Melati dari orang suruhannya. Tapi ia tidak tau cerita lengkapnya. Setelah mendengar dari Melati baru Jino memahami dan mengerti.


Setelah menghabiskan makanannya, mereka kembali lagi ke rumah sakit.

__ADS_1


***************************


Terima kasih


__ADS_2