Melati (Istri Yang Tak Dianggap)

Melati (Istri Yang Tak Dianggap)
Bab Tiga puluh


__ADS_3

Jino menghubungi orang kepercayaannya. Dan meminta menyelidiki tentang Melati. Selama ini ia selalu mempercayakan semuanya pada Nia. Ia yakin istrinya tak mungkin membohonginya. Jino telah memberikan semua yang Nia mau, tak ada alasan untuk Nia mengkhianatinya.


"Aku akan selidiki semuanya Melati. Jika ternyata kamu berbohong, aku tak akan pernah memaafkanmu. Dan aku tak akan pernah lagi mengizinkan kamu bertemu Rendra seumur hidupmu."


Setelah menghubungi orang suruhannya, Jino mengendarai mobilnya menuju rumah Melati.


Ia langsung menuju kamar. Tampak oleh Jino makanan yang ia beli berserakan di lantai.


Melati juga sedang menangis di lantai dengan bersandar tempat tidur.


Jino mendekatinya dan menggendong tubuh Melati dan membaringkan di tempat tidur.


Jino memgambil kotak obat. Ketika ia akan membersihkan bekas darah yang telah mengering di sudut bibir Melati karena bekas tamparannya, Melati menjauhkan wajahnya.


"Aku bisa obati lukaku sendiri" ucapnya dengan ketus.


"Kenapa kamu membuang makanannya. Aku tak akan meracunimu"


"Justru karena tak ada racunnya aku membuangnya .Aku mau makan racun saat ini"


"Jangan gila, Melati. Jika kamu mati kamu tak akan pernah bertemu Rendra"


"Hidup ataupun aku mati, kamu tak akan mengizinkan aku bertemu Rendra"


"Kamu ingin bertemu Rendra..." ucap Jino pelan.


Melati hanya diam. Ia tak yakin Jino akan mengizinkan ia bertemu puteranya. Jino memandangi wajah Melati dengan intens.


"Maafkan aku Melati, aku memang keterlaluan. Ternyata tubuhmu memar semua karena perbuatanku tadi. Melati benar, bagaimanapun aku membantahnya...ia tetap ibu dari Rendra"


Jino menarik tubuh Melati dan memeluknya. Ia mengusap kepala Melati.


"Maafkan aku...kamu ingin bertemu Rendrakan. Ia ada di rumah sakit"


Melati kaget mendengar ucapan Jino, ia melepaskan pelukan Jino.


"Rendra sakit apa...aku mau kesana. Aku mohon...izinkan aku bertemu Rendra"


"Aku akan mengizinkan kamu bertemu Rendra tapi dengan satu syarat"


"Apapun itu syaratnya akan aku lakukan"


"Sebelum ke rumah sakit, kamu harus makan dulu. Kita mampir ke kafe. Kamu sekarang ganti pakaianmu"

__ADS_1


"Aku nggak lapar. Aku hanya ingin bertemu Rendra"


"Tapi aku mau kamu makan dulu, bagaimana kamu bisa memberikan ASI jika kamu tak makan"


"Baiklah..."


Melati mengganti pakaiannya. Jino melihat semua yang dilakukan Melati tanpa kedip. Ia melihat banyak lebam di tubuh Melati.


"Apa yang aku lakukan. Mama pasti malu dan marah jika tau aku menyakiti seorang wanita. Apa lagi wanita itu ibu dari puteraku sendiri"


"Ayo mas, aku sudah siap"


"Aku bersihkan kamar ini dulu. Kamu tunggulah di luar" ucap Jino dan mengambil sapu serta sekop sampah buat membersihkan kamar dari sampah makanan.


Melati menunggu dengan gelisah. Ia tak mencegah Jino membersihkan kamar karena tubuhnya memang saat ini masih terasa lemah.


Setelah membersihkan kamar, Jino mengajak Melati menaiki mobilnya. Ia membawa Melati ke salah satu kafe.


Dari kafe , mereka langsung menuju rumah sakit. Jino berjalan didepan Melati menuju ruang rawat Rendra.


Begitu sampai, Melati langsung mendekati tempat tidur Rendra dan mengecup dahi puteranya yang masih tertidur.


Jino melihat perhatian Melati yang begitu besar pada puteranya. Ketika Rendra bangun, Melati langsung menyusuinya. Rendra menyusu dengan lahapnya. Setelah kenyang ia tertidur.


Jino menanyakan keberadaan Nia pada pengasuh Rendra. Ia mengatakan Nia pergi nggak lama setelah Jino pergi.


