
Raka memasuki ruang rawatnya dengan masih memikirkan Melati.
"Bee ... kamu pernah bilang melihat Jino dua kali disekitaran rumah sakit ini. Dan ia juga menemui dokter yang melakukan operasi padaku"
"Ya, kenapa"
"Apa kamu sempat menanyakan apa keperluan Jino menemui dokter spesialis itu"
"Nggak, Jino keburu masuk"
"Apakah Jino sendirian"
"Aku tak tau. Aku hanya melihatnya sekilas ketika akan masuk keruang dokter itu"
"Dan ketika Jino menjengukku tiga hari yang lalu, kamu mengatakan jika Jino akan masuk ke ruang sebelah ini. Tapi diurungkan karena kamu menyapanya dan ia cuma bilang ingin melihat ruangan itu"
"Iya... emang kenapa sih, Raka"
"Aku curiga jika yang menjadi pendonor ginjal buatku adalah Melati"
"Apa .... "
"Aku tadi sempat melihat Melati memegang perutnya dan ia seakan menahan rasa nyeri."
"Apa Melati mau melakukan itu" Gumam Kimberley
"Kenapa tidak, aku mengenal bagaimana sifatnya. Ia akan rela melakukan apa saja untuk menolong seseorang walaupun itu musuhnya"
"Apa Jino mengizinkan. jika emang ia yang menjadi pendonor"
"Jika Melati yang meminta, apa yang tak diizinkan Jino. Ia tak akan bisa menolak "
"Apa Melati nggak takut terjadi sesuatu padanya saat ia mendonorkan ginjalnya"
"Walau aku tak lama mengenalnya, aku tau bagaimana sifatnya. Hatinya terlalu bersih. Apa yang pernah Jino dan Nia lakukan dengannya saja, bisa ia maafkan. Karena tak ada sifat dendam didirinya"
Mendengar Raka yang memuji Melati, Kimberley menjadi terdiam.
"Apa mungkin Melati yang telah mendonorkan ginjalnya. Jika itu benar, pastilah Raka akan tambah sulit untuk melupakan rasa cintanya pada Melati. Dan jika memang Melati yang mendonorkan ginjalnya, kenapa ia tak ingin Raka tau"
"Bee.... " panggil Raka membuat Kimberley kaget.
"Iya, ada apa Raka"
"Bantu aku selidiki ini. Kamu mengenal dokter ginjal yang menangani aku dengan baikan. Ia ayah dari sahabatmu. Bisa nggak kamu cari tau, apa benar Melati yang telah menyumbangkan ginjalnya"
"Baiklah, Raka" gumam Kimberley pelan.
.................
Dua bulan telah Melati menjalankan operasi ginjal. Saat ini keadaannya makin membaik.
Jino yang telah terbangun karena tangisan Naura segera menggendong putrinya agar tak mengganggu tidur Melati.
Jino minta tolong bibi membuatkan susu formula buat Naura. Ia menggendong putrinya di balkon.
Melati membuka matanya dan melihat ke samping.
"Kemana mas Jino. Apa ia mandi. "
__ADS_1
Melati bangun dan melihat tempat tidur putrinya yang kosong. Ia berjalan ke balkon karena pintu yang terbuka.
Melati melihat Jino yang sedang menidurkan Naura dalam gendongannya. Ia berjalan perlahan dan memeluk tubuh suaminya itu dari belakang.
"Sayang, udah bangun" ucap Jino.
"Kenapa nggak bangunkan aja aku kalau Naura menangis"
"Mas tak mau mengganggu tidurmu" ucap Jino. Ia membalikkan tubuhnya menghadap Melati.
Jino mengecup dahi dan bibir Melati.
"Nauranya udah tidur lagi, mas"
"Sudah, mas letakkan di tempat tidur dulu ya. Kamu tunggu sini aja"
Jino lalu masuk ke kamar dan menidurkan putrinya di tempat tidur.
Setelah yakin Naura tertidur dengan nyaman, barulah Jino melangkah menuju balkon.
"Sayang, sini duduk dipangkuan mas" ucap Jino menepuk pahanya.
Melati duduk menyamping dipaha Jino, dan melingkarkan kedua tangannya dileher Jino.
"Kamu terasa jauh lebih ringan sekarang dibanding saat terakhir mas memangku kamu"
"Itu karena aku udah lahiran. Mas terakhir memangku aku saat hamil"
"Sayang, kamu harus banyak makan. Mas udah menyusun menu dari ahli gizi untuk kesehatanmu. Biarkan bibi yang memasak. Mas nggak mau lihat kamu di dapur sedang memasak atau mencuci piring"
Jino dapat merasakan helaan nafas dari mulut Melati mengenai kulit lehernya.
