Melati (Istri Yang Tak Dianggap)

Melati (Istri Yang Tak Dianggap)
Bab Delapan puluh Lima


__ADS_3

Siang harinya Jino menjemput Melati. Mereka akan memesan baju buat nikah dan acara syukuran nantinya.


Jino langsung menuju unit apartemen Melati tinggal. Jino memencet bel. Tak lama pintu terbuka. Tampak Melati telah siap.


"Kita langsung berangkat aja, Mel"


"Baiklah mas. Aku pamit dengan mama dulu"


"Aku juga mau pamitan juga"


Jino masuk dan mengikuti Melati. Mereka menemui Mama yang sedang di dapur.


"Ma...aku bawa Melati dulu, ya"


"Iya, Jino. Kamu nggak makan dulu"


"Tadi udah di kantor, ma"


"Kalau gitu hati hati aja menyetirnya..."


"Iya, ma...Rendra mana, ma"


"Udah tidur..."


"Ma, aku dan mas Jino permisi dulu"


"Iya, sayang" ucap mama mengecup pipi Melati


Melati dan Jino meninggalkan mama. Mereka langsung menuju mobil Jino yang diparkir.


.............


Jino membawa Melati ke salah satu butik langganan mamanya dan Nia dulu.


Sampai di butik itu , Jino melangkah sambil menggenggam tangan Melati.


Melati kaget, dan langsung memandangi Jino. Tapi Jino tak juga melepaskannya, ia hanya membalas pandangan Melati dengan senyuman.


Jino meminta pelayan untuk menunjukan model terbaru di butik ini pada Melati, ia ingin Melati yang memilih sendiri model yang disukainya.


Jino duduk di sofa sambil melihat tablet. Ia menyelesaikan kerjaan yang tertunda tadi.


Para pekerja butik itu melayani Melati dengan baik karena ia tau siapa Jino. Ia adalah pelanggan VIP mereka.


Satu persatu baju nikah diperlihatkan pada Melati. Dan mereka membantu Melati mencobanya.


Ketika Melati sedang asyik memilih ia dikagetkan dengan suara seseorang yang memanggil namanya.


"Melati..."


Melati membalikkan badannya dan kaget melihat siapa yang memanggilnya.


"Mbak Nia...."


"Apa kabar...." ucap Nia


"Baik mbak...mbak Nia apa kabar"


"Seperti yang kamu lihat. Saat ini aku udah mendapatkan karma atas apa yang pernah aku lakukan. Aku sudah hampir gila jika Raka tak cepat membawaku ke rumah sakit jiwa. Tapi dari semua musibah yang aku alami, satu satunya yang masih aku syukuri adalah Alex tak jadi meninggalkanku. Ia kembali lagi dan ingin menikahiku"


"Selamat ya, mbak. Kapan mbak rencananya menikah"

__ADS_1


"Minggu depan. Ini aku sedang mencari baju buat nikah. Mirisnya...aku saat ini hanya bisa membeli barang yang diskon. Karena buat beli baju pengeluaran terbaru rasanya sayang buat buang buang uang. Aku dan Alex harus berhemat"


"Mbak...aku minta maaf jika aku telah melakukan kesalahan pada mbak"


"Kamu nggak salah. Ini semua memang salahku"


"Mbak...mbak bisa memilih pakaian yang mbak mau. Biar nanti aku yang bayar"


"Apaan kamu ini, Mel"


"Mbak...maaf. Bukan maksud aku menyinghung mbak"


"Aku nggak tersinggung, cuma kenapa harus kamu yang membayar. Kamu kesini juga ingin membeli pakaian buat nikah. Kamu mau menikah dengan siapa. Jino atau Raka"


"Mas Jino, mbak"


"Itu memang lebih baik. Karena kamu sudah pernah berumah tangga dengannya. Jadi kmu tidak perlu mengenal pribadinya lagi"


"Mbak...bukan maksud aku ingin merendahkan mbak, aku benar benar ingin membelikan baju buat mbak. Anggap sebagai kado dariku"


"Jino bisa marah jika tau kamu membayar pakaianku"


"Mas Jino tak mungkin marah. Aku pakai uang pribadiku"


"Kenapa kamu ingin membelikan aku baju. Kamu kasihan melihatku mencari baju diskon"


"Mbak...bukan itu maksudku. Aku ikhlas memberinya, karena mbak dulu telah membantuku. Berkat bantuan mbaklah aku dapat melunasi hutang orang tuaku"


"Mereka hanya orang tua angkatmu. Aku lihat berita ternyata kamu dan Kai saudara kandung"


"Iya, mbak..."


"Kamu beruntung banget...." gumam Nia


Jino langsung memeluk bahu Melati. Ia takut Nia menyakiti Melati.


