
Pagi harinya Raka bangun terlebih dahulu. Ia telah siap dengan pakaian olahraganya. Raka berjalan menuju ke kamar yang ditempati Melati.
Raka mengetuk pintu kamar. Melati yang baru bangun mendengar pintu diketuk, langsung bangun dan membukanya.
"Pagi, sayang..."
"Raka, apaan sih ...panggil sayang segala"
"Emang tak boleh. Kamu kan emang kesayanganku"
"Kamu mau kemana...."
"Emang kalau orang pakai baju olah raga begini biasanya mau kemana"
"Ke pesta...." jawab Melati sambil tersenyum
Raka mengacak rambut Melati karena gemas melihat tawanya.
"Siap siaplah. Kita ke taman kota olah raga biar penyakit pada minggat"
"Aku basuh muka dan ganti baju dulu. Mandinya habis olah raga aja , ya"
"Iya nggak apa. Kamu tuh mandi nggak mandi tetap cantik juga"
"Kamu tuh ternyata gombal banget ya"
"Bukan gombal, Mela. Tapi kamu emang cantik"
"Udah ah, aku ganti baju dulu. Kamu sekarang jagonya ngerayu, pasti udah banyak cewek yang takluk mendengar rayuan gombalmu"
"Aku tuh ngegombal hanya denganmu..."
"Bohong..." ucap Melati keras sambil menutup pintu.
Raka tersenyum mendengar teriakan Melati. Ia duduk di sofa menunggu Melati.
Lima belas menit Melati telah siap dengan pakaian olah raganya. Raka memandangi Melati dari ujung rambut hingga ujung kaki. Merasa diperhatikan, Melati jadi salah tingkah.
"Kenapa memandangiku begitu. Ada yang salah dengan pakaianku" ucap Melati sambil melihat ketubuhnya.
"Nggak ada yang salah. Cuma kamu cantik banget pagi ini"
"Rakaaa...gombalnya dikurangi deh. Nanti badanku cepat melar"
"Kenapa bisa melar"
"Ya bisalah, setiap hari mendengar kamu memujiku. Aku akan senang banget , itukan bisa buat badanku jadi melar"
"Nggak apa , aku senang lihat kamu bahagia terus"
"Jadi nggak nih olah raganya"
"Jadi dong, ayo..."
Raka berjalan sambil terus memeluk pinggang Melati menuju mobilnya yang diparkir. Mereka menuju taman kota. Tampak banyak warga terutama remaja yang berolah raga.
Melati dan Raka mengelilingi taman dengan berlari kecil. Sedang asyik berlari , tangan Melati ditarik seseorang. Raka yang melihat tangan Melati ditarik berhenti berlari.
"Kai...buat kaget aja" ucap Melati melihat wajah orang yang menarik tangannya.
__ADS_1
Raka menghampiri mereka. Tampak raut wajahnya yang tak suka melihat Kai yang masih terus memegang tangan Melati.
"Hhhmmm...." deheman Raka berhasil membuat Kai melepaskan tangannya.
"Kai...kamu kapan datang ke Jakarta. Ada konser"
"Nggak, aku datang kemarin. Aku kangen kamu" ucap Kai memandang ke arah Melati
"Kamu bisa aja, Kai" ucap Melati dan berdiri di samping Raka.
"Aku serius. Aku datang karena kangen kamu, kebetulan dua hari ini jadwalku kosong. Aku baru aja ingin menghubungi kamu. Ternyata kita jodoh, bisa bertemu di sini walau tak janjian"
"Kai, apakabar. Kamu sudah selesai olah raganya. Kita sarapan di kafe itu , bagaimana" ucap Raka
"Ide bagus, aku juga belum sarapan"
Mereka berjalan menuju kafe yang ada diseberang jalan. Kai tampak sangat mempesona dengan baju olah raganya. Raka melirik setiap kali Kai becandain Melati.
"Kalian tampak kompak dan akrab banget sebagai artis dengan manajer" ujar Kai
"Kami saat ini telah memutuskan untuk berhubungan yang lebih serius , Kai" ujar Raka
"Oh...betul itu, Melati "
"Iya, Kai. Kami jadian saat di Kuala Lumpur kemarin"
"Sayang ya..." gumam Kai
"Sayang apanya, Kai" tanya Melati
"Sayang aku telat, kamu udah jadi milik Raka. Selamat ya, semoga hubungan kalian berjalan lancar tanpa ada penghalang"
"Tapi kamu nggak marah dan keberatankan jika aku masih berkomunikasi dengan Melati..."
