
Melati memasak buat makan siang. Biasanya Jino akan pulang pada jam makan siang.
Ketika Melati sedang memasak, ia merasakan pinggangnya sakit. Melati tetap terus memasak dengan menahan rasa sakit.
Setelah semua menu yang ia masak telah matang, Melati masuk kamar. Ia membaringkan tubuhnya di kasur untuk sedikit menghilangkan rasa sakit.
Rasa sakit dipinggul dan pinggangnya terkadang hilang. Tapi di lain waktu terasa kembali.
Jino yang baru pulang kerja bersama Rendra, heran karena tak melihat Melati. Biasanya ia selalu menunggu kedatangan mereka di ruang keluarga.
"Melati mana, bi" ucap Jino dengan bibi yang menyambut kedatangannya.
"Di kamar, pak. Ibu bilang badannya capek dan pinggangnya sedikit sakit. Setelah masak ibu langsung masuk kamar buat istirahat "
"Tolong ganti pakaian Rendra dan suapin makannya, bi. Aku mau lihat Melati dulu"
"Baik, pak " ucap bibi dan membawa Rendra masuk ke kamarnya.
Jino membuka pintu kamar perlahan dan melihat istrinya yang tertidur membelakangi dirinya.
Jino naik keranjang dan memeluk pinggang istrinya. Ia mengecup kepala Melati.
Melati membelikan badan menghadap Jino dan tersenyum.
"Mas udah pulang. Maaf aku nggak menunggu, mas"
"Apa yang sakit... " tanya Jino tanpa menjawab ucapan Melati.
"Nggak ada... cuma pinggulku terasa nyeri. Itu juga terkadang terasa tapi terkadang hilang sendirinya"
Jino mengusap pinggul istrinya dengan lembut. Melati bangun dari tidurnya.
"Mas mau makan.... "
"Nanti aja. Kamu istirahatlah. Jika lapar mas bisa makan sendiri"
"Rendra mana, mas"
"Bibi lagi suapin makannya"
"Aku nggak apa kok. Ini hanya karena kandunganku makin membesar. Marilah mas, aku temani makan"
Melati lalu menurunkan kakinya untuk melangkah. Tapi Jino menahannya.
"Udah... kamu di kamar aja."
Jino mengganti pakaiannya dan kembali duduk disamping Melati. Jino mengangkat kaki Melati dan meletakkan diatas pahanya.
Ia mulai memijat kaki Melati pelan. Jino mengusap kaki istrinya yang membengkak.
"Sakit.... " tanya Jino sambil menunjuk kaki Melati
"Nggak, mas. Cuma aku jadi cepat pegal"
"Kalau gitu, jangan paksa masak. Mas nggak apa kalau bibi yang masak. Pasti mas makan juga"
"Nggak apa mas. Aku juga senang melakukannya"
"Mas ambil makannya, ya. Biar mas suapin"
"Nggak usah mas... biar aku makan sendiri aja. Rendra nya kasihan, kalau sama bibi aja"
"Mas bawa Rendra ke sini ya... tapi kamu makan di kamar aja"
__ADS_1
Jino langsung berdiri. Ia meminta bibi mengantar Rendra ke kamar. Jino mengambil sepiring nasi lengkap dengan lauknya.
Rendra bermain tablet di atas tempat tidur dengan ditemani Melati.
Jino duduk ditepi ranjang samping Melati. Ia menyuapi Melati.
"Mas nggak makan.... "
"Setelah ini mas makan... "
Melati memegang pinggulnya dengan sedikit meringis.
"Kenapa sayang. Terasa sakit lagi"
"Iya mas. Hilang timbul rasa sakitnya "
"Habis makan kita periksa ke dokter ya...."
"Nggak usah mas. Mungkin ini karena perutku yang makin membesar.... "
"Bunda...sakit"
"Nggak sayang, hanya sedikit capek" ujar Melati sambil mengusap kepala Rendra.
Setelah menyuapi Melati, Jino mengambil nasi dan lauk buat dirinya. Ia makan sambil menonton di kamar.
