
Telah lebih dari satu bulan Melati ikut Raka ke agensinya. Saat ini Melati udah bisa berpose yang bagus untuk pemotretan.
Hari ini Raka berencana mengadakan pemotretan buat Melati. Ia ingin perusahaan yang bergerak dibidang iklan mulai melirik Melati.
Foto Melati udah beberapa dimasukan Raka buat pertimbangan jadi bintang iklan pada perusahaan yang ia kenal.
Raka mendampingi Melati untuk pertama kalinya ia melakukan pemotretan untuk salah satu majalah.
Setelah dua jam pemotretan Melati akhirnya istirahat. Raka membawa ke ruang kerjanya.
"Capek juga ya ,Raka. Aku kira selama ini jadi model itu enak, cuma bergaya , difoto... udah"
"Semua pekerjaan itu pasti ada capeknya, Melati. Memang orang yang tak terjun langsung pasti mengira jadi model enak. Padahal ia harus mencoba berbagai pose dan busana untuk mendapatkan hasil foto yang memuaskan."
"Raka, apa aku nggak akan memalukan nanti. Masih banyakan model lain yang jauh lebih cantik. Kenapa kamu memilih aku"
"Aku tau mana yang wajahnya bisa menjual Melati..apa kamu lupa jika aku udah bekerja dibidang ini lebih dari lima tahun"
"Raka...aku kangen Rendra. Bisa nggak kamu vidio call dengan tante dan Rendra."
"Aku hubungi tante dulu ya...."
"Terima kasih, Raka..." ucap Melati dan dibalas dengan senyuman oleh Raka.
Melati dan Raka duduk di sofa yang sama, ia mencoba menghubungi mama Jino. Tak lama terdengar suara sambungan.
"Selamat siang tante, apakabar"
"Selamat siang, Raka. Tante sehat, kamu sehat juga nak"
"Sehat tante. Rendra apa kabar tante. Kangen nih dengan ponakanku. Apa bisa tante vidio kan Rendra..."
"Oh tentu, Raka. Rendranya makin lucu dan gemesin. Kamu kenapa nggak langsung kesini aja sih kalau kangen"
"Aku lagi sibuk tante. Nanti kalau ada waktu luang aku pasti mampir"
"Bukan karena Jino ,kamu nggak pernah mau mampir lagi"
"Nggak kok, tante. Walaupun Jino pernah melakukan kesalahan padaku. Tapi tante tetap akan aku kunjungi, karena tante prngganti orang tuaku sejak mereka tiada"
"Kamu janji ya tidak akan berubah, walau kamu ada salah paham dengan Jino"
"Iya , tante*..."
__ADS_1
Raka lalu menggunakan kamera belakang agar wajahnya dan Melati tak tampak.
"*Raka, lihatlah...sekarang Rendra sudah bisa tengkurap. Ia tambah gantengkan..."
"Iya , tante. Tambah lucu...Rendra sayang apa kabar..."
"Kok wajahmu tak keliatan, kenapa kamera belakang yang kamu gunakan"
"Aku lagi makan tante..."
Mama Jino lalu vidiokan Rendra yang sedang mengoceh. Melati yang melihatnya jadi terisak. Jino yang telah kembali dari kantor, karena ingin makan siang di rumah melihat mamanya yang sedang melakukan vidio call. Ia masuk dan berdiri di belakang mamanya.
Karena mama Jino juga menggunakan kamera belakang buat vidiokan Rendra , membuat Raka dan Melati tidak menyadari kehadirannya.
"Lihat Raka, sekarang Rendra udah bisa ngomong" ucap mama antusias.
"Rendra ganteng...om kangen"
Jino curiga kenapa Raka sembunyikan wajahnya , ia lalu mendekati mamanya dan menggendong Rendra.
"Pasti di dekat Raka ada Melati, ia sengaja menggunakan kamera belakang agar Melati bisa melihat Rendra"
"Bunda, apa bunda tidak kangen Rendra. Bunda tak ingin bertemu Rendra. Jika bunda tak mau bertemu papi, bunda bisa datang ketika papi bekerja. Rendra kangen bunda, Rendra ingin memeluk bunda. Rendra udah kangen banget..." ucap Jino.
