
Setelah mandi, Jino kembali mengaktifkan ponselnya. Ia mendapatkan banyak panggilan tak terjawab dan satu pesan yang mengabarkan jika Melati telah melahirkan.
Jino naik ke tempat tidur , dimana Nia masih bergulung dengan selimutnya.
Jino memeluk pinggang Nia dan mengecup bibirnya agar ia terbangun.
Nia hanya menggeliatkan tubuhnya tanpa membuka mata.
Jino kembali mengecup pipi dan bibir istri yang sangat dicintainya itu.
"Bangun sayang, aku ada berita baik untukmu"
Nia membuka matanya dan melihat wajah Jino yang sangat dekat dengan wajahnya. Ia mengecup bibir Jino.
"Berita baik apa..."
"Kamu telah menjadi seorang mami"
"Maksud kamu apa...."
"Melati telah melahirkan putra kita"
Nia bangun dari tidurnya dan duduk bersandar dengan kepala ranjang.
"Kamu serius..."
"Iya, sekarang kita siap siap kembali ke Jakarta"
"Jino, aku belum belanja baju" ucap Nia dengan manja
"Kita bisa beli di Jakarta...."
"Aku mau yang di sini. Melati dan bayi kita baik baik ajakan. Mereka sehat..."
"Ya...."
"Besok aja kita pulangnya. Biar Melati puas dua hari ini bersama putranya. Setelah itu putra itu menjadi milikku ,bukan"
"Tentu saja, dia milikmu...sayang"
"Kita kembali besok ya. Seharian ini kamu harus temani aku keliling buat belanja"
"Baiklah, sayang. Apa yang nggak aku lakukan buatmu"
"Bagaimana wajah putraku. Aku sudah nggak sabar melihatnya. Tapi Nia ada benarnya, biarlah Melati menghabiskan waktu dua hari ini buat bersama putranya. Setelah itu bayi itu akan menjadi milik Nia"
Setelah sarapan, Nia mengganti pakaiannya. Jino dan Nia keluar dari hotel menuju pusat perbelanjaan.
__ADS_1
Sementara itu di rumah sakit, Raka yang baru selesai mandi di rumahnya kembali datang ke rumah sakit. Ia membawa makanan buat Melati.
"Kamu udah sarapan, Mela"
"Udah, Raka. Tadi sarapan dari rumah sakit"
"Udah ada kabar kapan Jino kembali"
"Ia hanya membaca pesanku tanpa membalasnya"
"Apa ia tak ingin melihat putranya"
"Raka, aku tak masalah. Mungkin lebih baik mas Jino dan mbak Nia lebih lama lagi kembalinya. Dengan begitu, aku akan lebih lama juga bersama putraku"
"Melati...pergilah menjauh dari kehidupan Jino dan Nia"
"Aku takut , Raka"
"Apa yang kamu takutkan"
"Aku takut mereka menuntutku. Karena dalam surat perjanjian itu, ada tertulis...jika semua kontrak berakhir jika aku telah diceraikan Jino. Jadi aku harus menunggu Jino menceraikan aku, baru aku bisa pergi. Jika tidak aku akan dipidanakan"
"Kenapa kamu mau menanda tangani perjanjian konyol begitu"
"Raka, saat itu aku sangat terdesak. Penagih itu memintaku harus membayar hutang dalam tempo satu hari. Jika aku tidak bisa melunasinya, mereka akan membawaku dan menjadikan aku PSK. Aku tak mau, Raka. Aku lebih baik menerima nikah kontrak. Jika nikah aku hanya melayani satu pria"
"Raka, walau kamu telat hadir di dalam hidupku...tapi kamu telah banyak memberikan bantuan. Aku sangat bersyukur bisa kenalan dan dekat dengan orang baik seperti kamu. Di dunia ini sulit mencari orang ikhlas sepertimu"
"Melati...sebenarnya aku tak sebaik yang kamu pikirkan. Aku juga manusia biasa , aku tak seikhlas itu. Aku melakukan ini karena aku mencintaimu"
Melati menghabiskan waktu bersama putranya. Ia selalu ingin memeluk dan menggendong walau putranya tidak menangis.
