Melati (Istri Yang Tak Dianggap)

Melati (Istri Yang Tak Dianggap)
Bab Empat puluh Empat


__ADS_3

Melati keluar dari kamar Rendra meninggalkan Jino yang masih terduduk sambil menangis.


Jino naik ke ranjang dan mengusap pipi Rendra


"Sayang, papi janji akan membuat bundamu kembali lagi. Dan kita akan hidup menjadi satu keluarga yang utuh"


Melati melangkah ke dapur dan menemui mama Jino.


"Ma, aku pamit pulang"


"Makan malam di sini aja, Melati. Mama udah masak banyak. Bukankah Raka belum datang menjemputmu"


"Aku pakai taksi aja pulangnya, ma"


"Biar aku yang antarkan" ucap Jino, yang entah sejak kapan sudah berdiri dibelakang Melati.


"Nggak perlu ,mas. Aku bisa pulang sendiri"


"Melati, kita makan malam dulu. Tunggu Raka aja kalau kamu nggak mau Jino mengantarmu"


"Aku ada janji, ma. Maaf...lain kali aja aku makan malamnya. Mas, benarkan jika aku boleh datang lagi untuk bertemu Rendra"


"Tentu saja, Melati. Kapanpun kamu mau, pintu rumah ini terbuka untukmu"


"Mas, jika aku datang lagi. Aku akan bawa surat gugatan cerai kita"


"Melati, bisakah kamu menunda pembicaraan mengenai itu" ucap Jino.


"Mas, apa yang harus di tunda lagi. Secara agama kita sudah bercerai. Jadi buat apa kamu menggantung statusku"


"Aku akan pertimbangkan nanti, Melati. Kamu yakin ingin pulang dengan taksi. Kamu tak takut supir taksi melakukan hal yang tidak sepantasnya"


"Maksud mas apa"


"Lihatlah Melati, kamu itu wanita cantik dan berpakaian sedikit seksi. Itu bisa mengundang pria berbuat nakal. "


"Aku bisa jaga diri, mas. Aku pamit dulu, ma. Maaf ma, aku tak bisa lama lama "


"Baiklah. Melati, minggu depan mama akan mengadakan pesta ulang tahun yang ke lima puluh. Mama mau kamu hadir. Mama ingin seluruh keluarga mengenal Rendra dan bundanya"


"Aku usahakan jika tak ada jadwal kerja, ma"


"Kamu kerja..."


"Ya, ma..."


"Kerja apa..."


"Kerja apa saja ,ma. Yang penting halal dan bisa buat menyambung hidup"

__ADS_1


Melati menyalami dan mencium tangan mama Jino sebelum pamit. Ia menghubungi Raka mengatakan jika tak perlu menjemputnya.


Tanpa Melati sadari, orang kepercayaan Jino mengikutinya dari belakang.


..............


Sudah hampir satu minggu Melati selalu disibukan dengan jadwal pemotretannya. Setelah hampir magrib baru ia sampai di apartemen.


Raka selalu mengantar Melati hingga parkiran apartemennya saja.


"Mampir dulu, Raka"


"Nggak usah Melati. Aku langsung pulang aja. Kamu besok jadi ikut ke acara ulang tahun tanteku"


"Bolehlah, tapi aku siang ke butik dulu cari pakaian. Apa besok aku ada jadwal pemotretan, Raka"


"Sepertinya nggak. Tapi minggu depan jadwalmu penuh karena designer ternama itu memulai kontraknya minggu depan. Ia akan memakai kamu sebagai modelnya. Dua hari lagi kita akan tanda tangani kontrak"


"Terima kasih , Raka. Karena kamu aku sekarang memiliki pekerjaan"


"Ini juga karena usahamu. Aku yakin minggu depan karirmu dimulai. Kamu akan menjadi model ternama. Foto fotomu akan terpajang di berbagai majalah. Setelah itu kamu pasti akan mulai dilirik buat jadi bintang iklan"


"Aku tidak pernah bermimpi terlalu tinggi begitu, Raka. Saat ini aja itu sudah sangat jauh dari impianku. Aku tak pernah mengira akan sampai ke tahap ini. Semua karena kamu"


"Jangan berkata begitu, kamu pantas mendapatkan hasil dari kerja kerasmu. Aku pamit, besok habis mangrib aku jemput. Kamu nggak usah aja datang besok. Istirahat aja di rumah, siang kamu mau ke butikkan. Tapi mungkin aku tak bisa menemani"


"Aku bisa pergi sendiri. Masa kamu harus menemani aku terus"


"Oke, bos"


Raka tersenyum melihat Melati yang sudah tampak sangat riang saat ini. Ia berharap Melati bisa melupakan semua kejadian pahit dalam hidupnya.


"Aku senang melihatmu yang sudah bisa tersenyum Melati. Aku tak akan biarkan air mata jatuh lagi di pipimu"


Melati melihat ada sebuket bunga tulip putih dengan kartu bertuliskan Maafkan Aku Melati, tanpa nama pengirim di depan pintu apartemennya.


Melati mengambil bunga itu dan membuka pintu apartemennya. Ia meletakan bunga diatas meja. Sudah empat hari ini Melati selalu mendapat kiriman buket bunga di depan pintu apartemennya.


