Melati (Istri Yang Tak Dianggap)

Melati (Istri Yang Tak Dianggap)
Bab Seratus Tujuh


__ADS_3

Sampai di rumah sakit, Melati langsung dibawa ke ruang persalinan. Dokter lalu memeriksa keadaan Melati.


Setelah dirasanya cukup. Dokter lalu menemui Jino.


"Bagaimana istri saya, Dokter"


"Ibu Melati sepertinya akan melahirkan. Saat ini udah pembukaan tiga.... "


"Apa itu pembukaan tiga, dok..."


"Pembukaan adalah proses membukanya leher rahim atau serviks per sentimeter (cm) sebagai jalur lahir bayi saat persalinan atau melahirkan.


Pembukaan umumnya dialami oleh ibu yang hendak melahirkan dengan jenis persalinan berupa melahirkan normal.


Proses pembukaan atau yang juga dikenal dengan nama dilatasi menjadi salah satu cara bagi dokter kandungan atau bidan untuk melacak waktu saat ibu melahirkan.


Proses pembukaan persalinan biasa dihitung dengan angka 1-10.


Namun, jangka waktu dari terbukanya serviks hingga tiba waktunya melahirkan dapat berbeda pada setiap ibu hamil."


"Berapa lama lagi istri saya hingga sampai pembukaan sepuluh dan siap untuk melahirkan"


"Antara pembukaan tiga kesepuluh lamanya hingga lima jam. Tapi biasanya pada persalinan anak kedua akan lebih cepat"


"Apa... jadi istri saya akan merasakan sakit hingga lima jam" ucap Jino kaget


"Itukan paling lama, pak Jino. Bisa lebih cepat karena ini persalinan kedua bagi Ibu Melati"


"Apa yang harus dilakukan agar cepat melahirkan "


"Banyak pak. Seperti berdiri dan berjalan pelan, mandi air hangat, stimulasi p*yud*r* dan berhubungan badan"


"Berhubungan badan.... "


"Iya, pak. Itu dapat mempercepat pembukaan jalan rahim"


"Kalau stimulasi p*yud*ra itu bagaimana dok"


"Bapak dapat menstimulasi dengan mer*ngs*ng put*ng susu"


"Baiklah dok, terima kasih"


"Satu jam lagi saya akan kembali untuk memeriksa. Saat ini saya harus membantu persalinan ibu yang lain. Jika ada yang bapak butuhkan dan perlukan bapak bisa minta bantuan perawat atau bidan"


"Saya mau istri saya melahirkan dikamar yang biasa keluarga kami tempati. "


"Iya, pak. Kamar itu sudah disiapkan. Perawat sedang membantu memindahkan istri pak Jino ke kamar paling atas. Itu istri bapak sedang di dorong" tunjuk dokter melihat Melati yang sedang di dorong dengan kursi roda.

__ADS_1


"Terima kasih, dok"


Jino mengambil alih kursi roda yang didorong perawat. Sampai di kamar, perawat meninggalkan Jino dan Melati.


Mereka menunggu di luar ruangan. Sebagai salah satu keluarga pemilik rumah sakit, Jino mendapatkan fasilitas dan pelayanan yang lebih dari pasien lainnya.


"Sayang, mana yang terasa sakit" tanya Jino melihat Melati terus meringis


"Semuanya, mas. Badan, pinggul... semuanya sakit"


"Apa yang harus mas lakukan untuk mengurangi sakitmu"


"Nggak ada. Mas temani aja aku... " ucap Melati sambil berjalan bolak balik dikamar


"Mama dan abang Kai sedang dalam perjalanan. Kamu sabar ya, sayang"


Melati tak menjawab ucapan Jino. Ia menunduk dan meletakkan kepalanya di atas tempat tidur sambil memegang pinggangnya. Jino mengusap pinggang hingga punggung Melati.


Tanpa terasa air matanya mengalir melihat Melati yang menahan rasa sakit.


"Ya Tuhan, apakah begini yang dirasakan wanita setiap akan melahirkan. Dan ini juga pasti dirasakan Melati saat melahirkan Rendra. Aku bersenang senang sementara saat itu Melati harus menahan semua rasa sakit seorang diri "


"Sayang, mandi dulu dengan air hangat ya. Dokter bilang itu bisa membuat kamu tenang dan akan dapat membantu cepatnya pembukaan "


"Iya, mas"


Jino memijat p*ayud*ar* dan menarik serta membersihkan p*uti*ngnya untuk menstimulasi.


