
Hari ini Jino dan Rendra akan menjalankan pengambilan sampel sumsum tulang belakang.
Melati didampingi Kai dan Mamanya serta mama Jino. Kai terus saja memeluk adiknya memberikan kekuatan.
Melati tak bisa menahan tangisnya ketika melihat Rendra yang harus melakukan pengambilan sumsumnya. Rendra menangis ketika dokter melakukan anestesi dipunggungnya.
Melati menangis didada Kai melihat Rendra yang kesakitan.
Prosedur aspirasi sumsum tulang biasanya dilakukan oleh dokter spesialis penyakit dalam, terutama konsultan hematologi dan onkologi medik (KHOM). Aspirasi sumsum tulang bisa dilakukan di klinik atau rumah sakit terdekat dan umumnya berlangsung selama 30 menit.
Setelah pengambilan sampel sumsum belakang Rendra dan Jino di pindahkan ke ruang rawat. Melati meminta Jino dan Rendra berada di kamar yang sama agar ia bisa menjaga keduanya sekaligus.
Jino membuka matanya. Ia merasakan nyeri dipunggung bekas sayatan tadi saat pengambilan sampel sumsum tulang belakangnya.
Melati yang sedang menggenggam tangan Rendra melihat pergerakan Jino, lalu mendekatinya.
"Mas, mau apa..."
"Aku haus, Mel"
"Biar aku ambilkan. Mas jangan banyak gerak dulu. Biar bekas sayatannya cepat mengering"
"Maaf, Mel...aku jadi merepotkan kamu"
"Jangan bicara begitu, mas. Aku tak pernah merasa direpotkan" ujar Melati dan mengambilkan Jino segelas air putih. Melati membantu Jino buat minum
"Bagaimana Rendra, Mel..."
"Tadi ia telah sadar, dan saat ini kembali tertidur. Mungkin pengaruh obat juga, mas"
"Semoga saja sumsum aku cocok dengan Rendra , Mel. Dan ia kembali pulih. Sehingga kamu tak terbebani karena terpaksa kembali menikah denganku"
"Mas, jangan bicara begitu. Aku tak terbebani...aku hanya ragu buat menikah kembali dengan mas karena aku menimbang perasaan keluarga mas dan Raka. Aku tak mau karena pernikahan ini hubungan keluarga mas menjadi renggang"
"Apa kamu mau menikah denganku hanya demi Rendra...tak ada sedikitpun cinta"
"Mas...saat ini kamu masih dalam tahap pemulihan. Mas jangan banyak pikiran dulu. Mas pernah katakan jika kita akan membahasnya setelah pendonoran terjadi."
"Iya, Mel. Aku hanya ingin tau, tapi nggak perlu kamu jawab sekarang. Mama dan Abang Kai kemana, Mel"
"Tadi pulang buat mengambil pakaianku. Dan mama mas juga pulang buat mengambil baju buat mas"
"Kamu udah makan, Mel"
__ADS_1
"Mas, kenapa aku yang mas pikirkan. Apa mas mau makan. Aku suapin ya..."
"Jika itu tak memberatkan kamu"
"Mas...aku nggak suka kamu bicara begitu. Aku ikhlas melakukan semuanya."
Melati menyuapi Jino dengan telaten. Saat pintu kamar rawat inap diketuk, Melati mengira itu mamanya. Ia hanya menyahut mempersilakan masuk.
Setelah pintu terbuka tampak Raka dan Kimberley berjalan masuk.
"Raka...aku kira tadi mama dan abang Kai yang datang" ujar Melati
"Masuklah...." ucap Jino
Raka dan Kimberley mendekati tempat tidur Jino. Melati pamit duduk di dekat tempat tidur Rendra.
"Kenapa kamu nggak pernah cerita sama keluarga jika Rendra sakit" ucap Raka
"Aku hanya belum sempat, karena aku dan Melati sibuk buat pengobatan Rendra"
"Bukan karena kamu nggak menganggap aku keluarga lagi"
"Jangan prasangka buruk, Raka"
Melati dan Kimberley yang mendengar ucapan Raka serempak memandang ke arah Raka.
"Kenapa kamu tanyakan itu"
"Kamu tau selama ini dimana keberadaan Melati. Kamu mengawasinya. Buktinya ketika Rendra sakit kamu langsung menemuinya"
"Aku selama ini hanya ingin memberikan waktu buat Melati berpikir. Agar ia bisa menentukan langkah apa yang akan ia ambil"
"Kamu yakin itu alasannya..."
