Melati (Istri Yang Tak Dianggap)

Melati (Istri Yang Tak Dianggap)
Bab Delapan puluh Empat


__ADS_3

Keluarga hanya terrdiam setelah mendengar ucapan Jino. Melati berdiri melihat Rendra yang menangis dipelukan Jino meminta susu.


Ia membawa Rendra ke dapur dan membuat susu buat Rendra. Melati duduk di meja makan sambil memangku Rendra yang sedang menyusu dengan botol susunya.


"Kamu masih sangat mencintai Jino" ucap Raka membuat Melati kaget. Ia memandangi Raka yang berdiri dibelakangnya.


"Aku menikah kembali dengan mas Jino demi Rendra, Raka..."


"Jangan jadikan Rendra alasan, Mel"


"Raka...aku tak bohong. Alasan utamaku rujuk kembali dengan mas Jino memang demi Rendra. Untuk pengobatannya"


"Kenapa Rendra yang kamu jadikan alasan. Apakah hanya dengan menikahi Jino, Rendra bisa sembuh. Dan apa hanya itu cara satu satunya"


Raka memandangi Melati dengan senyum yang sinis. Melati hanya diam tanpa mau menjawab.


"Apa kamu takut aku tak bisa memberikan kasih sayang buat Rendra. Kamu ragu akan sayangku padanya. Dan apa aku pernah berkata akan melarang Jino bertemu Rendra jika kita menikah. Kenapa kamu masih ragu juga. Aku juga akan mengusahakan apapun itu jika Rendra memang sakit dan butuh uang bnayak untuk pengobatannya"


"Raka, bukan uang yang menjadi alasan aku kembali pada, Jino. Tapi karena.... "


"Udahlah, Mel. Alasan apapun yang kamu berikan akan semakin membuat aku tak percaya. Yang aku tau dan aku pikirkan, kamu kembali mau rujuk hanya karena cintamu masih untuk Jino, kamu tak pernah bisa melupakannya karena kamu itu menutup hatimu buat cinta yang lain. Terkadang aku menyesali takdir, kenapa dulu aku dipertemukan denganmu. Kenapa aku bisa jatuh cinta kembali pada wanita yang salah. Apa yang kurang pada diriku sehingga wanita selalu saja meninggalkan aku. Aku nggak tau, Mel... kapan luka ini akan sembuh" ucap Raka memotong ucapan Melati


"Raka...jangan suka menghakimi seseorang. Tujuan utamaku menikah kembali dengan mas Jino memang untuk kesehatan Rendra. Kamu dulu pernah menasehati mas Jino jika kita jangan mengambil kesimpulan dari apa yang di lihat dan di dengar karena terkadang kenyataan tak sama dengan apa yang kita saksikan dan dengar. Tapi saat ini kamu langsung mengambil kesimpulan tanpa mau mendengar penjelasanku. Dan aku mohon maaf Raka jika sakit yang kuberikan terlalu dalam. Kamu jangan menyalahkan takdir, pasti Tuhan telah merencanakan semua ini demi kebaikan kita"


"Karena aku memang tak butuh penjelasan Melati...apa yang aku lihat dan saksikan selama ini telah membuktikan jika kamu tak pernah bisa lepas dan melupakan cintamu pada Jino. Sesering dan sesakit apapun luka yang pernah Jino berikan padamu, tak bisa merubah rasa cintamu padanya. Semoga kamu tak menyesali keputusanmu ini, Mel. Cinta terkadang memang membuat kita buta dan bodoh, seperti cintamu pada Jino yang membuatmu bodoh. Kamu lupa dengan apa yang pernah Jino lakukan padamu. Dan juga cinta itu buta, seperti cintaku padamu. Padahal aku tau kamu tak pernah lepas dari bayang Jino, tapi aku masih saja masih mengharapkanmu. Aku berdoa pada Tuhan, semoga aku bisa membencimu , sebenci bencinya agar aku bisa melepaskan dan melupakan cintaku padamu"


Setelah mengucapkan itu Raka berjalan meninggalkan Melati. Ia tak mau keluarga yang lain curiga jika ia terlalu lama di dapur.


