Melati (Istri Yang Tak Dianggap)

Melati (Istri Yang Tak Dianggap)
Bab Sembilan puluh Satu


__ADS_3

Melati dan Jino masuk ke kamar setelah tamu undangan pulang. Jam sudah menunjukan pukul dua belas malam.


Mamanya dan abang Kai membawa Rendra ke apartemen. Ia ingin memberi waktu buat Jino dan Melati berdua tanpa gangguan dari Rendra.


Awalnya Melati keberatan, tapi abang Kai bersikeras ingin menginap di apartemen. Akhirnya Melati setuju.


Jino langsung membersihkan dirinya di kamar mandi. Ketika keluar ia melihat Melati yang kesulitan membuka resleting belakang gaunnya.


Jino berdiri dibelakang Melati dan membantu membukanya. Melati tak memegang gaunnya hingga jatuh kelantai ketika resleting telah dibuka Jino.


Tampak tubuh Melati yang hanya dibalut pakaian dalamnya. Melati yang menyadari itu menarik selimut untuk menutup tubuhnya.


Jino tersenyum melihat tingkah Melati yang tampak malu. Ia ingin menggodanya kembali seperti siang tadi.


"Kamu lebih cantik jika tanpa busana" bisik Jino dan memeluk pinggang Melati


"Jangan mesum mas..."


"Apa ada larangan mesum dengan istri sendiri"


"Mas...jangan main main. Sudah malam. Istirahatlah dulu, aku mau bersihin wajah dan tubuhku"


"Melati...kenapa malu. Tanggalkan aja selimutnya. Nanti basah kalau dibawa ke kamar mandi"


"Aku mau ambil handuk aja" ucap Melati berjalan mengambil handuk. Dan melempar selimut ke ranjang.


Setelah beberapa menit didalam kamar mandi Melati keluar dengan memakai kimono handuk.


Melati membuka lemari ,ingin mengambil baju tidur. Tapi ia merasa tubuhnya melayang.


Jino menggendongnya dan memhempaskan ke atas ranjang.


"Nggak perlu baju tidur. Gini aja..." ucap Jino dan memeluk Melati erat sebelum ia kembali bangun.


"Mas...aku belum berpakaian" ujar Melati berusaha melepaskan pelukan Jino. Tapi Jino tak sedikitpun mau melonggarkan dekapannya.


Akhirnya Melati pasrah. Jino yang melihat Melati hanya diam membenamkan kepalanya didada Melati dan menghirup wangi tubuh istrinya. Jino lalu mengecup dada Melati.


"Mas...geli" gumam Melati


Jino tak menghiraukan ucapan Melati, ia kembali mengecup. Bahkan sesekali menghisap dan menggigitnya sehingga kini telah kembali dada Melati dipenuhi bercak merah.


Jino membuka ikatan kimono handuk Melati. Tampak jelas bagian atas tubuh Melati yang tanpa penutup. Jino meloloskan handuk Melati dari tubuhnya. Dan ia juga membuka pakaiannya.


Saat ini Jino sudah berada diatas tubuh Melsti dan mulai bermain di tubuh istrinya. Mulai dari wajah, leher dan turun kedada semua penuh bekas kecupannya.


"Mas...." ucap Melati serak. Dulu Jino tak pernah melakukan pemanasan begini jika mereka akan berhubungan. Jino pasti akan langsung ke intinya.


Mendapat perlakuan lembut dari Jino membuat Melati tak bisa menahan suara desahannya.


Jino yang mendengar ******* Melati semakin bergairah dan bersemangat. Ia melakukan mandi kucing pada seluruh bagian tubuh istrinya.


"Boleh aku meminta hakku sebagai suami..." ucap Jino dengan suara serak menahan gairahnya.


Melihat Melati hanya diam, Jino bangun dari atas tubuh Melati. Ia duduk di samping Melati.


Melati tersenyum dan mengangguk, melihat itu Jino kembali mengukung Melati dibawah tubuhnya.

__ADS_1


"Aku akan melakukannya pelan, kamu tak perlu takut" bisik Jino dan mengecup telinga Melati.


Jino kembali melakukan pemanasan ditubuh Melati sebelum akhirnya ia menyentuh inti tubuh Melati.


Setelah melakukan penyatuan dan sama sama mencapai klimaksnya, Jino turun dari tubuh Melati dan berbaring disampingnya.


Jino memeluk pinggang Melati dan membawa ke dalam dekapannya.


Melati dan Jino terlelap dengan saling berpelukan.


.......................


Pagi hari Melati bangun dan langsung mandi. Ia memakai baju tidur kimono satin yang kemarin tak sempat ia kenakan.



