Melati (Istri Yang Tak Dianggap)

Melati (Istri Yang Tak Dianggap)
Bab Enam puluh Tujuh


__ADS_3

Melati meminta supir taksi membawanya menuju apartemen. Dalam perjalanan Rendra tertidur dalam gendongan Melati.


Sampai di apartemen Melati meletakan Rendra ditempat tidur. Ia memandangi wajah Rendra dengan air mata yang terus saja mengalir.


"Ya Tuhan, kenapa hatiku sakit sekali mendengar ucapan ucapan mereka. Tak pernah terbersit dihatiku menerima Raka hanya untuk membalas dendam pada mas Jino. Aku sudah melupakan semuanya. Aku sudah memaafkan kesalahan mas Jino. Aku sadar jika aku juga tak luput dari kesalahan. Semua yang aku alami juga berawal dariku yang mau menerima nikah kontrak itu. Apa lagi aku sadar, jika mas Jino adalah ayah kandung Rendra. Tak mungkin aku membanci orang yang memberikan kehidupan buat putraku. Apa yang harus aku lakukan. Aku tak mungkin juga tetap mempertahankan hubungan ini karena itu bisa membuat Raka dikucilkan keluarganya...Tuhan, berilah petunjukmu"


Melati menangis terisak mengingat jika ia harus mengakhiri hubungannya , itu berarti ia harus menjauh dari kehidupan Raka.


Melati mendengar bel apartemennya berbunyi. Ia ragu untuk membukanya.


"Apakah itu Raka. Apa yang akan aku katakan padanya"


Melati mengintip sebelum membukakan pintu. Tampak Kai yang berdiri di depan pintu. Melati membuka pintunya. Kai memandangi Melati tanpa kedip.


Kai masuk walau Melati belum mempersilakan. Ia mengangkat dagu Melati dan melihat air mata yang masih tergenang di sudut mata adiknya itu.


"Kamu menangis" ucap Kai. Melati hanya diam, tak menjawab.


"Siapa yang membuat kamu menangis..." ucap Kai lagi


"Tidak ada , bang"


"Melati, sekarang kamu itu adikku. Aku tak akan biarkan siapapun menyakitimu. Beri tau aku, apa yang menyebabkan kamu menangis"


Merasa mendapatkan perlindungan tangisan Melati pecah. Kai membawa kepala Melati ke dalam pelukan dadanya.


"Bang, aku ingin pergi jauh dari sini"


"Kamu serius...."


"Iya, bang..."


"Ayo, kita pergi. Aku akan bawa kamu pergi menjauh dari orang orang yang akan menyakitimu. Tak akan aku biarkan kamu menangis lagi. Mamaku juga sudah menanti kedatanganmu"


"Bang, apa ada keberangkatan malam malam begini"


"Jangan pikirkan itu. Yang jelas kamu pergi dari apartemen ini dulu"


"Ada Rendra putraku"


"Bawa aja sekalian. Apa paspor Rendra ada denganmu"


"Iya, bang...."


"Udah, sekarang susun pakaianmu dan Rendra"


"Abang tak pengin tau kenapa aku mau pergi dari sini"

__ADS_1


"Kamu bisa ceritakan nanti. Yang harus kamu lakukan saat ini, pergilah menjauh dari orang orang yang akan membuatmu terluka. Kamu berhak bahagia"


"Jika aku bawa Rendra, apa aku nanti tidak akan dituntut"


"Rendra juga anakmu , tak ada yang bisa melarang kamu membawanya. Jika ada yang menuntutmu aku yang akan membela. Aku akan siapkan pengacara untukmu"


"Bang, apa nanti tidak akan menjadi gosip jika wartawan melihat kebersamaan kita."


"Itu biarlah menjadi tanggung jawabku. Aku sudah lama di dunia ini. Aku bisa mengatasinya. Nanti kamu dan aku tinggal pakai masker dan topi biar tak mudah dikenali"


Setelah memasukan pakaian dirinya dan Rendra yang ada di apartemen, Kai membawa Melati ke salah satu hotel. Ia meminta asistennya yang memesan kamar atas namanya.


Sementara itu di rumahnya Jino suasana makin tegang, karena Raka tidak mau mengalah dengan ucapan keluarganya.


"Dengar semuanya. Aku sudah meminta izin pada seluruh keluarga. Jadi aku tak mau mendengar nanti ada yang mengatakan pada siapapun jika tak tau mengenai keputusanku ini. Mengenai kalian semua merestui ataupun tidak itu pilihan ada ditangan oom dan tente semua. Aku tetap akan menikahi Melati dengan atau tanpa restu keluarga. Karena yang bisa menentukan kebahagiaan kita adalah diri kita sendiri...."