Melati memeluk erat Rendra yang mulai tertidur dipangkuannya.


"Sebesar apakah rasa sakit yang aku torehkan padamu Raka sehingga kamu ingin membenci aku begitu besarnya. Kamu tak mau mendengar penjelasanku. Dulu kamu tak akan pernah menghakimi seseorang tanpa mendengar penjelasan terlebih dahulu."


Jino menyusul Melati di dapur setelah setengah jam lamanya ia tak kunjung kemvali berkumpul. Keluarga satu persatu sudah pulang.


Jino melihat Melati yang menangis sambil menidurkan Rendra. Jino mengusap kepala Melati dan mengambil tisu diatas meja dan menghapus air matanya.


"Kenapa menangis. Maafkan ucapan keluargaku jika menyakiti hatimu"


"Mas...aku bukan menangis karena mendengar ucapan keluargamu. Aku hanya ingat dengan penyakit yang sedang diderita Rendra"


"Rendra pasti sembuh. Jangan kuatir"


"Mas...apapun akan aku lakukan untuk Rendra, walau seluruh dunia akan menentangnya. Untuk itu aku minta mas berjanji untuk tetap berjuang demi kesembuhan Rendra"

__ADS_1


"Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu dan aku akan berjuang bersamamu untuk kesembuhan Rendra"


"Terima kasih, mas"


Jino membawa Melati kedalam pelukannya. Tangis Melati pecah dipelukan Jino.


"Hhhhmmmm...." deheman Kimberley membuat Melati melepaskan pelukannya.


"Maaf ...kami mengganggu. Aku dan Raka akan pamit. Selamat ya Jino...Melati, semoga lancar hingga hari pernikahan" ucap Kimberley menyalami Jino dan Melati.


"Terima kasih, Kim. Aku juga mendoakan kamu dan Raka segera menikah dan bahagia" ucap Melati


"Selamat ya...kami pamit" ucap Raka dengan wajah yang datar.


"Terima kasih, Raka...segera menyusul ya" ujar Jino


Raka hanya tersenyum menanggapi ucapan Jino. Ia meninggalkan dapur tanpa menyalami Melati.


Setelah semua keluarga pulang, Melati dan Jino kembali ke ruang keluarga. Hanya ada mama Melati , mamanya dan abang Kai.


"Rendranya udah tidur, Mel" ucap mamanya


"Udah, ma. Kita pulang lagi..."


"Biar aku aja , bang. Nanti abang yang nyetirkan"


"Tante, Jino...aku pamit dulu" ucap Kai dan menyalami mama Jino. Mama Melati juga menyalaminya.


"Semoga dengan pernikahan kalian kembali, akan dapat menyembuhkan Rendra" ujar mama Jino sambil mengecup pipi cucunya itu.


Sementara itu, Raka yang hatinya sedang hancur mendengar pernikahan Melati, membawa Kimberley menuju sebuah restauran dekat tepi laut.


Ia memandangi lautan dengan pikiran yang menerawang. Kimberley yang duduk disamping Raka menyandarkan kepalanya di bahu Raka.


"Kamu masih mencintai Melati..." ucap Kimberley


"Kamu mau aku jawab jujur, Bee"


"Ya, walau aku tau jawabanmu nanti pasti akan membuat hatiku sakit"


"Aku tak pernah dekat dengan wanita manapun sejak kamu pergi meninggalkan aku , Bee. Aku tak pernah ingin memulai hubungan dengan wanita manapun karena aku tak ingin kecewa lagi. Kamu pasti tau bagaimana rasa cintaku padamu saat itu. Tapi kamu membuat aku hancur dengan kepergianmu"


Raka menghentikan ucapannya dan melihat sejenak ke Kimberley.

