Melati (Istri Yang Tak Dianggap)

Melati (Istri Yang Tak Dianggap)
Bab Lima puluh Dua


__ADS_3

Raka menyeret Nia hingga masuk ke mobil. Dan meminta supir mengantarnya hingga kerumah Nia.


Sebelumnya Raka mengancam Nia jika ia memberi berita palsu lagi, ia akan menuntut Nia karena pencemaran nama baik.


Raka membuat surat perjanjian yang menyatakan jika Nia tak akan menyebarkan berita bohong lagi.


Nia masuk ke dalam mobil dengan menahan amarahnya.


"Bajing*n...ternyata Raka dan Jino menjebakku. Aku yang ingin membuat Melati malu, akhirnya mempermalukan diri sendiri. Ini semua karena Alex...dasar pecundang. Aku telah tertipu dengan pria itu"


Jino membawa Melati ke ruang kerjanya. Melati masih menangis. Jino mendekati Melati yang duduk di sofa. Ia dengan ragu membawa Melati ke dalam dekapan dadanya.


Tangis Melati tumpah membasahi baju Jino. Ia mengusap punggung Melati agar wanita itu sedikit tenang.


"Apa masih sakit kepalanya" ucap Jino sambil mengusap rambut Melati


"Aku malu, mas. Aku memang wanita perusak rumah tangga mas. Seharusnya dulu aku menolak permintaan mbak Nia. Aku tak pernah berpikir akan terjadi seperti ini"


"Jangan kamu sesali apa yang telah terjadi. Semua tak akan pernah bisa kembali. Ini semua merupakan takdir dari Tuhan. Ini juga bukan salahmu, Mela...."


Melati menyadari dirinya yang berada dalam pelukan Jino, melepas pelukannya dan sedikit jaga jarak.


"Pasti hari ini berita mengenai aku, mas, Raka dan mbak Nia memenuhi berita online...."


"Semua itu tak akan berlangsung lama. Kamu tenang dan bersabar saja..."


"Iya, mas"


Ponsel Jino berdering. Ia melihat nama mamanya di layar. Jino menyentuh tombol hijau menerima sambungan.


"*Ada apa, ma...."


"Jino, Rendra badannya panas banget..."


"Apa...Rendra demam*..."


Melati yang mendengar nama Rendra, mendekati Jino. Ia juga ingin tau berita anaknya.


"*Ma...tunggu sebentar. Aku pulang. Kita bawa Rendra ke rumah sakit"


"Baiklah, mama juga akan siap siap..."


"Baik, ma. Aku segera pulang*...."


Jino menutup sambungan telepon selularnya. Ia berdiri ingin segera meninggalkan kantor.


"Mas kenapa Rendra"


"Suhu badannya panas, aku harus bawa ia ke rumah sakit. Maaf ...aku tak bisa menemanimu"


"Mas, aku ikut kamu. Aku ingin bersama Rendra"


"Kalau begitu kita segera pulang. Aku tak mau terjadi sesuatu pada Rendra"


Jino dan Melati meninggalkan ruangan itu. Jino meminta sekretarisnya membatalkan semua janji hari ini.


Jino dan Melati langsung membawa Rendra ke rumah sakit. Melihat Melati, mama nggak jadi ikut. Ia ingin memberi waktu buat mereka bersama.


"Karena ada Melati, biar mama di rumah aja. Apa kata dokter , tolong kabari mama secepatnya" ucap mama


"Baiklah, ma. Kami pamit dulu" ujar Melati sambil menggendong putranya.


Rendra di bawa ke rumah sakit milik keluarga Jino. Ia langsung ditangani. Dokter mengatakan Rendra terkena DBD. Ia harus di rawat.

__ADS_1


Melati menidurkan Rendra setelah putranya di pasang selang infus. Melati tak hentinya menangis.


Raka yang mendapat kabar dari Melati jika ia berada di rumah sakit langsung menyusulnya.


Raka mengetuk pintu ruang rawat inap Rendra. Jino yang membukakan pintu.


"Raka...silakan masuk"


"Kenapa Rendra, Jino"


"Ia terkena DBD..."


Raka berjalan ke arah tempat tidur dimana Melati dan Rendra sedang berbaring.


Jino hanya melihatnya dari sofa tempat ia duduk.


"Melati..." ucap Raka pelan sambil memegang lengannya Melati.


Melati memandang kesamping. Ia melihat Raka berdiri dibelakang tubuhnya.


"Raka..." ucap Melati menangis


"Rendra nggak akan apa apa. Ia anak yang kuat. Pasti segera sembuh"


"Iya, Raka. Maaf...aku jadi melibatkan kamu dalam masalahku dan mas Jino"


"Aku memang akan terlibat walau tanpamu. Karena Nia telah lama merayuku. Melati...aku akan berangkat Singapura sore hari ini. Aku akan tiga hari di sana. Kamu nggak apa aku tinggal. Rencananya aku mau kamu sekalian jalan. Tapi ternyata Rendra sakit..."


"Aku nggak apa , Raka. Apa jadwal pemotretanku bisa ditunda sampai Rendra sembuh"


"Nanti aku minta jadwalnya dengan sekretarisku. Mana yang bisa ditunda dan yang harus segera kamu lakukan."


