Melati (Istri Yang Tak Dianggap)

Melati (Istri Yang Tak Dianggap)
Bab Tiga puluh Sembilan


__ADS_3

Jino mengambil surat gugatan Melati dan merobeknya dihadapan Raka, membuat ia menjadi geram.


"Apa maumu Jino. Apa kau belum puas membuat Melati menderita..."


"Justru aku ingin menebus semua kesalahanku, aku akan membuat ia bahagia"


"Dimana kamu selama ini, kenapa baru sekarang kamu berpikir akan membuat ia bahagia"


"Raka ...aku mohon padamu, katakan dimaan Melati. Jangan membuat aku melakukan kesalahan lagi"


"Kamu mau apa"


"Aku bisa melaporkan kamu dengan tuduhan melarikan istri orang"


"Dan kamu bisa aku adukan dengan tuduhan penyiksaan dan penganiayaan. Karena aku telah menyimpan bukti visum dan data kesehatan Melati dimana ia harus mengalami keguguran karena tindakan kekerasanmu"


Mama Jino yang mendengar pertengakaran anak dan ponakannya menjadi emosi.


"Jino...sudahlah. Jika memang selama ini kamu hanya memberikan penderitaan bagi Melati, lepaskan ia. Tak usah kamu siksa lagi. Jika kebahagiaan Melati tanpamu, bebaskan ia dengan perceraian darimu" ujar mama emosi


"Tapi ma, aku ingin berubah. Aku ingin menebus semua kesalahanku dengan membuatnya bahagia"


"Apa kamu yakin Melati akan bahagia bersamamu..."


Jino hanya terdiam sambil menunduk dengar ucapan mamanya.


"Sepertinya tak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Aku akan mengirimkan kembali surat gugatan cerai Melati ke kantor kamu. Tante aku pamit"


Raka meninggalkan Jino yang masih tertunduk di sofa. Baru saja Raka melangkah, Jino mengirim pesan pada orang kepercayaannya yang telah menunggu di luar untuk mengikuti kemana Raka pergi.


Mama berdiri dan mendekati Jino, ia melayangkan tangannya menampar Jino.


"Siapa yang mengajarimu melakukan kekerasan pada wanita. Mama selalu mengajarimu untuk menghargai wanita. Walau mama tak menyukai istrimu Nia, apa pernah mama memintamu mengasarinya. Mama kecewa denganmu, Jino. Kau pantas mendapatkan semua ini. Melati juga manusia yang punya batas kesabaran. Mungkin ia telah sampai dititik akhir dari kesabarannya...terimalah semuanya, ini adalah akibat dari perbuatanmu"


Setelah mengucapkan itu, mama Jino meninggalkannya seorang diri . Mama masuk ke kamar.


..........


Sementara itu Nia sedang membaca surat gugatan cerai yang diberikan Jino. Saat ini Nia tinggal di apartemen yang dibeli orang tuanya ketika ia masih kuliah.


Orang tua Nia tinggal di luar negeri menjalankan bisnis keluarganya.

__ADS_1


"Akhirnya aku berpisah dengan Jino. Aku tak tau apa yang saat ini aku rasakan. Bukankah aku tak pernah mencintainya, tapi kenapa rasa kehilangan itu ada. Jino yang selama ini selalu memberikan semua cinta dan perhatiaannya hanya untukku. Tapi sekarang, lihatlah...aku harus sendiri. Alex, pria yang aku cintai , yang aku harapkan bisa menemani dan menghibutku disaat aku terputuk begini juga tidak ada. Ia makin menjauh. Apakah ia juga akan meninggalkan aku. Tidak mungkin... aku telah banyak melakukan pengorbanan untuk dirinya. Ini pasti karena kesibukannya sehingga ia tidak memiliki waktu menemaniku"


Nia mencoba kembali menghubungi Alex. Kali ini sambungan ponselnya diangkat. Nia sedikit mabuk karena dari tadi ia minum bir.


"Hallo, siapa ini..."


"Aku yang seharusnya bertanya, kamu siapa. Kenapa ponselnya Alex ada ditanganmu" ucap Nia dengan suara ketus


"Maaf...aku bertanya karena tak ada namamu tercantum disini"


"Kamu siapa...."


