
Raka dan Melati menuju ke apartemen yang ditempati oleh Raka. Melati akan memasak makan malam buat mereka.
Sebelum ke apartemen, Raka mengajak Melati ke supermarket untuk membeli bahan makanannya. Ia juga membeli stok buat isi kulkas Raka.
Sampai di apartemen, Melati langsung menuju dapur. Melati memang sudah beberapa kali ke apartemen Raka sehingga ia telah hafal dengan ruangannya.
Raka menghampiri wanita yang sangat dicintainya itu. Ia memeluk tubuh Melati.
"Aku mau mandi dulu, kamu langsung masak aja , ya..."
"Iya, nanti kalau kelamaan bisa telat makan malamnya. Aku nggak mau asam lambungmu jadi kambuh"
"Baiklah, aku tinggal ya. Terima kasih karena selalu memperhatikan aku, sayang" ucap Raka mengecup pipi Melati membuat wanita itu malu dengan wajah yang tampak memerah. Raka selalu saja membuat Melati tersanjung dengan sikap lembutnya.
"Raka, kamu selalu saja bisa membuat aku jadi salah tingkah"
Melati memulai memasak buat hidangan makan malam untuk mereka. Ia akan membuat menu sup iga, cumi goreng tepung, tempe mendoan dan sambal terasi.
Ia memasak dengan cekatan karena telah terbiasa. Ketika sedang asyik memasak Melati merasakan pinggangnya yang dipeluk dari belakang.
"Wangi banget aromanya. Pasti lezat"
"Kamu udah mandikan, duduk aja disana. Nanti tubuhmu bau masakan lagi"
"Aku bisa mandi lagi..."
Raka tetap memeluk Melati dan sesekali mengecup pipi Melati.
"Raka, kalau diganggu aku nggak bisa masak nih. Bisa gosong masakannya" ucap Melati dan membalikan tubuhnya menghadap Raka
Raka tersenyum melihat wajah Melati yang cemberut. Ia lalu mengecup bibir Melati.
"Raka...jangan mesum ya. Aku lagi masak"
"Kalau nanti boleh mesum dong"
"Nggak juga...."
"Jadi kapan bolehnya...."
"Kalau udah nikah...."
"Kalau gitu besok kita nikah aja ya..."
"Raka, kamu kira menikah bisa langsung secepat itu"
"Tentu saja bisa, nikah siri"
"Aku tak mau nikah siri lagi. Aku mau nikah resmi"
__ADS_1
"Okelah, aku akan secepatnya mengurus berkas pernikahan kita"
"Sana duduk dulu, aku mau masak. Udah laparkan. Jangan ajak ngobrol"
"Hhhmmm, galak benar...." ucap Raka membiat Melati tertawa.
Raka duduk di mini bar yang terhubung dengan dapurnya. Ia melihat tanpa kedip ke arah Melati yang sibuk dengan peralatan dapurnya.
"Aku akan menikahi kamu secepatnya , Melati. Agar kita bersama begini setiap saat. Aku ingin saat aku terbangun, wajahmu yang pertama kali aku lihat"
Setelah selesai dengan masakannya , Melati dan Raka duduk berdampingan menyantap menu makan malam yang dibuat Melati.
Melati mengambilkan nasi dan lauk buat Raka. Lalu ia mrngambil buat dirinya. Raka menyantap makanan dengan lahap.
Selesai makan , Melati membersihkan meja dari piring bekas mereka makan. Saat akan mencucinya Raka menahan tangan Melati.
"Biar aku yang mencucinya. Kamu udah capek memasak tadi"
"Nggak apa , Raka. Cuma piring sedikit ini aja"
"Lebih baik kamu mandi, aku yang bersihkan dapur dan piring ini. Tidak ada penolakan"
"Tapi..."
"Mandilah...pakaianmu masih ada di kamar"
Raka mendorong tubuh Melati menjauh dari dapur. Melati masuk ke kamar tamu dan mandi. Pakaian Melati memang ada beberapa pasang di rumah Raka. Karena awal tinggal di Jakarta Melati menginap di apartemen Raka.
Melati duduk di samping Raka dan ikutan menonton.
"Raka, aku mau pulang. Sudah malam"
"Nginap aja di sini...."