"Jika hanya saling menyapa dan menanyakan kabar, kenapa aku keberatan"
"Kamu taukan alasan aku suka Melati. Ia mengingatkan aku pada sosok adikku yang telah tiada. Aku datang sebenarnya ingin minta izin padamu, aku mau mengundang Melati pada acara ulang tahun ibuku. Aku ingin buat kejutan pada keluarga. Pasti semua kaget melihat Melati..."
"Aku harus sesuaikan jadwal pemotretan Melati dulu. Jika tak ada, bisa saja kamu mengundang Melati"
"Kai, aku datang bersama Raka ya jika memang jadwalku kosong" ucap Melati
"Boleh...aku akan tunggu kehadiranmu"
Setelah selesai sarapan Melati meminta Raka mengantarnya ke apartemen tempat tinggalnya saja. Ia akan bersiap ke rumah Jino melihat Rendra.
Sementara itu di apartemennya Nia, ia tampak sedang menonton televisi sehabis sarapan.
Nia melihat berita infotainmen, ia keget melihat Kai penyanyi asal negeri tetangga yang mengatakan jika ia menggunakan model asal Indonesia yang bernama Melati.
Nia membesarkan volume televisi kurang yakin dengan pendengarannya.
"Nggak mungkinkan itu Melati gadis kampung itu. Bukankah nama Melati banyak di Indonesia"
Mata Nia tetap tak berkedip dari layar kaca didepannya. Ia syok melihat Melati yang dimaksud memang Melati yang ia kenal.
"Apa sih kelebihan gadis kampung itu. Kenapa ia begitu beruntung. Jika tau gadis itu akan merebut hati Raka dan Jino tak akan pernah aku bawa ia dalam kehidupanku. Gadis itu telah menghancurkan hidupku. Kehadirannya adalah kesialan bagiku. Setelah aku angkat derajatnya, kini ia mulai lupa daratan. Ia mengambil semua yang seharusnya menjadi milikku"
Nia mengambil gelas minumannya dan melemparkan ke televisi. Bibi yang mendengar suara pecahan kaca mendekati Nia.
"Ada apa ,bu. Kenapa televisi itu bu." ucap bibi melihat televisi yang hancur.
__ADS_1
"Bajing*n...aku tak akan membiarkan ia bahagia. Ia tak pantas berada di dunia artis itu. Aku yang seharusnya berada disana" teriak Nia sambil menarik rambutnya.
"Aku tak bisa terima ini...." ucap Nia mengambil vas bunga dan kembali melemparnya.
Bibi yang melihat Nia mengamuk, menjadi ketakutan. Ia mencoba menghubungiJino tapi tak diangkat.
Bibi lalu menghubungi Raka. Raka yang sedang diperjalanan bersama Melati heran melihat nama bibi.
"Kenapa bibi yang bekerja di rumah Nia menghubungiku" gumam Raka
"Mungkin penting, Raka. Kamu angkat aja"
Raka menyentuh tombol hijau tanda menerima panggilan.
"Ya ,bi. Ada apa"
"Maaf tuan mengganggu...."
"Ya, ada apa bi. Kenapa suara bibi seperti ketakutan begitu"
"Bu Nia..Tuan"
"Kenapa lagi, Nia"
"Bu Nia histeris. Ia melempar televisi hingga pecah. Dan juga melempar vas bunga ke dinding. Bibi takut, Tuan..."
"Kenapa Nia bisa begitu, bi"
"Bibi nggak tau, Tuan. Sejak dua hari ini bu Nia emang sering termenung dan terkadang menangis. Lalu tertawa sendiri"
"Bibi jauh saja dari Nia, aku akan segera ke sana"
"Baiklah Tuan. Terima kasih...."
Bibi menutup sambungan ponselnya. Ia melihat Nia menangis histeris dan terkadang tertawa sendiri.
"Melati, aku harus ke rumah Nia. Bibi mengatakan Nia histeris. Ia memecahkan televisi dan vas bunga. Aku takut ia melukai bibi. Karena bibi mengatakan sudah dua hari tingkahnya Nia aneh. Terkadang menangis dan tertawa sendiri"
"Apa mbak Nia mengalami depresi, Raka"
"Mungkin...."
"Kasihan mbak Nia. Cepatlah putar balik menuju rumahnya"
"Kamu mau ikut..."
"Ya, kenapa"
"Aku takut ia menyakitimu...."
"Aku akan berlindung denganmu, Raka"
"Kamu jangan terlalu mendekatinya saat nanti di sana. Aku akan mencoba membujuknya"
"Baiklah, Raka"
Raka mengendarai mobilnya menuju rumah Nia dengan kecepatan di atas rata rata. Ia takut terlambat, takut Nia melukai bibi.
*****************
Terima kasih buat semua pembaca. Terutama buat yang telah memberi komentar ,like dan vote. Semua yang kalian beri menambah semangatku menulis....🥰🥰🥰🥰
__ADS_1