Melati (Istri Yang Tak Dianggap)

Melati (Istri Yang Tak Dianggap)
Bab Sembilan puluh Empat


__ADS_3

Melati membawa Jino ke rumah sakit keluarganya. Ketika melewati poli kandungan Melati melihat Nia dan Alex sedang duduk di kursi pasien.


Nia tersenyum pada Melati dan menghampirinya.


"Selamat pagi Jino... Melati"


"Selamat pagi mbak Nia"


"Kamu sakit Jino, wajahmu pucat"


"Hhhmmmm.... " ujar Jino hanya berdehem


"Mas Jino demam ,mbak. Mbak lagi periksa kandungan" ucap Melati.


"Ya, Mel."


"Selamat ya mbak. Udah berapa bulan... "


"Tiga bulan Mel... "


"Tiga bulan.... "


"Aku udah hamil sebelum nikah kemarin, Mel" ucap Nia mengerti keterjutan Melati


"Oh... maaf mbak. Aku tak bermaksud menyinggung"


"Nggak apa, Mel... "


"Sayang, mas lemas banget nih"


"Maaf, mbak. Aku mau ke poli umum dulu. Mau periksa kesehatan mas Jino"


"Silakan, Mel. Moga cepat sembuh, Jino "


"Terima kasih... " ucap Jino datar.


Melati memeluk bahu Jino ketika berjalan. Nia memandanginya hingga hilang, tanpa menyadari kehadiran Alex dibelakangnya.


"Kamu menyesal berpisah dengan Jino" ucap Alex mengagetkan Nia


"Alex... jangan memulai pertengkaran. Apa kamu lupa jika aku sedang mengandung anakmu. Tak mungkin aku mengkhianatimu lagi."


"Mereka pasangan yang serasi"


"Udahlah, nanti namaku dipanggil" ujar Nia kembali ke bangku tunggu buat pasien.


Melati langsung dipersilakan masuk ke ruang kerja dokter oleh perawat. Sampai di dalam dokter mempersilakan Jino dan Melati duduk.


"Ada yang bisa saya bantu pak Jino"


"Dari kemarin badan suami saya panas, dok. Dan tadi pagi ia muntah muntah" jawab Melati


"Silakan bapak naik ke kasur. Biar saya periksa dulu"


Dokter memeriksa tensi, detak jantung dan suhu tubuh Jino. Setelah semua selesai Jino kembali duduk.


"Pemeriksaan yang baru saja saya lakukan tidak ada yang serius dengan kesehatan pak Jino. Semuanya normal. Suhu tubuh juga sudah turun. Mungkin pak Jino hanya kecapean dan perlu istirahat"


"Saya juga berpikir begitu, dok. Tapi istri saya yang terlalu kuatir " ucap Jino


"Mas... Gimana aku nggak kuatir. Mas muntah muntah sampai wajah pucat"


"Mungkin masuk angin.... "


"Mungkin dok. Istri saya membuka seluruh pakaian saya kemarin, katanya agar suhu tubuh saya turun. Ia juga membuka seluruh pakaiannya dan memeluk saya hingga subuh"

__ADS_1


"Mas... " ucap Melati malu


"Itu memang bisa menurunkan suhu tubuh. Karena suhu tubuh yang tinggi akan mencari tubuh dengan suhu normal. Sehingga panasnya pindah "


"Gitu ya dok...berarti istri saya memindahkan panas badan saya ketubuhnya. Sayang, kamu kuatir banget ya aku sakit hingga rela memindahkan suhu tubuhku yang tinggi ke tubuhmu"


"Mas malu ah..."


"Saya hanya bisa memberikan vitamin dan obat penurun panas. Bisa tebus di apotik rumah sakit ini"


"Terima kasih dok... kami pamit dulu" ucap Jino dan Melati , mereka menyalami dokter sebelum keluar dari ruang kerja.


Sampai di luar, Melati mencubit pinggang Jino.


"Mas tuh kalau ngomong disaring sedikit"


"Emang kenapa"


"Masa semuanya harus diomongin dengan dokter"


"Biar dokternya tau, sayang"


"Maluin aja" gerutu Melati sambil berjalan menuju apotik.


Melati dan Jino duduk menunggu giliran buat dipanggil.


Jino tak lepas memandangi wajah Melati yang cemberut.


"Napa memandangnya gitu amat"


"Terima kasih ya, sayang"


"Buat.... "


"Karena kamu mengkuatirkan aku, sampai rela pindahin suhu panas tubuhku ketubuhmu"


"Aku akan tetap kuat dan sehat agar dapat melindunginya dan anak anak kita"


Melati berdiri ketika namanya dipanggil. Ia berdiri menunggu resep obat Jino. Dari tempat duduknya Jino tak berkedip memandangi Melati dari atas hingga ujung kaki.



"Melati... aku merasa sangat bahagia saat ini, karena aku sudah mendapat perhatian darimu. Melati... makin hari rasa cintaku makin tumbuh untukmu. Kamu sangat cantik dan baik, aku merasa pria paling beruntung karena bisa menjadi suamimu"


Jino terus saja memandangi Melati, yang tampak sangat cantik dengan memakai jaket dan kaca mata.



