
Melati dan Jino yang akan sarapan, kaget melihat Raka yang sedang menyantap makanannya.
"Raka.... " ucap Melati dengan wajah kaget yang tak bisa ia tutup.
"Selamat pagi" ujar Raka
"Apa kabarmu Raka. Telah sembuh" tanya Jino
"Alhamdulilah, aku bisa sembuh atas pertolongan dari kalian. Terutama kamu, Melati"
Ucapan Raka membuat Jino dan Melati makin kaget. Mereka saling memandang, seolah minta penjelasan.
Untuk menghilangkan kegugupan, Jino mengajak Melati duduk dan ikut sarapan bersama Raka.
"Udah lama kamu datang. Kenapa nggak bangunkan kami" ucap Jino
"Mana mungkinlah aku mengganggu tidur suami istri"
"Mama belum bangun "
"Tadi tante pamit ingin memandikan Rendra"
"Melati... aku tak tau harus mengucapkan apa atas semua yang telah kamu lakukan dan korbankan untukku. Tidak seharusnya kamu melakukan ini."
"Aku nggak mengerti apa yang sedang kamu omongkan ini, Raka" ujar Melati pura pura
"Jangan lagi berpura-pura atau membohongiku lagi. Aku sudah tau semuanya"
"Apa yang kamu ketahui" ucap Jino
"Jino... aku tau Melati yang mendonorkan ginjalnya untukku"
"Siapa yang ngomong. Kamu percaya itu"
"Tentu aku percaya. Karena orang itu tak mungkin bohong. Melati, Jino, apa yang kalian lakukan padaku membuat aku makin merasa kecil. "
"Apa maksudnya, Raka"
"Padahal aku bukan siapa siapa bagimu, Mela. Kenapa kamu mau mengorbankan bagian terpenting ditubuhmu untukku. Apakah kamu tidak pernah berpikir jika itu bisa membahayakan kesehatanmu. Dan jika hal itu terjadi, aku bisa apa."
Jino dan Melati hanya diam mendengar semua ucapan Raka.
"Jino, kenapa kamu mengizinkan Melati mendonorkan ginjalnya."
"Aku tak ada hak melarang Melati"
"Kamu suaminya, apa kamu memang ikhlas dan tak keberatan atas keputusan Melati ini"
"Aku ini bukan malaikat Raka. Tentu saja awalnya aku keberatan. Tapi aku tak mungkin juga melarang niat baiknya. Setelah konsultasi ke dokter, aku baru benar - benar ikhlas mengizinkan Melati untuk mendonorkan ginjalnya"
"Kamu tak takut suatu hari nanti Melati mengalami sesuatu karena mendonorkan ginjalnya"
"Semua akan baik baik saja selama Melati dapat menjaga pola makannya dan rutin melakukan olahraga"
__ADS_1
"Kenapa keluarga mengizinkan, sudah dari awal aku berpesan jika aku tak mau menerima pendonor dari keluarga atau orang terdekat. Aku tak mau pendonor itu juga merasakan hal yang sama yang pernah aku alami. Aku akan merasa sangat bersalah jika itu benar benar terjadi "
"Aku ikhlas melakukan semuanya, Raka"
"Apa lagi kamu, Mela. Saat ini Rendra baru aja sembuh dari penyakitnya. Kamu juga memiliki seorang bayi. Apa kamu tidak pernah berpikir, seandainya operasi yang kamu dan aku jalani kemarin gagal. "
"Aku sudah memikirkan hal paling buruk yang akan terjadi. Raka, kita sama sama berdoa saja, jika semua yang telah aku lakukan fapat bermanfaat untukmu. Semoga itu dapat menolongmu "
"Sebenarnya kamu tau semua ini dari siapa" tanya Jino. Ia penasaran, siapa yang membocorkan semua ini.
"Dari dokter yang menangani penyakitku"
"Bukankah itu privasi"
"Jino, aku mohon kamu jangan menuntut dokter itu. Ia juga tak sengaja mengatakan itu pada putrinya yang kebetulan sahabat Kimberley."
"Berarti Kimberley tau semua ini"
"Ya, dan ia merasa malu pada Melati"
"Kenapa malu" ucap Melati
"Karena yang menolong dan mendonorkan ginjal buatku kamu. Padahal kamu memiliki dua orang anak, masih saja mau berkorban. "
"Semua ini sudah menjadi takdir dari Tuhan. Kamu dan Kimberley tak boleh berkecil hati. Aku hanya dapat menolongmu dengan cara ini. Selama ini kamu juga telah banyak memebantuku."