"Aku calon istrinya Alex, ada perlu apa ya"


"Aku sedang tak bercanda...kamu siapa. Kenapa ponselnya Alex ada ditanganmu. Mana Alexnya"


"Alex lagi di kamar mandi. Namamu siapa ,nanti aku sampaikan"


"Kalian di mana dan katakan dengan jujur kamu siapa"


"Harus berapa kali aku katakan...aku ini calon istrinya Alex. Saat ini kami sedang ada di restauran. Kenapa..."


Alex yang dari kamar mandi melihat Dewi calon istrinya sedang bicara dengan ponselnya.


"Siapa yang menelpon, wi..."


"Nggak tau, dari tadi marah marah. Katanya sih kekasih mas..." gumam Dewi


"Sini, aku bicara. Maaf Wi, aku tinggal sebentar. Ini pasti Nia, wanita yang pernah aku ceritakan denganmu. Biar aku selesaikan masalahku dengannya dulu ,ya" bisik Alex.


Alex menjauhi Dewi tunangannya. Ia ingin bicara lebih luasa.


"Ada apa, Nia"


"Siapa wanita itu..."


"Tunanganku..."


"Kamu jangan becanda , Alex. Kamu tak bisa menikah dengan wanita lain"


"Kenapa tidak bisa. Kamu aja bisa menikah dengan pria lain..."

__ADS_1


"B*jing*n...setelah semua yang aku beri, kamu ingin meninggalkanku"


"Nia, aku sudah katakan...hubungan kita harus diakhiri. Aku tak mungkin bisa menikahimu. Semua juga tau kamu itu istrinya Jino"


"Aku akan cerai dengan Jino"


"Aku tak mau dikatakan sebagai orang ketiga dalam rumah tanggamu"


"Tapi kamu memang orang ketiga dalam rumah tanggaku..."


"Nia, memohonlah pada Jino. Siapa tau ia masih bisa menerimamu. Lebih baik kita hidup dengan pasangan kita masing masing. Kita nggak cocok..."


"Apa maksudmu...setelah kau puas dengan tubuhku dan uangku, seenaknya kau bilang kita tak cocok"


"Nia...jika Jino yang lebih segalanya dariku bisa kamu khianati, apa lagi aku yang tak punya apa apa jika dibandingkan Jino. Maaf, Nia...sepertinya tak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Tunanganku menunggu..."


Alex memutuskan sambungan ponsel dan mematikan dayanya.


Nia yang tak terima Alex memutuskan pembicaraan mencoba menghubungi kembali.


Nia begitu kesal setelah tau Alex mematikan daya ponselnya.


Ia melempar gelas berisi bir yang ada didekatnya ke dinding.


"B*jing*n...aku tak terima kau tinggalkan aku saat begini. Aku akan buat kau tak bisa menikahi wanita itu. Kau harus menderita jika tak bersamaku" teriak Nia


Nia berjalan menuju kulkas mengambir bir. Ketika berjalan kembali ke sofa ia menginjak pecahan gelas yang tadi dilemparnya. Kakinya mengeluarkan banyak darah.


"Jino...tolong kakiku berdarah, sakiitt..." teriak Nia. Setelah sekian lama baru ia menyadari jika Jino tak ada didekatnya.


Ia berjalan terhuyung mencari kotak obat dan membersihkan kakinya yang luka.


"Jika ada Jino pasti ia akan dengan kuatirnya membersihkan luka dikaki aku ini. Ini akan mengobati segera. Jino akan menggendongku ke kasur...aku rindu dengan semua itu. Ia tak akan membiarkan aku merasa sakit sedikitpun. Jino akan memanjakan aku dan menuruti apa mauku...."


Nia menangis mengingat semua perhatian yang dulu sering Jino lakukan untuknya.


"Kenapa selama ini aku tak pernah menyadari jika aku juga mencintainya. Rasa sukaku tertutup karena dendam. Setelah berpisah baru aku sadari jika aku juga menyukaimu , Jino. Apa kamu masih mau memaafkan aku. Tapi aku yakin kamu tak akan memaafkan semua salahku..."


*********************


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2