"Raka...apa kamu pikir aku sengaja menyembunyikan keberadaan Melati darimu karena aku ingin merebutnya darimu"
"Aku tak berkata begitu"
"Jadi maksud kamu apa bertanya itu"
"Aku hanya kecewa karena kamu nggak jujur padaku. Aku nggak tau apa sebenarnya yang ada dipikiranmu"
Melati yang dari tadi hanya mendengar akhirnya angkat bicara.
__ADS_1
"Raka...maaf jika aku ikut campur. Aku kira mas Jino tak pernah bermaksud apa apa jika ia menyembunyikan keberadaanku. Aku bukan ingin membelanya. Karena selama ini juga mas Jino tak pernah menemuiku. Aku percaya jika mas Jino sengaja memberi waktu bagiku untuk menata hati. Ia ingin aku memikirkan semuanya sebelum menentukan langkah apa yang aku ambil. Walau mas Jino tidak menemuiku, aku udah ada niat ingin kembali ke Jakarta untuk menyelesaikan masalahku denganmu. Tapi Rendra ternyata sakit. Niatku akhirnya di tunda. Aku minta maaf jika semua yang aku lakukan menyakitimu. Ini semua salahku, kamu berhak marah padaku...."
"Udahlah Melati, tak perlu pembelaanmu. Aku sudah cukup tau apa yang terjadi selama ini dibelakangku. Terkadang orang terdekat kitalah yang akan mengkhianati kita" ucap Raka sinis.
"Raka...kita bisa bicara empat mata setelah aku sembuh. Aku tak mau berdebat karena aku sedang sakit. Dan aku tak mau suara kita mengganggu istirahat Rendra. Aku dulu sangat mengagumi sifat dewasamu, kenapa saat ini kamu tak menunjukan itu lagi. Kamu langsung saja berburuk sangka atas apa yang aku lakukan. Tak mau mendengar penjelasanku ataupun Melati. Kamu tak ingin seperti diriku bukan. Karena tergesa mengambil kesimpulan dari apa yang aku lihat, akhirnya penyesalan yang aku dapat"
"Jino...aku pikir Raka tak salah. Ia pantas mencurigai kamu sengaja menyembunyikan keberadaan Melati karena kamu ingin menjalin hubungan kembali dengannya" ujar Kimberley
"Maaf, Kim...ini tak ada hubungan denganmu. Jadi jangan ikut campur"
"Aku ini kekasihnya Raka...."
"Kekasih saat ini. Tapi masalah antara Melati , aku dan Raka terjadi sebelum kamu hadir kembali di hidup Raka"
"Bee, Jino benar. Kamu sebaiknya tak ikut campur. Maaf...aku salah. Memang tak seharusnya aku membahas masalah ini , karena kamu dan Rendra sedang sakit. Melati...maaf"
"Nggak apa, Raka. Kamu nggak salah"
"Bagaimana keadaan Rendra."
"Aku harap sumsum tulang belakang mas Jino cocok sehingga ia bisa menjalani transplantasi segera"
"Melati...aku doakan semuanya baik baik aja. Dan Rendra kembali pulih. Kamu jangan terlalu kuatir. Jika Jino tidak cocok, sebaiknya kita usahakan dengan cara lain"
"Jangan kuatir, Raka. Apapun akan kami lakukan untuk kesembuhan Rendra...."
"Aku pamit dulu. Maaf ...atas sikapku tadi. Aku terbawa emosi karena mendengar kamu kembali dari Singapura bersama Melati"
"Nggak apa...aku mengerti" gumam Jino
Raka dan Kimberley meninggalkan ruang rawat inap itu.
"Kamu kenapa minta maaf pada Jino. Kamu nggak salahkan jika mencurigainya"
"Aku tau maksud Jino itu. Aku percaya jika ia tak bermaksud buruk."
"Kamu terlalu baik dan naif" lirih Kimberley
"Aku mengenal baik siapa Jino. Dari kecil kami selalu bersama. Aku tau ia tak berbohong. Dan aku minta kamu juga jangan terlalu ikut campur urusanku. Aku masih belum bisa percaya sepenuhnya padamu, Bee...jangan buat aku jadi tak nyaman saat aku baru mau memulai hubungan kembali"
"Aku hanya tak suka kamu dan Jino yang tampak masih sangat mencintai Melati. Bagaimana kamu bisa menerimaku sepenuh hati jika separuhnya masih terisi nama Melati."
******************
__ADS_1
Terima kasih