
Kai pamit pulang setelah Melati dan Jino kembali ke ruang inap Rendra. Kai ingin memberi waktu buat papi dan bunda Rendra.
"Aku dapat melihat masih banyak cinta di mata Jino untuk Melati. Aku tak tau apa penyebab utama mereka memutuskan berpisah. Dari yang aku baca. Melati adalah istri kedua Jino dan perceraian mereka karena kesalah pahaman. Apapun yang membuat adikku bahagia aku akan mendukungnya"
Setelah Kai meninggalkan ruangan itu, Melati mengambil kursi dan meletakan kepalanya ditepi ranjang. Melati tidur di samping Rendra dengan terus menggenggam tangannya.
Jino yang melihat Melati telah terlelap, melepaskan pegangan tangannya dengan Rendra. Ia menggendong Melati dan membaringkan di sofa.
Jino menggantikan posisi Melati. Ia duduk di samping tempat tidur Rendra.
..................
Pagi harinya Melati terbangun dan kaget menyadari dirinya tertidur di sofa. Melati melihat Jino yang tertidur di kursi samping ranjang Rendra.
Melati mendekati Jino dan membangunkan. Ia memukul pelan lengan Jino.
"Mas...bangun. Pindah tidur di sofa"
"Melati..."
"Mas ...pasti capek tidur duduk. Pindah e sofa aja , mas. Biar aku yang gantian jaga Rendra."
"Mas, udah nggak mengantuk. Kamu kalau mau mandi, pergilah dulu sebelum Rendra bangun"
"Baiklah, aku mandi dulu"
Setelah mandi , Melati melihat Rendra sudah bangun. Ia sedang bercanda dengan Jino.
"Bunda...papi tak pelgi lagitan..." ucap Rendra ucapan yang masih cadel.
"Nggak sayang...."
"Melati, kenapa Rendra masih ingat dengan wajah mas"
"Setiap hari aku selalu melihatkan foto mas pada Rendra jika ia bertanya papinya"
"Terima kasih, Mela. Kamu masih mengingatkan aku pada Rendra"
"Tentu saja, mas. Mas kan papinya Rendra"
Terdengar suara ketukan di pintu. Setelah itu tampak Kai dan mamanya masuk.
"Selamat pagi..." ucap mama
"Selamat pagi, ma"
"Apakah ini papinya Rendra"
"Iya, ma. Kenalkan saya...Jino" ucap Jino menyalami mama.
"Ganteng seperti Rendra" ucap mama
__ADS_1
"Mama bisa aja. Melatikan cantik , tentu aja Rendranya ganteng" ujar Jino
"Wajah Rendra lebih dominan ke papi nya"
Mama memberikan bekal sarapan yang dibuatnya. Ketika mereka sedang menyantap sarapan itu, dokter masuk membawa hasil lab penyakitnya Rendra.
"Selamat pagi. Saya bisa bicara dengan orang tuanya Rendra" ( dengan bahasa inggris sih dokternya ngomong. Aku nggak bisa bahasa inggris jadi pakai bahasa indonesia aja ya), ucap dokter
"Selamat pagi. Saya bundanya , dokter"
"Bisa ibu ikut saya ke kantor. Saya ingin membacakan hasil lab dari Rendra"
"Baik dok" ucap Melati
"Melati...boleh aku ikut" ucap Jino
"Tentu saja boleh, mas. Ma, abang ...aku titip Randra dulu" ucap Melati. Rendra yang berada dipangkuan Kai merengek melihat bunda dan papinya pergi.
"Rendra ,sama uncle aja ya. Papi dan mami mau pergi temui dokter sebentar. Rendra anak pintar. Nggak boleh nangis" bujuk Kai
Mama juga ikutan membujuk Rendra dengan menyuapinya kue kesukaan Rendra yang dibuatnya.
Sampai diruangan kerjanya, dokter mempersilakan Melati dan Jino duduk.
Dokter itu menjelaskan hasil dari labnya Rendra. Dan diakhir penjelasan ia terdiam sejenak.
"Jadi penyakit apa yang sedang di derita anak saya ,dokter" ucap Melati melihat dokter itu terdiam
"Apaa..." ucap Jino dan Melati serempak
"Dokter...ini pasti salah, coba dokter periksa ulang lagi" ucap Melati dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
"Bapak dan Ibu, saya tidak salah. Ini berdasarkan hasil pemeriksaan yang kami lakukan kemarin pada Rendra"
"Tidak mungkin, mas. Rendra tak boleh sakit , biar aku aja yang sakit"
Jino membawa Melati ke dalam pelukannya. Ia mencoba menenangkan Melati dengan mengusap punggungnya.
