
Setelah mengucapkan lamaran , penghulu mengatakan segera memulai akad nikah.
Jino dan Kai duduk berhadapan dengan tangan yang saling berjabat.
"Jino Satria Pratama..."
"Saya, bang...."
"Saya nikahkan engkau dengan adik kandungku Cantika Melati Putri binti Maheswara dengan mas kawin seperangkat perhiasan berlian dan uang tunai lima miliar rupiah dibayar tunai...."
"Saya terima nikah dan kawinnya Cantika Melati Putri binti Maheswara dengan mas kawin tersebut dibayar tunai...."
Jino mengucapkan ijab kabul dengan satu tarikan nafas.
"Bagaimana saksi...Sah..." ucap penghulu
"SAHH....." ucap kedua saksi nikah yang merupakan rekan kerja Jino.
"Alhamdulilah ...." ucap Jino.
Semua tamu undangan tersenyum lega terutama mama Melati dan mama Jino.
Melati diminta duduk disamping Jino dan mencium tangannya.
Acara penyerahan mas kawin dilakukan setelah itu. Melati menerimanya dengan tersenyum.
"Sekarang kalian ...Jino dan Melati telah sah menjadi suami istri.
Penghulu dan dua orang dari kantor KUA meminta Jino dan Melati menanda tangani surat nikahnya. Setelah itu Jino membacakan Ikrar pernikahan.
Akhirnya rangkaian acara akad nikah Jino dan Melati ditutup dengan pembacaan doa dari ustad.
Jino dan Melati sungkem pada orang tua dan abang Kai. Dan diteruskan dengan minta restu pada keluarga yang lebih tua laiinnya.
Setelah semua rangkaian acara selesai semua tamu undangan diminta mencicipi hidangan yang telah tuan rumah sediakan.
Jino tak berhenti tersenyum sambil menerima jabatan tangan dari keluarga dan tamu yang mengucapkan selamat.
Acara akan dilanjutkan malam hari nanti sebagai syukuran atas pernikahan mereka.
Raka yang datang sendiri tanpa Kimberley mendatangi Melati dan Jino yang sedang duduk menerima ucapan selamat.
"Jino...Melati...Selamat atas pernikahannya. Semoga kalian bahagia selamanya. Tidak ada lagi kesalahpahaman atau masalah dalam tumah tangga kalian"
"Terima kasih, Raka...aku juga mendoakan agar kamu mendapat pendamping hidup yang baik dan kamu bahagia selamanya" ujar Melati
"Jino...kamu pasti tau bagaimana perasaanku pada Melati. Aku mohon kamu tak pernah menyakitinya lagi. Aku ikhlas dan rela melepaskannya asal ia bahagia. Tapi jika suatu saat aku mendengar kamu kembali menyakitinya, jangan salahkan jika aku merebutnya darimu dan tak akan aku biarkan kamu kembali lagi walaupun kamu memohon padaku"
"Aku janji sebagai seorang pria...aku tak akan menyakiti hati Melati lagi"
"Raka...mana Kimberley"
__ADS_1
"Nanti malam ia akan datang denganku. Tadi ia ada pemotretan....aku pamit dulu. Nanti mlam aku kembali lagi"
"Ya , Raka...terima kasih" ujar Jino.
Raka meninggalkan Jino dan Melati yang masih terus memandanginya hingga hilang.
Satu persatu keluarga dan tamu meninggalkan rumah, dan akan kembali nanti malam.
Melati masuk ke kamar Rendra. Ia melihat putranya tertidur dengan Kai yang memeluknya.
Kai melihat kedatangan Melati langsung duduk.
"Kenapa dek..."
"Aku hanya ingin melihat Rendra, bang. Terima kasih bang..."
"Untuk apa...."
"Untuk kasih sayang yang abang berikan padaku. Walau kita baru bertemu , aku sudah dapat merasakan kasih sayang abang dan mama yang sangat melimpah padaku. Aku sangat bersyukur atas semua yang Tuhan berikan padaku. Dan aku berharap pernikahan aku kali ini dapat menyembuhkan penyakit Rendra...."
"Dek...abang juga berharap Rendra dapat segera sembuh dan kebahagian selalu menyertaimu. Sudah cukup selama ini kamu harus hidup dengan kesulitan"
Melati memeluk Kai. Ia mengecup kepala adiknya.