"Aku tak pernah meminta balasan atas apa yang pernah aku lakukan "
Raka dan Melati juga Jino lama berbincang. Ia juga mengatakan bulan depan akan menikahi Kimberley.
"Selamat ya Raka, semoga semua berjalan lancar hingga hari H"
"Abang Kai kapan nikahnya, Mel"
"Dua bulan lagi. Kami semua mungkin akan berada di sana."
"Sekalian bulan madu" ucap Jino
"Semoga kamu dan Melati selalu bahagia dan mendapatkan perlindungan dari Tuhan. Aku tak tau harus berkata apa. Kalian orang- orang yang sangat baik. Hanya doa yang dapat aku panjatkan."
"Doa yang sama untukmu, Raka "
Setelah itu Raka pamit dari rumah Jino. Ia akan pergi mengurus semua keperluan dan kebutuhan persiapan pernikahannya.
"Tak mudah untukku melupakan dirimu, Mel. Apa lagi sekarang di dalam tubuhku terdapat bagian dari dirimu. Tapi tak mungkin jua aku terus terpaku ditempat, aku sadar tak mungkin bisa lagi menggapaimu. Kau telah bahagia bersama Jino. Aku harus bisa juga menjemput kebahagiaanku. Semoga dengan beriringnya waktu aku bisa melepaskanmu dan mencintai Kimberley seperti aku mencintaimu saat ini"
...... ....
Satu bulan telah berlalu, Rendra telah dinyatakan sembuh. Hanya saja ia harus tetap menjaga pola makan dan tidak diizinkan terlalu banyak beraktifitas. Karena jika ia capek itu akan memengaruhi imun tubuhnya.
Pagi ini Raka dan Kimberley akan melangsungkan ijab kabul. Semenjak subuh Melati telah disibukan dengan persiapan ke acara pernikahan Raka.
Mama Melati saat ini berada di Kuala Lumpur. Ia harus berada di dekat abang Kai untuk membantu Kai menyiapkan acara pernikahannya.
__ADS_1
Melati akan menyusul seminggu lagi dan Jino akan kesana seminggu menjelang hari pernikahan.
Jino harus menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum mengambil cuti panjang sekitar sebulan lamanya.
Melati tampak sedang memakaikan baju Rendra. Sementara itu Jino menggendong Naura putrinya.
Naura tampak terlelap dalam pelukan Jino. Naura putrinya memang lebih dekat dengan Jino. Setiap Jino menggendongnya ia akan selalu tertidur.
Mungkin benar pepatah yang mengatakan jika ayah adalah cinta pertama bagi putrinya.
"Oke, putra bunda sudah ganteng. Sekarang giliran papi yang harus bersiap. Akad nikahnya akan berlangsung satu jam lagi. Mas bersiaplah, biar Naura aku gendong"
"Naura nya lagi enak tidur sayang. Kasihan, nanti terbangun"
"Nanti bisa ditidurkan lagi. Kita bisa terlambat jika menunggu Naura bangun. Mas saksi pernikahan Raka loh"
"Astaga sayang. Mas hampir lupa"
Jino menyerahkan Naura ke Melati. Ia lalu segera mengambil bajunya yang telah Melati siapkan.
"Sayang, jangan nangis. Nanti gendong papi lagi ya" ucap Melati membujuk putrinya.
Mereka berangkat menuju gedung tempat pernikahan Raka berlangsung dengan diantar supir. Jino meminta supir untuk melajukan mobilnya. Setengah jam lagi akad nikah segera berlangsung.
Sementara itu di gedung, Raka tampak gelisah. Ia telah menghubungi Jino, tapi tak diangkat.
"Bagaimana ini tante, apa Jino ada masalah. Kenapa belum sampai juga"
"Kamu jangan kuatir, Jino pasti akan datang sebentar lagi. Tante rasa ia telat karena menunggu Melati. Ia harus mengurus dua anaknya. Mama Melati di Kuala lumpur saat ini" ucap mama Jino
"Oh gitu ya. "
"Raka, Ayo keluar lagi. Kamu sudah harus bersiap siap. Pak penghulu sudah datang" ucap Tante Erma.
"Baik, tante. Kimberley udah siap tante"
"Jangan kamu pikirkan Kimberley, saat ijab kabul tak dibutuhkan kehadiran wanitanya"
"Aku hanya bertanya, Tante"
"Jangan gugup, santai aja. Nanti salah lagi dalam pengucapan ijab kabulnya"
Raka berjalan keluar dari kamar tempatnya berias menuju ruang pernikahan didampingi mama Jino dan Tante Erma.
Tampak tamu undangan dan keluarga telah berkumpul.
Bersambung
****************
Terima kasih
__ADS_1