Setelah mengucapkan itu Raka mrninggalkan seluruh keluarganya naik kelantai atas menuju kamar Rendra.


Raka membuka pintu kamar Rendra tapi tak melihat Melati dan Rendra. Ia turun kembali ke lantai bawah rumah ini dan bertanya keberadaan Melati pada pengasuh Rendra.


"Saya nggak tau , pak. Tadi bu Melati ada di kamar bersama Rendra" ucap pengasuh itu.


Raka berjalan menuju taman belakang rumah mencari Melati dan Rendra tapi tak juga ia dapat menemui keberadaannya.


Raka berkeliling rumah mencari Melati. Setelah cukup lama mrncari , ia tak juga dapat menemui Melati.


Raka melihat satu persatu keluarganya mulai meninggalkan kediaman tante Yeni mamanya Jino.


"Ya Tuhan...apa kamu tak salah"


"Tidak ,bu. Kami sudah melihat identitasnya. Makanya kami menghubungi ibu. Kami juga bisa mengenali dari wajahnya. Semua juga tau kan wajahnya pak Jino...."


Tampak tante Yeni terduduk sambil menangis. Raka mendekati tantenya.


"Ada apa tante, siapa yang menelpon tante"


"Jino...Jino...."


"Jino, kenapa tante"


"Jino kecelakaan...." ucap tante Yeni dengan suara terbata.


"Apa...tante nggak salah dengar"


"Tidak...mereka sudah memastikannya"


"Di rumah sakit mana Jinonya saat ini..."

__ADS_1


"Rumah sakit keluarga kita, Raka"


"Kalau gitu, mari kita kesana" ucap Raka memapah mama Jino yang sangat lemah karena mendengar kabar Jino kecelakaan.


Raka menjalani mobil dengan kecepatan sedang. Tante Yeni tampak menangis terisak.


Sampai di rumah sakit mereka langsung menunju IGD tempat Raka mendapati perawatan.


Raka menanyakan kronologi Jino kecelakaan pada seseorang yang ia ketahui dari perawat, jika orang itulah yang menolong Jino dan membawanya ke rumah sakit ini.


"Maaf pak. Boleh saya tau bagaimana kronologi kecelakaan ini"


"Ini murni kecelakaan tunggal. Tampaknya ia sedang mabuk. Karena dari mulutnya terbau alkohol. Ia menabrak pembatas jalan"


"Mabuk..." gumam mama Jino


"Iya, bu. Tampaknya ia baru keluar dari klub terdekat tempat dimana kecelakaan terjadi"


"Kenapa Jino sampai mabuk" lirih mama Jino. Raka yang mendengarnya ikut berpikir.


"Apa Jino berbohong mengatakan jika ia ada pertemuan dengan klien. Apa ia memang sengaja menghindari pertemuan. Hingga ia melampiaskan rasa sedihnya dengan minum hingga mabuk. Apa Jino memang sangat mencintai Melati"


"Maaf pak, ibu saya bisa pamit."


"Terima kasih banyak pak ,telah menolong anak saya" ucap mama Jino


"Sama sama buk"


Mama Jino mengambil uang dari dalam tas dan menyerahkan pada bapak itu.


"Ini pak buat ongkos taksi"


"Nggak usah ,bu. Saya ada uang kok, buat taksi pulang"


"Nggak apa ,pak. Saya mohon bapak menerimanya. Ia tak seberapa jika dibandingkan pertolongan bapak. Dan ini kartu nama saya. Jika bapak perlu bantuan saya ,jangan sungkan menghubungi"


"Terima kasih banyak, bu. Semoga anak ibu cepat pulih"


"Aamiin... "


"Pak...saya pamit" ucap pria itu dengan Raka


"Iya, pak. Terima kasih"


Pria itu pergi meninggalkan Raka dan tante Yeni yang kembali duduk menunggu dengan gelisah.


"Apa benar Jino masih mengharapkan Melati menjadi istrinya kembali. Dan apa Jino hanya berbohong mengatakan padaku jika ia mengikhlaskan Melati memilih hidup denganku. Dan kemana perginya Melati. Aku sebenarnya ingin menemui Melati, tapi aku tak mungkin juga meninggalkan tante sendirian. Apakah Melati pergi karena mendengar pertengkaranku dengan keluarga."

__ADS_1


***********************


Terima kasih


__ADS_2