Melati (Istri Yang Tak Dianggap)

Melati (Istri Yang Tak Dianggap)
Bab Lima Puluh Enam


__ADS_3

Sejak kembali dari Kuala Lumpur, dan resmi menjadi kekasihnya Melati, hari hari Raka selalu dipenuhi dengan senyum.


Pagi ini Melati datang ke agensi dengan membawa sarapan buat Raka. Jadwal pemotretannya hanya ada dua sesi sekitar jam sepuluh.


Model dan karyawan yang bekerja di agensi sudah tau hubungan Raka dan Melati. Semua berasal dari mulutnya Chandra yang memang tak bisa menyimpan rahasia.


Melati menuju ruang kerja Raka dengan membawa bekal sarapannya. Ia mengetuk pintu sebelum masuk. Terdengar sahutan Raka dari dalam.


Melati melangkah menuju meja kerja Raka. Raka yang melihat kedatangan Melati langsung berdiri dan memeluk kekasihnya.


"Kamu ada pemotretan agak siangkan, kalau mau datang pagi kenapa nggak minta jemput aja sekalian tadi" ucap Raka mengecup kepala Melati


"Masa sih aku setiap hari diantar jemput terus. Manja banget..."


"Nggak apa manja sama pacarnya, asal kamu jangan manja sama pria lain aja"


"Aku tadi buatkan sarapan dan makan siang buatmu dulu"


"Aku sebentar lagi pasti gendut karena dimasakin terus"


"Kalau nggak dimasakin kamunya selalu telat makannya. Aku nggak mau kamu sakit lagi"


"Aku nggak akan sakit jika kamu selalu ada disampingku"


"Gombal banget sih..."


Raka memeluk pinggang Melati berjalan menuju sofa. Melati membuka sarapan yang ia buat. Raka memakannya dengan lahap.


"Enak banget, Mela"


"Syukurlah kalau kamu suka dengan masakanku. Raka, siang aku mau main ke rumah mama Jino. Aku kangen Rendra"


"Aku ikut ya. Kita bawa Rendra main ke mall"


"Kamu nggak ada kerjaan..."


"Nggak ada..."


Tepat jam sembilan Melati keluar dari ruang kerja Raka menuju studio buat pemotretan. Hingga pukul dua belas siang, pemotretan baru selesai.


Raka mengajak Melati langsung menuju ke rumah mama Jino. Setelah menjemput Rendra baru mereka pergi makan siang dan sekalian bawa jalan jalan.


Sampai di rumah mama Jino, Melati dan Raka meminta izin untuk membawa Rendra keluar.


"Ma, aku boleh bawa Rendra jalan. Sore nanti aku antar lagi"


"Tentu saja boleh , Melati"


"Terima kasih, ma. Aku ke kamar Rendra dulu buat siap siap ya ,ma"


"Silakan, Melati"


Setelah Melati berjalan agak cukup jauh , mama Jino mendekati Raka.

__ADS_1


"Kamu akan pergi juga temani Melati, Raka"


"Iya, tante...."


"Kamu dan Melati telah menjalin hubungan yang lebih serius" tanya mama pelan


"Menurut tante...."


"Ya, karena perhatianmu lebih dari sekedar teman dan rekan kerja"


"Aku memang ingin menjalin hubungan yang lebih serius dengan Melati, tante. Apakah salah. Melati sudah resmi berpisah dengan Jino"


"Tidak ada yang salah, Raka. Cuma...."


"Cuma apa tante...."


"Cuma tante minta kamu terus teranglah dengan keluarga besar kita. Terutama dengan keluarga dari papamu. Walau kamu sudah tak memiliki kedua orang tua lagi, tapi kamu tak bisa mengabaikan pendapat tante dan om kamu. Karena merekalah pengganti orang tua bagimu"


"Aku akan segera mengumpulkan keluarga di rumah ini, tante. Aku akan mengatakan semuanya"


"Jino...sepertinya tak ada lagi harapan buatmu kembali bersatu dengan Melati. Raka dan Melati telah menjalin hubungan serius. Dan mungkin akan segera menuju pelaminan. Kenapa kamu selalu kecewa karena cinta Jino. Saat kamu ingin membina rumah tangga dengan wanita yang baik, ternyata wanita itu tak menerima cintamu...Semoga kamu bisa menerima semua ini dengan lapang dada, Jino"


Melati turun dari tangga dengan menggendong Rendra yang saat ini telah bertambah besar.