__ADS_1


"Aku hanya larut dengan kerjaanku. Yang akhirnya membuat agensiku cukup terkenal. Banyak wanita yang ingin dekat denganku tapi tak pernah aku tanggapi, sampai akhirnya aku bertemu Melati. Aku saat itu tak tau jika ia istri Jino juga" ujar Raka. Ia menarik nafasnya sejenak.


"Aku penasaran siapa wanita yang mampu menggetarkan hatiku kembali.Sampai akhirnya aku tau jika ia istri Jino. Hatiku kembali kecewa. Tapi aku tak mau menyerah setelah aku tau pernikahan mereka tak berjalan wajar"


"Maksudnya...."


"Kamu pasti pernah membaca jika Melati hanya istri simpanan Jino, ia menikahi Melati hanya karena menginginkan keturunan. Hingga terjadi kesalah pahaman diantara mereka yang menyebabkan Jino menjatuhkan talak. Tapi saat itu aku tak juga berharap jika Melati akan membalas cintaku. Aku tulus membantunya saat itu..aku menjadikan ia model agar ia bisa menjadi wanita yang kuat dan mandiri."


"Kamu mencintai Melati walau tau ia istri Jino"


"Tapi aku tak egois, aku membiarkan ia memilih. Akan kembali pada Jino atau memilih berpisah. Dan ternyata Melati memilih berpisah walau Jino telah memohon maaf dan meminta ia kembali. Tak aku pungkiri jika aku bahagia mengetahui itu. Mungkin orang akan berpikir aku jahat karena bahagia di atas luka Jino. Tapi itulah cinta terkadang memang egois. Dan aku makin bahagia saat ia mau menerima cintaku dan bersedia menikah denganku. Tapi kembali hatiku harus hancur ketika Melati meninggalkan aku setelah tau keluarga tidak ada yang merestui hubungan kami"


"Itu sebabnya Melati pergi meninggalkan kamu"


"Ya...aku mengerti, Bee. Pastilah ia sedih mendengar ucapan pedas keluargaku. Cuma yang membuat aku kecewa...kenapa ia lari tanpa mau membantuku berjuang untuk meyakinkan keluarga. Jika saja saat itu ia tak lari, aku pasti akan tetap menikahinya walau tanpa restu dari keluarga"


"Kamu sangat mencintai Melati"


"Perlu aku jawab..."


"Nggak perlu, karena aku tau jawabanmu. Yang ingin aku tanyakan, mana lebih besar cintamu padaku atau pada Melati"


"Bee...aku tak mau menjawab. Aku takut salah dalam memberikan jawaban"


"Kamu masih memikirkan perasaanku"


"Bee...aku tak pernah main main jika mencintai seseorang"


"Apa saat ini kamu juga masih mencintai Melati dari pada aku"


"Aku sangat mencintai Melati karena aku tau bagaimana perjuangan hidup yang pernah ia jalani"


"Apa kamu tidak bisa melupakan cintamu padanya. Dan mengembalikan cintaku yang hilang dihatimu itu"


"Aku perlu waktu, Bee. Tapi jika kamu tak bisa menunggu, pergilah...kamu juga perlu mencari kebahagiaanmu"


"Aku akan menunggumu, Raka. Aku ingin menebus semua kesalahanku dulu. Akan aku buktikan jika aku sangat mencintaimu dan pantas buat kamu perjuangkan kembali"


Raka memaksakan senyumnya ketika mendengar ucapan Kimberley. Setelah itu ia kembali larut dengan pikirannya.


"Tuhan, aku tak akan pernah meminta sesuatu kembali jika itu memang telah hilang, aku tak akan meminta kembali apa yang telah pergi dariku.Dan aku tak akan meminta sesuatu jika itu memang bukan milikku. Jika memang ia tak ditakdirkan untukku buat lah hatiku ikhlas melepaskan semuanya... buatlah aku melupakan dia segera.. jangan buat hatiku makin terluka... mengharapkan sesuatu yang bukan milikku. Rasa ini terlalu sakit karena selama ini aku terlalu mengharapkan Melati."


*****************

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2