Melati (Istri Yang Tak Dianggap)

Melati (Istri Yang Tak Dianggap)
Bab Dua puluh Dua


__ADS_3

Jino dan Nia langsung menuju kamar rawat Melati. Sampai di depan kamar itu, Jino masuk tanpa mengetuknya. Ia melihat Melati yang sedang menyusui putranya.


Jino mendekat dan memegang jari mungil putranya. Tampak matanya berkaca karena terharu.


"Apa ini putraku..." ucap Jino dengan air mata yang akhirnya tak bisa ia tahan.


Melati menyudahi menyusui putranya. Ia lalu mengangkat tubuh bayi itu dekat ke wajah Jino.


"Mas Jino bisa lihatkan, wajahnya begitu mirip dengan mas"


"Aku mau menggendongnya..."


Melati meletakkan bayi mungil itu ke tangan Jino. Nia mendekati mereka dan berdiri di samping Jino yang menggendong putranya.


"Sayang, lihat ini putra kita. Ia lucu" ucap Jino dengan Nia


Melati yang mendengar ucapan Jino sambil memegang dada menahan sesak.


"Apakah sudah waktunya bunda menyerahkan kamu sayang. Rasanya bunda ingin merampas kamu dan membawa kamu lari sejauh mungkin. Tapi bunda tak mungkin pungkiri janji bunda. Bukankah sebuah janji adalah hutang"


Nia memeluk pinggang Jino. Mereka tampak gembira dengan bayi ditangan Jino.


Jino memberi bayi itu ke tangan Nia buat digendongnya.


"Melati , apa bayi mungil ini sudah diberi nama" ucap Nia


"Apa aku boleh memberi namanya" tanya Melati menahan tangis.


"Aku sudah janji bukan jika bayi ini akan memakai nama pemberianmu"


"Nia, kenapa bukan kamu saja yang memberi nama buat putra kita ini" ujar Jino mengusap pipi bayinya.


"Biarlah buat nama Melati yang memberinya"


"Kamu lihat Melati, Nia begitu baiknya padamu. Ia ingin putra kami memakai nama pemberianmu"


"Ia juga putraku mas, aku yang telah mengandungnya selama sembilan bulan. Kamu tak bisa menghilangkan ikatan darah kami , walau kamu tak menginginkan itu"


"Terima kasih mbak karena mengizinkan aku memberi namanya"


"Siapa namanya yang akan kamu beri Melati"


"Arzan Ravindra Malik Narendra artinya anak laki-laki keturunan orang yang berguna dan memiliki kekuatan yang besar serta cenderung selalu beruntung. Dengan nama panggilan Rendra , mbak"


"Bagus banget namanya...Rendra sayangnya mami nih" ucap Nia mengecup pipi Rendra

__ADS_1


"Sayang papi jugakan" ucap Jino mengecup pipi putranya.


"Dengan siapa kamu ke rumah sakit ini, Melati"


"Aku minta tolong Raka, mbak"


Mendengar nama Raka disebut Melati, Jino langsung memandanginya dengan sinis.


"Kamu ada menyimpan nomor Raka"


"Iya , mbak" ucap Melati pelan


"Aku tak mengira jika kamu sedekat itu dengan Raka. Tengah malam ia terbangun untuk mengantar kamu ke rumah sakit"


"Aku nggak tahu harus minta tolong siapa lagi mbak. Aku menghubungi ponsel mbak Nia dan mas Jino tapi tak aktif. Sementara air ketubanku udah pecah. Aku tak mau terjadi sesuatu dengan bayiku. Yang aku ingat hanya Raka. Karena hanya ia yang aku kenal selain mbak Nia dan mas Jino."


"Bukankah kamu bisa memanggil taksi" ucap Jino dengan suara keras membuat bayi dalam gendongan Nia menangis.


"Mbak biar aku susukan Rendra" ucap Melati tanpa mau menjawab ucapan Jino. Ia turun dari ranjang dan ingin mengambil anaknya dari tangan Nia.


Jino menepis tangan Melati. Dan mendorong tubuhnya agar menjauh.


"Jangan pernah sentuh Rendra lagi. Kami telah mengizinkan memberi nama, itu sudah lebih dari cukup. Jangan meminta lebih. Mulai detik ini, Rendra milik Nia. Ia putraku dan Nia. Jangan pernah tampakan wajahmu ke hadapan Rendra lagi"


"Tapi mas, biarkan aku menyusuinya sekali ini lagi. Lihat wajahnya memerah karena menangis dan kehausan"


"Jino, biarkan sekali ini saja Melati menyusuinya. Kamu pergi tanyakan sama dokter susu formula apa yang baik buat Rendra dan langsung beli agar nanti jika ia menangis lagi, kita bisa berikan susu formula itu"


"Sayang, kamu tuh terlalu baik. Makanya Melati sering memanfaatkan kamu. Baiklah, aku akan ke ruang dokter dulu. Tunggu ya. Kita akan membawanya pulang sebentar lagi"


Jino keluar dari ruangan, dan Nia memberikan bayi Rendra pada Melati.