"Nggak enak jika nanti ada yang melihat, pasti jadi bahan gosip"
"Apartemen ini keamanannya terjaga. Privasi kita juga terjamin. Hingga saat ini tidak ada model ataupun artis dari agensiku yang tau aku tinggal di sini kecuali Chandra"
"Aku masih takut jika digosipkan..."
Raka menarik pinggang Melati hingga tubuh mereka merapat.
"Aku sudah bilang, kamu harus kuat dan siap mental jika memasuki dunia ini. Jangan cengeng dan merasa terpuruk hanya karena gosip murahan"
"Tapi aku tetap nggak enak jika harus menginap"
"Sekali ini aja...nggak akan ada yang tau. Aku pastikan itu. Selama ini tak pernah ada berita jika kamu sering ke apartemenku , bukan"
Raka mengangkat kaki Melati dan meletakan diatas pahanya. Melati menjadi kaget.
__ADS_1
"Raka, kamu mau apa"
"Kamu pasti capek. Biar aku pijitin kakinya"
"Nggak usah, Raka" ucap Melati ingin menurunkan kembali kakinya, tapi ditahan Raka.
Raka memijat kaki Melati pelan. Melati hanya bisa pasrah dan memandangi wajah Raka secara intens.
"Raka...aku takut jika kamu terlalu perhatian begini. Aku takut jika nanti kita tak bisa bersama, aku akan menjadi jauh lebih terluka dari sebelumnya"
"Kenapa menangis, sakit ya" ucap Raka melihat air mata Melati
"Raka, jangan memberi perhatian yang berlebihan padaku. Aku takut...."
"Apa yang kamu takutkan, Mela"
"Aku takut jika semua ini mimpi dan jika aku terbangun nanti aku akan merasakan sakit. Aku takut jika suatu saat kamu berubah dan meninggalkan aku. Aku pasti akan jauh lebih terluka dari sebelumnya"
Raka menarik tengkuk Melati dan mengecup bibir Melati.
"Kamu dapat merasakan kecupanku bukan. Berarti ini bukan mimpi, sayang"
Raka kembali mendekatkan wajah Melati, ia kembali mengecup bibir Melati. Melati menutup matanya merasakan kecupan lembut dari Raka.
Melihat Melati yang hanya diam, Raka akhirnya melakukan hal lebih. Ia ******* bibir Melati dengan perlahan. Melati yang belum terbiasa berciuman hanya diam tak membalas.
Raka lalu menggigit bibir Melati agar membuka mulutnya. Setelah terbuka, Raka memasukan lidahnya dan mulai bermain di dalam rongga mulut Melati.
Melati mendorong dada Raka setelah kesadaran kembali. Ia memandangi wajah Raka.
"Maaf, Melati. Aku terbawa suasana...."
"Nggak apa...tapi jangan lakukan itu lagi, aku takut nanti kita melakukan suatu kekhilafan"
Raka membawa kepala Melati ke dalam dekapan dadanya.
"Aku mencintaimu, Mela. Jadilah pendamping hidupku. Aku ingin menua bersamamu"
Raka mengecup pucuk kepala Melati begitu lama. Membawa Melati ke dalam pelukannya.
"Raka...aku tak tau harus menjawab apa. Aku juga belum mengerti dengan perasaan yang aku rasakan saat ini. Aku memang sangat menyayangimu. Aku nyaman berada disampingmu. Bersamamu aku merasa tenang dan selalu bahagia. Tapi aku tak tau, apakah ini yang dinamakan cinta"
Raka mengusap punggung Melati dan meletakkan kepala Melati dibahunya. Tak lama terdengar deru nafas yang teratur dari Melati.
Raka melihat Melati yang telah tertidur. Ia lalu menggendong Melati membawa ke dalam kamar.
Raka membaringkan tubuh Melati dan menyelimutinya. Ia mengecup dahi Melati sebelum meninggalkan kamar tamu yang ditempati Melati.
"Selamat tidur sayang. Semoga kamu mimpi indah. Dan aku harap hubungan kita ini akan berjalan lancar. Tidak ada penghalangnya. Aku ingin menikahimu segera. Aku ingin berdua bersamamu mengarungi hidup ini kelak"
__ADS_1
*********************
Terima kasih