"Terima kasih, Raka"


"Kamu juga jangan telat makan. Alarm jam makan siang, dan makan malammu belum dimatikan"


"Iya, aku pamit ya. Jangan terlalu sedih. Rendra pasti nanti akan merasakan jika kamu sedih"


"Iya, Raka..."


Raka berjalan mendekat ke tempat Jino duduk. Ia ikut duduk di samping Jino.


"Jino, sepertinya kita harus memberikan pelajaran buat Alex. Aku mendengar kabar jika kemarin ia akan menikah. Tapi semua ditunda karena calon istrinya tau kebenaran hubungan Nia dan Alex"


"Aku akan membuat pria itu menerima semua yang pernah ia lakukan padaku"


"Aku akan ke Singapura tiga hari, aku titip Melati. Pasti saat ini ia sedang banyak pikiran karena masalah Nia dan juga Rendra yang sakit. Tolong jaga Melati"


"Baiklah , Raka "


"Tanpa kamu mintapun aku akan selalu menjaga Melati. Tak akan aku biarkan siapapun menyakitinya."


Setelah Raka pergi, Jino mendekati ranjang tempat Melati dan Rendra terbaring.


"Melati...."


"Iya, mas..."


"Pindahlah ke tempat tidur di sana. Biar gantian aku yang jaga Rendra. Kamu istirahat aja dulu sana"


"Nggak apa mas. Aku masih ingin di dekat Rendra"


Melati terus mengusap pipi putranya dengan air mata yang terus mengalir.

__ADS_1


"Melati, jangan menangis terus. Rendra tidak apa apa. Trombositnya tidak terlalu rendah. .."


"Mas, nanti setelah Rendra sembuh apa aku boleh membawanya menginap di apartemenku"


"Mas sih sebenarnya tak keberatan. Tapi bagaimana nanti kalau kamu kerja, Rendra sama siapa"


Melati diam mendengar ucapan Jino yang memang benar adanya.


"Bagaimana jika kamu yang menginap di rumah mama"


"Aku pikirkan lagi ya, mas. Tapi jika aku nggak ada pemotretan aku bawa Rendra menginap."


"Iya, kamu tinggal ngomong aja. Nanti aku antar keapartemenmu"


"Terima kasih ,mas..."


"Kenapa harus berterima kasih, Melati. Rendra putramu juga"


"Mas, aku belikan makanan buat makan malam dulu ya. Sekalian aku mau ambil pakaian. Mumpung Rendra masih tidur."


"Biar aja aku yang belikan, Melati"


"Pakaianku bagaimana mas"


"Mas beliin aja ya. Mas harap kamu tak menolaknya" ucap Jino sebelum Melati menolak


"Baiklah. Hati hati, mas"


Jino meninggalkan kamar rawat inap menuju sebuah mall terdekat dari rumah sakit. Setelh membeli pakaian dan makanan ia kembali.


Jino melihat ada banyak buah dan roti di atas lemari samping tempat tidur.


"Siapa yang beli buah dan roti itu, Melati"


"Mama, tadi datang saat mas baru aja meninggalkan kamar ini"


"Sekarang mama mana..."


"Udah pulang. Malam ini mama ada arisan..."


"Ini makan malamnya dan baju buatmu. Mandilah, aku juga telah membeli peralatan mandi didalamnya"


"Tapi Rendra bangun, mas"


"Nggak apa, biar mas yang jagain"


Melati masuk kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Setelah itu baru giliran Jino yang mandi. Sementara menunggu Jino mandi, Melagi menyuapi Rendra makanannya. Saat ini usia Rendra telah memasuki sembilan bulan.


.............


Pagi harinya, Jino terbangun dari tidurnya. Melati tidur di kasur sedangkan Jino tidur bersama Rendra menggantikan Melati yang tidur dekat Rendra hingga pukul tiga pagi.


Jino mendekati Ranjang Melati. Di kamar ini memang tersedia spring bed dua. Satu buat pasien dan satu buat penjaganya.


Kamar rawat yang ditempati Rendra ini kamar khusus keluarga besar Jino jika sakit dan memerlukan perawatan.


Jino melihat Melati yang terlelap dengan nyenyaknya. Tampaknya ia masih larut dalam alam mimpinya.



"Melati...seandainya kita setiap harinya begini, berada dalam satu atap bertiga...pasti aku akan sangat bahagia. Aku tau semua akan sulit, karena aku melihat kedekatanmu dengan Raka yang makin intens. Aku tak tau apakah ini juga karma bagiku Melati, aku yang dulunya tiap hari harus menyalurkan hasratku, saat ini tak bisa kulakukan lagi. Aku bukannya tidak pernah mencoba untuk melakukannya, aku telah berusaha mendekati wanita untuk kuajak bercinta tapi nafsuku hilang seketika kala kuingat dirimu, Mela. Dan melihatmu tertidur begini saja, aku rasanya ingin memakanmu ...aku harus mati matian menahan semua gejolak hasrat di tubuhku saat ini"


********************

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2