Melati menyusui putranya dengan air mata yang menetes. Ia tak bisa menahan air matanya agar tak jatuh.



"Sayang, bunda minta maaf jika harus memberikan kamu pada mami dan papi. Bukannya bunda tak sayang, tapi bunda harus menepati janji bunda. Sayang, semoga kamu selalu sehat. Bunda berharap ini bukanlah terakhir kalinya bunda menyusui kamu. Bunda akan cari cara agar bisa menyusui kamu lagi. Bunda memang tak bisa berada disampingmu, tapi percayalah sayang...kamu akan selalu ada di hati bunda. Bunda sangat menyayangimu"


Jino masuk ke dalam ruangan dengan menenteng satu kantong susu. Ia mendekati Melati yang sedang memeluk putranya Rendra yang telah tertidur sehabis disusukan.


Jino meletakkan kantong itu di lantai. Ia mengambil Rendra dari pelukan Melati.


"Waktunya sudah habis buat memeluk dan menyusu Rendra. Terima kasih karena mau melahirkan putraku dan Nia. Aku sudah membayar semua biaya rumah sakit ini. Sebagai hukuman karena kamu masih berhubungan dengan Raka, kamu harus kembali ke rumah sendirian. Aku mau pulang dengan Nia dan putra kami" ucap Jino pelan.


"Mas, izinkan aku untuk dapat mengunjungi Rendra sesekali"

__ADS_1


"Jangan meminta sesuatu yang tak mungkin aku kabuli. Dari awal kontrak kamu tahukan jika anakmu akan menjadi anaknya Nia. Anggap saja kamu tak pernah melahirkan. Bukankah itu lebih biak, kamu tak perlu repot mengasuhnya"


"Aku tahu mas ini sesuai kontrak, tapi kamu tega mas...memisahkan aku secepat ini. Aku tak akan menyerah, aku akan cari cara agar dapat bertemu puteraku kembali"


Ia lalu mendekati Nia dan memberikan Rendra untuk digendong. Jino mengambil bungkusan susu bayinya.


"Terima kasih, Melati. Kami pamit dulu. Kami akan mempersiapkan kamar buat Rendra. Dokter telah mengizinkan kamu kembali ke rumah. Nanti aku minta tolong supir menjemput dan mengantar kamu ke rumah ya"


"Tak perlu , Nia. Melati bisa pulang menggunakan taksi. Bukan begitu, Melati"


"Iya mbak, biar aku pakai taksi saja...."


"Oh, gitu ya. Hati hati..."


Jino merangkul bahu Nia berjalan keluar dari ruang rawat Melati. Baru saja mereka keluar tangisan Melati pecah. Jino dan Nia dapat mendengarnya.


"Rendra....." teriak Melati sambil menangis di dalam kamar


"Kasihan Melati, pasti ia berat melepaskan Rendra " ucap Nia


"Rendra lebih pantas diasuh olehmu. Melati itu wanita yang tidak bisa diomongin. Ia tak patuh. Aku memintanya menjauhi Raka aja ia tak dengar"


"Kamu cemburu"


"Buat apa aku cemburu. Bukankah ia juga telah setuju jika anak anak yang ia lahir buat kita. Jadi seharusnya ia tak perlu menangis begitu."


"Tapi ia pasti merasa sedih terpisah dari putra yang ia kandung"


"Aku tak yakin, ia pasti menangis karena melihat aku yang menyayangi dan mencintaimu. Ia cemburu padamu"


"Jino, aku tahu itu. Pastilah setiap wanita akan cemburu melihat kamu yang begitu mencintaiku. Aku juga sangat mencintaimu"


Jino mengecup kepala Nia, mereka masuk ke mobil dan meminta supir segera melajukan mobil menuju kediaman mereka.


Sementara itu Melati menangis di kamar rawat inapnya dengan mencium baju kotor Rendra yang tertinggal.


"Ya Tuhan, beri aku kekuatan untuk dapat menjalani semuanya dengan tabah dan sabar. Aku tahu ....semua yang terjadi dalam hidupku telah ditakdirkan buatku. Aku ingin bisa melalui semua cobaan ini dengan ikhlas. Aku tahu semua ini juga terjadi karena kesalahanku yang tanpa berpikir untuk setuju atas kontrak itu. Tapi aku tak pernah mengira jika ini akan sangat menyakitkan bagiku. Tuhan, izinkan aku untuk dapat bertemu dan memeluk puteraku lagi. Walau aku tak dapat memilikinya...."


********************




__ADS_1



Terima kasih


__ADS_2