"Mau apa kamu kesini" ucap Jino sinis


"Jino...apa kabar. Lama tak bertemu" ucap Nia


"Apa maumu..."ucap Jino lagi dengan suara yang sedikit keras


"Mas...suaranya jangan keras begitu" ujar Melati


"Jangan takut Jino, aku tak ada niat menyakiti Melati. Aku datang kesini juga kebetulan. Aku hanya ingin membeli pakaian juga. Emang ada larangan bagiku mengunjungi butik ini" ucap Nia


"Melati, udah dapat bajunya. Kamu udah mencobanya. Kenapa nggak perlihatkan padaku"


"Aku masih mencari, mas. Tadi aku mengobrol dengan mbak Nia"


"Udah mengobrolnya...."


"Udah...mas tunggu aja di sofa tadi. Nanti akan aku lihat pakaian yang aku coba."


"Tapi...."


"Mas...aku masih ada yang perlu dibicarakan dengan mbak Nia. Tinggalkan sebentar kami berdua"


"Melati..."


"Mas...mbak Nia nggak akan menyakitiku. Percayalah... " bisik Melati, ia tak mau Nia mendengarnya.

__ADS_1


"Nia...aku tak mau kamu mencari masalah lagi denganku apalagi Melati" ucap Jino. Setelah itu ia meninggalkan Melati dan Nia. Jino masih memperhatikan mereka dari tempat ia duduk saat ini.


"Maafkan mas Jino ya mbak"


"Kamu nggak perlu minta maaf. Jino emang pantas bersikap seperti itu padaku. Karena aku telah terlalu banyak menyakiti dan melukai hatinya...aku sebaiknya cari baju di butik lain aja. "


"Mbak...aku yang akan belikan baju buat mbak. Uang yang pernah mbak beri juga masih utuh ditabunganku"


Melati membujuk Nia agar mau menerima pemberiannya. Nia akhirnya memilih satu baju buat nikahnya. Melati membayarnya.


Setelah itu Nia pamit karena Alex sudah menunggunya.


"Terima kasih, Melati. Maafkan semua salahku, semoga kamu dan Jino bahagia. Sampaikan salamku buat Rendra"


"Terima kasih kembali, mbak. Doa yang sama buat mbak. Semoga pernikahan mbak kali ini memberikan kebahagiaan"


Nia memeluk Melati sebelum pergi. Setelah Nia menghilang Melati mencoba baju yang dipilihnya. Melati mendekati Jino memperlihatkan baju yang ia pakai, ia ingin dengar pendapat Jino.


"Bagaimana mas, apa aku cocok dengan baju ini"


"Baju apapun yang kamu kenakan pasti pantas denganmu. Kamu cantik..."


"Mas..aku minta pendapatmu bukan pujianmu"


"Aku bukan memuji cuma mengatakan kenyataan"


"Mas...jadi ini aja ya baju buatku"


"Jika kamu suka...ambil aja. Kamu tambah cantik dengan baju itu"


"Terima kasih ,mas. Aku ambil ini aja. Sekarang kita cari buat mas , ya"


Melati memilih pakaian yang serasi dengan Jino. Setelah dapat barulah mereka pergi dari butik itu.


Jino membawa Melati ke kafe buat makan sebelum mereka pulang.


"Mel, kamu nggak membenci Nia" tanya Jino saat Melati mulai menyantap hidangannya.


"Kenapa aku harus membenci mbak Nia, mas"


"Karena aku dan Nia pernah melakukan kesalahan padamu"


"Apa aku tampak membenci mas saat ini"


Jino hanya terdiam mendengar ucapan Melati.


"Mas pikir mana yang lebih besar salah mas atau mbak Nia"


"Aku, Mel. Aku lebih banyak melakukan kesalahan padamu" lirih Jino


"Jika salah mas aja udah aku maafkan, kenapa aku masih menyimpan dendam pada mbak Nia. Mas dan mbak Nia telah membantuku melunaskan hutang orang tuaku. Jika saja saat itu mbak Nia tidak memintaku menjadi istri mas, aku tak tau bagaimana nasibku saat ini. Diluar kesalahan yang mas dan mbak Nia lakukan aku tetap bersyukur karena Tuhan menolongku melalui tangan mas dan mbak Nia"


"Terima kasih, Mel. Karena kamu sudah melupakan semua kesalahanku dan Nia"


"Aku juga berharap mas memaafkan mbak Nia, bukankah manusia itu tempatnya salah dan khilaf. Jadi kita tak berhak menghakiminya. Berdamailah dengan masa lalu, itu akan membuat kita bisa melangkah maju. Aku juga bukan manusia suci. Aku telah menyakiti Raka, ia saat ini juga membenciku, mas"


"Seiring dengan berjalannya waktu, pasti Raka akhirnya dapat mengerti dan menerima keputusanmu"


"Semoga ,mas..."


Setelah selesai makan , sebelum pulang Jino membawa Melati mampir ke supermarket buat beli makanan untuk Rendra dan mama Melati.

__ADS_1


************************


Terima kasih


__ADS_2