Melati (Istri Yang Tak Dianggap)

Melati (Istri Yang Tak Dianggap)
Bab Seratus Empat Belas


__ADS_3

Setelah tiga jam tidak sadarkan diri akhirnya Melati sadarkan diri. Matanya mulai terbuka. Dan memandangi Jino yang duduk sambil menggenggam tangannya.


"Mas.... " ucap Melati pelan


"Sayang, kamu udah sadar" ucap Jino dan mencium tangan Melati.


Tanpa ia sadari, air matanya jatuh membasahi pipi. Jino terharu melihat Melati yang telah sadar.


"Kenapa mas menangis "


"Mas takut banget, sayang"


"Takut apa"


"Mas takut sesuatu terjadi padamu. Mas tak akan bisa hidup tanpamu"


Air mata Jino akhirnya tumpah. Tak pernah ia menangis selama ini. Ia benar-benar takut jika Melati tidak sadar selamanya.


"Mas, aku sudah janji jika aku tidak akan pernah meninggalkan kamu dan anak anak. Aku kuat, aku tak apa - apa"


"Sayang, berjanjikan pada mas... jika ini terakhir kalinya kamu dirawat. Kamu harus menjaga kesehatanmu"


"Iya, mas. Bagaimana dengan Raka, mas. Apa ia telah sadarkan diri"


"Mas nggak tau. Mas dari tadi hanya disini, menunggumu"


"Semoga semua berjalan lancar dan Ginjalku dapat membantu kesembuhan Raka"


"Semoga, karena akan sia-sia pengorbananmu jika ternyata tubuhnya Raka menolak ginjalmu"


"Raka pria baik, Tuhan pasti menyayanginya dan tak akan mengujinya melebihi dari kemampuan"


"Kamu juga wanita baik. Mas pria yang paling beruntung mendapatkan cintamu"


"Mas, juga pria yang baik. Aku juga beruntung mendapatkan cinta yang sangat besar dari mas"


"Mas, panggikan dokter dulu."


"Iya, mas"


Jino memencet tombol yang ada di atas kepala Melati untuk memanggil dokter.


Tak berapa lama dokter datang dan memeriksa keadaan Melati.


Dokter mengatakan keadaan Melati sangat stabil, tak ada yang perlu dikuatirkan.


Saat ini Melati belum diizinkan untuk makan dan minum dalam jumlah besar. Hanya sedikit - sedikit dulu.


"Bagaimana keadaan istri saya, dok"


"Semua tanda vital ditubuh ibu Melati baik"


"Apa yang harus dilakukan lagi dok"


"Untuk saat ini ibu jangan terlalu banyak bergerak agar luka sayatan bekas operasi bisa segera sembuh. Dan ibu akan dirawat selama seminggu di rumah sakit ini agar saya dapat memantau ibu"


"Baiklah, dok"


"Saya pamit dulu, nanti akan ada dokter jaga yang akan memantau dan memeriksa kesehatan ibu"

__ADS_1


"Terima kasih, dok"


Dokter lalu meninggalkan ruang rawat Melati. Tak berselang lama mama masuk.


"Bagaimana keadaan Melati, Jino"


"Udah sadar, ma"


Mama mendekati tempat tidurnya. Dan tersenyum melihat Melati.


"Bagaimana, Mela. Apa yang saat ini kamu rasakan "


"Mulai terasa sedikit nyeri dibalas sayatan operasi, ma"


"Mungkin karena pengaruh biusnya udah mulai hilang"


"Apa terasa sakit banget sayang"


"Hanya sedikit ngilu, mas. Bagaimana Raka, ma. "


"Raka juga baru sadar, tapi belum bisa diajak mengobrol. Mama tinggalkan saja, terlalu banyak orang, takutnya akan membuat ia tak nyaman"


"Semoga semua berjalan baik, ma. Rendra , Melati dan Raka kembali sehat" ucap Jino


"Aamiin .... "


..........


Satu minggu pasca operasi, Melati tampak sudah semakin sehat. Jino selalu menjaga dirumah sakit. Ia hanya bekerja hingga siang hari di kantor dan dilanjutkan di rumah sakit jika masih ada pekerjaan yang belum selesai.


Dokter yang bertugas hari ini memeriksa keadaan Melati.


"Jadi saya boleh pulang" tanya Melati meyakinkan


"Iya, bu."


