
Sudah tiga hari berlalu. Hari ini Jino telah beraktifitas seperti biasanya.
Siang hari ketika jam istirahat Jino datang ke rumah sakit untuk melihat hasil dari pengambilan sumsum tulang belakangnya.
Rendra sudah mulai tampak kembali ceria walau ditangannya masih terpasang selabg infus.
Jino masuk ke ruang perawatan Rendra. Ia melihat putranya sedang disuapi Melati.
"Selamat siang, sayang. Lagi makan ya"
"Papi...makan" ucap Rendra terbata
"Papi udah makan. Rendra makannya yang banyak ya biar cepat sembuh, sayang"
"Iya, pi"
"Kamu udah makan, Mel"
"Sebentar lagi, mas. Suapin Rendra dulu. Mama udah bawa bekal buatku..."
"Kamu jangan telat makan. Kamu harus jaga kesehatan. Rendra sangat membutuhkanmu"
"Iya, mas..."
"Lihatlah...badanmu makin kurus. Mama mana"
"Mama tadi pulang setelah mengantar bekal. Mau beresin apartemen dulu"
"Aku mau ke ruang dokter. Ingin melihat hasil tes kemarin"
"Aku nggak bisa temani. Siapa nanti yang menjaga Rendra mas. Atau aku minta mama kesini ya, mas."
"Terserah kamu aja, Mel"
Melati menghubungi mamanya minta datang kerumah sakit. Jarak apartemen dan rumah sakit memang dekat hanya membutuhkan sepuluh menit jalan kaki.
Setelah mama datang, Jino dan Melati menemui dokter.
Dokter membuka hasil tes sumsum tulang belakang antara Jino dan Rendra.
"Bagaimana hasilnya dok..." ucap Jino. Melati tanpa disadari menggenggam tangan Jino. Ia takut mendengar ucapan dokter.
"Mohon maaf bapak dan Ibu Jino...ternyata kecocokan sumsum tulang belakang antara pak Jino dan putranya Rendra hanya dua puluh lima persen"
"Mas..bagaimana ini. Apa yang harus kita lakukan" ucap Melati dengan menangis.
__ADS_1
"Kita akan usahakan pengobatan yang lain"
"Apakah dengan kecocokan yang hanya dua puluh lima persen itu bisa dilakukan pendonoran , dokter"
"Maaf, pak. Saya tak berani melakukannya. Itu sangat beresiko"
"Dokter ...tolong anak saya. Apa yang harus kami lakukan" ucap Melati masih dwngan menangis
"Sebelum ada pendonor yang cocok hanya pengobatan dan kemoterapi yang bisa kita lakukan untuk mencegah penyebaran kankernya. Kecocokan sumsum tulang akan lebih besar antara saudara kandung, ketimbang antara orangtua dan anak.
Jika dipaksakan akan menimbulkan risiko lain yang dapat membahayakan kondisi pasien.
Mieski kita bisa saja mendapatkan donor dari orangtua, hal ini dapat membuat sistem imun terganggu karena donor tidak sepenuhnya sesuai.
Ujung-ujungnya, tubuh akan mengeluarkan respon penolakan dan bisa memperlambat proses pemulihan.
Donor sumsum tulang yang tidak tepat bahkan bisa memperburuk kondisi penyakit, hingga menimbulkan infeksi dan gangguan fungsi tubuh lain
Jika proses donor sumsum tulang belakang gagal, sel kanker tidak akan sepenuhnya dimusnahkan. Pasien akan tetap harus menjalani kemoterapi atau radioterapi sebagai penyempurna pengobatan."
"Lakukan aja yang terbaik buat putraku ,dok. Kami akan usahakan mencari pendonor yang tepat"
"Baiklah, pak. Akan lebih baik jika ada pendonor agar Rendra bisa cepat pulih dari kankernya"
"Bisa juga melalui darah tali pusar adiknya yang baru lahir.Darah tali pusat mengandung banyak sel punca atau stem cells yang berperan dalam perkembangan berbagai jaringan, organ, dan sistem tubuh. Sel punca yang terdapat pada setiap bagian tubuh ini dapat berubah dan bertumbuh menjadi tipe sel lain.
