Melati (Istri Yang Tak Dianggap)

Melati (Istri Yang Tak Dianggap)
Bab Dua puluh Sembilan


__ADS_3

Sampai di rumah Melati , Jino kembali menarik pergelangan tangan Melati dan melemparnya ke tempat tidur.


"Apa kamu ingin mengambil Rendra. Kamu ingin anak itu tergantung denganmu...."


"Rendra masih kecil. Ia masih membutuhkan ASI. Saat umurnya sudah cukup, aku tidak akan menemuinya lagi. Aku hanya ingin Rendra tumbuh normal seperti bayi lainnya"


"Apa kamu pikir aku tak bisa memberinya gizi yang cukup" ucap Jino sambil mengcengkeram rahang Melati, membuat ia meringis.


"ASi gizi terbaik sampai anak usia enam bulan"


"Katakan Melati...apa rencanamu sebenarnya. Apa kamu ingin diakui sebagai nyonya Jino, atau kamu mengharapkan hartaku. Belum cukup uang yang aku beri"


"Aku tak ingin apa apa. Aku hanya ingin memeluk Rendra"


"Oh...jadi kamu hanya inginkan anakmu"


Melati menganggukan kepalanya. Melati mundur , melihat Jino yang menaiki tempat tidur. Hingga terbentur kepala tempat tidur.


Jino menarik seluruh pakaian Melati yang emang sudah sobek , hingga semua lepas dari tubuhnya.


"Jangan mas...kamu mau apa" ucap Melati ketakutan sambil menutupi tubuhnya dengan kedua tangan.


"Bukankah kamu ingin memeluk anakmu. Jadi kita buat anak lagi. Berdoalah anakmu ini kembar, jadi kamu bisa memilikinya satu"


Setelah itu Jino melepaskan pakaiannya. Melati tak membuang kesempatan. Ia langsung turun dari tempat tidur , ingin berlari keluar kamar.


Tapi gerakan Melati kalah cepat , Jino menangkap tubuhnya dan menghempaskan ke tempat tidur. Jino mengambil dasi dan mengikat kedua tangan Melati ke atas kepalanya.


Setelah itu kedua kaki Melati diikat dengan ikat pinggangnya.


"Kamu mau apa Jino..." teriak Melati


"Kenapa...bukankah kamu ingin anak dariku. Mari kita bercinta hingga malam. Agar kamu cepat hamil...." ucap Jino dan menaiki tubuh Melati.


"Jino...jangan...." teriak Melati dan mencoba meronta dengan menggerakan tubuhnya.


Jino lalu membungkam mulut Melati dengan ******* bibirnya. Melati lalu menggigit bibir Jino kuat hingga berdarah.


Jino melepaskan pagutannya, ia memegang bibirnya yang terluka.


"Dasar j*l*ng..." ucap Jino menampar Melati.


Melati tak bisa berkata lagi. Air matanya jatuh berderai membasahi pipi. Tenaganya sudah habis.


Jino menaiki tubuh Melati dan melakukan penyatuan dengan kasar. Setelah ia mencapai puncaknya , ia tak juga melepaskan ikatan di tubuh Melati.

__ADS_1


Jino beristirahat sebentar , setelah satu jam ia kembali melakukan penyatuan tubuhnya. Melati merasakan tubuhnya remuk semua. Akhirnya Melati tak sadarkan diri.


Setelah pelepasan yang kedua kalinya, Jino menjatuhkan tubuhnya kesamping Melati. Ia memandangi Melati.


Ia melihat tubuh Melati diam tak bergerak. Jino merasa cemas. Ia mengguncang tubuh Melati, tapi tetap tak bergerak. Jino melepaskan semua ikatan di tubuh Melati dan memberikan minyak kayu putih yang didapatinya dari meja rias.


Jino memakaikan baju Melati dan setelah itu ia duduk di samping Melati.


Nia menghubungi Jino, ia menanyakan keberadaannya.


"Jino ,kamu dimana...."


"Aku sedang perjalanan ke kantor"


"Aku kira kamu masih bersama Melati"


"Nggak , sayang. Kenapa...kamu cemburu ya"


"Jino, aku nggak cemburu. Aku takut kamu melakukan tindakan kekerasan aja. Nanti jika Melati melaporkan kamu bagaimana"


"Ia tak akan berani melaporkan aku..."


Ketika mereka sedang bertelepon, terdengar suara tangisan Rendra.


"Rendra kenapa sayang, kenapa suara tangisnya begitu keras"


"Sayang, aku akan pulang. Aku takut terjadi sesuatu dengan Rendra"


Jino mematikan sambungan ponselnya. Sebelum ia pulang. Ia memesan makanan buat Melati. Setelah makanan datang, Jino meletakan diatas nakas samping tempat tidur.


