Melati (Istri Yang Tak Dianggap)

Melati (Istri Yang Tak Dianggap)
Bab Empat Puluh


__ADS_3

Raka tak tau jika mobilnya diikuti seseorang dari belakang. Ia mampir ke toko boneka dan membeli boneka yang sangat besar buat Melati.


Setelah itu Raka meminta supirnya buat mengendarai mobilnya kembali.


Raka sampai di rumahnya ketika malam menjelang. Raka membuka pintu dengan kunci yang ada ditangannya.


Ia melihat Melati yang masih menonton televisi di ruang keluarga.


"Selamat malam, Mela..." ucap Raka bersembunyi dibalik boneka yang dibelinya


"Raka...boneka buat siapa yang kamu bawa ini"


"Buat bunda Melati agar tak kesepian lagi" ucap Raka sambil tersenyum



"Raka ...bonekanya besar banget" ucap Melati sambil memeluk boneka yang diberikan Raka


"Kamu suka..."


"Banget..." ucap Melati tersenyum



"Melati...aku ikut bahagia melihat senyummu. Apapun akan aku lakukan untuk membuatku bahagia, aku tak ingin ada lagi air mata di pipimu"


"Raka, kamu pasti capek. Mau aku buatkan minum"


"Nggak perlu, aku tadi udah minum. Kamu udah makan"


"Udah...."


"Kalau belum, kita makan diluar"


"Nggak perlu, Raka. Kamu baru aja sampai. Pasti capek banget..."


"Melati , lusa aku akan kembali lagi ke Jakarta. Bagaimana jika kamu ikut denganku"


"Nggak usah Raka, aku masih betah di sini. Jika aku ke Jakarta. Aku takut akan teringat kejadian itu lagi"


"Baiklah, tapi kamu nggak boleh sedih. Ingat ya, jangan kemana mana ketika aku nggak di rumah"


"Baiklah Raka..."


"Aku mandi dulu. Gerah ..."ujar Raka


"Aku juga mau tidur, ini boneka aku bawa ke kamar ya"


"Tentu saja, Mela. Itukan buat temani kamu tidur"


"Terima kasih , Raka"


"Sama sama, Mel"


Melati menggendong boneka itu dengan gembira. Sebelum masuk kekamar ia membalikan badannya.

__ADS_1


"Raka, terima kasih karena telah mau menemui Rendra. Aku senang bisa melihatnya lagi"


"Aku akan VC sama tante jika kamu kangen Rendra"


"Nanti wajahku keliatan sama tante..."


"Kita gunakan kamera belakang. Agar wajah kita nggak keliatan"


"Boleh juga. Aku masuk dulu, katanya kamu mau mandi"


"Ya, aku juga mau masuk"


Melati dan Raka masuk ke kamar mereka masing masing.


................


Pagi harinya...Setelah Raka pamit dan berangkat dengan supirnya. Melati mengunci rumah itu. Bibi yang biasa menemani Melati sedang ke pasar bersama suaminya yang juga bekerja dengan Raka di rumah ini.


Melati membawa teh dan roti untuk sarapannya ke meja dekat televisi. Ia menyalakannya.


Melati kaget mendengar suara ketukan pintu rumah.


"Kenapa Raka kembali, apa ada yang ketinggalan"


Melati berjalan membuka pintu rumah. Dan kaget melihat siapa yang berdiri. Melati mundur melihatnya.


"Melati...." ucap Jino terharu melihatnya. Air matanya hampir jatuh.


"Jangan...jangan sakiti aku lagi. Aku mohon" ucap Melati berteriak dan masuk ke dalam kamar dan menguncinya.


"Melati, aku mohon maaf.Aku tak akan menyakitimu. Maafkan aku, Mel" teriak Jino


"Pergilah...aku tak mau lihat kamu. Kamu pembunuh..." teriak Melati


"Melati, buka pintunya. Aku mau bicara. Aku tau aku salah. Aku mohon maaf padamu. Jangan katakan aku pembunuh, Mel. Aku sakit mendengarnya..."


Melati hanya menangis, ia tak mau membuka pintu buat Jino. Melati takut ia akan disakiti Jino lagi. Melati akhirnya menghubungi Raka.


Ketika ponselnya tersambung , Melati langsung menangis.


"Raka...tolong aku"


"Kamu kenapa, Melati"


"Ada mas Jino, aku takut..."


"Jinoo...."


"Iya , Raka...."


"Sekarang kamu dimana"


"Aku dalam kamar"


"Tetap berada dalam kamar, kamu jangan bukakan pintu. Aku segera kembali"

__ADS_1


Raka memutuskan sambungan ponselnya dan meminta supirnya kembali.


Sementara itu Jino masih mencoba membujuk Melati untuk membukakan pintu.


