
Pagi ini Jino tampak malas buat bangun. Melati sudah beberapa kali membangunkan, tapi Jino selalu saja minta waktu untuk tidur kembali.
Melati kembali masuk kamar dan mendapatkan Jino yang masih bergulung di bawah selimutnya.
"Mas... bangun. Sudah jam delapan, mas nggak ke kantor"
Melati kembali membangunkan Jino dengan mengguncang tubuhnya. Melati, mama dan Rendra telah selesai sarapan. Mereka tak bisa menunggu Jino yang masih tak mau bergerak dari kasur empuknya.
"Sayang, sebentar lagi deh. Kepala mas pusing, badan lemas rasanya" ucap Jino malas
Melati naik ke ranjang dan memegang dahi Jino. Melati merasakan suhu badan Jino yang tinggi. Dahinya terasa panas.
"Mas demam.... " ucap Melati dengan kuatirnya.
"Paling hanya demam biasa aja. Jangan kuatir, mas hanya butuh istirahat aja"
"Aku hubungi pak Agung aja mas. Minta tolong handle kantor dulu"
"Biar mas aja yang hubungi, mas juga mau menghubungi Dina sekretaris mas sekalian"
"Baiklah... ini ponselnya, aku ambil air hangat dulu buat kompres"
Setelah memberikan ponsel Jino ketangannya, Melati keluar kamar menuju dapur. Melati meminta mama untuk menjaga Rendra karena ia harus menjaga Jino yang sedang tak enak badan.
"Kamu urus saja Jino, biar Rendra bersama mama. Jangan lupa hubungi dokter, nak" ujar mama
"Ya, ma. Aku kompres mas Jino dulu sebelum dokter datang"
Melati masuk ke kamar dan mengompres dahi Jino dengan handuk yang telah dibasahi air hangat.
Ketika Melati ingin berdiri, Jino menahan tangannya.
"Melati, tetap disini. Mas ingin tidur sambil memelukmu"
"Mas...aku akan hubungi dokter dulu. Dan aku juga akan membuat mas bubur. Mas harus sarapan. Setelah itu baru aku temani mas tidur"
"Jangan lama lama... "
"Iya, mas... "
Melati menghubungi dokter keluarga Jino. Dan setelah itu Melati membuatkan bubur buat Jino.
Dokter datang ketika Melati sedang menyuapi Jino.
"Selamat pagi, Jino. Sudah lama banget tante nggak periksa kesehatan kamu... "
"Selamat pagi tante, maaf merepotkan"
"Nggak apa... ini istrimu, Jino"
"Ya tante... kemarin saat syukuran pernikahan. kami tante kenapa nggak hadir"
"Tante lagi seminar di luar kota, maafkan tante ya"
"Nggak apalah tante"
Dokter yang merupakan sahabat dari mama Jino memeriksa tubuh Jino dengan stetoskop.
"Hanya demam biasa. Kamu butuh istirahat aja. Ini tante berikan resep obat dan vitamin" ucap dokter itu dab menuliskan resep lalu menyerahkan pada Melati.
"Terima kasih, dok... "
"Panggil aja tante, seperti Jino. Jangan panggil dokter "
"Baik tante.... "
"Jino, tante pamit dulu"
"Terima kasih tante... "
__ADS_1
Melati mengantar dokter itu hingga ke mobil. Melati meminta tolong supirnya untuk menebus resep yang diberikan tadi.
Sebelum kembali ke kamar, Melati melihat Rendra. Ternyata ia telah tertidur. Melati mengecup pipi Rendra.
"Ma... maaf ya, aku selalu merepotkan mama"
"Melati... kamu nggak perlu minta maaf. Mama senang bisa membantumu menjaga Rendra. Sekarang kamu kembalilah ke kamar. Pasti Jino membutuhkamu saat ini"
"Baiklah ma..."
Melati kembali ke kamar dan duduk disamping Jino yang tertidur.
"Sayang, tidur sini. Aku pengin meluk kamu"
Melati membaringkan tubuhnya. Dapat ia rasakan suhu tubuh Jino yang hangat ketika memeluknya.
Ketika ia merasakan Jino sudah terlelap, Melati melepaskan pelukan tangan Jino. Baru saja ia akan melangkah, terdengar suara igauan Jino.
"Melati... maafkan aku. Maafkan aku... aku tak bermaksud membunuh anak kita... jangan tinggalkan aku. Aku mohon... " ucap Jino terisak.
Melati menggenggam tangan Jino sambil memandangi wajahnya.
"Mas... apakah kamu juga selalu teringat kejadian itu. Apakah kamu merasa sangat bersalah atas apa yang pernah kamu lakukan. Sejujurnya ...itu juga selalu menghantuiku. Aku takut kejadian serupa terulang lagi. Tapi aku harus kuat dan menghilangkan traumaku untuk kembali hamil demi Rendra"
Melati membangunkan Jino dengan pelan pelan mengguncang lengannya.
