
Jino sampai di rumah mamanya Melati dengan hati gembira. Ia sengaja tak memberi kabar tentang kedatangannya hari ini pada Melati.
Jino melihat Rendra yang sedang berlarian dihalaman rumah.
"Rendra sayang" panggil Jino
"Papi.... " ucap Rendra berlari menghampiri Jino.
"Papi kangen banget, nak"
"Rendra juga kangen. Papi datang sama siapa"
"Sendiri aja. Bunda dan adik Naura mana"
"Di dalam rumah"
"Tuan Jino baru sampai. Ibu Melati tak ada ngomong kalau Tuan datang hari ini" ujar Bibi yang menemani Rendra bermain
"Aku emang sengaja buat kejutan buat Melati, bi. Aku mau masuk, bibi jagain Rendra baik baik ya"
"Baik, Tuan.... "
Jino masuk dengan berjalan perlahan. Ia melihat Melati yang sedang menggendong Naura.
Jino memeluknya dari belakang dan mengecup pipi Melati. Melati kaget dan memandang kebelakang.
"Mas, Jino"
"Mas kangen banget sama kamu dan anak anak" ucap Jino mengecup pipi Melati sekali lagi, lalu mengecup pipi Naura.
Melihat wajah papinya, Naura langsung menangis. Jino menggendong dan memeluknya.
Naura langsung diam begitu berada dalam pelukan papinya. Mungkin karena udah kangen juga.
"Anak gadis kangen banget sama papi, ya" ujar Jino mengecup seluruh bagian wajah Naura.
"Mas belum bersihin wajah dan cuci tangan"
"Mas lupa, kamu gendong dulu Naura. Mas mau mandi dulu"
Naura diserahkan kembali pada Melati. Begitu dalam gendongan Melati , Naura menangis.
"Papi mandi dulu sayang. Jangan nangis" ucap Melati berusaha membujuk Naura.
Jino mandi dengan tergesa. Ia melihat Naura yang masih terisak dalam tidurnya. Karena kecapean menangis, ia tertidur tadi.
"Nauranya udah tidur sayang" ucap Jino naik ke ranjang.
__ADS_1
"Udah, ia pasti kangen banget sama mas. Biasanya setiap malam mas yang selalu menidurkan"
"Kalau kamu nggak kangen sama mas"
"Tentu saja aku kangen, mas"
Jino memeluk Melati dan mengangkat badan istrinya itu hingga berada diatas tubuhnya.
"Mas, tiap malam susah tidur bayangin kamu. Ini pertama dan terakhir kali mas izinkan kamu pergi tanpa mas. Mas tak mau lagi, tak sanggup mas jauh darimu dan anak anak"
"Hanya sepuluh hari"
"Hanya, kamu bilang. Setiap malam mas harus menahan sakit kepala."
"Kenapa mas sakit kepala, mas nggak minum obat"
"Kalau sakit kepala atas bisa diatasi dengan minum obat, tapi kepala bawah mana bisa diatasi kalau tidak kamu obatnya"
Jino dengan perlahan membuka kancing baju Melati. Ia menurunkan dan meloloskan dari lengan Melati. Saat ini Melati hanya memakai pakaian dalamnya saja.
"Mas, akan minta kamu melayani mas hingga pagi."
"Mas mau aku tak bisa jalan paginya"
"Habis kamu membuat adik kecil mas puasa hingga sepuluh hari"
"Tapi mas masih bisa bermain ditubuhmu walau tak dimasukin"
"Mas itu pikirannya mesum aja"
"Seharusnya kamu bangga, tidak semua pria sekuat mas dalam urusan ranjang"
Jino mengecup kuat leher Melati hingga meninggalkan jejak kepemilikan.
Setelah melakukan pemanasan, Jino dan Melati akhirnya melakukan penyatuan.
.....................
Hari ini acara pernikahan abang Kai dan Kak Yuni dilangsungkan.
Akad nikahnya berlangsung di pagi hari dan malam harinya dilanjutkan dengan resepsi pernikahan.
Akad nikah dimulai dengan ucapan lamaran dari Kai buat Yuni sahabatnya dari kecil.
Kai maju kehadapan Yuni yang berdiri diantara kedua orang tuanya.
"Cahya Yuni...
__ADS_1
Sudah banyak tahun kita lewati menjadi sahabat. Berbagi suka dan duka bersama. Selama bertahun tahun itulah aku menyaksikanmu bersama beberapa laki-laki lain. Mereka datang dan pergi menyakitimu dan meninggalkanku.
Aku tau hari hari berat yang pernah kau lalui, dan aku selalu ada disampingmu, semua itu karena aku sahabatmu.
Hingga aku sadar, kamu tak butuh mereka, yang kamu butuhkan hanyalah aku sebagai sahabatmu.
Untuk itu, hari ini aku akan tetap memintamu menjadi sahabatku, sehidup semati, kini dan untuk selamanya.
Mengarungi derasnya waktu, jika selama ini aku mampu mendampinginya, apakah kamu masih ragu menjadikan kebersamaan kita ini menjadi selamanya. Aku sangat mencintaimu, itulah alasan utamanya aku ingin bersamamu.
BE MY WIFE, SAHABATKU"
"Kai Maheswara...
Selama ini aku hanya menganggap kamu tak lebih dari seorang sahabat, telah banyak pria yang hadir dihidupku. Tapi tak ada yang seperti kamu, yang selalu mengerti akan diriku.
Dulu, aku tak pernah menyadari perasaan ini hingga saat kamu mengatakan ingin menikahi salah satu wanita yang sedang dekat denganmu.
Hati ini merasakan sesuatu yang hilang, aku merasa takut kamu meninggalkan diriku.
Dalam sujud malamku, aku meminta petunjuk pada Tuhan, dan aku baru menyadari arti kehadiranmu.
Aku dengan segenap keberanian mengungkapkan perasaan ini, dan ternyata kamu meyambutnya. Kamu juga menyimpan rasa yang sama.
Dan atas nama Tuhanku, dan atas restu kedua orang tuaku, aku menerima lamaranmu untuk menjadi pendamping hidupmu. Bimbinglah aku untuk dapat menjadi seorang istri yang baik."
Kai lalu menyerahkan sebuket bunga dengan berlutut. Semua tamu memberikan tepuk tangannya.
Setelah prosesi lamaran, akad nikahpun segera berlangsung.
Dengan sekali tarikan nafas, Kai dapat mengucapkan ijab kabul dengan lancar.
Kai dan Yuni akhirnya resmi menjadi sepasang suami istri. Wajah Kai dan Yuni selalu dihiasi dengan senyuman. Aura kebahagiaan tampak dijajah keduanya.
Malam harinya dilanjutkan dengan resepsi pernikahan mereka. Banyak artis ternama yang hadir. Kai dan Yuni memakai baju yang berwarna merah . Semakin mempercerah wajah mereka.
Pesta berlangsung dengan sangat meriah dan berakhir setelah tengah malam.
Bersambung
**************
__ADS_1
Terima kasih