Hari sudah menjelang magrib ketika Jino sampai di butik Nia. Semua karyawan memberi hormat pada Jino.


Jino menanyakan keberadaan Nia, karyawan mengatakan jika Nia ada di ruang kerjanya. Jino langsung menuju ruang kerja Nia dan langsung membukanya tanpa mengetuk.


Nia kaget mendengar pintu yang dibuka, ia menjadi heran melihat Jino yang berdiri di depan pintu. Jino melangkah mendekati istrinya.


"Sayang, aku pikir kamu kemana. Pengasuhnya Rendra mengatakan kamu pergi tak lama setelah aku pergi"


"Maaf Jino, aku tadi terpaksa meninggalkan Rendra karena ada sedikit masalah di butik. Aku juga nggak bisa berbuat apa apa di rumah sakit. Yang ada aku makin sedih jika melihat Rendra, karena aku tak bisa menyusuinya. Andai saja Rendra itu darah dagingku pasti aku tak akan pernah meninggalkannya sedetikpun" ucap Nia pura pura sedih


"Sayang, kamu nggak perlu sedih. Walaupun Rendra bukan lahir dari rahimmu, tapi ia puteramu juga. Aku yakin nanti besarnya Rendra sangat menyayangimu"


"Aku juga berharap begitu. Karena aku menyayangi Rebdra seperti darah dagingku sendiri"


Jino mengecup pucuk kepala Nia lama.


"Maaf sayang, aku tadi curiga kamu pergi entah kemana. Karena akhir akhir ini kamu sering menghilang"

__ADS_1


"Aku tau Jino, kamu pasti mencurigaiku, sehingga kamu mencariku hingga ke butik. Untung saja tadi aku hanya sampai sore bertemu Alex. Mulai saat ini , aku harus hati hati. Tampaknya Jino sudah mulai tak mempercayaiku"


..................


Selama satu minggu Rendra dirawat, Melati selalu mendampinginya . Jino yang menemani Melati menginap di rumah sakit.


Hari ini Rendra diizinkan kembali ke rumah, Melati ingin mengantar hingga sampai rumah tapi Jino melarang.


"Melati, mulai hari ini aku mengizinkan kamu bertemu Rendra pada akhir pekan saja hingga ia berusia enam bulan. Setelah itu kamu harus menyerahkan hak asuh sepenuhnya pada Nia. Setiap sore pulang kerja, aku akan mampir ke rumahmu. Kamu bisa pompa ASI mu buat Rendra. Apa kamu setuju"


"Baiklah mas. Aku setuju"


"Rendra akan pulang bersamaku dan Nia. Kamu pulang ke rumah di antar supir."


"Iya ,mas. Terima kasih karena mengizinkan aku bisa menemui Rendra"


"Aku harap kamu jangan melakukan sesuatu yang tak aku suka, karena jika itu terjadi aku pastikan kamu tak akan pernah bertemu Rendra selamanya. Jangan pernah coba coba pergi dariku. Kemanapun kamu pergi, aku akan mencarimu"


"Baik, mas"


"Pulanglah, supir telah menunggumu diparkiran. Aku menunggu Nia dulu"


Melati mendekati Rendra dan memeluknya. Ia mengecup pipi puteranya lama. Setelah itu baru Melati meninggalkan rumah sakit.


Setelah Nia datang, Jino menggendong Rendra dan membawanya masuk mobil. Supir mengendarai mobil menuju rumah.


Sampai di rumah Jino langsung pamit setelah melihat Rendra yang tertidur. Ia janjian dengan orang kepercayaannya itu. Orang itu telah mendapatkan semua informasi mengenai Melati.


"Jino, kamu mau kemana" ucap Nia melihat Jino yang tergesa ingin keluar lagi. Padahal sudah hampir magrib.


"Aku ada janji bertemu klien"


"Ini sudah hampir malam..."


"Ya, sayang. Ia harus segera kembali , pertemuan tak bisa ditunda"


"Hati hati...."


"Iya, sayang" ucap Jino mengecup bibir Nia.


"Mau kemana Jino pergi, akhir akhir ini setiap menerima panggilan diponselnya Jino selalu menerimanya jauh dariku. Biasanya Jino akan bicara di depan aku. Apa ada yang dirahasiakan Jino. Aku harus cari tau. Apa yang disembunyikan Jino dariku"


*******************

__ADS_1


Terima kasih


Mohon jangan membuka bab 31, karena error. Nanti nggak bisa buka bab selanjutnya. Jadi disarankan buka bab 32 langsung. Nanti akan ada pengulangan bab 31.


__ADS_2