
Raka meminta supirnya untuk menjalankan mobil dengan kecepatan pelan, sedang dan terkadang ngebut. Ia memperhatikan semua mobil yang berada dibelakangnya.
Tapi Raka tak bisa juga melihat mobil mana yang selalu mengikutinya.
Raka membawa Melati ke agensi miliknya. Ia meminta Melati keliling agensinya melihat semua kesibukan yang terjadi agar ia tak bosan.
Melati melihat dan mengintip beberapa studio foto. Semua sibuk dengan kegiatan memotretnya.
Melati yang sedang asyik melihat pemotretan tak menyadari salah seorang fotografer memperhatikan dirinya.
Fotografer itu mendekati Melati dan menyentuh bahunya membuat Melati kaget.
"Model baru..." tanya pria itu
"Oh...bukan. Saya temannya Raka"
"Teman bos Raka, teman apa teman sih...." ucap pria itu lagi.
"Benar ...aku temannya. Maaf permisi, aku mau cari Raka dulu"
"Tunggu..." ucapnya ketika Melati akan melangkah
"Ya, ada apa"
"Apa kamu tak berminat menjadi model"
"Wajahku tak cocok jadi model"
"Siapa bilang, kamu cantik dan juga manis. Cocoklah jadi model"
Belum sempat Melati menjawab , Raka udah menyelanya.
"Aku ingin kamu mengajarinya, Chandra. Jadikan ia model utama kita" ucap Raka
"Jadi bos memang berencana jadikan ia model"
"Ya, dan aku mau mulai hari ini kamu mengajari Melati cara berfoto yang benar dan bagus"
"Oke ,bos...."
Setelah beberapa jam didalam studio bersama Chandra, Melati keluar menuju ruangan Raka . Ia mengetuknya. Dan setelah terdengar sahutan dari dalam Melati membukanya.
Melati melihat banyak wanita cantik yang sedang duduk di dalam ruang kerja Raka. Ia ingin berbalik ketika Raka memanggil namanya.
"Melati, masuklah sini" ucap Raka.
Melati melangkah dengan sedikit kikuk karena menyadari banyak mata memandanginya.
"Kenalkan, ini Melati...teman dekatku. Ia akan mulai menjadi model disini. Aku harap kalian menghormatinya seperti aku"
__ADS_1
Melati membungkukan badannya sedikit sebagai perkenalan.
Terdengar suara bisik bisik menyebut namanya. Melati tau , pasti mereka sedang menggosipkan dirinya dan Raka.
"Raka, aku keluar sebentar. Kamu masih sibuk ya"
"Nggak usah... semua udah paham apa yang aku katakan . Sekarang bisa keluar. Aku masih ada urusan" ucap Raka.
Semua model keluar ruangan. Tapi ada beberapa dari mereka memandang sinis ke arah Melati .
"Raka, kenapa kamu kenalkan aku sebagai teman dekatmu tadi"
"Kamu memang teman dekatku, kenapa...kamu keberatan"
"Bukan, aku takut nanti mereka menyalah artikan ucapanmu"
"Nggak apa. Jangan dipikirkan. Sekarang kamu pakai kerudung ini. Keluar bersama dengan orang kepercayaanku yang sebentar lagi akan datang. Ia akan mengantarmu ke sebuah apartemen. Ini kuncinya atau kamu bisa membuka dengan kode ini....." Raka mengucapkan kode password apartemen miliknya.
"Aku akan tinggal disana , Raka"
"Ia, Melati. Tapi mungkin malam ini aku tak bisa menemani kamu. Di dalam kulkas ada bahan makanan, kamu bisa memasaknya. Pakai kerudung itu buat menipu orang kepercayaan Jino"
"Baiklah Raka..." ucap Melati dan memakai kerudung itu dikepalanya.
Tak lama muncul seorang pria bertubuh kekar. Raka bicara serius dengan pria itu. Dan meminta Melati mengikutinya.
.................
Seminggu lamanya Melati dan Raka pergi dari tempat kediaman mereka masing masing ke agensinya. Melati udah tampak siap menjadi model. Raka tidak pernah mendatangi apartemen Melati.
Jino telah mendapat laporan dari orang kepercayaannya jika saat ini Raka tidak bersama seorang wanita lagi. Ia tinggal seorang diri.
"Kemana Raka membawa Melati. Apa aku harus mendatangi agensi Raka. Apa aku harus menemuinya. Melati...kemana kamu"
Jino tampak frustasi memikirkan Melati. Ia ingin bisa bicara lagi dengan Melati.
Sementara itu di tempat lain , Nia sedang gusar setelah menghadiri sidang perceraian tadi. Pengacaranya mengatakan kemungkinan ia tidak akan dapat apa apa dari perceraiannya.
Saat ini ia sedang dalam perjalanan menuju perusahaan milik Jino. Ia tidak bisa terima semuanya ini.
