
Raka pulang ke apartemennya setelah ia mengobati lukanya dan mengganti pakaian. Ia minta tolong supir untuk menemaninya ke Bandung. Raka takut kecapean jika harus menyetir sendiri mencari keberadaan Alex.
Raka sudah bertanya dengan teman temannya yang dulu mengenal dan dekat dengan Alex.
Akhirnya Raka mendapatkan alamat rumah Alex dari seorang teman dekat Alex.
Raka meminta supir menuju alamat tersebut. Sore harinya Raka sampai depan rumah Alex.
Raka turun dari mobil dan berjalan menuju depan rumah Alex. Ia mengetuk pintu rumah beberapa kali sebelum seorang wanita paruh baya membukanya.
"Selamat sore ,bu. Apa benar ini rumah kediaman orang tua Alex"
"Benar...ada perlu apa ya" ucap wanita itu yang ternyata ibunya Alex.
"Saya ada perlu dengan Alex, bu"
"Kamu siapa. Apa Alex mengenalmu"
"Saya Raka. Teman sewaktu kuliah dulu"
"Oh ,silakan masuk dulu"
"Terima kasih, bu" ucap Raka dan masuk kedalam rumah.
Ibunya Alex mempersilakan Raka duduk. Ia meninggalkan Raka sebentar, kemudian datang dengan membawa segelas teh hangat.
"Silakan di minum. Maaf...ibu hanya bisa memberikan air "
"Nggak apa , bu. Ini juga sudah cukup"
"Boleh ibu tau, ada urusan apa kamu dengan Raka"
"Ada sedikit masalah pribadi yang ingin aku bicarakan, bu"
"Alex jarang pulang sejak pernikahannya gagal. Dan ibu juga jarang keluar rumah. Ibu malu" ucap ibunya Alex menangis.
Ibunya Alex lalu menghapus air matanya. Ia memandangi Raka.
"Jika kamu teman kuliahnya Alex, apa kamu mengenal wanita yang bernama Nia"
"Kenal bu. Kami sama kuliahnya dulu"
"Wanita itu bukan saja menggagalkan pernikahan Alex. Ia juga telah sukses membuat ibu malu dan tidak memiliki wajah lagi untuk menatap tetangga. Ia datang ke sini dengan mengatakan hal yang memalukan"
Ibunya Alex menghentikan ucapannya. Ia kembali menghapus air matanya.
__ADS_1
"Ibu bukannya membela Alex. Ibu tau Alex juga bersalah. Tapi kenapa ia datang saat Alex ingin membina rumah tangga. Kenapa ia harus mengatakan di depan tetangga. Ia bisa menemui ibu dan bicara empat mata saja. Mungkin ibu bisa bersimpati dan mencoba mencari jalan keluarnya"
"Mungkin Nia juga nggak tau Alex mau menikah"
"Ibu juga salah, kenapa ibu langsung emosi ketika ia membeberkan semua kelakuan bej*t anak ibu. Ibu syok...."
"Aku mengerti dengan perasaan ibu..."
"Kenapa ibu jadi cerita panjang begini dengan kamu ya"
Setelah mengucapkan itu, mata ibu Alex kembali menerawang entah kemana.
"Padahal ibu sudah senang, Alex mau menikah dan dapat wanita baik. Ibu pikir selama ini Alex tak mau menikah karena tidak ada kekasihnya. Tapi ibu salah. Ia dan Nia ternyata menjalin hubungan terlarang"
Tampak ibu Alex menangis dengan tersedu. Raka iba melihat itu. Ia menggenggam tangan wanita itu yang telah tampak keriput.
"Ini semua salah ibu. Ibu tak bisa mendidik anak ibu sehingga ia menjadi pecundang. Ibu juga sebenarnya saat ini ingin meminta maaf pada Nia jika benar Alex banyak memakan uangnya. Ibu maluu...."
"Sudah lah ,bu. Jangan menangis. Ibu tidak salah. Dan apa yang dilakukan Alex bukan karena ibu yang tak bisa memdidiknya. Itu karena Alex yang memang tak bertanggung jawab...."
"Oh ya ...ibu baru ingat, kamu tadi mencari Alex kan"
"Iya ,bu..."
Ibu masuk ke kamar dan memberikan secarik kertas yang berisikan alamat rumah Alex.
"Ini alamat rumah kontakannya...."
"Terima kasih, bu. Kalau gitu saya pamit dulu"
"Ya...."
Raka meninggalkan rumah orang tua Alex menuju kontrakannya. Sampai di rumah kontrakannya, Raka mengetuk pintu beberapa kali tapi tak ada sahutan.