"Melati, aku tau kamu pasti membenciku. Aku memang bodoh, karena selalu saja dibohongi oleh Nia. Aku ingin menebus semua kesalahan yang pernah kulakukan padamu, Melati. Tolong beri aku kesempatan sekali lagi..."


Jino menghela nafasnya sejenak, ia mendengar suara tangisan Melati.


"Aku tau Melati. Tak mudah bagimu buat percaya padaku lagi. Tapi aku bersumpah, aku tak akan pernah menyakitimu lagi. Rendra masih membutuhkanmu. Kita akan memulai dari awal lagi"


Mendengar nama Rendra , Melati jadi diam. Ia mendekati pintu. Dan bicara dari balik pintu.


"Maaf mas. Sulit bagiku untuk percaya padamu lagi. Aku sudah banyak memberikan kamu kesempatan. Tapi kamu selalu saja melakukan kesalahan yang sama. Dari awal pernikahan, apa kamu pernah menghargai aku sebagai seorang istri. Kamu hanya memandangku sebagai wanita yang meminjamkan rahimnya buat istrimu. Apa kamu lupa kamu yang selalu meminta aku buat sadar diri. Karena kamu tak akan pernah mencintai wanita seperti aku. Dan inilah saatnya aku pergi..."


"Melati...maafkan aku. Aku mengatakan semua itu karena aku tak mau menyakiti Nia. Aku takut jatuh cinta lagi. Makanya aku selalu mencoba mengingkari perasaanku"


"Dan apa mas sudah yakin jika mas saat ini menginginkan aku. Bukan hanya sebagai pelarian. Dan disaat kamu mendapatkan wanita lain lagi, kamu akan meninggalkan aku lagi...."


"Melati...aku tak akan melakukan itu"


"Maaf, mas. Aku tak bisa percaya kamu lagi. Sebaiknya kita berpisah. Karena aku yakin kita tak bisa bersama. Kamu dan aku berbeda. Aku tak bisa memaafkan kamu, kamu telah membuat anakku meninggal. Kamu bukan hanya membunuhnya, tapi juga tak menerimanya, kamu meragukan anakku ..." ucap Melati terisak


"Melati,aku tau aku bersalah karena telah membunuh darah dagingku sendiri. Aku juga sangat sedih, Melati.Tapi kita masih memiliki seorang anak lagi, Rendra. Apa kamu tak ingin bersama Rendra"


"Jangan jadikan Rendra sebagai alasan, mas. Aku sebagai ibunya tentu sangat menginginkan bersama Rendra. Tapi maaf, aku tak bisa bersama kamu lagi. Bukankah kamu sudah menjatuhkan talak padaku. Kamu udah menceraikan aku, mas"


"Melati...buka pintunya. Kita bicarakan semua lagi. Aku akan menikahimu secara resmi"


"Tak ada yang perlu kita bicarakan ,mas. Aku hanya ingin kamu tanda tangani surat gugatan ceraiku. Aku akan memulai hidup baruku lagi. Jika mas memang menghargaiku sebagai ibunya Rendra, berikan aku kebebasan..."


"Melati, aku tak mau berpisah. Aku akan memberikan waktu padamu untuk berpikir ulang. Aku pasti akan menemui kamu lagi. Akan aku buktikan padamu, aku akan berubah"


Jino meninggalkan kamar Melati dan keluar cepat dari rumah itu. Ia menerima pesan dari orang suruhannya yang mengatakan jika Raka kembali ke rumah.


Jino memang meminta salah seorang suruhannya untuk mengikuti kemanapun Raka pergi.


Raka sampai dirumah ketika Jino sudah meninggalkan rumah itu. Ia melihat sekeliling mencari keberadaan Jino. Setelah ia yakin tak ada Jino, ia mengetuk pintu Melati.


"Melati...tolong buka. Ini aku , Raka"


Melati membuka pintu dan melihat Raka yang berdiri, ia langsung memeluknya tanpa sadar.


"Raka, aku takut..."


"Apa yang telah Jino lakukan"


"Ia tidak melakukan apa apa. Raka, aku belum mau bertemu Jino. Aku ikut kamu aja"


"Memang sebaiknya kamu ikut aku. Sepertinya Jino mengikutiku. Aku akan bawa kamu dan cari cara agar kamu bisa pergi tanpa orang suruhan Jino tau. Sekarang kamu ganti pakaianmu. Aku tunggu"


Melati menutup kembali pintu kamarnya dan mengganti pakaiannya. Ia akan ikut Raka pergi dan Raka akan mencari tempat tinggal yang baru buat Melati.


"Melati, aku akan segera jadikan kamu model. Akan aku buktikan pada mereka jika kamu bisa sukses tanpa mereka. Jika nanti kamu akan kembali dengan Jino , aku tak akan melarangnya"


*********************

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2