
Setelah seminggu di rawat, Jino akhirnya kembali ke rumah. Ia masuk ke kamar Rendra dan mengambil pakaian putranya. Ia sangat merindukan putranya itu.
"Melati...kenapa kamu membawa putra kita. Aku tak ingin menemuimu bukan karena aku tak peduli dengan Rendra atau kamu. Tapi aku sengaja ingin membiarkan kamu menenangkan diri. Aku tau perasaanmu saat ini pasti sedang sedih karena impianmu untuk menikah dengan Raka tak bisa terwujud. Aku hanya selalu berdoa semoga kamu dilindungi Tuhan dan bahagia. Aku akan tetap menunggu saat kamu datang membawa buah cinta kita."
Jino telah kembali beraktifitas lagi. Ia pergi ke kantor pagi seperti biasanya. Jino melihat mamanya yang sedang sarapan.
"Jino, kamu nggak sarapan"
"Nanti dikantor aja, ma"
"Sarapanlah dulu. Nanti kamu melewatkan sarapan"
Jino duduk dihadapan mamanya. Bibi membuatkan kopi buat Jino. Dan memberikan sepiring mie goreng buat sarapan Jino.
Jino hanya mengaduk mie dipiringnya dengan sendok , tanpa menyuapi.
"Kenapa hanya diaduk saja. Di makan , Jino" tegur mama
"Ma...aku kangen Rendra"
"Mama juga. Apa tidak sebaiknya kita laporkan ke polisi"
"Nggak perlu, ma. Melati bundanya Rendra, aku tak mau membuat ia malu. Dan aku juga yakin Rendra dijaga dengan baik oleh Melati"
"Kamu nggak mencoba cari tau dengan orang kepercayaanmu"
"Aku sudah tau kemana ia membawa Rendra"
"Kamu tau...dimana, nak"
"Singapura...."
"Singapura....kenapa kamu tak menyusulnya"
"Aku hanya ingin memberi waktu buat Melati. Ia pasti saat ini masih bersedih. Biarlah ia bersama Rendra. Mungkin Rendra bisa mengobati lukanya"
"Kamu mengawasinya"
"Iya, ma...."
Tanpa Melati tau, Jino memang meminta orang kepercayaannya untuk selalu mengikuti Melati. Ia hanya takut Nia menyakitinya.
Dan saat ini Jino juga meminta orang kepercayaannya mencari tau hubungan antara Melati dan Kai. Jino mendapat informasi jika Melati tinggal bersama orang tua Kai di Singapura.
__ADS_1
...............
Satu tahun kemudian
Raka yang sedang disibukan dengan jadwal pemotretan modelnya dikejutkan dengan kedatangan Kimberley. Sejak ia kembali , Kimberley selalu menyempatkan waktunya mengunjungi Raka. Dalam setahun ini ia telah berusaha membuat Raka kembali mencintainya.
Kimberley langsung saja masuk dan memeluk Raka dari belakang saat pria itu sedang memperhatikan jalannya pemotretan.
"Melati...." ucap Raka dan membalikan tubuhnya. Ia kaget melihat Kimberley yang memeluk tubuhnya.
"Ada perlu apa ..." ucap Raka dengan ketus
"Aku kangen..." ucap Kimberley membuat model yang berada diruangan itu kaget mendengarnya.
"Jangan ngomong sembarangan, bee. Semua orang di sini tau jika aku pacaran dengan Melati"
"Melati sudah pergi meninggalkan kamu. Untuk apa lagi kamu memikirkan wanita itu lagi, Raka"
"Itu bukan urusanmu ..."
"Mau sampai kapan kamu menunggu ia kembali. Sampai lima tahun, seperti saat aku pergi"
"Bee...pergilah. Jangan buat aku berkata kasar denganmu"
"Bee, jaga ucapanmu. Aku tak mau berdebat"
"Kenapa...kamu harus akui jika aku lebih segalanya dari Melati. Semua keluargamu juga merestui hubungan kita"
Raka menarik tangan Kimberley keluar dari ruang studio itu.
"Apa yang kamu inginkan, Bee..."
"Raka...apa yang aku katakan itu benar, bukan. Hubungan kita dari dulu hingga saat ini direstui seluruh keluargamu. Apa lagi yang kamu pikirkan. Jika bersama Melati, kamu tak mungkin bisa melangkah ke jenjang yang lebih serius. Keluarga tak ada yang merestui. Kenapa kamu tidak mau menikah denganku saja"
"Kamu lupa, bee. Dulu aku pernah memintamu menikah denganku. Tapi kamu yang menolaknya. Kenapa saat ini kamu yang ingin menikah denganku. Apa kamu udah lupa dengan penolakanmu dulu"
"Raka, maafkan aku. Dulu yang ada dipikiranku hanya kuliah dan karier. Saat ini aku ingin memulai semuanya dari awal. Kenapa kita tak mencobanya. Aku tau kamu masih mencintaiku. Aku mohon Raka, beri aku satu kali kesempatan lagi. Kamu bisa cari tau, apa yang aku lakukan selama di luar negeri. Aku hanya belajar dan bekerja. Aku menyesali keputusanku yang meminta kamu menjauh dariku. Aku sadar, Raka. Cuma kamu yang ada dihatiku. Apakah waktu setahun kita bersama kembali saat ini tak bisa membuat kamu melupakan kesalahanku. Lupakan Melati. Mungkin ia bukan jodohmu. Apa yang kamu harapkan. Jika ia memang mencintaimu, ia akan memberi kabar"
"Apa selama kamu di luar negeri kamu memberi kabar padaku. Itu apa bisa dikatakan cinta juga"
"Kamu yang menutup akses buatku berkomunikasi. Kamu memblokir nomorku. Dengan tante Erma, aku selalu bertanya kabarmu"
"Melati...apa aku harus melupakankanmu. Apa benar kamu tak pernah mencintaiku. Apa benar rasa itu hanya sebagai rasa terima kasihmu padaku, hanya untuk membalas budiku"
__ADS_1
....................
