
Hari ini Melati dan anak anaknya berencana menyusul mama ke Kuala Lumpur.
Satu bulan lagi pernikahan abang Kai dan Kak Yuni akan dilaksanakan.
"Sayang, nanti aku pasti akan kesepian tanpa kamu dan anak anak kita"
"Hanya dua minggu, setelah itu mas bisa menyusul kami ke Kuala Lumpur"
"Iya, tapi dua minggu itu lama. Mas harus tidur sendiri. Pulang kerja nggak ada tawa Rendra terdengar. Nggak akan ada yang bisa mas peluk, biasanya Naura yang akan mas peluk menjelang tidur"
"Kalau gitu mas sekalian aja ikut"
"Mas maunya gitu. Tapi pekerjaan tak mungkin ditinggalkan begitu lama"
"Aku dan anakmu akan tiap malam menemani mas. Kami akan video call sampai mas mengantuk dan tertidur "
"Aku mencintai kalian, sebenarnya mas berat melepaskanmu. Tapi mas juga tak boleh egois, ini pernikahan abangmu"
Jino membantu supir mengangkut koper koper pakaian Melati dan anak anaknya. Melati juga membawa satu pengasuh untuk membantunya.
Ketika mereka akan masuk ke mobil, tampak mobil Raka dan Kimberley. Raka segera turun dan menghampiri mobilnya Jino.
"Kalian mau kemana" tanya Raka
"Aku mau mengantar Melati dan anak anak ke bandara. Melati mau ke Kuala Lumpur"
"Oh, aku rencananya mau mengajak ke Bali besok"
"Kalian mau bulan madu" tanya Jino
Melati keluar dari mobil setelah meminta bibi menggendong Nabila.
"Kalian mau bulan madukan, jadi kenapa ngajak kami. Nanti terganggu" ucap Melati
"Aku akan mengadakan pesta juga di sana buat tetangga dan relasi papiku" ucap Kimberley
"Aku lupa kalau orang tuamu tinggal di Bali saat ini" ucap Jino
"Maaf ya, Raka, Kimberley. Aku nggak bisa hadir. Aku mau membantu mama dan abang Kai untuk persiapan pernikahannya"
"Nggak apa. Aku juga nanti akan menyusul bersama Kimberley saat pesta pernikahan "
"Aku cuma bisa mendoakan semoga semuanya berjalan lancar "
"Terima kasih doanya, Mel" ujar Raka
"Melati, sekali lagi aku mengucapkan banyak terima kasih atas pertolonganmu pada Raka. Aku tak tau bagaimana caranya agar aku bisa membalasnya. Hanya doa yang bisa aku panjatkan, semoga kamu dan anak-anakmu selalu sehat dan dalam lindungan Tuhan. Dan aku juga minta maaf atas semua perkataanku yang mungkin menyakitimu" ucap Kimberley
"Nggak apa, Kimberley. Aku sudah lupakan itu"
Raka dan Jino saling pandang mendengar ucapan Melati dan Kimberley.
Mereka segera pamit, takut Melati nanti telat dan ketinggalan pesawat.
__ADS_1
Dalam perjalanan Jino memandangi Melati dengan tanpa kedip.
"Mas, kenapa. Mamdangi aku terus dari tadi. Jangan sedih gitu, akukan pergi hanya sebentar"
"Apa maksud ucapan kamu dan Kimberley. Kamu menyembunyikan sesuatu dari mas"
"Mas, aku tak pernah bermaksud menyimpan apapun itu. Cuma aku pikir itu tak penting untuk aku katakan pada mas"
"Tentang apa"
"Kimberley datang kerumah seminggu sebelum pernikahan mereka "
"Terus Kimberley ngomong apa aja"
"Mas, nggak perlu taulah. Aku udah lupakan"
"Oh, jadi mas nggak perlu tau"
"Bukan gitu mas. Baiklah, tapi mas janji nggak marah atau sakit hati."