"Terima kasih dokter. Setelah saya pulang, apakah saya masih harus kontrol"


"Ya, ibu harus kembali seminggu lagi untuk memastikan apakah tidak ada lagi keluhan di bekas sayatan operasi"


"Baik, dok. "


"Kalau begitu saya pamit dulu. Nanti jika ibu akan pulang, saya akan memberi resep obat yang harus ibu tebus"


Melati tampak sangat bahagia mendengar ia yang telah diizinkan kembali pulang ke rumah.


Ia sudah sangat merindukan anaknya Rendra dan Naura.


Seminggu di rumah sakit terasa sangat lama waktu berjalan. Rasa rindunya pada kedua putra dan putrinya hanya terobati dengan video call.


Melati memang tak mengizinkan mamanya membawa anaknya ke rumah sakit. Ia tak mau jika nanti Kimberley melihatnya. Lagi pula lingkungan rumah sakit tak baik untuk kesehatan anaknya.


Kimberley pernah bertemu dengan Jino sekali, ia heran melihat Jino yang berada di rumah sakit.


Jino akhirnya beralasan jika ia datang untuk menjenguk Raka sekalian pengurus rumah sakit.


Agar Kimberley tidak curiga, Jino akhirnya masuk ke ruang perawatan Raka dan berbincang sebentar.


Siang hari seperti biasanya dengan berhati hati Jino masuk keruang perawatan Melati. Ia membawa makanan buat Melati.

__ADS_1


"Sayang, ini aku bawa steak kesukaanmu" ujar Jino dan duduk di tepi tempat tidur Melati.


Ia membuka bungkusannya dan menyuapi Melati.


"Mas, kata dokter aku hari ini sudah diizinkan pulang" ucap Melati dengan senang hati.


"Betulkah, sayang"


"Iya, mas. Aku nggak sabar ingin sampai dirumah dan memeluk Rendra serta Naura"


"Mas akan urus dulu administrasinya setelah kamu makan"


"Iya, mas"


Jino menyuapi Melati dan setelah makanan habis Jino mengurus administrasi kepungan Melati. Ia juga menebus obat buat Melati.


Setelah semua selesai, Jino memberikan barang barang Melati.


Jino tidak mengizinkan Melati berjalan, ia meminta Melati menggunakan kursi roda menuju mobil yang terparkir di dekat taman.


Saat akan masuk ke mobil, Jino dikagetkan dengan suara yang memanggil namanya.


"Jino.... " teriak seseorang.


Jino memandang ke asal suara yang memanggil namanya, begitu juga Melati.


Mereka kaget saat melihat siapa yang memanggil Jino.


"Raka .... " ucap Melati dan Jino serempak


Raka yang duduk di kursi roda meminta Kimberley mendorong hingga ke tempat Jino di Melati berdiri.


"Melati, kamu sakit" ucap Raka melihatnya duduk di kursi roda.


"Iya, sudah tiga hari dirawat" jawab Melati gugup


"Kamu sakit apa" tanya Kimberley lagi


"Cuma kecapean. Mungkin karena sedikit begadang"


"Kalau hanya kecapean, kenapa kamu harus duduk dikursi roda. Maaf... seperti baru sembuh dari sakit yang cukup serius " ucap Raka curiga.


"Aku yang minta Melati menggunakan kursi roda. Aku nggak mau ia kecapean lagi dan kembali di rawat" ujar Jino


"Oh , gitu ya" Gumam Raka.


"Maaf ya Raka, Kimberley, kami mau pamit. Kasihan anak anak jika terlalu lama ditinggalkan. Melati juga udah kangen banget"


"Baiklah, hati hati" ucap Kimberley


Jino menggendong Melati dan mendudukkan di kursi depan.


Raka terus saja memperhatikan apa yang dilakukan Jino dan Melati. Ia melihat tangan Melati yang selalu berada di perut.


Hingga mobil Jino hilang dari pandangan, barulah Raka meminta Kimberley mendorongnya untuk masuk ke dalam rumah sakit lagi.


"Aku yakin Melati bukan hanya sakit karena kecapean. Aku sempat melihatnya di hari aku akan menjalankan operasi. Aku harus cari tau apa sebenarnya sakit Melati. Apakah ia yang telah mendonorkan ginjalnya buatku"


***************

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2