
Tak terasa pernikahan Jino dan Melati telah berjalan dua minggu.
Jino dan Rendra tampak asyik bermain game dari tabletnya Jino. Melati masuk dan langsung bergabung ke atas ranjang.
"Sayang, makan dulu ya. Jangan main aja" ucap Melati mengecup pipi Rendra.
"Nda, main ini... " ujar Rendra
"Apa sih yang anak ganteng bunda mainkan, kok asyik benar"
"Bunda udah masaknya" ucap Jino
"Udah mas.. makan lagi. Nanti lauknya keburu dingin"
"Ayuk... Rendra nanti kita ulang mainnya ya. Saatnya makan malam"
Jino menggendong Rendra berjalan menuju dapur diikuti Melati. Walau dirumah Jino sudah mempekerjakan orang untuk membantu Melati di dapur tapi urusan lauk tetap Melati dibantu mamanya yang memasak.
Jino tampak makan dengan lahapnya. Ia menyukai apa saja yang dimasak Melati.
Sudah seminggu sejak mereka berumah tangga kembali, Jino akan melahap apapun yang dimasak Melati.
"Sayang, besok ke kantor bersama Rendra dan mama. Minta supir antar. Kita ke rumah mamaku pulang aku kerja. Mama kangen Rendra."
"Mama biar di rumah aja. Melati dan Rendra aja yang ke kantormu" ucap mama Melati
"Nanti siapa yang temani mama di rumah"
"Ada bibi...nggak apa nak, Jino. Sampaikan saja salam mama buat mamamu"
"Aku terserah mama aja, jika mama mau dirumah..."
"Mas... aku kekantornya habis makan siang aja ya"
"Sebelum makan siang , Mel. Kita makan siang di kantor atau makan siang di luar nantinya"
"Rendra jangan sembarang makanan kamu beri, Mel"
"Iya ma... "
Semua kembali melahap makanan mereka. Setelah makan malam berkumpul menonton sebelum istirahat tidur.
..............
Sekitar pukul sepuluh Melati pamit dengan mamanya. Ia ke kantor Jino bersama Rendra diantar supir.
Sampai di kantor resepsionis mempersilakan Melati langsung menuju ruang kerja Jino. Melati berjalan sambil menggendong Rendra.
Melati mengetuk pintu ruang kerja Jino, terdengar suara Jino yang menyahut mempersilakan masuk.
Rendra dengan antusias masuk begitu Melati membuka pintunya.
"Ternyata gantengnya papi yang datang" ujar Jino langsung berdiri dari duduknya, dan menggendong Rendra.
Jino mengecup pipi Melati setelah ia menyalami dan mencium tangan Jino.
Jino membawa Rendra duduk di sofa diikuti Melati.
"Bunda cantik banget . Tampak sangat cerah dengan baju merah ini"
"Papi pasti ada maunya memuji bunda ya, nak" ucap Melati dengan Rendra
__ADS_1
"Rendra... bunda emang cantikan"
"Cantik... " ucap Rendra
"Tuh dengarkan, Rendra juga ngomong bunda cantik. Papi memuji bukan karena ada maunya aja"
"Pi... main"
"Mau game di tablet papi"
"Ya... "
"Setelah makan ya baru boleh main. Papi udah minta tolong untuk belikan makan siang tadi sama tante sekretaris"
Setelah makan siang Jino meminta Melati menidurkan Rendra di kamar yang ada dalam ruang kerjanya. Jino masih harus menyelesaikan sedikit lagi berkas yang ada diatas meja kerjanya.
Jino memasuki kamar, tampak Melati dan Rendra yang telah tertidur. Jino melepaskan jasnya. Ia naik ke ranjang dan memeluk tubuh Melati dari belakang.
Melati membuka matanya, dan membalikkan badannya menghadap Jino.
"Mas udah selesai kerjanya"
"Udah sayang" ujar Jino dan mengecup bibir Melati.
"Kita ke rumah mama sekarang"
"Sore aja. Mas udah katakan pada sekretaris jika mas tak mau diganggu lagi. Kita tiduran dulu ya"
Jino menyusupkan tangannya kedalam baju Melati dan mengelus punggungnya secara langsung.
"Mas pengin... boleh ya"
"Ada Rendra, mas"
Setelah itu ia juga melakukan hal yang sama pada tubuh Melati. Jino melepaskan helai demi helai kain yang melekat ditubuh Melati.
Jino bergerak pelan dalam penyatuan tubuh mereka. Takut membangunkan Rendra.
Setelah sama sama mencapai puncaknya, Jino berguling dari atas tubuh Melati kesamping. Ia mengecup dahi Melati.
