
Setelah beberapa hari keadaan Melati mulai membaik, infus sudah tak digunakan lagi.
Raka senang melihat perkembangan Melati, walau sampai saat ini Melati masih sering menangis dan termenung jika mengingat anaknya.
"Melati, aku akan ke Jakarta. Ada sedikit yang harus aku urus. Sekalian aku akan mengantarkan gugatan ceraimu. Kamu jangan pernah keluar rumah ya. Mungkin aku akan dua hari di Jakarta"
"Raka...terima kasih"
Raka hanya tersenyum menanggapi ucapan terima kasihnya Melati.
"Raka..."
"Ya, Mel..."
"Boleh aku minta tolong dan merepotkan kamu lagi"
"Jangan bicara begitu, aku tak suka. Sudah sering aku karakan jika aku tak pernah merasa direpotkan"
"Apa kamu bisa melihat Rendra dan merekam apa yang ia lakukan"
"Oh..baiklah. Besok aku mampir ke tempat tante. Jika memungkinkan aku akan vidio call biar kamu bisa melihat Rendra"
"Sekali lagi terima kasih, Raka"
"Ingat ya, jangan keluar rumah. Jangan telat makan dan minum vitamin. Aku mau pamit dulu"
"Iya , Raka. Hati hati...."
Raka pergi bersama supirnya menuju Jakarta. Ada banyak model baru yang masuk ke agensinya. Dan ia juga akan mengurus kontrak modelnya yang akan menjadi artis.
..............
Setelah mengurus semuanya, Raka pergi ke rumah mama Jino pagi harinya. Ia tak mau bertemu Jino. Dari pembantu yang dihubungi Raka, ia tau jika Jino sering menginap di rumah orang tuanya.
Begitu Raka masuk rumah, ia melihat mama Jino yang sedang bermain bersama cucunya.
"Selamat pagi, tante"
"Raka...apakabar nak"
"Sehat, keliatannya senang banget nih bermain dengan cucunya"
"Ya, Raka. Tante bahagia banget setelah tau jika tante memiliki seorang cucu. Duduklah ,Raka. Ada yang ingin tante tanyakan"
"Apa tante..."
"Dimana Melati kamu sembunyikan, Raka"
"Aku tidak ada menyembunyikan Melati, tante"
"Jangan bohong , Raka. Jino mengatakan jika Melati bersama denganmu terkahir kali ia bertemu. Sudah dua minggu ini Melati menghilang. Jino sudah mencari seluruh kota Jakarta tapi tak ada kabar dimana ia saat ini. Melati bersamamu, kan Raka"
"Bukan, tante. Aku tak tau dimana Melati...." jawab Raka menunduk
__ADS_1
"Raka...tante tau jika Jino sangat bersalah padamu dan Melati, karena menuduh kalian berselingkuh. Tapi Raka, kamu tak bisa menyembunyikan Melati selamanya. Kasihan Rendra, ia masih membutuhkan ibunya. Ia masih sangat kecil jika harus dipisahkan dari ibunya"
"Jino dan Nia sudah dari dulu memisahkan Rendra dengan Melati ,dari Rendra masih bayi merah"
"Apa maksudmu Raka..."
"Apa Jino tak ada cerita tentang Melati dan Rendra"
"Ia mengatakan jika ia menikah siri dengan Melati untuk mendapatkan keturunan, itu aja"
"Ia tak ada menceritakan yang lainnya"
"Raka...tante tambah tak mengerti dengan perkataanmu"
"Jino dan Nia tidak pernah memperlakukan Melati selayaknya. Ketika Melati sedang berjuang melahirkan Rendra, Jino dan Nia sedang asyik liburan. Baru anaknya berumur dua hari udah harus dipisahkan dari ibunya. Jino dan Nia membawa Rendra dari Melati"
"Kamu bicara apa , Raka. Bagaimana mungkin Jino melakukan hal itu pada Melati...tante tak percaya"
"Tante lihat saja kiriman vidio ketika Melati melahirkan, aku yang menemaninya. Buka ponsel tante. Itu udah aku kirimkan"
"Baiklah, ponsel tante ada dikamar. Tunggu tante ambilkan sebentar..."
Mama Jino berjalan menaiki tangga menuju kamarnya yang ada dilantai atas. Kesempatan itu digunakan Raka buat vidiokan Rendra yang sedang bermain diayunan.
Raka mengajak Rendra becanda dan bicara, hingga anak itu tertawa. Cukup lama mama Jino di kamar. Mungkin ia langsung melihat kiriman vidio itu di kamar.
Raka menghubungi Melati dengan ponselnya. Melati senang dapat melihat wajah Rendra lagi. Ia mengajak Rendra tertawa dan becanda.
Raka menghentikan vidio callnya dengan Melati ketika mendengar langkah kaki mendekat.