Jino mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sampai dirumah , Jino langsung masuk ke kamar. Ia melihat tubuh Rendra yang membiru karena menangis kejang dari tadi. Saat inipun masih terdengar suara isak tangisnya.


"Kita harus bawa ke rumah sakit. Kamu ikut dengan kami , gendong Rendra" ucap Jino dengan pengasuh Rendra.


Sampai di rumah sakit, Rendra langsung ditangani dokter. Dokter mengatakan kalau Rendra keracunan susu formula.


Rendra harus mendapati perawatan. Dan dokter menyarankan agar sementara Rendra tidak usah diberi susu formula, cukup ASI saja.


Jino merasa kaget dengan keterangan dokter. Ia mengatakan jika selama ini bayinya juga hanya minum susu formula.


Dokter menjadi heran mendengar penuturan Jino. Dan ia menyarankan paling tidak tiga hari kedepan jangan diberi susu formula biar lambungnya bersih dulu.


Susu formula dapat diberikan setelah tiga hari kedepan, tapi disarankan sebaiknya di ganti saja susu formulanya.


Jino termenung memandangi tubuh puteranya yang diinfus.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan. Apa aku harus menjemput Melati saat ini juga. Selama ini bukankah Rendra juga minum susu formula yang sama. Apa ia merasakan jika aku menyakiti ibunya. Apakah yang dikatakan Melati itu benar, jika ikatan darah antara mereka tak bisa aku hapuskan"


Jino berdiri dari duduknya. Ia melihat Nia yang sedang asyik dengan ponselnya.


"Sayang, kamu chat sama siapa..."


"Oh, aku nggak chat sama siapa siapa. Aku hanya mencari tau dari google mengenai keracunan susu formula"


"Kamu kuatir dengan Rendra"


"Tentu saja, Jino. Rendra juga puteraku"


"Kamu memang istri dan mami terbaik. Apa aku boleh menjemput Melati, karena Rendra hanya diizinkan minum ASI"


"Tentu saja sayang, aku udah katakan...kamu jangan terlalu kejam dengan Melati. Jika begini, ia juga kita butuhkan"


"Sayang, aku tuh tadi memang kelewat emosi. Aku nggak tau mengapa aku mudah marah jika dengan Melati. Kamu takut ya ..."


"Ya, aku takut kamu juga kasar begitu denganku"


"Aku tak akan kasar denganmu, karena kamu tidak pernah melakukan kesalahan ataupun melakukan sesuatu yang tak aku suka" ucap Jino sambil mengacak rambut Nia.


"Pergilah, nanti Rendra bangun...ia akan menangis jika kehausan"


"Kamu di sini dulu ya sayang. Aku jemput Melati dulu"


"Hati hati..."


"Kamu juga hati hati...." ucap Jino mengecup pipi Nia.


Jino mengendarai mobilnya menuju rumah Melati.


Melati yang baru sadarkan diri merasakan tubuhnya sakit semua. Serasa tulangnya remuk.


Ia melihat ada makanan disampingnya. Melati melemparkan makanan itu kelantai.


Melati mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan ke Jino.


"Buat apa kamu masih membelikan aku makanan, kamu takut aku cepat mati. Jika aku mati tak ada lagi yang bisa kamu siksa. Kamu kejam Jino. Apakah kamu tidak ada sedikit rasa kasihan, bukankah kamu dilahirkan juga dari seorang wanita dan juga istrimu Nia seorang wanita. Bagaimana jika kedua orang yang kamu sayangi itu mendapat penyiksaan seperti yang aku alami. Apa kamu bisa terima .Aku juga sebenarnya tak pernah menginginkan menjadi istri kontrak, semua aku lakukan karena terpaksa. Jika saja aku tak butuh uang buat membayar hutang ayahku, aku juga tak sudi menjadi istri kontrakmu. Apa aku salah karena terlahir sebagai wanita miskin. Jika aku boleh memilih pasti aku juga ingin terlahir dari keluarga berada sehingga aku tak akan pernah mengalami semua ini. Semoga kelak anak anakku tidak pernah merasakan hidup susah seperti ibunya, tak perlu menjual harga dirinya demi kelangsungan hidup."


Jino membuka ponselnya setelah mendengar pesan masuk. Ia membaca pesan dari Melati itu.


"Melati membutuhkan uang itu buat membayar hutang ayahnya...apakah itu benar. Nia tak pernah mengatakan itu. Ia hanya bilang Melati meminta bayaran sepuluh miliar buat meminjamkan rahimnya untuk mengandung anak anakku. Aku harus menyelidiki semuanya. Apa yang dikatakan Melati. Apakah Melati atau Nia yang berbohong...."


******************

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2