
Jino dan Melati telah duduk berhadapan dengan dokter.
"Selamat pagi bapak dan ibu Jino"
"Selamat pagi, dokter" ucap Jino dan Melati serempak.
"Bagaimana bu... apa ada keluhan kehamilannya"
"Nggak ada, Dok.... "
"Syulurlah... sekarang ibu bisa berbaring di tempat tidur. Seperti janji saya, sekarang bapak dan ibu sudah bisa melihat jenis kelamin bayinya... "
Jino mendudukkan Rendra di kursi, ia membantu Melati untuk berbaring.
Setelah perawat mengoleskan gel, dokter lalu memeriksa kandungan Melati dengan menggunakan doppler.
Dokter meminta Jino memperhatikan layar monitor. Ia lalu menunjukan letak bayi, detak jantungnya.
Jino melihat layar monitor dengan mata berkaca. Ia takjub akan kuasa dan keajaiban Tuhan berupa bayi dalam kandungan istrinya.
"Ya... Tuhan, aku tau diriku ini manusia yang penuh dosa. Tapi Engkau masih sudi memberiku kepercayaan untuk dapat memiliki momongan. Akan aku jaga titipan Mu ini. Aku menyesal telah melewatkan semua ini ketika Melati hamil Rendra, aku janji akan menebusnya dengan memberikan seluruh perhatianku untuk istri dan buah hatiku"
"Bapak bisa lihat ini... sepertinya bayi yang dikandung ibu Melati berjenis kelamin perempuan... "
"Apa dok... Perempuan"
"Ya... pak"
Jino mengecup dahi Melati dengan lembut, tak terasa air matanya menetes.
"Terima kasih, sayang. Kamu telah mau mengandung benih cinta kita...."
"Mas... berarti nanti anak kita udah sepasang"
"Iya, sayang. Mas yakin ia pasti akan secantik bundanya"
"Papi... adik Enda itu" tunjuk Rendra pada layar monitor. Rupanya dari tadi ia menguping obrolan dokter dan papinya.
"Iya sayang. Adiknya Rendra.... "
Jino menggendong Melati turun dari tempat tidur dan kembali memangku Rendra.
"Pertumbuhan bayi dalam kandungan istri saya Gimana, dok"
"Baik... semuanya normal. Ada yang perlu ibu atau bapak ingin tanyakan lagi"
"Apakah itu sudah pasti jenis kelaminnya, dok... "
"Kepastian itu hanyalah Tuhan yang tau. Saya hanya melihat dari hasil USG. Tapi kecil kemungkinan salah... "
"Oh , ya lah dokter"
"Saya akan memberikan bapak resep vitamin agar ibu dan bayinya sehat.... "
Setelah menuliskan resep, dokter memberikan kertas itu buat di tebus.
Jino dan Melati pamit setelah menerima resep. Jino menebusnya, setelah itu mereka bertiga menuju sebuah mal untuk bawa Rendra main.
Dalam mal Jino menemani Rendra bermain, dari naik plosotan, mandi bola dan lainnya.
Melati hanya menunggu di kursi sambil mengemil. Selera makannya udah mulai meningkat. Ia selalu saja ingin memakan sesuatu.
__ADS_1
Rendra tampak menangis. Melati melihatnya jadi heran.
"Kenapa Rendra mas.... "
"Nggak mau udahan mainnya. Mas udah capek"
"Sayang... udah ya mainnya. Rendra juga nggak boleh main lama lama. Nanti kecapean."
"Enda masih mau main, nda"
"Nanti papi beliin plosotannya... "
"Iya, papi... Enda mau... "
"Kalau gitu, jangan menangis lagi. Papi nggak suka lihat anak cowok cengeng. Rendra udah gede. Sebentar lagi ada adiknya"
"Iya, pi"
"Anak bunda pintar banget.... " ucap Melati mengecup pipi Rendra
Jino menggendong Rendra. Mereka menuju toko yang menjual mainan anak.
Rendra diminta memilih apa yang ia inginkan. Rendra menu menunjuk satu plosotan tayo. Ia inginkan itu.
Jino lalu meminta penjaga toko untuk mengantar mainan itu ke rumah. Jino lalu membayarnya.
"Udah papi beli. Nanti Rendra bisa main di rumah. Kita sekarang makan ya.... "
Jino membawa Melati dan Rendra makan disalah satu restoran yang ada di dalam mal.
Setelah makan, Jino membawa Melati dan Rendra masuk ke sebuah toko yang menjual perlengkapan bayi.