"Apa yang harus kami lakukan, dok"
"Leukimia yang diderita anak usia 0-5 tahun kemungkinkan sembuhnya besar sekitar delapan puluh persen dan bisa bertahan hingga lima tahun. Bapak dan ibu harus tetap mengusahakan pengobatannya. Bisa dengan terapi ataupun kemo. Dan harus menjalankan pola makan sehat agar imun tubuh anak tetap terjaga. Sayur dan buah harus banyak dikonsumsi selain protein"
"Baik ,dok. Kami akan mengusahakan pengobatan yang terbaik buat Rendra. Apakah Rendra bisa dipindahkan ke rumah sakit milik keluarga saya di Indonesia"
"Bisa , tapi tunggu keadaannya sedikit stabil untuk menempuh perjalanan."
"Mas...katakan semua ini hanya mimpi. Rwndra nggak mungkin menderita leukimia"
"Melati, kamu dengarkan penjelasan dokter. Jika Rendra bisa sembuh sekitar delapan puluh persen. Aku akan mengusahakan apapun itu untuk pengobatan dan kesembuhan Rendra. Sekarang kita temui Rendra. Kamu tidak boleh sedih jika dihadapan Rendra. Kita harus kuat"
"Dokter , terima kasih. Kami pamit dulu"
__ADS_1
Jino memeluk bahu Melati membawanya ke ruang inap Rendra. Mama dan Kai kaget melihat Melati yang tampak menangis dan lemah.
Kai menghampiri Melati. Ia lalu memeluk erat tubuh abangnya.
"Ada apa dek, kenapa kamu menangis"
"Abang...Rendra, bang"
"Kenapa Rendra"
"Rendra menderita leukimia" ucap Melati sambil terisak
Mama yang sedang menggendong Rendra kaget mendengar ucapan Melati. Ia terduduk karena kakinya mendadak terasa lemah. Jino yang melihat itu mengambil alih Rendra.
"Ya Tuhan, cobaan apa ini lagi. Kenapa dalam keluargaku selalu saja ada penderita leukimia. Dulu Michelle pergi juga karena penyakit yang sama. Tuhan...jangan kau ambil juga cucuku dengan cara yang sama. Cukup anakku saja"
Melati yang berada dipelukan Kai tiba tiba jatuh dan pingsan.
"Melati..." teriak Kai. Ia menggendong tubuh adiknya dan membaringkan di sofa.
"Jino...apa benar yang dikatakan Melati" ucap Kai setelah membaringkan Melati
"Iya, bang"
"Ya , Tuhan. Apa yang harus kita lakukan" ujar Kai frustasi
"Bang, dokter mengatakan tingkat kesembuhan anak yang menderita leukimia bisa hingga delapan puluh persen. Aku akan usahakan pengobatan yang terbaik buat Rendra. Ia akan ditangani dokter terbaik di Indonesia"
"Kenapa bukan disini saja. Biar aku yang menanggung semua biayanya"
"Bang, keluargaku memiliki satu rumah sakit swasta di Jakarta. Pasti ia mengenal dokter terbaik untuk pengobatan leukimia. Aku akan bawa Rendra agar lebih bisa mengawasinya. Aku harap pengertian dari abang"
"Kamu harus usahakan yang terbaik. Jangan pikirkan biaya"
"Jino...ibu takut. Kamu tahu, kembaran Melati meninggal karena penyakit yang sama. Mama harapkan kamu bisa mengusahakan apa saja untuk pengobatan cucu mama. Kai...mama akan ikut Melati ke Jakarta"
"Ya, ma. Aku akan belikan apartemen terdekat dengan rumah sakit milik keluarga Jino. Mama temani aja Melati. Aku akan ke Jakarta setiap ada jadwal kosong" ucap Kai
"Iya, nak. Kapan Rendra mau dibawa Jino"
"Mungkin lusa ma ,kita berangkat sama sama aja" ujar Kai lagi
"Iya, nak" ucap mama lemah.
Kai mendekati adiknya Melati dan mengusap rambutnya.
"Kamu jangan kuatir dik, apapun akan abang usahakan untuk kesembuhan Rendra. Abang tak mau kehilangan anggota keluarga lagi"
*******************
Terima kasih untuk semua pembaca setia novel ini. Maaf tidak bisa membalas komentarnya satu persatu, tapi aku baca kok semua komentarnya. 😍😍😍😍
__ADS_1