Setelah beberapa menit, Jino membalut tubuh Melati dengan handuk dan memakaikan bajunya.


Jino menyuapi Melati makan. Walau ia tak mau, Jino dengan sabar tetap merayunya.


"Aku nggak lapar mas... "


"Biar kamu ada tenaganya, sayang"


"Mas... aku nggak mau" ucap Melati dengan terisak


Melati berjalan keliling ruangan, sesekali ia berhenti. Ia memegang kedua tangan Jino sebagai tumpuan saat ia berdiri.


"Bagaimana kalau kamu caesar aja, sayang"


"Aku nggak mau, mas. Aku mau lahiran normal. Mas, maafkan aku jika aku banyak salah" ucap Melati menunduk dengan tangan kiri memegang pinggang dan tangan kanannya menggenggam tangan Jino.


"Kamu nggak ada salah, sayang"


"Mas, doakan aku dapat melahirkan secara lancar... "

__ADS_1


"Mas selalu mendoakan yang terbaik buatmu, sayang.... "


Dokter masuk dan meminta Melati berbaring. ia memeriksa pembukaan.


"Ini udah pembukaan delapan. Kita siap siap lagi ya bu. Ibu coba tidur miring ke kiri agar mempercepat pembukaan hingga sepuluh. Saya dan perawat akan menyiapkan semuanya dulu"


Dokter dibantu perawat serta bidan lalu menyiapkan tempat tidur yang satu buat Melati melahirkan.


Mama Jino sedang dalam perjalanan bersama Rendra dan bibi. Jino yang menghubungi ibunya agar menemani Melati melahirkan.


Setelah semua siap, Melati digendong Jino untuk dipindahkan di tempat tidur yang telah dialasi perlak plastik.


"Nanti jika telah pembukaan sepuluh baru ibu mulai mengejan, saya akan hitung nanti bu. Dihitungan ketiga ibu baru mulai... "


Dokter kembali memeriksa setelah setengah jam untuk melihat pembukaan, dan ia mengatakan jika saat ini pembukaan jalan rahim telah lengkap.


Jino berdiri di samping Melati dengan wajah yang sangat pucat.


"Sekarang kita mulai ya bu, hitungan ketiga baru ibu mengejan... tarik nafas... jangan tegang... santai aja. Satu... dua... tiga... dorong bu... " ucap Dokter dengan Melati


Melati menarik nafas dan sedikit berteriak ketika mencoba mengejan. Ia menggenggam erat tangan Jino. Setelah mencoba mendorong dengan mengejan kuat bayi belum tampak keluar.


"Kita ulangi sekali lagi ya bu... kembali tarik nafas dan jangan tegang... satu dua... tiga... dorong bu" ucap dokter.


Kembali Melati menarik nafasnya dan mengejan. Jino hanya terdiam dengan wajah yang sangat pucat melihat perjuangan Melati melahirkan putrinya.


Akhirnya terdengar suara tangisan bayi. Jino memandangi tanpa kedip saat kepala bayi keluar dari rahim Melati.


Terdengar suara tangisan bayi. Jino langsung sujud syukur setelah mendengar tangisan anaknya.


Dokter lalu mengambil darah tali plasenta bayi Melati dengan cara pengambilannya adalah dengan menjepit dan memotong tali pusat, kemudian memasukkan jarum ke pembuluh darah vena umbilikal tali pusat yang masih menempel pada plasenta. Setelah itu, darah yang mengalir akan dikumpulkan.


Setelah pengambilan darah plasenta bayi itu lalu diserahkan keperawat untuk dibersihkan.


"Pak Jino... selamat ya. Setelah bayi bapak dibersihkan, bapak bisa mengadzani... "


"Baik, dok... " hanya itu yang dapat Jino ucapkan.


Ia mengusap kepala Melati dan mengecup dahinya.


"Terima kasih, sayang. Karena mau berjuang buat melahirkan putra putri kita"


"Iya, mas... " ucap Melati lemah.


Perawat lalu meminta izin Jino, ia akan membersihkan tubuh Melati.


***********************************

__ADS_1


Terima kasih...


__ADS_2