"Sayang, sebenarnya mas pengin banget. Tapi mas takut itu akan menyakitimu"
"Mas pengin"
Jino hanya mengangguk sebagai jawaban. Tampak kabut diwajahnya karena menahan gairah.
"Kita bisa melakukan dengan pelan. Lagi pula aku sudah tidak merasakan nyeri lagi dibekas luka sayatan operasinya"
Jino mengecup dahi Melati dan mengangkat tubuh mungil istrinya. Jino membawa Melati masuk dan membaringkan diatas ranjang dengan perlahan.
Ia membuka kimono yang membalut tubuh istrinya. Jino juga membuka seluruh kain yang melekat ditubuhnya.
Wajah Melati memerah melihat Jino yang dengan santainya berdiri dihadapannya tanpa sehelai benangpun yang melekat ditubuhnya.
Jino juga membuka seluruh kain yang melekat ditubuh istrinya. Saat ini mereka berdua telah sama-sama polos.
Jino menaiki tubuh istri perlahan, takut membuat bekas luka operasi ditubuh istrinya sakit.
Ia memulai pemanasan dari mengecup wajah istrinya. Setelah itu turun keleher istrinya. Jino mengecup, menjilat dan menggigit leher istrinya meninggalkan banyak jejak kepemilikan.
Setelah puas, ia turun ke dad* istrinya. Lama Jino bermain di area tubuh istrinya itu.
Jino melakukan hal sama dengan perut istrinya, ia mengecup pelan belas luka sayatan operasi.
Merasa cukup melakukan pemanasan, Jino mulai memasuki bagian inti tubuh istrinya dengan perlahan.
__ADS_1
Ia melakukan dengan lembut. Setelah beberapa saat, akhirnya mereka sama sama mencapai puncaknya.
Jino turun dari tubuh istrinya dan berbaring disamping. Ia mengecup dahi istrinya.
"Terima kasih sayang, rasamu tak pernah berubah. Selalu aja membuatku candu. Jika saja aku tak mengingat kamu baru operasi, aku akan meminta ulang" bisik Jino, membuat wajah Melati memerah mendengar ucapan Jino.
"Mas ngomong apa sih"
"Mas serius sayang, tubuhmu dan seluruh yang ada pada dirimu selalu saja membuat mas candu dan tak pernah bosan merasakannya"
"Mas, jangan ngomong itu lagi. Aku malu.... "
"Kenapa malu, seharusnya kamu bangga karena selalu aja bisa membuat mas puas"0
"Mas .... "
Melati menenggelamkan wajahnya di dada bidang Jino.
Jino memeluk erat tubuh polos istrinya. Dan ia kembali membisikkan sesuatu.
"Kamu dapat merasakan jika adik kecil mas kembali terbangun bukan"
"Mas.... "
"Kita tidur sebentar, sekalian menidurkan adik kecil mas. Setelah itu mandi bareng "
Melati dan Jino kembali memejamkan matanya. Beberapa jam mereka tertidur.
Melati terbangun saat ia merasakan panas dari teriknya cahaya matahari memasuki kamarnya dari pintu yang menuju balkon.
Jino juga ikut terbangun merasakan pergerakan tubuh istrinya. Mereka berdua bangun dan segera mandi.
Sehabis mandi dan berpakaian, Melati melihat putrinya yang masih tertidur dengan nyenyaknya.
Ia berjalan keluar kamar diikuti Jino. Melati memeluk pinggang Jino sambil berjalan menuju meja makan.
Jino dan Melati kaget melihat Raka yang telah duduk di meja makan , ia tersenyum ke arah mereka.
"Selamat pagi Jino, Melati."
"Selamat pagi, kamu udah lama datangnya " ucap Melati dan segera duduk diikuti oleh Jino
"Sekitar lima belas menit yang lalu"
"Kenapa nggak minta bibi bangunkan kami" ucap Melati lagi
"Nggak mungkin aku mengganggu tidur suami istri"
"Kamu telah sembuh, Raka " ujar Jino
"Alhamdulillah, berkat bantuan dari kalian : ucap Raka.
Jino dan Melati kaget mendengar ucapan Raka. Mereka saling memandang meminta penjelasan.
Bersambung
********************
Terima kasih
__ADS_1