Melati duduk dekat jendela memandang keluar sambil melamun. Dirumah hanya ada ia dan Jino. Pembantu rumah tangga yang akan membantu Melati akan datang nanti sore.


"Tak pernah aku membayangkan akan kembali menikah dengan mas Jino. Takdir akhirnya membuat kami kembali menjadi suami istri"


Jino terbangun dan melihat Melati yang melamun dekat jendela. Dengan masih bertelanjang dada, ia mendekati Melati dan memeluknya.



"Bunda sayang, lagi mikiran apa" ucap Jino mengecup tengkuk Melati


"Hanya mikirin Rendra, mas. Apa lagi yang ada dipikiranku selain kesehatan Rendra"


"Kita akan memberikan adik secepatnya buat Rendra. Dan aku yakin ia akan sembuh"


"Pasti... jangan pernah ragukan benihku. Aku akan segera membuat bunda hamil lagi"


Jino mengecup pipi Melati. Ia membalikkan badannya. Tampak Jino yang hanya memakai pakaian dalam saja.


"Mas nggak malu seperti ini"


"Kenapa malu. Kamu juga sudah sering melihat semua hingga isinya"


"Mas... ngomongnya kok mesum gitu sih"


Jino tertawa melihat wajah masam istrinya. Ia mengecup bibir Melati. Karena Melati yang hanya diam, Jino lalu melakukan hal lebih. Ia ******* dengan lembut bibir Melati.


"Morning kiss.... "ucap Jino tersenyum


"Mas mau aku buatkan sarapan apa. Habis sarapan kita ke apartemen jemput Rendra dan mama. Abang harus berangkat siang ini juga. Aku mau kita mengantarnya"


"Sarapan aja yang kamu buatkan pasti aku makan dengan lahap"


"Kalau gitu mas mandilah...aku akan buatkan sarapan dulu"


"Iya, bunda sayang"


Melati tersenyum sebelum berdiri dan meninggalkan Jino menuju dapur.


Ia membuatkan omlet telur dan segelas kopi untuk sarapan Jino. Melati membawanya masuk.


Ia melihat Jino yang sedang memilih pakaiannya di lemari.

__ADS_1


"Sarapan dulu mas, nanti aja ganti bajunya"


"Kenapa... kamu ingin sarapanku"


"Aku udah sarapan..."


"Sarapan dengan tubuhku....maksudnya" ucap Jino dengan senyum smirknya.


"Jangan bercanda melulu, mas. Segeralah sarapan. Nanti biar bisa mengantar abang ke bandara "


"Iya bunda...."


Melati memilih pakaian buatnya dan juga Jino. Setelah menghabiskan sarapannya Jino memakai baju yang dipilih oleh Melati.


Mereka langsung menuju apartemen tempat Melati dulu tinggal. Sampai di apartemen Rendra menyambut kedatangan papi dan bundanya dengan gembira.


Karena jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang, Jino langsung mengantar abang Kai ke bandara.


"Jino... aku titip adikku dan Mama"


"Ya, bang. Jangan kuatir, aku akan menjaga Melati dan mama dengan baik"


"Aku percaya. Jika nanti ada apa apa cepat kabari aku. Terutama yang bersangkutan dengan kesehatan Rendra"


"Baik bang. Aku akan mengabarkan apapun itu yang menyangkut Rendra"


Abang Kai memeluk Melati dan mamanya. Ia mengecup kedua pipi Rendra sebelum masuk kedalam.


"Kamu nggak boleh menangis dan bersedih lagi. Abang dan Jino akan melakukan apapun itu untuk kesembuhan Rendra"


"Iya, bang"


"Ma... abang pamit ya. Mama akan tinggal di sini aja bersama Melati"


"Iya, nak. Hati hati. Datang segera jika ada waktu luang. Jangan bekerja terlalu keras dan jangan telat makan. Sudah waktunya kamu juga memikirkan hidupmu. Carikan mama menantu"


"Mama... baru aja dapat menantu, udah mikirin menantu lagi." ucap Kai sambil tertawa


"Mama benar, bang. Abang harus segera mencari kakak ipar buatku" ucap Melati sambil memeluk abangnya.


"Akan abang cari kakak ipar yang baik dan cantik kayak adikku ini"


"Biar abang ada yang temani dan mengurus"


"Iya, dek. Bawel banget sih" ucap Kai tersenyum


"Hati hati. Jika telah sampai kabari"


"Oke... ponakan uncle, kamu harus kuat ya"


"Iya, uncle"


Kai masuk kedalam bandara setelah kembali mengecup Rendra. Mereka meninggalkan bandara setelah Kai masuk dan menghilang menuju ruang tunggu.


*****************


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2