"Mas... jangan bilang mas mau beli itu semua" ucap Melati dengan wajah kaget melihat Jino mengumpulkan semua barang yang dilihatnya ke satu tempat.
"Emang mas mau membelinya untuk calon bayi kita"
"Nggak juga harus beli sekarang , mas. Kandunganku masih empat bulan"
"Nggak apakan beli sekarang"
"Nggak apa... tapi kita sebaiknya membeli saat mendekati kelahiran aja. Terlalu lama di rumah nanti berdebu lagi setelah dicuci"
"Simpan aja dulu di lemari. Nanti saat akan lahiran baru di cuci" ucap Jino masih tetap dengan pendiriannya.
Melati tidak bisa membantah lagi apa yang Jino inginkan. Ia masih ngotot dengan pendiriannya.
Melati membimbing Rendra berjalan menuju parkiran. Tangan Jino penuh dengan tentengan plastik belanjaan.
Sebelum pulang Jino mampir ke toko kue membelikan kue kesukaan ibu mertuanya.
Mama kaget melihat tangan Jino penuh dengan barang belanjaan.
"Beli apa aja sih, banyak banget" ucap mama akhirnya.
Melati membawa Rendra duduk di sofa. Ia juga melakukan hal yang sama.
"Itu mas Jino. Nggak mau dilarang buat beli perlengkapan bayi"
"Perlengkapan bayi.... "ucap mama kaget.
__ADS_1
"Iya... udah aku bilang belinya nanti aja saat kandungan udah membesar"
"Kandungan bunda udah besar sekarangkan. Lihat nih perutnya udah membuncit" ucap Jino sambil mengusap perut Melati.
"Maksudnya saat kandunganku udah masuk bulannke tujuh, mas"
"Nggak apa beli sekarang. Nggak akan basi... "
"Ngeyel banget sih... " gerutu Melati, membuat Jino terbahak melihat raut wajahnya yang cemberut.
"Melati benar nak... kata orang tua dulu pantang atau pemali orang jawa ngomongnya jika membeli barang perlengkapan bayi sebelum usia kandungan tujuh bulan"
"Itu hanya mitos, ma.... "
"Sebenarnya sih emang hanya mitos" ucap mama mengalah.
"Ma... minggu depan aku akan mengadakan syukuran ulang tahun Rendra sekaligus syukuran kehamilan Melati. Abang bisa nggak ya hadir" ucap Jino
"Biar Melati yang hubungi, mama yakin ia tak akan bisa menolak jika Melati yang memintanya"
"Biar aku coba hubungi abang dulu"
Melati mengambil ponselnya dan menghubungi abang Kai. Setelah beberapa saat ponselnya tersambung.
"Assalamualaikum, bang. Apa kabar.... "
"Waalaikumsalam dek.. abang sehat. Semua keluarga disana sehat... "
"Sehat. Abang minggu depan bisa datang nggak... "
"Kenapa dek... apa yang terjadi"
"Nggak ada yang terjadi. Mas Jino mau mengadakan syukuran ulang tahun Rendra sekalian kehamilanku. Sejak aku hamil abang belum ada datang. Abang bilang akan meluangkan waktu buat ku"
"Maaf dek.. jangan nangis gitu. Abang akan usahakan hadir. Nanti abang lihat jadwal yang kosong. Apa kamu keberatan jika syukuran diadakan ketika jadwal abang kosong"
"Nggaklah... aku akan sesuaikan acaranya dengan jadwal abang"
"Oke....jangan menangis lagi. Walau abang jarang bisa bersamamu dan mama... kalian adalah yang utama dalam hidup abang. Abang akan lakukan Apapun untuk kamu dan mama"
"Abang... aku sayang abang"
"Abang juga. Salam buat Rendra, Mama dan Jino"
"Iya, nanti aku sampaikan. Abang jangan kerja terus. Jaga kesehatan, jangan lupa makan"
"Iya dek. Kamu juga. Udah dulu ya, abang mau tampil lagi"
"Iya, bang. Hati hati... "
"Oke... "
Sambungan ponsel terputus. Melati mengatakan pada Jino agar nanti acara syukuran disesuaikan dengan jadwal Kai saja.
*******************
Terima kasih.
Udah taukan jenis kelamin anaknya Jino dan Melati. Nanti aku akan mengundinya. Pengumuman pemenang akan ada di bab berikutnya.
Mampir juga ya ke novel anak onlineku yang berjudul BERBAGI CINTA : KEIKHLASAN HATI SEORANG ISTRI Karya muh iqram ridwan
__ADS_1