
Jino meminta salah satu karyawannya membeli semua majalah mode terbitan terbaru. Ia ingin melihat foto foto Melati.
"Aku ingin tau apa benar saat ini Melati sudah menjadi seorang model. Jika itu benar, akan bertambah sulit menaklukan hatinya. Pasti ada banyak pria yang ingin mendapatkan cintanya"
Seorang karyawan mengetuk pintu ruang kerjanya. Jino meminta karyawan itu masuk.
"Ini pak semua majalah mode yang bapak minta"
"Letakan aja di meja. Terima kasih"
"Sama sama pak. Saya permisi pak..."
"Silakan..."
"Kenapa sekarang pak Jino ramah banget. Tak biasanya ia mengucapkan terima kasih"
Sejak menikah dengan Nia , Jino memang menjadi pribadi yang arogan. Ia tak pernah ramah pada karyawan terutama yang wanita. Nia tak mengizinkan ia bersikap ramah. Nia selalu mengatakan jika kita ramah pada karyawan, nanti mereka akan melunjak.
Jino membuka satu demi satu majalah mode itu. Tampak banyak foto Melati didalam satu majalah.
"Apa apaan sih Raka. Ia membiarkan Melati foto dengan pakaian begini. Apa ia mau mempetlihatkan bahu Melati pada semua pria" gerutu Jino sendirian.
Padahal foto Melati masih dalam batas wajar jika menurut model saat ini. Tak ada tampak seksi.
"Dan ini foto apa pula lagi. Tampak punggung dan perutnya Melati terekspose."
"Apa yang harus aku lakukan agar tubuh Melati tak dilihat oleh orang banyak, ya" gumamnya lagi.
Jino seharian hanya melihat semua foto foto Melati yang ada di majalah. Tak konsentrasi lagi buat bekerja.
Ia hanya mengomel dan menggerutu sendiri di ruang kerjanya. Setelah jam makan siang, Jino akhirnya memilih pulang.
Sampai dirumah ia langsung menemui mamanya.
"Ma, duduklah. Coba mama lihat foto foto ini" ucap Jino melihatkan semua foto Melati.
"Siapa model ini, Jino. Wajahnya mirip banget dengan Melati"
"Emang Melati, ma. Ia dijadikan model sama Raka"
"Melati cantik banget ,ya...."
"Coba mama lihat pakaian Melati"
"Bagus. Sesuai dengan tubuhnya..."
"Tapi sangat seksi ,ma"
"Mana yang seksi. Biasa aja menurut mama"
"Apa mata mama udah mulai rusak. Lihatlah semua memperlihatkan bahu Melati"
__ADS_1
"Kamu kan suka wanita dengan pakaian seksi, Nia aja selalu berpakaian terbuka. Tak masalah bagimu dulu"
"Melati ini dilihat oleh orang banyak, ma"
"Kamu cemburu...kamu takut banyak pria yang naksir dengannya"
"Ma..."
"Memang penyesalan itu datangnya belakangan. Kamu baru menyadari saat ini ternyata kamu menyukainya. Kamu tak ingin ia dimiliki oleh orang lain."
"Ma, aku tau aku salah. Tapi tak perlu mama ingatkan itu terus"
"Kamu harus terus mengingat kesalahanmu, Jino. Agar kedepannya kamu tak mengulanginya lagi..."
"Aku tau, Ma."
"Mungkin kini saatnya kamu yang berjuang untuk mendapatkan cinta Melati. Jika dulu ia yang selalu bersabar atas sikap kasarmu, kamu juga harusnya tetap bersabar dan berusaha membuka hatinya yang terlanjur kecewa atas sikapmu selama ini. Batu karang yang keras aja akan hancur jika setiap hari diterjang ombak. Jadi sekeras apapun hatinya Melati saat ini jika kamu tetap berusaha terus meluluhkan hatinya dengan sikap yang baik, pasti ia akan memaafkan dan melupakan semuanya...."
"Baik, ma. Aku tak akan pernah menyerah..."
Jino pamit akan ke kamar anaknya. Kemarin di acara pesta mamanya, Jino sempat meminta nomor ponsel Melati dengan alasan jika Rendra sakit atau apapun itu mengenai anaknya ia akan mudah menghubungi.
Melati akhirnya memberikan nomor ponselnya karena ia pikir memang tak salah alasan yang diberikan Jino. Mereka memang harus tetap berkomunikasi untuk membicarakan perkembangan Rendra.
Jino melihat putranya yang sedang bermain dengan pengasuh. Ia meminta pengasuh itu meninggalkannya bersama Rendra.
Jino megambil ponselnya dan menghubungi Melati. Tetapi beberapa kali dihubungi tak ada Melati mengangkatnya.