"Terima kasih, sayang. Semoga benih yang mas tanam segera menjadi" ucap Jino mengelus perut Melati.
"Mas... aku mandi dulu"
"Pergilah... biar mas yang jagain Rendra"
Melati bangun dari tidurnya dan melangkah masuk ke kamar mandi.
"Aku hampir tak percaya dengan sikap mas Jino saat ini. Ia berbeda jauh dengan mas Jino yang aku kenal dulu. Mas Jino sekarang sangat lembut. Apa itu dulu juga ia lakukan pada mbak Nia. Tapi kenapa mbak Nia masih saja menduakan dirinya jika mas Jino selembut ini."
Setelah mandi, Melati mengenakan pakaiannya kembali. Ia membangunkan mas Jino yang terlelap bersama Rendra.
"Mas... bangun, udah sore" ucap Melati mengguncang lengan Jino.
Jino menarik tangan Melati hingga ia terjatuh diatas tubuhnya.
"Wangi banget bunda" ucap Jino mengecup bibir Melati lembut
"Mas... mandilah. Udah sore. Katanya mau ke rumah mama"
"Sebentar lagi, ya... biar seperti ini dulu" ucap Jino memeluk Melati yang berada di atas tubuhnya.
Melati merasakan sesuatu , dibagian bawah tubuh Jino yang sedikit menonjol.
__ADS_1
"Mas... " ujar Melati
"Kamu selalu saja membangunkan adik kecilku , Melati"
"Lepaskan... nanti mas jadi pengin lagi. Rendra pasti bangun sebentar lagi"
Baru saja Melati selesai mengucapkan itu, terdengar suara Rendra.
"Papi... bunda" ucap Rendra.
Melati lalu segera bangun dari atas tubuh Jino. Ia tersenyum dengan Rendra.
"Nda... napa" ucapnya lagi
"Nggak ada, sayang. Bunda tadi hanya bangunkan papi. Kita akan kerumahnya oma"
"Bunda bukan hanya membangunkan papi tapi juga adik kecil papi" gumam Jino
"Mas... ngomong apa sih. Jangan bicara begitu depan Rendra"
"Sayang... papi mandi dulu ya. Setelah itu baru kita ke rumah oma"
"Iya, pi"
Jino segera menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
Setelah mandi, mereka keluar dari kantor menuju rumah mama Jino.
Mereka akan makan malam di rumah mama Jino. Sampai di rumah mama sedang di dapur menyiapkan hidangan buat makan malam.
"Bagaimana kesehatan Rendra, Jino. Ada perkembangan " tanya mama saat mereka makan malam
"Lusa ia akan kemoterapi lagi, ma. Doakan saja Rendra kuat menjalankan semuanya"
"Bagaimana Melati.. apa udah ada kabar tentang calon adiknya Rendra" ucap mama membuat wajah Melati memerah karena malu mendengar pertanyaan mama
"Mama... lihatlah pertanyaan mama membuat Melati malu. Kami belum satu bulan menikah. Mama tenang aja. Aku akan lebih giat lagi membuat adik buat Rendra. Jika perlu pagi siang dan malam aku usahakan membuatnya "ucap Jino
Melati mencubit paha Jino mendengar ucapannya.
"Kamu udah kayak minum obat aja. Kamu kira dengan sering melakukan itu akan lebih efektif. Seharusnya kamu hanya melakukannya tiga kali dalam seminggu agar kualitas sperm* yang kamu hasilkan itu baik dan banyak. Jika terlalu sering, kan udah encer"
Melati makin memerah pipinya mendengar percakapan mama dan anak itu yang sangat terbuka.
"Mama meragukan aku. Lihat saja, bulan depan Melati udah mual dan muntah. Aku selalu minum jamu dan vitamin agar kualitas benihku bagus dan manjur"
"Mas.. udah ah, ngomong apa sih" ucap Melati
"Nda... pi omong apa" tanya Rendra
"Papi lagi bicarakan cara buat adiknya Rendra" ucap Jino yang membuat tangan Melati kembali mendarat dilengan Jino dan mencubitnya.
"Sakit sayang. Kamu nih dari tadi cubit cubit mas aja, masih pengin ya. Nggak puas tadi bergulatnya di kantor"
"Apa... jadi sebelum kesini kamu mengerjai Melati dulu di kantor, Rendra kalian letakkan dimana" ujar mama
"Mas... apa sih omongannya"
"Ma... udah jangan bicara itu lagi. Nanti Melati ngambek. Aku juga yang susah jadinya "
Mama tersenyum melihat Melati yang malu. Setelah makan, mereka menonton dulu sebelum pamit pulang pada pukul sembilan malam.
*******************
__ADS_1
Terima kasih