Raka kembali mengunjungi Melati sore harinya setelah pulang kerja. Ia menemani Melati hingga malam.
"Melati, kamu ditemani siapa tidur malam ini"
"Aku bersama putraku saja , Raka"
"Biar aku temani kamu ya"
"Raka, nggak usah. Aku juga udah enakan badannya. Besok sore dokter sudah mengizinkan aku kembali. Berarti nggak ada yang perlu dikuatirkan. Aku sehat kok..."
"Bagaimana jika kamu membutuhkan sesuatu nantinya"
"Aku bisa minta tolong perawat"
"Aku nggak akan tenang di rumah, Melati. Sebenarnya aku ingin membawa mamanya Jino ke sini, tapi aku takut ia curiga. Wajah bayimu sangat mirip Jino"
__ADS_1
"Aku juga tak ingin bertemu mamanya Jino. Aku takut nggak bisa menutupi kebohongan ini"
"Aku akan tidur di sini aja. Subuh aku kembali ke rumah"
"Raka, bukannya aku tak suka kamu temani. Tapi aku udah terlalu sering merepotkan kamu. Seharusnya ayah dari putraku yang melakukan semua ini. Tapi kamu sudah mengambil alihnya, dari mulai aku lahiran hingga mengadzani anakku. Masa sekarang kamu pula yang harus begadang menemaniku di rumh sakit."
"Melati... harus berapa kali aku katakan, aku tak pernah merasa kamu merepotkan aku. Kamu juga bagian dari keluarga kami. Bukankah kmu juga istri Jino yang sah secara agama. Anggap saja apa yang aku lakukan itu sebagai pengganti dari Jino"
Raka membujuk Melati dengan berbagai ucapannya. Akhirnya Melati mengizinkan Raka tidur menemaninya.
Malam hari ketika putranya menangis, Raka akan terbangun menemani Melati untuk menidurkan kembali anaknya.
Hingga subuh, Raka pamit pulang. Ia akan kembali lagi siang hari ketika jam istirahat.
Raka membelikan Melati sarapan sebelum ia pulang.
"Jangan lupa sarapan ya"
"Kenapa kamu harus repot membelinya. Nanti perawat juga akan mengantar sarapan"
"Kamu habis lahiran. Pasti akan terasa lapar terus. Ini bisa buat kamu makan sebelum jam makan siang"
"Terima kasih ya, Raka. Hati hati..."
"Sama sama. Aku pamit ya..."
Raka meninggalkan rumah sakit. Ia harus mempersiapkan berkas buat rapat nanti.
Di tempat lain, tampak Jino dan Nia sedang mandi bersama. Mandi yang seharusnya tak membutuhkan waktu lama akhirnya selesai setelah satu jam lebih.
Jino dan Nia bersiap siap menuju bandara. Mereka memilih keberangkatan pagi jam sepuluh.
Jino tampak antusias. Ia tak sabar ingin melihat darah dagingnya.
Sepenjang perjalanan antara Bali dan Jakarta , wajahnya selalu memancarkan senyum kebahagiaan.
"Kamu tampaknya sangat bahagia"
"Sayang, aku sudah nggak sabar ingin melihat wajah putra kita. Apakah kamu tak penasaran pengin tahu wajah putra kita"
"Ia putramu dengan Melati. Bukan putraku. Anakku telah kamu bunuh. Seandainya saat itu aku nggak keguguran, mungkin aku sudah menikah dengan Alex. Aku membencimu Jino, karena kamu anakku dan Alex tiada"
"Tentu saja ,Jino. Aku juga nggak sabar ingin melihat wajahnya. Pasti mirip kamu, pria yang paling aku cintai" ucap Nia mengecup bibir Jino.
"Akhirnya aku memiliki keturunan. Walau itu bukan dari rahim Nia wanita yang paling aku sayangi, tapi aku akan tetap merawat dan menjaganya sepenuh hati. Karena ia merupakan darah dagingku. Nia pasti juga akan menyayangi putraku seperti putra kandungnya sendiri"
******************
__ADS_1
Terima kasih