
Sudah lebih dari dua bulan umur Rendra saat ini. Perkembangan tubuhnya sangat pesat karena Melati setiap hari memberikan ASI buat Rendra.
Setiap ia ke rumah Jino, Melati akan memberikan stok ASI dari hasil pompa pada pengasuh Rendra untuk diberikan saat ia tak bisa datang.
Nia hanya mengizinkan Melati datang tiga kali dalam seminggu. Akhir pekan Melati tidak bisa menyusui Rendra karena Jino ada di rumah.
Sejak kelahiran Rendra , Jino belum pernah datang mengunjungi Melati.
Hari ini Melati nekat mendatangi rumah Nia walau tanpa Raka. Ia menggunakan taksi menuju rumah Jino.
Satpam dan pekerja lainnya sudah mengenal Melati. Semua tau Melati istrinya Raka. Karena Nia yang berbohong mengatakan itu pada pembantu rumah tangganya.
Nia mengancam mereka untuk tidak mengatakan tentang kehadiran Raka dan Melati.
Setelah dibukakan pintu, Melati masuk dan langsung menuju kamar Rendra.
Nia seperti biasanya hanya mengawasi pengasuh, ia tidak melakukan apapun buat Rendra.
"Selamat pagi, mbak Nia"
"Selamat pagi. Raka nya mana...."
"Raka tak bisa datang karena ada meeting di luar kota mbak"
"Oh, gitu ya. Aku pamit dulu. Silakan kamu bermain dengan Rendra"
"Terima kasih, mbak"
Nia hanya menjawab dengan senyuman. Ia lalu masuk ke kamarnya dan menghubungi Jino.
"Jika aku tak bisa membalas apa yang Raka lakukan, aku bisa melakukannya melalui Melati. Selama ini Raka selalu saja mengancamku. Lihat saja Raka, wanita yang kamu cintai yang akan dapat balasan dari sikap angkuhmu"
Nia menghubungi Jino, setelah beberapa saat Jino mengangkatnya.
"*Ada apa sayang. Baru saja aku sampai kantor kamu udah kangen"
"Jino, aku pengin banget mie ayam yang depan perusahaan. Apakah kamu bisa membelikan untukku."
"Nanti aku minta supir membelikan dan mengantarnya untukmu, sayang"
__ADS_1
"Aku maunya kamu yang mengantar. Aku nggak tau ...kenapa aku penginnya memeluk kamu saat ini. Kamu nggak terganggukan. Nanti siang kamu bisa ke kantor lagi"
"Baiklah, sayang. Apa yang nggak aku lakukan untukmu"
"Terima kasih, Jino. I love you"
"I love you more*"
Nia mematikan sambungan ponselnya. Ia membaringkan tubuhnya sambil chat dengan Alex.
Satu jam kemudian Nia mendengar langkah kaki menaiki tangga. Ia tau itu langkah kaki Jino.
Nia membuka pintu kamarnya dan melihat Jino yang menjinjing mie ayam.
"Sayang, ini mie ayamnya" ucap Jino sambil mengecup pipi Nia
"Kenapa nggak kamu letakan di meja makan aja. Kok dibawa ke sini" ujar Nia memeluk pinggang Jino
"Aku pikir kamu ingin makan di kamar dan dalam pelukanku"
"Gimana aku makannya kalau kamu memelukku" ucap Nia dengan manja.
"Jino, jangan mesum. Masih pagi. Rendra aja mungkin masih tidur"
"Aku ingin melihat putra kita. Makin hari ia makin menggemaskan seperti maminya"
"Dan makin ganteng seperti papinya" ucap Nia. Ia memeluk Jino membawanya melangkah menuju kamar Rendra.
Jino membuka pintu kamar, ia keget melihat Melati yang sedang bercanda dengan putrabya di atas tempat tidur.
Melati memandang ke arah pintu, ia kaget melihat Jino yang berjalan mendekatinya.
Jino menarik tangan Melati keras hingga ia terjatuh dari tempat tidur.