Melati berjalan mendekati Jino setelah mendapati obat Jino dari petugas apotik dan membayarnya.


"Sudah puas pandangi wajahku"


"Nggak pernah puas sayang. Kamu tambah cantik aja"


"Baru sadar istrinya cantik" ucap Melati sambil menahan senyumnya.


"Kamu bisa juga ya narsis sekarang "


"Emang mas aja yang bisa. Kita langsung pulang, atau mas ingin sesuatu"


"Kita cari asinan buah dulu sayang "


"Asinan buah... mas yakin"


"Emangnya kenapa sayang"

__ADS_1


"Setahuku mas nggak suka dengan asinan"


Jino berdiri dan memeluk pinggang Melati berjalan sepanjang lorong rumah sakit menuju mobil mereka yang diparkirkan.


"Nggak tau ya, pengin aja asinan. Asinan sayur juga nggak apa"


"Setahuku, mas pernah minta rujak dan asinan saat aku hamil anak kedua kita dulu" gumam Melati


"Maaf sayang. Aku membuatmu jadi ingat dengan bayi kita itu"


"Sudahlah mas, semua udah jadi masa lalu. Jangan diingat lagi"


"Apa jangan jangan kamu hamil saat ini, sayang" ucap Jino sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Mas bisa aja. Alhamdulillah, kalau emang aku hamil "


Jino ingin membalas ucapan Melati, tapi tak jadi karena melihat Nia yang mendekati mereka. Nia yang juga akan menuju mobilnya menghampiri mereka.


Jino langsung membuang wajahnya, tak ingin memandangi Nia yang lagi bersama Alex.


"Ketemu lagi kita, Melati. Sakit apa Jinonya" ucap Nia dengan Melati. Ia melihat Jino yang sengaja membuang pandangannya kearah lain.


"Hanya demam aja, mbak"


"Oh syukurlah, jika tak ada yang serius"


"Udah basa basinya. Kami mau pulang" ucap Jino ketus


"Jino...maafkan aku. Apa kamu masih marah padaku"


"Menurutmu... apa kamu mau aku melupakan semua pengkhianatan yang telah kamu lakukan itu. Apa kamu mau aku pura pura lupa jika kamu sering membodohiku"


"Jino, apa kamu belum bisa ikhlas atas semuanya. Apa kamu belum bisa lepas dariku"


"Jangan salah sangka, Nia. Jangan kamu pikir jika aku belum bisa lepas dari bayangmu. Bahkan aku lupa jika aku pernah hidup denganmu, aku lupa semua tentangmu. Jika saat ini aku tak bisa menerimamu, karena aku tak ingin kamu memasuki kehidupanku lagi."


"Jino... apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa memaafkanku"


"Jangan pernah muncul dihadapanku lagi. Jika kamu melihatku atau Melati, menjauhlah. Hanya itu yang bisa membuat aku memaafkanmu.... " ucap Jino ketus.


Melati mengusap lengan Jino, ia melihat mata Jino yang menahan amarah.


"Mas... sabar. Mbak Nia udah meminta maaf dengan tulus. Tak baik jika mas masih menyimpan dendam"


"Menghadapi orang seperti Nia tak bisa dengan sabar. Dan butuh waktu untuk aku dapat memaafkan dan melupakan semua yang pernah kamu lakukan padaku. Jika Melati bisa saja memaafkan kamu, tapi jangan harap aku juga melakukan hal yang sama. Jadi aku minta enyahlah sebelum aku khilaf" ucap Jino ke Nia dengan suara keras


Alex yang berdiri cukup jauh dari Nia, berjalan mendekat setelah mendengar ucapan Jino. Ia menarik lengan Nia.


"Maaf, jika mengganggu " ucap Alex dan menarik Nia menuju mobil mereka.


Alex meminta Nia masuk kemobilnya, tangis Nia akhirnya pecah setelah di mobil.


"Apa aku tak pantas dimaafkan. Aku tau kesalahanku begitu besar pada Jino, tapi apa tak ada sedikitpun maaf darinya. Apa ia lupa kebersamaan kami selama tujuh tahun ini"


"Kamu apa Jino sebenarnya nggak bisa move on" ucap Alex dengan nada sedikit tinggi


"Alex... aku tak ada keinginan kembali pada Jino. Karena aku sadar aku sudah tak pantas untuknya. Jadi aku harap kamu jangan salah sangka. Aku hanya inginkan maaf darinya"


"Dan seharusnya kamu sadar dengan kesalahan kita selama ini. Kita telah banyak membuat luka. Jino benar, sebaiknya kita tak pernah menampakkan diri kita padanya jika kita ingin ia memaafkan kita"


Nia hanya terdiam tak menjawab ucapan Alex. Perlahan mobil mereka meninggalkan halaman rumah sakit.


"Maafkan aku, Jino. Aku sangat menyesal karena telah melukai hatimu. Kamu pria baik, pantas mendapatkan kebahagiaan .Jika saja aku dulu bisa menerima dan mencintaimu, pasti saat ini kita masih hidup bersama dengan anak anak kita. "


**********************

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2