
Jam sepuluh pagi Raka mengendarai mobilnya menuju rumah tempat tinggal Nia dan Jino. Raka sudah beberapa kali ke rumah ini saat ada acara keluarga yang diadakan di rumah Jino.
Karena Raka udah mengenal satpam rumah Jino, ia diizinkan langsung masuk.
Raka menghentikan mobilnya di halaman depan rumah Jino.
Ia turun dari mobilnya. Raka berjalan perlahan menuju pintu utama rumah Jino. Ia menekan bel rumah itu.
Beberapa saat kemudian bibi membukakan pintu. Bibi itu juga mengenal Raka sebagai anggota keluarga.
"Nia ada ,bi"
"Ada Tuan, lagi di kamar Rendra. Biar bibi panggilkan"
"Biar aku aja yang ke sana. Yang mana kamarnya ,bi"
"Itu tuan. Disamping kamarnya Tuan dan nyonya"
"Terima kasih, bi. Aku permisi dulu mau kekamar Rendra, putranya Jino kan"
"Iya , Tuan"
Raka berjalan menaiki tangga menuju kamar Rendra. Ketika di depan pintu kamar yang terbuka, Raka melihat seorang perawat yang sedang memberikan susu ke Rendra. Sedangkan Nia sibuk bicara di ponselnya.
Raka dapat mengetahui jika Nia sedang bicara dengan Alex. Karena beberapa kali Nia menyebut nama pria itu sambil cemberut. Mungkin Nia masih kesal dengan Alex.
"Janji...besok kamu akan menemuiku. Kalau tidak, aku tak akan pernah memaafkan kamu. Nanti aku tranfers lagi buat kamu. Aku kangen kamu. Aku ingin berada dalam pelukanmu saat ini"
"Hhhhmmmm" deheman Raka menyadarkan Nia. Ia segera menutup sambungan ponselnya.
"Raka.... kapan kamu datang...."
"Sejak kamu mengobrol mesra dengan Alex"
"Kamu bisa aja, Raka. Siapa yang mesra. Alex cuma bertanya tentang Jino"
"Aku mau bicara...."
"Denganku...."
"Ya, berdua saja...."
"Apa Rendra sudah tidur" tanya Nia pada perawatnya.
"Sudah, bu..."
"Letakan ia di tempat tidur . Kamu bisa keluar. Aku harus bicara berdua dengan tamuku"
"Baik, bu"
Perawat itu meletakan bayi itu di tempat tidur dan meninggalkan kamar itu.
Raka berjalan mendekati tempat tidur bayi itu. Dan melihat Rendra putera Melati yang sedang tertidur dengan lelapnya.
"Kamu tak ingin lebih ringan lagi dalam menjaga Rendra"
"Maksud kamu apa Raka" ucap Nia mendekat ke tempat Raka berdiri.
"Kamu bisa meminta Melati setiap pagi hingga siang menjaga puteranya. Bukankah itu jadi lebih meringankan kamu dalam merawatnya"
"Jino tak mengizinkan Melati mendekati puteranya"
"Jino setiap hari bekerja. Jika Melati datang setelah Jino pergi kerja hingga siang hari, ia tak akan tahu"
Nia makin merapatkan tubuhnya pada Raka dan melingkarkan tangannya di leher Raka.
__ADS_1
"Kamu sangat perhatian dengan Melati"
"Aku hanya kasihan dengan Melati, melihatnya sedih karena harus menjauh dari puteranya begitu cepat"
"Apa yang akan kamu berikan jika aku mengabulkannya" ucap Nia mendekat wajahnya ke wajah Raka. Sedikit saja bergerak pastilah bibir mereka bertemu.
Raka melepaskan pelukan tangan Nia di lehernya. Ia duduk ditepi ranjang.
Nia mendekati Raka dan duduk dipangkuannya. Nia kembali mengalungkan tangannya di leher Raka.
" Raka kenapa kamu selalu menolakku. Apa aku kurang cantik"
"Kamu cantik...."
"Ya Tuhan, aku rasanya ingin menghempaskan tubuh wanita ini ke lantai. Tapi jika itu kulakukan, aku takut ia tak mau mengabulkan apa yang aku mau"
"Lalu kenapa kamu tak mau bercinta denganku. Aku sudah menyukaimu sejak pertama kita bertemu. Kamu pasti tau itu..."
"Kamu itu istrinya Jino, sepupuku"
"Jika aku bukan istri Jino ,apa kamu menyukaiku"
"Mungkin...."
Nia mengecup bibir Raka, membuat Raka kaget.
"Kamu kalau kaget begitu, tambah ganteng. Membuat aku ingin mendesah di bawah kukunganmu"
"Bukankah kamu sangat mencintai Alex"
"Jadi kamu tak mau denganku bukan karena Jino, tapi karena kamu tahu aku mencintai Alex"
"Aku juga bersahabat dengan Alex. Nia ...mau sampai kapan kamu membohongi Jino. Apa kamu tak ingin menjadi istri yang baik dan setia hanya untuk Jino. Bukankah Jino sangat mencintaimu"
"Aku tak mencintainya...."
"Apa kamu mau menerimaku, jika aku bercerai dengan Jino"
"Bukankah kamu mencintai Alex dan ingin bersama dengannya..."
"Jika kamu mau menerimaku, aku pasti lebih memilihmu"
Raka kembali melepaskan pelukan Nia dan meletakan Nia disampingnya. Raka lalu berdiri dari duduknya. Dan berdiri di jendela yang menghadap taman.