"Mungkin Alex belum pulang kerja , sebaiknya aku tunggu aja"
Raka memilih kembali masuk ke dalam mobil dan menunggu kepulangan Alex.
Sampai hingga magrib, Raka melihat sebuah mobil masuk ke halaman rumah kontrakan itu. Tak lama Alex keluar dari dalam mobil.
Raka juga keluar dari mobilnya dan berteriak memanggil Alex sebelum pria itu masuk ke rumah.
"Alex...."
Alex memandang ke arah asal suara yang memanggil namanya. Ia memandangi wajah Raka lama. Setelah beberapa saat baru ia mengingatnya.
__ADS_1
"Raka...."
"Ya, aku mau bicara"
"Bicara apa. Masih tentang Nia. Aku tak ada waktu"
"Bukan hanya tentang Nia, tapi tentang kau dan juga Jino"
"Apa maksudmu..."
"Jangan pura pura nggak tau. Kamu pasti udah tau dari berita yang beredar jika Jino telah tau perselingkuhanmu dan Nia yang telah kalian lakukan dari semenjak awal pernikahan. Bahkan sebelum pernikahan..."
"Kamu datang untuk apa. Apakah Jino ingin aku meminta maaf padanya. Atau bersimpuh dikakinya memohon ampun"
"Dasar lelaki pecundang, apa kamu tak merasa bersalah sama sekali"
"Bukankah Jino telah melakukan pembalasan. Aku tau ia penyebab perusahaanku bangkrut. Aku tau Jino juga yang mendatangi calon mertuaku agar membatalkan pernikahanku. Aku juga tau Jino yang meminta semua perusahaan besar untuk tidak menerimaku sebagai karyawan. Saat ini aku hanya bekerja sebagai karyawan diperusahaan kecil. Gajiku hanya cukup buat makan dan bayar kontrakan. Apa Jino belum juga puas"
"Apa kamu pikir itu udah sepadan dengan yang kamu lakukan pada Jino. Kamu mengkhianati temanmu sendiri"
"Aku harus bagaimana, waktu juga tidak dapat berputar"
"Dasar bajing*n. Tak ada penyesalankah pada dirimu atas apa yang telah kamu lakukan...."
"Aku juga hancur. Saat ini semua orang yang mengenalku tau jika aku pria yang berselingkuh dengan Nia. Jino telah memperlihatkan fotoku dan Nia pada wartawan. Ia telah membuat aku malu dan hidup menderita begini. Bukankah ia telah membalas semua perbuatannya. Apakah aku harus menangis meminta iba darinya"
Raka sudah tidak tahan mendengar ucapan Alex hingga melayangkan bogem mentah ke wajahnya. Alex yang tidak siap dengan serangan Alex menjadi terhuyung.
"Jino tidak akan pernah meminta kau memohon maaf padanya. Tak ada gunanya kata maaf dari pria pecundang seperti dirimu. Aku datang juga bukan atas nama Jino. Tapi Nia...kamu tau apa yang terjadi. Nia saat ini depresi. Ia berada di rumah sakit jiwa. Aku ingin kau datang melihat keadaannya. Apa kau lupa jika selama ini kau menikmati tubuh dan uangnya. Tidakkah kau memiliki sedikit simpati. Bukankah kau juga mencintainya"
"Aku tak mau berurusan dengan Nia lagi"
"Jika kau tak datang, aku pastikan kau mendekam di penjara atas tindakan pemerasan. Aku telah mengantungi bukti tranferan yang selalu Nia beri buatmu. Termasuk uang yang kau gunakan untuk membuka perusahaan kecilmu walau saat ini telah bangkrut"
"Apa yang bisa aku lakukan. Aku tak ingin kembali pada wanita itu. Bukankah ia juga menyukaimu. Kenapa bukan kau saja yang datang buat mengobatinya"
"Aku tak pernah menanggapi Nia. Tapi kau selama ini telah menikamati semuanya, baik tubuh maupun uangnya. Ini alamat tempat Nia di rawat. Aku akan mengawasimu. Jika besok kau tak juga datang. Aku pastikan kau lebih hancur dari saat ini...."
Raka berjalan meninggalkan Alex yang masih bingung berdiri di depan mobilnya. Ia melihat kartu nama rumah sakit jiwa tempat Nia di rawat.
"Apa aku harus mendatangi Nia lagi. Aku takut tambah menyakiti hatinya. Aku tau Nia, aku ini pengecut. Setelah apa yang kita lakukan, aku meninggalkan kamu menanggungnya sendiri. Tapi aku juga takut jika aku meneruskan hubungan denganmu , Jino akan lebih bertindak lebih kejam lagi"
****************
Terima kasih
__ADS_1