"Hhhmmmmm..... "
"Kimberley curiga jika aku mendonorkan darah hanya untuk membuat Raka tak bisa lepas dariku. Ia juga berpikir jika aku melakukan itu karena aku yang masih mencintai Raka"
"Kimberley mengatakan itu" ucap Jino sedikit emosi
"Mas janji nggak marah. Makanya aku nggak mengatakan pada, mas"
"Seperti jawabku pada siapapun yang bertanya. Aku melakukan semua itu emang ikhlas dari hatiku, tak ada niat apapun."
"Udah ditolong masih aja salah " gumam Jino
"Mas, tak boleh ngomel. Jadinya nggak ikhlas"
"Kamu tuh terlalu baik, jadi orang selalu aja menekanmu"
"Mas, aku juga menjawab, jika aku tak memiliki perasaan apapun pada Raka. Aku hanya menganggapnya tak lebih dari sekadar sepupu kamu. Aku mencintai kamu melebihi dari segalanya. Aku tak ada niat buat menduakan suamiku tercinta. Karena aku telah bahagia hidup bersamanya"
"Kamu jawab begitu sayang "
"Iya, kenapa"
"Apakah itu emang dari hatimu. Nggak bohong"
"Buat apa aku bohong mas"
"Ternyata istri mas saat ini sudah pintar ngegombal"
"Kok gombal, aku ngomongkan sama Kimberley "
"Terima kasih ya, karena telah mewarnai hidup mas. Kamu dan anak anak membuat hidup mas menjadi sempurna " ucap Jino mengecup kepala Melati
Sampai dibandara, pesawat yang ditumpangi Melati sudah akan berangkat.
__ADS_1
"Rendra, pamit sama papi nak" ucap melati
"Papi, Rendra berangkat. Papi jangan menangis, ya" ujar Rendra. Mendengar ucapan anaknya, Jino tambah terharu. Ia menahan air matanya agar tak tumpah.
"Iya, sayang. Papi sedih karena harus pisah denganmu, Naura dan serta bunda selama dua minggu ini"
"Nanti Rendra video call"
"Janji ya sayang"
"Iya, pi"
"Hati - hati. Jangan nakal dan jangan buat bunda susah"
"Iya, pi. Rendra anak baik"
"Tentu aja sayang, kamu anak yang baik"
"Papi, Naura berangkat ya" ucap Melati
"Iya, sayang. Papi pasti akan kesepian karena tak ada lagi suara ocehan putri kecil papi ini nanti"
Jino menggendong Naura dan memberikan kecupan diseluruh bagian wajahnya.
Setelah itu Jino mengecup Rendra. Jino menyerahkan kembali Naura ke gendongan Melati.
"Kalau Naura nggak mau tidur, hubungi mas. Biar mas kelon dari jauh. "
"Iya mas. Mas jangan kerja hingga larut dan jangan telat makan"
"Kamu jangan banyak kerja juga, nanti kecapean. Ingat ginjalmu, sayang"
"Baik, mas" ujar Melati. Ia memeluk Jino erat.
Sejak menikah kembali dengan Jino , baru kali ini Melati pisah. Sejak kelahiran Naura, Jino yang lebih sering terbangun dan begadang jika malam hari.
Jino sudah jauh berubah. Tak ada lagi Jino yang temperamen. Ia selalu saja memanjakan anak dan istrinya.
Tanpa Melati bisa menahannya, air matanya jatuh membasahi pipi.
"Kenapa menangis "
"Aku pasti canggung tanpa mas disampingku. Biasanya mas yang selalu terbangun duluan jika Naura menagis"
"Mas udah minta bibi buat menemani kamu menjelang mas datang. "
"Iya, mas."
Jino mengecup pipi istrinya sebelum masuk. Ia melihat keberangkatan mereka hingga hilang dari pandangan.
*******************
Terima kasih
__ADS_1