Sementara itu di Singapura, Melati sedang menangis di samping tempat tidur Rendra.
Saat ini Rendra sedang di rawat disalah satu rumah sakit ternama di Singapura.
Mama Kai, menemani Melati yang sedang menunggu Rendra.
"Ma...Rendra tak apa apakan ma"
"Kita berdoa aja yang terbaik buat Rendra"
"Aku takut ma..."
"Kita lihat besok hasil lab, sakit apa yang sedang Rendra derita. Semoga tidak ada penyakit serius..."
"Ma...maaf. Setahun ini aku selalu merepotkan mama dan abang Kai"
"Melati ...mama tak merasa kamu repotkan. Melati...ada yang mau mama katakan. Mama tau ini bukan waktu yang tepat. Karena kamu sedang sedih. Tapi mama tak bisa sembunyikan kebenaran ini lagi, nak"
"Kebenaran apa, ma..."
"Melati...kamu sebenarnya adalah anak kandung mama dan adiknya Kai"
"Maksud mama apa..."
Mama Kai menceritakan semua kisah masa lalu Melati, yang sebenarnya bernama Richelle.
"Mama minta maaf, Richelle. Mama tak bermaksud menelantarkan kamu. Mama saat itu hanya fokus untuk pengobatan Micehelle. Mama tak mau kehilangan anak mama. Tapi karena kelalaian mama, pada akhirnya mama tetap kehilangan salah satu putri mama. Mama tak menyangka jika Erik dan Mia membawa kabur kamu"
Melati hanya terisak mendengar penuturan mamanya. Ia tak mengira jika selama ini ia hidup bukan dengan kedua orang tua kandungnya.
"Richelle...eh Melati...mama tau tak mudah bagimu menerima semau ini. Kamu berhak membenci mama. Kamu boleh mencaci maki mama, tapi mama mohon jangan tinggalkan mama. Mama sudah lama memendam rasa bersalah ini, mama juga telah menerima akibat perbuatan mama. Mama harus kehilangan Michelle untuk selamanya. Jadi sekali lagi mama minta padamu, maafkan mama...jangan pergi tinggalkan mama. Bicaralah, nak. Jangam diam aja. Jangan buat mama merasa tambah bersalah seperti ini" ucap mama menggenggam tangan Melati.
Kai yang baru sampai di rumah sakit itu , mengurungkan niatnya untuk masuk setelah mendengar ucapan mama. Ia memilih tetap berdiri didepan pintu.
"Aku nggak tau apa yang aku rasakan saat ini, Ma. Di satu sisi aku bahagia, karena ternyata aku masih memiliki keluarga. Dan di satu sisi aku sedih mendengar kenyataan ini, karena ternyata aku hanyalah seorang anak yang ditelantarkan kedua orang tuanya"
"Melati...mama dan papa tidak pernah bermaksud menelantarkan kamu. Niat kami semula hanya menitipkan sementara kamu pada Erik dan Mia untuk diasuh. Tapi kami tak tau jika akhirnya Erik membawa kamu pergi. Kami telah mencoba mencari keberadaan kamu. Jika kami tak melaporkan kehilangan itu di kantor polisi, karena kami tak memiliki waktu yang banyak. Kami harus tetap menjalankan pengobatan Michelle. Dan setelah kamu dan Michelle berumur dua tahun, papa kembali dipindahkan ke Kuala Lumpur. Mama harus ikut papa. Kami hanya mencari keberadaanmu saat kami liburan di Indonesia. Dari salah satu pekerja yang mengenal Erik, kami mendapat kabar jika anak Erik meninggal. Kami pikir itu kamu. Baru setahun yang lalu ketika Kai menyelidiki kembali, kami tau jika yang meningggal itu anak kandungnya..."
"Ya Tuhan...apakah aku harus bahagia mendengar semua kenyataan ini. Tapi aku tak habis pikir, kenapa papa dan mama langsung percaya aku telah meninggal. Apa memang aku ini tak pernah mereka harapkan kehadirannya. Tapi apapun yang terjadi, aku tak boleh menyesalinya. Papa dan mama pasti punya alasan. Semua pasti telah diatur Tuhan. Aku bahagia ternyata aku masih memiliki keluarga"
***********************
__ADS_1
Terima kasih