"Tante tak mengira jika Jino tega melakukan itu. Tante mengirimkan vidio itu pada Jino. Tante ingin ia melihatnya. Jino harus tau bagaimana perjuangan seorang istri ketika melahirkan" ucap mama Jino dengan terisak.
"Tante..maaf, aku tak bermaksud membuat tante menangis"
"Bukan salahmu, Raka. Ia semua salahnya Jino. Ia dulu terlalu percaya dengan istrinya itu...."
"Bagaimana kabar Nia saat ini tante"
"Jino sudah menggugat cerai dan kemungkinan juga akan menggugatnya dengan penipuan karena telah mengirim uangnya buat pria lain. Jino tak ingin memberikan hartanya sedikitpun buat wanita ular itu...."
Sementara itu di kantornya Jino kaget melihat vidio yang dikirimkan mamanya.
"Ya Tuhan, jadi begini perjuangan Melati saat akan melahirkan Rendra. Pantas ia begitu sedih saat aku dan Nia membawa Rendra pergi darinya. Aku dan Nia asyik liburan sedangkan Melati harus berjuang melawan maut melahirkan putraku. Aku yang seharusnya menemani ia melahirkan malah asyik jalan jalan dan ia harus ditemani oleh pria lain. Melati...maafkan aku"
Jino menghapus air matanya yang turun membasahi pipinya. Ia menghubungi mamanya.
"Dari mana mama dapatkan vidio itu"
"Dari Raka...."
"Dimana Raka saat ini...."
"Ada di rumah"
__ADS_1
"Aku mohon tahan Raka sampai aku pulang, ma. Aku harus bicara dengannya"
Jino langsung mematikan sambungan ponselnya dan berlari keluar dari ruang kerjanya.
Jino mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia harus bertemu Raka.
"Raka pasti tau dimana Melati. Aku harus memohon padanya untuk mengatakan dimana Melati"
Sampai dirumahnya , Jino berlari masuk. Ia melihat Raka yang sedang menggendong Rendra.
"Raka, dimana Melati..." ucap Jino begitu sampai dihadapan Raka.
"Buat apa kamu tanyakan Melati lagi. Bukankah kamu mengatakan tak ingin melihatnya lagi"
"Raka, aku mohon...katakan dimana Melati. Bagaimana dengan kandungannya"
Mama Jino hanya diam mendengarnya. Ia mengambil Rendra dari tangan Raka. Mama Jino ingin tau apa sebenarnya yang terjadi.
"Seperti yang kamu harapkan. Anak itu tak bisa bertahan. Ia pergi karena ayahnya tak mau mengakuinya"
Mendengar ucapan Raka, Jino memjadi lemas. Ia terduduk di sofa.
"Ada apa ini...apakah Melati hamil lagi"
"Ya, dan Jino telah membunuhnya..." ucap Raka.
"Jino...katakan apa yang terjadi. Apa benar kamu telah membunuh anakmu dalam kandungan Melati"
Pengasuh Rendra mengambilnya dari gendongan mama Jino ketika mendengar Rendra menangis.
Mama Jino juga terduduk karena lemas setelah mendengar kenyataan itu.
"Mama tidak menyangka jika kamu bisa berbuat kasar dan menyakiti hati wanita seperti ini. Kenapa kamu tega membunuh darah dagingmu sendiri. Apa yang telah kamu lakukan pada Melati"
"Aku tak tau,ma. Aku memang salah. Aku tak mengerti kenapa aku jadi sejahat itu pada Melati. Aku memang pecundang..."
"Kebetulan aku bertemu kamu disini, Raka. Aku membawa surat gugatan cerai dari Melati...." ucap Raka dan mengambil amplop besar berisi surat gugatan cerai Melati.
Jino memandangi Raka dengan intens.
"Aku tak akan menceraikan Melati"
"Kenapa...bukankah kamu yang menginginkan perpisahan ini. Apa kamu lupa kamu meminta ia pergi dan kamu telah menceraikannya"
Jino berdiri dari duduknya dan bersimpuh di kaki Raka.
"Raka...maafkan aku, jangan pisahkan aku dengan Melati. Katakan dimana kamu sembunyikan, Melati. Rendra masih memerlukan bundanya"
"Aku sudah memaafkan kamu..." ucap Raka dan membantu Jino kembali duduk di sofa
"Dan perlu kamu tau, aku tak pernah memisahkan kamu dan Melati. Karena aku tak memiliki hak itu. Semua ini murni atas kemauan Melati, ia tak ingin lagi hidup denganmu. Dan jika kamu memang memikirkan Rendra...kamu bisa memberikan hak asuh Rendra pada Melati"
"Tidak, aku tidak akan menyerah Raka.Aku tak akan menceraikan Melati. Aku akan meminta maaf dan ampunan dari Melati. Aku akan meminta Melati memberikan aku kesempatan kedua, akan aku buktikan jika aku bisa menjadi suami yang baik buat dirinya"
__ADS_1
********************
Terima kasih