Melihat Jino yang menggendong Rendra, Raka mematikan sambungan ponselnya.
Mama Jino menjadi heran, kenapa Jino seolah bicara dengan ibunya Rendra.
"Itu yang vidio call, Raka. Bukan Melati" ucap mama
"Pasti disamping Raka ada Melati, itu sebabnya Raka tidak menampakan wajahnya,ma" ujar Jino.
"Kenapa kamu masih berpikir jika Raka yang sembunyikan Melati"
"Itu bukan pikiranku aja ma. Tapi memang Raka yang sembunyikan Melati. Aku sempat bertemu Melati di tempat Raka, sebelum ia akhirnya membawa Melati lagi..."
"Kenapa kamu tak menemui Raka langsung, jika memang kamu tau Raka yang sembunyikan Melati"
"Aku tak mau Melati menjadi takut denganku, ma. Melati masih trauma atas apa yang pernah aku lakukan padanya. Aku sengaja membiarkan ia menjauh, agar ia bisa sedikit melupakan semua yang pernah terjadi. Aku ingin saat nanti kami bertemu lagi, ia tidak menjauhiku dan tidak takut denganku lagi. Biar aku bisa bicara."
"Syukurlah jika kamu berpikir begitu. Memang seharusnya kamu memberi waktu bagi Melati untuk melupakan kejadian pahit yang pernah ia alami. Agar suatu saat ia tidak lagi ada dendam saat kalian bertemu kembali. Karena bagimanapun antara kamu dan Melati ada ikatan yang tak bisa kalian lepaskan. Ada Rendra yang menjadi pengikatnya"
__ADS_1
"Ma, apa Melati nanti bisa memaafkan semua salahku"
"Mama tak tau , Jino. Karena mama juga tidak tau sebesar apa kesalahan yang telah kamu lakukan padanya. Sesakit apa luka yang kau torehkan dihatinya"
"Ma, minggu depan diacara ulang tahun mama coba usahakan buat Raka datang. Siapa tau Melati ikut dengan Raka nantinya"
"Jika Melati ikut, kamu mau apa"
"Aku hanya ingin minta maaf secara langsung dengannya ,ma. Mama mengundang seluruh keluarga besar kitakan. Jadi tak ada alasan Raka tak datang jika semua keluarga berkumpul"
"Kenapa bukan kamu aja yang bertemu Raka secara langsung"
"Aku tak mau bertengkar lagi dengan Raka, ma"
"Baiklah, mama akan mencoba membujuk Raka membawa Melati. Tapi mama tak yakin Raka mau. Ia telah mengatakan pada mama jika ia tak tau dimana Melati"
"Terima kasih, ma. Siapa tau ia mau"
Sementara di kantor Raka. Melati masih menangis karena teringat Rendra.
"Raka...aku bunda yang jahat. Aku telah menelantarkan anakku"
"Melati, ini semua bukan keinginan kamukan"
"Aku ingin memeluknya dan menggendongnya, Raka"
"Apa kita datangi aja Rendra. Bukankah Jino tadi mengatakan kamu bisa datang saat ia bekerja"
"Aku takut nanti aku tak mau berpisah lagi dengannya"
"Melati, kita bisa minta izin tante untuk membawanya menginap bersamamu. Tante tidak bisa melarang karena kamu adalah bunda kandungnya Rendra"
"Baiklah, Raka. Aku mau bertemu Rendra. Aku sudah siap jika harus berhadapan dengan Jino langsung"
"Kamu yakin siap..."
"Ya, Raka...."
"Baiklah , akhir pekan kita datangi rumah mama Jino. Kamu bisa minta izin langsung pada Jino untuk membawa Rendra"
"Rendra, bunda kangen nak. Bukannya bunda selama ini melupakan kamu nak. Bunda hanya belum siap. Bunda takut nanti bunda tak bisa melepaskan kamu lagi buat papi. Tunggu bunda ya sayang, karena bunda harus siap menghadapi semuanya demi kamu"
******************
__ADS_1
Terima kasih