"Kamu tak mungkin bersamaku. Jino pasti akan membunuhku"
Nia diam sejenak. Ia lalu kembali memeluk Raka dari belakang.
"Lepaskan Nia, nanti Jino bisa tau. Bukankah setiap sudut rumah ini ada CCTV nya"
"Kamar ini belum dipasang CCTV. Baru besok Jino akan memasangnya"
Raka membalikan badan , sehingga kini ia dapat melihat wajah Nia.
"Nia, kamu mengizinkan Melati di sini tiap pagi hingga siangkan"
"Apa yang akan kamu berikan jika aku mengizinkannya..."
"Aku tidak memiliki apa apa yang bisa aku berikan"
"Kamu cukup memberikan tubuhmu setiap Melati akan ke sini"
"Jangan gila Nia, itu berarti aku setiap hari harus melayanimu"
"Tidak perlu setiap hari, tapi cukup tiga kali seminggu. Melati juga bisa datang tiga kali dalam seminggu"
__ADS_1
"Aku tak bisa, aku tak mungkin mengkhianati sepupuku"
Nia mendekati Raka dan tiba tiba ******* bibirnya rakus. Nia menggigit bibir Raka agar membuka mulutnya.
Raka mendorong tubuh Nia cukup kuat sehingga ia hampir jatuh jika saja Nia tidak cepat cepat menyeimbangkan tubuhnya.
"Jangan gila, Nia..."
"Aku memang tergila gila denganmu" ucap Nia kembali ingin mendekati Raka
"Tapi aku tak pernah tertarik denganmu. Apa lagi setelah aku tahu kau bulanlah wanita setia. Aku tak suka pengkhianat , Nia"
"Aku akan ceraikan Jino, dan juga pisah dari Alex"
"Kamu tau, Nia. Sekali orang melakukan pengkhianatan, ia akan terus melakukannya. Sekali kamu selingkuh, itu akan terus kamu lakukan. Itu seperti penyakit kronis. Sulit disembuhkan. Aku tidak sudi menikah dengan wanita pengkhianat. Aku ingin wanita setia"
"Seperti Melati, walaupun ia tahu Jino tak mencintainya. Tapi ia menghargai ikatan pernikahan mereka. Tak pernah ia mencoba mengkhianati Jino"
"Aku pastikan aku tak akan meakukannya lagi"
"Tapi aku benar benar tak tertarik denganmu"
"Jika begitu jangan harap aku akan mengabulkan keinginanmu"
"Aku akan mengirimkan rekaman percakapan kita ini pada Jino" ucap Raka sambil melihatkan ponselnya yang sedang merekam.
"Dasar bajing*n..." Nia mengangkat tangannya ingin menampar Raka, tapi tangannya dengan mudah di tangkap Raka yang dapat membaca apa yang akan Nia lakukan.
"Jangan pernah coba coba menamparku, aku bisa melakukan hal yang lebih gila lagi. Aku memiliki beberapa fotomu saat makan siang bersama Alex. Kamu mungkin tak melihatku"
Raka menunjukan foto Nia bersama Alex. Tapi karena foto itu tak melihatkan kemesraan Nia dan Alex , Raka belum mengirimnya pada Jino.
"Kamu mengikutiku..."
"Untuk apa aku mengikutimu. Kamu bukan istriku. Aku hanya tak suka sejak tau kamu menduakan Jino. Cuma Jino terlalu bodoh karena mempercayai dan mencintaimu"
"Kamu tak akan bisa menghasut Jino. Ia pasti lebih percaya denganku. Apakah kamu lupa saat kamu beritau Jino jika aku jalan dengan Alex, kamu yang sekarang dibenci Jino karena ia anggap kamu memfitnahku...."
"Bagaimana jika aku beri rekaman suara kamu tadi"
"Apa maumu" ucap Nia dengan suara keras
"Izinkan Melati menemui puteranya..."
"Hanya dua kali seminggu" lirih Nia
"Baiklah, itu juga sudah cukup...."
"Aku tau kamu menyukai Melati, akan aku cari bukti jika kamu menginginkan Melati. Mana yang akan terlebih dahulu dicampakan kamu apa aku dari kehidupan Jino. Ia pasti akan marah jika tau kamu menyukai Melati"
"Aku juga akan mengumpulkan bukti yang lebih banyak tentang perselingkuhanmu. Jadi kamu harus berhati hati sekarang."
Nia mengeram mendengar ucapan Raka.
"Oh ya, jangan pernah menyakiti Melati jika kamu tak ingin semua bukti yang aku punya tentang perselingkuhanmu dengan Alex aku kirim pada Jino"
"Kamu punya bukti apa lagi"
Raka melihatkan vidio saat Nia dan Alex memasuki sebuah hotel. Tapi saat itu ia tidak bisa mengikuti Nia karena sedang mengadakan rapat dengan kliennya.
"Jangan main main denganku, Nia. Aku pamit...kapan kamu bisa mengizinkan Melati , kabari aku secepatnya. Aku tahu kamu nggak betul betul menginginkan anak dari Jino. Kamu pasti memiliki maksud lain"
Raka lalu berjalan meninggalkan kamar itu. Nia melempar bantal ke dinding.
"Bajing*n...aku harus lebih berhati hati lagi dengan Raka. Aku harus buat Raka mencintaiku sehingga ia juga akan menuruti apa mauku"
__ADS_1
******************
Terima kasih