"Siapa yang mengizinkan kamu menyentuh puteraku" teriak Jino
"Aku ....aku kangen mas. Aku hanya ingin melihatnya saja"
"Aku sudah katakan, jangan dekati puteraku. Selama ini aku salah karena berbuat baik denganmu, aku tetap memberimu makan dan tempat tinggal karena Nia masih menginginkan kamu mengandung anakku. Bukan berarti kamu bisa mendekati anak yang telah menjadi milik kami. Sudah aku katakan, tugasmu hanya mengandung anakku, bukan mengasuhnya" ucap Jino berteriak dengan keras.
__ADS_1
Melati menunduk tak berani memandangi Jino. Nia mendekati suaminya.
"Jino, kamu kenapa marah begitu. Melati jadi takut. Bagaimanapun Melati ibunya Rendra. Aku yang mengizinkan ia menemui Rendra. Aku kasihan ,karena ia memohon dan menangis meminta izin padaku"
"Nia, sudah berapa kali aku katakan ...jangan terlalu baik dengan Melati. Kamu lihat sekarang, ia jadi melunjak. Kemarin aku udah ingin mencampakannya, tapi karena kamu masih menginginkan satu anak lagi dariku, makanya aku masih mempertahankannya"
"Jino, jangan terlalu kejam dengan Melati. Tanpanya kita tak dapat menggendong bayi"
"Itu memang tugasnya memberikan aku keturunan sesuai kontrak yang telah disepakati. Ia yang telah menjual dirinya untuk aku tiduri, kenapa aku harus bersikap baik dengan wanita seperti dirinya. Melati sama aja dengan wanita jal*nan yang menjual dirinya demi uang"
"Maaf mas, aku hanya ingin ikut menjaga Rendra. Aku tak bermaksud merebutnya dari mas Jino dan mbak Nia. Aku hanya ingin menyusuinya. Sebenci apapun mas padaku, sehina apapun aku di mata mas...aku tetap ibunya Rendra. Darahku juga mengalir ditubuhnya"
"Lancang sekali kau mengatakan jika darahmu mengalir ditubuhnya"
Jino menarik baju Melati hingga ia berdiri dan menamparnya keras hingga ia kembali tersungkur. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya.
Melati berdiri dan menghapus darah di sudut bibir dengan telapak tangannya. Ia memandangi Jino dengan mata merah.
"Kenapa mas tak terima dengan ucapanku. Aku yang mengandungnya. Sampai kapanpun mas tak akan bisa menghilangkan darahku yang mengalir ditubuhnya" ucap Melati sambil memandangi Jino dengan amarah.
Mendengar ucapan Melati, Jino makin emosi. Ia memegang kerah baju Melati dan menariknya keluar dari kamar.
Ia terus menarik Melati hingga menuruni tangga. Melati dengan sekuat tenaga mencoba melepaskan tarikan tangan Jino dibajunya sehingga baju itu robek.
"Jadi kamu sekarang berani melawanku, apa kamu lupa jika dirimu itu sudah aku beli"
Melati memandangi Jino dengan mata berkaca kaca dan merah karena menahan amarahnya.
"Apa karena aku telah kamu beli, kamu bisa berbuat sesukamu. Apa aku tak berhak membela diriku, sekalipun kau akan membunuhku. Aku juga manusia Tuan Jino yang terhormat ...aku juga bisa merasakan sakit, aku juga bisa terluka"
Jino semakin marah melihat Melati yang berani melawannya. Ia menarik tangan Melati hingga ke tempat parkir mobilnya. Ia membuka pintu mobil dan mendorong Melati masuk.
Jino mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan halaman rumahnya.
Nia melihat semua itu dengan tersenyum.
"Kamu lihat Raka, wanita yang kamu cintai telah menerima prmbalasan dariku. Itu belum seberapa. Aku tak mengizinkan Jino menceraikan Melati hanya untuk membalas sakit hatiku padamu, Raka. Sampai aku bisa membuktikan perselingkuhan kamu dan Melati, ia masih akan aku pertahankan. Saat aku sudah memiliki bukti jika kamu mencintai Melati, baru aku mengizinkan Jino mengusirnya seperti mengusir hewan peliharaan. Melati harus menerima pembalasanku atas sikapmu yang tak pernah sedikitpun melirikku. Kamu pikir aku akan menerima saja ancamanmu selama ini, Raka...."
********************
__ADS_1
Terima kasih