"Dari siapa ya bunga ini. Kenapa sipengirim meminta maaf. Apa dari mas Jino, tak mungkin. Kenapa ia harus mengirim bunga. Ia pasti akan datang langsung jika mau meminta maaf. Jika bunga ini dari mas Jino, berarti ia tau dimana aku tinggal saat ini."


..............


Malam ini pesta ulang tahun mama Jino akan diadakan di rumah kediamannya. Melati memutuskan untuk datang bersama Raka.


Raka menjemput Melati pukul tujuh malam. Jalanan di malam hari ini mengalami kemacetan di mana mana.


Di rumah kediaman mamanya Jino, para tamu undangan yang terdiri dari keluarga besar papa dan mama sudah pada berkumpul.


Jino duduk gelisah dengan mata yang selalu memandang ke arah pintu.

__ADS_1


"Apa Raka dan Melati tidak jadi hadir. Apa Raka tidak mengizinkan Melati datang, tapi tak mungkin ia melarang. Atau Melati yang tak ingin hadir sehingga Raka juga tak mau hadir. Apa Melati tau jika bunga yang selalu ada di apartemennya dariku. Kenapa aku jadi gelisah begini"


Pesta diadakan di taman belakang rumahnya. Mama Jino sudah maju ke depan tepat di meja tempat kue ulang tahunnya terletak.


Pembawa acara sudah memulai acara dengan kata sambutan dari mama Jino. Dilanjutkan dengan pemotongan kue.


Jino makin gelisah karena acara sudah di mulai tapi orang yang ditunggunya nggak juga datang.


Mama Jino memanggil dirinya untuk maju. Mama ingin memberi suapan pertama buat anaknya.


Setelah mama menyuapi Jino. Ia melihat Raka masuk bersama Melati.


"Untuk suapan kue kedua saya berikan pada menantu saya Melati...sini sayang maju" ucap mama membuat semua mata memandang kearah mata mama Jino tertuju.


Semua keluarga melihat Melati yang datang berdua dengan Raka, menjadi heran. Kenapa mama Jino mengatakan wanita itu menantunya.


Melati maju kehadapan mama Jino setelah Raka memintanya.


"Kenalkan ini Melati, istri kedua Jino. Ia telah memberi aku seorang cucu ganteng yang bernama Rendra. Nanti aku kenalkan cucu aku ya. Saat ini ia tertidur." ucap mama sambil memeluk pinggang Melati.


Jino yang melihatnya jadi tersenyum. Akhirnya orang yang ia tunggu datang. Mama menyuapi kue ke Melati.


Setelah itu Melati meminta mic yang ada ditangan mama.


"Selamat malam semua. Maaf saya meminta waktunya sebentar. Perkenalkan nama saya Melati, saya ini hanya mantan istri kedua mas Jino. Karena saat ini kami telah berpisah secara agama. Pasti semua bertanya kenapa saya bisa datang bersama Raka, itu karena saat ini saya bekerja di agensi Raka. Terima kasih..."


Mama kaget mendengar ucapan Melati, begitu juga dengan Jino dan Raka. Mereka tak berpikir jika Melati berani berterus terang begitu.


"Melati, bagi mama kamu tetap menantuku. Karena kamu bunda dari cucuku satu satunya" ucap mama pelan.


"Terima kasih karena mama masih menganggap aku sebagai menantu. Aku menjelaskan semuanya agar tidak terjadi kesalah pahaman karena aku datang bersama Raka. Maaf , ma. Apa sekarang aku bisa kembali ke tempat, ma...."


"Maaf ma , aku harus mengatakan itu karena aku tak mau orang berpikiran jelek pada Raka. Ia telah banyak menolongku selama ini. Aku tak bermaksud menyakiti hati mama atau mas Jino, aku hanya menjaga nama baik Raka. Aku tak ingin nanti gara gara aku, keluarga mama jadi bertengkar."


"Silakan, Melati..."


Melati berjalan mendekat ke arah Raka berdiri. Acara selanjutnya dimulai dengan ucapan ulang tahun dari keluarga inti.


Seluruh keluarga tampak berbisik bisik tentang Melati, Jino dan Raka.


Jino sempat mendengar ada saudaranya yang berkata jika ia pria yang bodoh melepaskan wanita secantik Melati. Dan ada juga yang bicara jika Raka adalah penyebab perceraian mereka. Raka berselingkuh dengan istrinya.


Mereka juga bicara tentang perceraian Jino dan Nia yang tak pernah mereka sangka. Karena semua tau betapa Jino yang sangat mencintai Nia.


Mama Jino sudah menjelaskan jika perceraian Jino terjadi karena Nia selingkuh.


Tapi keluarga banyak menduga perselingkuhan Nia didorong karena Jino yang menduakan Nia dengan menikahi Melati.


"Astaga Melati, aku tak mengira jika keluargaku bisa menyimpulkan tanpa bertanya dulu. Mereka tidak tau kejadian yang sebenarnya. Mereka hanya bisa menghakimi. Melati, kenapa kamu takut orang tau jika kamu istriku, kenapa kamu langsung membantah jika kita pasangan suami istri. Apa begitu besarnya keinginan kamu untuk berpisah denganku. Tak adakah kesempatan buatku merebut hatimu kembali. Aku kangen saat memeluk tubuhmu dan mencium wangi tubuhmu. Aku kangen masakanmu, aku kangen semua yang ada pada dirimu."

__ADS_1


*****************


Terima kasih


__ADS_2