"Mas... sadar. Kamu cuma mimpi"
Jino membuka matanya setelah beberapa saat dan ketika melihat Melati ia langsung memeluknya.
"Melati... maafkan mas"
"Semua hanya mimpi, mas tidurlah kembali"
"Melati... jangan tinggalkan aku"
"Mas...aku tetap disini, jangan kuatir"
Melati hanya tersenyum menjawab ucapan Jino.
................
Malam harinya setelah menyuapi Rendra dan menidurkannya, Melati kembali ke kamar. Ia melihat dahi Jino yang berkeringat. Jino tampak menggigil.
Melati membuka selimutnya, tubuh Jino bermandikan keringat dan suhu tubuhnya makin meningkat.
Melati mengambil air hangat. Ia membuka seluruh pakaian Jino dan mengelap tubuhnya dengan air hangat.
Setelah itu Melati membuka seluruh pakaiannya. Ia ingat jika memeluk tubuh orang yang suhu badannya tinggi dengan sama sama tanpa busana dapat memindahkan dan menurunkan suhu panas badannya.
Melati memeluk tubuh Jino dengan erat, ia berharap cara ini dapat membantu.
Setelah setengah jam lamanya ia memeluk tubuh Jino, suhu badannya mulai turun. Melati sedikit merasa lega.
Jino membuka matanya dan melihat Melati.
"Terima kasih, sayang" ucapnya terbata dan mengecup dahi Melati.
"Besok kita ke rumah sakit. Aku nggak mau terjadi sesuatu dengan mas"
"Bukankah tante sudah memberi obat penurun demamnya "
"Tapi suhu badan mas tetap tinggi"
"Mas udah biasa begini, Mel. Yang penting kamu selalu temani mas aja" ucap Jino memeluk Melati.
Jino tertidur setelah suhu tubuhnya sedikit menurun.
................
__ADS_1
Pagi harinya Melati kembali membuatkan bubur buat Jino dan Rendra. Melati melihat Jino yang masih tidur, lalu menyuapi Rendra.
"Papi... mana nda" ucap Rendra
"Papi masih tidur, papi masih sakit sayang"
"Sakit... "
"Iya, sayang. Tapi Rendra nggak usah kuatir, papi udah agak mendingan. Sekarang Rendranya makan yang banyak, biar Rendra tetap sehat. Bulan depan jadwal kemoterapi lagi"
"Sakit, nda... "
"Iya sayang. Bunda tau... tapi Rendra harus tetap kuat menjalaninya. Bunda dan papi akan terus berusaha untuk kesembuhan Rendra. Agar Rendra tidak harus kemoterapi lagi dan juga tidak bergantung pada obat obatan lagi"
"Iya, nda... "
"Nenek makan... " ucap Rendra lagi
"Nenek udah makan, sayang, Rendra udah makannya. Kita main di taman ya. Bunda mau siapkan sarapan untuk papi" ujar mama
"Udah nek... "
"Ayo kita main di taman... " ajak mama dan membawa Rendra ke taman belakang.
Melati membawa semangkok bubur dan segelas susu kedalam kamar. Ia tak melihat Jino di atas ranjang. Melati mendengar suara muntahan dari kamar mandi.
Ia membuka pintu kamar mandi dan melihat Jino yang pucat dan mengeluarkan semua isi perutnya.
Melati memijat tengkuk Jino dengan lembut untuk sedikit melegakannya.
Setelah merasa sedikit lega, Jino mencuci wajahnya membersihkan dari sisa muntahan.
"Mas... sebaiknya kita ke rumah sakit. Tapi mas sarapan dulu, ya" ucap Melati dan memamah Jino menuju ranjang.
Jino duduk bersandar di kepala ranjang, Melati menyuapi bubur ke Jino.
"Apa yang mas rasakan... "
"Badan mas lemas, pusing dan rasanya mual terus"
"Setelah sarapan kita ke rumah sakit. Aku takut ada penyakit selain demam"
Jino memandangi Melati dengan intens, membuat Melati heran.
"Kenapa mas memandangku seperti itu"
"Kamu baik dan perhatian banget, Mel"
"Aku istri kamu, mas. Sudah menjadi kewajibanku memperhatikan mas"
"Terima kasih, Mel"
"Buat apa mas. Semua emang sudah seharusnya aku lakukan sebagai istrinya kamu"
"Terima kasih untuk semuanya"
"Nggak perlu berterima kasih. Mas aku bantu lap badannya, ya"
Melati membuka baju Jino dan ketika akan membuka celananya, Jino menahan tangan Melati.
"Kenapa mas... "
"Biar mas lakuin sendiri, mas takut nanti ada yang bangun. Padahal mas lemas banget"
"Mas... sedang sakit masih aja berpikiran mesum"
Melati tetap membuka seluruh pakaian Jino dan membersihkan tubuhnya. Melati juga memakaikan baju Jino.
Setelah Jino siap, Melati yang mengganti pakaiannya. Ia meminta bantuan supir untuk mengantar mereka ke rumah sakit.
__ADS_1
*******************
Terima kasih