"Bang, aku titip Rendra. Aku mau ganti baju dulu"
"Istirahatlah dulu, nanti malam kamu masih harus menerima tamu. Rendra aman bersama abang dan mama..."
"Abang nggak mau dengar kamu ucapkan terima kasih lagi. Rendra ponakan abang, tak perlu berterima kasih hanya untuk ini"
"Bang...aku sayang abang"
"Abang juga , dek..."
Melati meninggalkan kamar Rendra. Ia melihat mamanya dan mama Jino beserta keluarga lainnya masih berbincang. Melati masuk kamarnya.
Ia membuka pakaiannya , membersihkan riasan dan tubuhnya di kamar mandi.
Melati lupa membawa handuknya. Ia hanya melihat handuk kecil di kamar mandi. Melati memakainya. Handuk itu tidak bisa menutupi tubuhnya dengan sempurna.
Melati mengira tak ada orang di kamar, ia berjalan keluar dari kamar dengan santai.
"Hhhmmmm....." deheman Jino membuat Melati kaget.
"Mas...kapan mas masuk. Kenapa nggak ketuk pintu dulu"
"Ini juga kamarku, Mela. Kenapa harus ketuk pintu dulu"
Melati melihat Jino yang terus memandanginya tanpa kedip, menyadari jika ia hanya memakai handuk kecil.
"Mas...tutup matamu. Jangan mandangi aku terus" ucap Melati menutupi tubuhnya dengan kedua tangan.
__ADS_1
"Kenapa harus malu, Mel. Aku masih ingat semua lekuk tubuhmu, bahkan dimana letak tahi lalatmu aja aku masih ingat"
"Jangan mesum ya mas..." ucap Melati dan mengambil kimono handuk dari lemari dan menutupi tubuhnya segera.
Jino berdiri dari duduknya dan mendekati Melati. Ia memeluk tubuh Melati erat.
"Kita mulai buat adik untuk Rendra sekarang" ucap Jino dengan senyum smirknya.
Melati mendorong tubuh Jino agar melepaskan pelukannya. Tapi tenaganya tak bisa melawan tenaga Jino yang dengan erat memeluk pinggangnya.
"Mas...ini masih siang"
"Emang ada larangan buat adik Rendra siang hari"
"Mas...jangan macam macam. Diluar masih banyak keluarga loh"
"Kenapa, apa kamu mau mereka mendengar kita bercinta..." bisik Jino
"Aku nggak mau...nanti malam kita masih harus menerima tamu"
"Hanya satu ronde tidak akan membuatmu sampai terkapar kok" ucap Jino masih menggoda Melati
"Mas...maaf aku belum siap" lirih Melati.
Mendengar ucapan Melati, Jino tak jadi meneruskan godaannya.
"Maaf...Melati. Mas juga cuma bercanda. Mas tak akan pernah memaksamu"
Jino menggendong Melati dan mendudukannya di kursi dekat meja rias. Jino berlutut didepannya.
"Melati...aku tau, tak mudah bagimu menerima aku kembali. Aku tak akan pernah memaksamu. Aku tadi hanya menggodamu. Dengan kamu mau menerimaku sebagai suamimu kembali aku sudah merasa bahagia walau aku tau semua ini kamu lakukan hanya demi Rendra. Kamu tak perlu memikirkan untuk memberi Rendra adik secepatnya. Tapi aku berharap kamu juga jangan terlalu lama larut dalam masa lalu. Rendra sangat membutuhkan kita untuk kesembuhannya"
"Mas..aku minta maaf jika aku menyinggungmu. Terlepas dari aku terpaksa atau bukan menikah denganmu, aku tetap harus menjalani kewajibanku sebagai istri. Aku akan berusaha menjadi istri terbaik buatmu dan juga bunda terbaik untuk Rendra. Aku juga harus siap kapanpun kamu menginginkan aku"
"Terima kasih , Melati...."
Jino memeluk Melati dan mengecup tangannya dan kepala Melati.
"Sekarang tidurlah, nanti malam kita masih harus menerima tamu lagi"
"Mas ...mau kemana. Apa mas nggak istirahat juga"
"Apa nggak keberatan mas temani kamu tidur"
"Nggak mas..." ucap Melati sambil menunduk
Jino menggendong Melati dan menghempaskan tubuhnya pelan di kasur.
Jino lalu naik ke ranjang dan memeluk Melati. Mereka terlelap dengan saling berpelukan.
*****************
__ADS_1
Terima kasih