"Mas... "
"Ya, sayang"
"Pinggang serta pinggulku makin terasa sakit" ujar Melati
Mendengar ucapan Melati, Jino langsung berdiri dan meletakkan nasinya di atas meja.
Melati hanya mengangguk sambil memegang pinggangnya.
"Kita ke rumah sakit sekarang"
"Apa aku akan melahirkan mas"
"Mas nggak tau sayang. Kamu yang pernah merasakan" ucap Jino panik
"Tanda tandanya seperti mau melahirkan. Tapi perkiraan dokter aku akan lahiran bulan depankan"
"Kalau gitu mas panggil pak Ujang dulu buat siapin mobil"
Jino berlari keluar dari kamar memanggil pak ujang dan memintanya menyiapkan mobil. Setelah itu Jino menghubungi mamanya agar cepat ke rumah.
Jino meminta mamanya untuk menjaga Rendra karena ia tak mungkin membawa Rendra ke rumah sakit.
Setelah menghubungi mamanya, Jino masuk ke kamar. Ia melihat Melati yang mondar mandir dilamar dengan memegang pinggangnya.
"Sayang, kamu mau ganti baju dulu" ucap Jino
"Nggak usah mas... baju ini aja"
"Tunggu sebentar mas ganti baju dulu"
Jino dengan cepat mengganti pakaiannya.
"Mas.... "panggil Melati lagi
"Kenapa, sayang"
__ADS_1
"Aku pipis.... " ucap Melati menunjuk ke lantai kamar yang basah karena air pipisnya.
"Nggak apa sayang. Biar nanti mas minta tolong bibi bersihkan." ucap Jino.
Jino menggendong Melati menuju kamar mandi dan membuka seluruh pakaian yang melekat ditubuhnya. Dan membersihkan tubuh istrinya.
Ia membalut tubuh Melati dengan handuk dan kembali menggendongnya.
Jino mendudukkan dengan pelan Melati diujung ranjang dan mengambil pakaian Melati.
"Mas... baju mas pasti bau"
"Nggak apa... mas bisa ganti lagi"
Dengan telaten Jino memakaikan baju Melati. Dan ia melihat Melati menangis menjadi panik.
"Kenapa menangis, sayang. Makin sakit ya"
"Maafkan aku mas"
"Kenapa harus minta maaf... "
"Aku merepotkan mas.... "
"Siapa bilang kamu merepotkan, mas senang melakukannya. Jangan menangis lagi"
Setelah selesai memakaikan baju Melati, Jino menggendong Melati menuju mobil yang telah terparkir dihalaman rumahnya.
Melati didudukkan dengan pelan di jok belakang. Jino lalu masuk kerumah mengganti bajunya yang kena pipis Melati.
Jino masuk ke kamar Rendra. Ia melihat putranya sedang terlelap. Ia lalu menemui bibi.
"Bi, aku ke rumah sakit membawa ibu Melati. Tolong jaga Rendra. Sebentar lagi mamaku sampai. Ia sedang diperjalanan. Setelah mama datang, tolong bersihkan kamar. Ada pipis di lantai. "
"Baik pak... "
"Aku pergi dulu. Bibi bisa bersihkan kamar sekarang atau tunggu mama. Terserah bibi saja. Terima kasih, ya"
"Sama sama pak."
Jino berlari menuju mobil dan duduk disamping Melati.
"Pak... kita segera ke rumah sakit " ucap Jino panik
"Baik pak.... "
"Hati hati... "
"Iya, pak.... " ucap pak ujang dan mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.
Melati masih saja meringis menahan sakit. Jino mengusap perut dan pinggang istrinya.
"Makin sakit sayang"
"Hhhmmmm" hanya itu jawaban Melati karena ia sedang menahan sakitnya.
Jino membawa kepala Melati ke dalam dekapan dadanya dan mengecup kepala istrinya.
"Ya Tuhan... berilah kemudahan buat Melati, jika memang saat ini ia akan melahirkan anak kami. Berilah ia kekuatan.. dan selamatkan ia serta anak yang ada dalam kandungannya"
**************
Terima kasih
__ADS_1