"Oom Raka, Rendra udah siap nih mau pergi jalan" ucap Melati ke arah Raka


"Rendra tambah ganteng aja. Kalah nih oom..."



Mama Jino melihat ke arah Melati yang tampak bahagia.


"Ma, aku pamit dulu ya. Sore aku kembali"


"Kamu makan malam di sini nanti ,Melati"


"Mungkin nggak , ma. Lain kali aja ,ya"


"Baiklah, tapi lain kali kamu dan Raka janji ua akan makan malam di sini"


"Iya, ma. Kami pamit ma" ucap Melati dan menyalami serta mencium tangan mama Jino. Raka pun melakukan hal yang sama.


Raka mengambil alih menggendong Rendra. Setelah Melati duduk , Raka meletakan Rendra dipangkuan Melati.


Mereka menuju restauran langganan Raka buat makan siang sebelum membawa Rendra bermain di mall.


Melati dan Raka menemani Rendra bermain. Mereka tampak seperti satu keluarga yang bahagia.


Puas mengajak Rendra bermain Raka dan Melati kembali sore harinya ke rumah mama Jino.


Saat mereka masuk ke rumah, Jino sedang menonton di ruang keluarga.


"Sayang papi...dari mana, nih" ucap Jino melihat Rendra di gendongan Raka

__ADS_1


"Dari jalan jalan dengan bunda ,papi"


"Raka, biar aku bawa Rendra ke kamar. Aku mandiin dulu. Mas, maaf tadi aku hanya izin dengan mama membawa Rendra bermain"


"Nggak apa, Melati. Kamu nggak perlu minta izin jika ingin membawa Rendra bermain."


"Aku ke kamar Rendra dulu, mas...Raka"


Setelah Melati menaiki tangga , Raka mendekati Jino duduk disampingnya.


"Jino, aku ingin mengatakan sesuatu"


"Ya, apa itu..."


"Aku dan Melati saat ini telah resmi menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih"


Ucapan Raka membuat Jino kaget. Tapi ia berusaha setenang mungkin tidak menampakan kekagetannya pada Raka.


"Selamat ya , Raka. Semoga kamu bisa membahagiakan Melati" ucap Jino pelan.


"Terima kasih. Jino, aku mengatakan ini agar nanti tidak ada kesalah pahaman jika kamu melihat aku dan Melati yang cukup dekat. Dan aku juga mohon maaf karena aku menjalin hubungan dengan, Melati"


"Kamu nggak perlu minta maaf , karena aku dan Melati sudah resmi berpisah" gumam Jino


"Aku juga minta izin padamu, jika kami menikah nanti...kami boleh membawa Rendra menginap sesekali dirumah kami"


"Melati...apa aku akan sanggup melihat kamu yang akan selalu berduaan dengan Raka. Aku telah berusaha melupakan perasaanku padamu, tapi semakin aku mencoba menghilangkan rasa ini. Semakin aku sadar jika aku sangat mencintaimu. Apa ini memang karma bagiku yang tak mengizinkan kamu mencintaiku sehingga aku saat ini yang akhirnya jatuh cinta padamu. Aku termakan omonganku sendiri"


"Jino...Jino...." ucap Raka mengagetkan lamunannya


"Ya, Raka..."


"Kamu mengizinkan Rendra menginap di rumah kami"


"Tentu saja, Melati bundanya. Tak ada alasan aku melarangnya"


"Terima kasih..."


"Kapan kamu akan menikahi Melati"


"Secepatnya...tapi sebelum itu aku akan adakan pertemuan keluarga di rumah ini dulu. Aku ingin mengatakan semua maksud dan tujuanku yang akan membina rumah tangga dengan Melati pada keluarga besar kita dulu"


"Baguslah, Raka. Niat baik memang seharusnya nggak di tunda"


"Ya, Jino...."


"Dan saat kamu menikah, mungkin aku tak bisa hadir. Munafik jika aku mengatakan saat ini aku baik baik saja. Aku terluka Raka. Tapi apa artinya luka aku ini jika dibandingkan dengan luka yang pernah aku beri pada Melati"


*********************


Selamat Ulang Tahun Indonesiaku yang ke 76. Semoga negeri ini kembali normal.


Buat pembaca setiaku, maaf bagi yang kurang setuju Melati memilih Raka. Tapi aku mohon baca aja terus ya. Ikuti aja alur cerita yang aku buat. Terima kasih untuk tetap setia membaca....🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2