Jino yang sedang memikirkan Melati kaget mendengar pintu ruang kerjanya dibuka dengan kasar.
"Kamu nggak bisa sopan masuk ke kantor orang" ucap Jino emosi melihat siapa yang datang.
Nia dengan sedikit wajah sendu mendekati Jino. Ia harus bisa membujuk Jino.
Nia tadi sengaja berdandan agar Jino kembali terpesona padanya.
__ADS_1
"Bukankah ini masih kantor suamiku" ucap Nia lembut dan duduk dihadapan Jino
"Aku bukan suamimu lagi, pergilah sebelum aku melakukan suatu tindakan kekerasan"
"Tapi Jino, bukankah kita belum resmi bercerai. Itu artinya kita masih suami istri. Jino aku tau kamu marah padaku. Tapi kamu tak bisa melakukan ini padaku Jino. Kenapa kamu tega membiarkan aku nanti hidup tanpa uang darimu sepeserpun. Apa kamu telah lupa dengan cintamu padaku. Aku sebenarnya tak bermaksud menyakiti hatimu. Aku terperdaya karena rayuan Alex. Aku mohon Jino, maafkan aku. Walaupun kita akhirnya bercerai tapi tak bisakah kita tetap sebagai sahabat" ucap Nia sambil menangis.
"Sahabat...aku tak sudi memiliki sahabat pengkhianat"
"Jino, apa kamu lupa...setiap malam kamu tak bisa tidur tanpaku. Aku selalu menemani kamu. Aku sebenarnya sangat menyayangimu, Jino. Cuma karena dendamku padamu membutakan hatiku."
"Emangnya apa yang telah aku lakukan padamu sehingga kau dendam padaku"
"Kamu telah membuat bayiku dengan Alex , meninggal. Ketika kamu menabrakku dulu, aku sedang hamil anaknya. Aku saat itu mengalami keguguran dan harus di kuret"
"Jadi kamu telah berhubungan dengan Alex sebelum pacaran denganku...dan kamu saat itu bukan operasi pengangkatan rahim tapi hanya keguguran. Katakan Nia...apa selama ini kamu juga membohongiku tentang rahimmu"
"Jino, aku tak bermaksud membohongimu. Aku sengaja mengatakan itu, karena aku trauma akan kehamilan. Aku terus teringat tentang anakku yang meninggal"
Jino mengambil vas bunga dan melemparnya ke dinding.
"Keluarlah... sebelum aku khilaf. Kamu ternyata menipuku juga tentang rahimmu...Dasar rubah betina. Kau akan membayar mahal atas kebohonganmu selama ini. Aku tak akan sudi memberikan uangku sepeserpun..."
"Jino...kamu tidak bisa melakukan itu padaku. Aku telah menemani kamu selama lima tahun. Apa kamu lupa jika kamu dulu sangat mencintaiku"
"Cintaku langsung hilang setelah tau kamu membohongiku...cepattt keluar" teriak Jino.
"Aku tak akan pergi sebelum kamu memberikan yang aku pinta. Aku tak meminta sebagian hartamu. Hanya sedikit saja..."
Jino berdiri dari duduknya. Ia memegang pergelangan tangan Nia dengan erat dan menariknya hingga keluar dari ruangannya.
Setelah itu Jino mendorongnya hingga Nia jatuh tersungkur dilantai.
"Aku peringati pada semuanya. Jika wanita ini bisa masuk lagi ke ruanganku, kalian semua yang ada dilantai ini aku pecat" ucap Jino dengan karyawannya.
Jino berjalan masuk ke ruang kerjanya lagi. Nia berdiri dan ingin mengejar, tapi tangannya di tahan oleh karyawan Jino.
"Pergilah bu. Kami tak tau apa masalah ibu dengan bapak. Tapi jangan buat kami semua kehilangan pekerjaan." ucap dua orang karyawan pria itu dan menyeret Nia keluar dari ruangan itu menuju lift.
"Kalian semua akan membayarnya. Kalian lupa jika aku istri dari pemilik perusahaan ini " ucap Nia emosi
"Maaf bu. Tapi ini permintaan bapak, kami tak mau kehilangan pekerjaan kami...." karyawan itu meminta Nia masuk ke lift dengan sedikit mendorongnya.
Jino termenung di dalam ruang kerjanya...
"Nia, kenapa kamu tega membohongi aku selama ini. Aku telah merasa sangat berdosa karena telah membuat rahimmu diangkat, hingga aku menjadikanmu istriku. Karena aku pikir tak akan ada pria yang akan bisa menerimamu. Aku selalu dihantui rasa bersalahku. Ternyata semua itu hanya kebohonganmu. Kamu harus membayar mahal atas semua kebohongan dan pengkhianatanmu. Walau aku sadar, aku bersalah padamu, karena menyebabkan kamu keguguran. Tapi bukan berarti kamu bisa menipuku seperti ini"
__ADS_1
*******************
Terima kasih