"Baiklah, dok. Aku akan bicarakan ini lebih serius dengan bundanya"
Setelah berbincang dan bicara mengenai pengobatan Rendra, Jino dan Melati keluar dari ruang praktek dokter.
Berjalan di lorong menuju ruang inap Rendra, Melati langsung terduduk dilantai depan pintu. Ia menangis histeris. Ia tak mau menangis dekat Rendra.
"Aku tak mau kehilangan Rendra, mas..."
Jino berjongkok didepan Melati dan membawa Melati ke dalam pelukannya.
"Kita tak akan kehilangan Rendra"
"Aku tak akan bisa hidup tanpa Rendra,mas. Kenapa harus Rendra, kenapa bukan aku saja yang mengidap penyakit itu,mas"
"Melati...kamu tak boleh ngomong begitu. Kamu harus kuat demi Rendra. Yakinkah semuanya akan berjalan baik. Tuhan tidak pernah memberi cobaan melebihi kemampuan umatnya"
Melati mendongakan kepalanya memandangi wajah Jino.
"Mari kita menikah kembali, mas" ucap Melati.
__ADS_1
Jino memegang kedua bahu Melati dengan tangannya.
"Kamu yakin...."
Melati menganggukan kepalanya untuk menjawab perkataan Jino.
"Kita akan memberikan Rendra adik, mas"
"Nanti kita bicarakan pada mama dan abang Kai saat ia datang lagi."
Jino membawa Melati kembali kedalam dekapan dadanya.
Jino menghapus air mata Melati dengan sapu tangannya.
"Jangan menangis lagi, kita harus tampak kuat dihadapan Rendra. Besok ia akan menjalankan kemoterapi. Kita berdua akan mendampinginya"
"Mas...berjanjilah padaku, kamu akan mengusahakan apapun demi kesembuhan Rendra"
"Tanpa kamu mintapun, aku akan melakukan itu"
Jino membantu Melati berdiri. Setelah itu mereka masuk ke dalam ruang inap Rendra.
Tampak putra mereka Rendra telah tertidur dengan lelapnya.
Melati langsung memeluk mamanya, dan kembali tangisnya pecah.
"Mama...."
"Ada apa, nak. Kenapa kamu menangis"
"Sumsum tulang belakang mas Jino tidak cocok dengan Rendra. Aku takut ma...aku tak mau kehilangan Rendra. Aku mau Rendra sembuh"
"Sayang, kamu jangan menangis begini. Mama mengerti dengan perasaanmu nak. Mama pernah berada dalam posisimu saat ini. Tapi kamu tak boleh putus asa. Rendra masih bisa sembuh. Anak anak memiliki harapan delapan puluh persen kesembuhan. Mama dan abang akan usahakan apa saja demi kesembuhan Rendra. Walaupun semua harta mama habis buat pengobatan Rendra, bagi mama tidak masalah. Jadi kamu tak perlu sesedih ini, nak..."
"Ma...aku dan Melati sepakat akan menikah kembali untuk memberikan adik buat Rendra" ucap Jino
"Kamu serius, nak. Kamu mau menikah kembali dengan Jino. Mama sangat senang mendengarnya. Itu keputusan yang baik. Abang pasti juga sangat setuju"
"Iya, ma. Aku akan memberikan adik buat Rendra. Agar nanti ketika adiknya lahir bisa memberikan darah pada tali pusarnya buat kesembuhan Rendra"
"Sayang...mama mendoakan semoga nanti adiknya Rendra bisa memberikan kesembuhan buatnya"
"Melati....walau aku tau kamu terpaksa menikah denganku karena Rendra, tapi akan aku buat kamu menerimaku dengan tulus. Aku akan buat kamu jatuh cinta padaku. Akan aku buktikan padamu dan pada semua jika aku pantas menjadi suamimu. Aku janji akan menjadi suami dan papi yang baik dan dapat dibanggakan"
********************
__ADS_1
Terima kasih