"Pasti saat ini bunda Rendra sibuk pemotretan. Papi tak akan mengizinkan bunda jadi model jika nanti ia telah hidup bersama kita. Bunda hanya milik papi dan Rendra. Tak ada yang boleh mengagumi dan melihat tubuhnya bunda kecuali papi"
Rendra asik dengan mainannya ketika ponsel Jino berdering. Ia melihat ada nama Melati tertera di layar. Jino langsung mengangkatnya.
"Kamu sibuk ya"
"Aku baru selesai pemotretan pertama, mas. Sesaat lagi di mulai pemotretan sesi keduanya"
"Melati, kenapa kamu nggak kerja diperusahaan milikku aja dari pada jadi model"
"Maaf mas, aku sudah merasa senang dan cocok dengan pekerjaanku ini"
"Baiklah jika itu memang yang kamu senangi. Jika kamu berubah pikiran, hubungi aja aku"
"Baiklah. Mas, ada perlu apa menghubungi aku"
"Rendra kangen bundanya. Kamu bisa vidio call"
"Oh baiklah...."
Setelah Melati melakukan vidio call, Jino mengarahkan kamera ke Rendra yabg sedang bermain.
"Lihat Mel, Rendra makin besar dan pintarkan"
"Iya, mas"
"Apa kamu tak ingin hidup bersama Rendra , Melati"
"Tentu saja aku pengin , mas..."
__ADS_1
"Kenapa kamu tak mau kita menikah denganku kembali"
"Kita tidak harus menikah lagikan mas. Kamu bisa izinkan Rendra menginap di rumahku sesekali waktu"
"Kenapa bukan kamu aja yang menginap disini. Kamu bisa tidur bareng Rendra dikamarnya"
"Nanti aku pikirkan ,mas. Tak enak rasanya aku menginap di sana. Kita telah berpisah, masa masih tinggal satu atap"
"Bukankah ini rumah mama. Ada mama juga"
"Iya, mas. Nanti aku pikirkan lagi"
Raka melihat Melati yang sedang mengobrol di ponsel, mendekati wanita itu.
"Melati...udah bicaranya. Kamu masih ada jadwal pemotretan bersama denganku bukan" ucap Raka mendekati Melati. Raka tak tau jika yang dihubungi Melati adalah Jino. Jino dapat mendengar suara Raka.
"Iya , Raka. Aku tutup dulu ya sambungan ponselku. Nanti aku menyusul. Kamu duluan aja"
Setelah Raka berjalan menjauh, Melati kembali bicara dengan Jino.
"Maaf mas, aku masih ada pemotretan lagi. Bunda kerja dulu ya sayang. Jangan nakal ya anaknya bunda..."
"Bunda nggak kangen Rendra, kapan bunda bertemu Rendra lagi..."ucap Jino seolah Rendra yang bicara
"Akhir pekan jika bunda tak ada jadwal, bunda ke sana ya"
"Kamu akan pemotretan berdua Raka"
"Ada perusahaan periklanan yang meminta aku dan Raka jadi model iklannya"
"Jangan terlalu kerja keras, Melati. Jaga kesehatan"
"Iya, mas. Rendra...i love you, nak..."
"I love you more" ucap Jino pelan
Melati mematikan sambungan ponselnya. Jino termenung melihat layar ponselnya.
"Melati, kamu semakin jauh dariku. Kamu tampak semakin dekat dengan Raka. Kenapa aku begitu bodohnya , tak pernah menyadari arti kehadiranmu dulu. Apakah aku bisa kembali merebutmu...."
...............
Di lain tempat Nia sedang kacau pikirannya. Ia telah mendapatkan kabar dari pengacaranya jika Jino hanya memberikan harta berupa rumah yang pernah ia dan Jino tempati dulu. Tanpa ada uang sepeserpun dari Jino.
Alex yang ia harap tempat berbagi juga tak pernah ada khabarnya. Nia sudah beberapa hari ini menghubungi Alex tapi tak pernah ia mau mengangkatnya. Dan ia mengirim pesan buat Alex.
"Alex...dimana kamu. Kenapa kamu tak pernah mau bicara denganku. Apa kamu ingin pergi dariku setelah semua yang aku lakukan padamu."
Pesan yang Nia kirim telah dibaca Alex. Tapi ia tak membalasnya. Nia menjadi sangat kesal. Ia mengambil tas dan mengisi pakaiannya. Ia akan menyusul Alex ke Bandung.
"Kemana kamu menghilang Alex. Kamu tak bisa meninggalkan aku begitu saja setelah apa yang aku lakukan buatmu. Jika memang ternyata kamu mengkhianatiku, aku tak akan tinggal diam. Aku akan ke rumahmu. Telah habis kesabaranku, Alex...."
Alex yang sedang fitting baju pernikahannya segera menghapus pesan yang Nia kirim. Ia tak ingin pesan dari Nia di baca Dewi calon istrinya.
"Maaf Nia, hubungan kita harus berakhir. Aku tak bisa terus bersamamu. Aku juga ingin menikah dengan wanita yang baik dan pasti direstui orang tuaku"
*************************
__ADS_1
Terima kasih