Melati (Istri Yang Tak Dianggap)

Melati (Istri Yang Tak Dianggap)
Bab Sembilan puluh Delapan


__ADS_3

Jino membawa Melati dan Rendra mengunjungi kediaman orang tuanya. Sudah seminggu mereka tak menemui mama.


Sampai di rumah, mama menyambut dengan hati gembira. Melati mengecup pipi mama.


"Maaf ma, udah seminggu tak berkunjung" ujar Melati


"Nggak apa, mama maklum aja. Mungkin Jino lagi sibuk dan kamu juga lagi fokus dengan kesehatan Rendra. Dulu aja Jino mengunjungi mama hanya sekali setahun" sindir mama


"Jangan diungkit yang lama, ma" gumam Jino.


Jino membawa Rendra duduk di sofa dan menghidupkan televisi. Ia memilih kartun sebagai tontonan buat Rendra.


"Apa kabar cucu Oma. Tambah ganteng aja"


"Sehat, Oma... " ucap Rendra dengan mata yang tetap fokus menonton.


"Mama aku ada berita gembira...." ujar Jino.


"Berita gembira apa... kamu menang tender "


"Bukan ma. Ini lebih dari menang tender"


"Apa sih.... "


Tanpa mereka semua sadari ada Raka berdiri dibelakang, ia ingin mengantar undangan perayaan ulang tahun agensinya.


"Melati sedang hamil adiknya Rendra" ucap Jino dengan antusias


"Apa... kamu serius, Jino"


Raka yang mendengar ucapan Jino menjadi kaget. Baru dua bulan pernikahan mereka, Melati telah hamil.


"Ternyata kamu masih mau mengandung anaknya Jino, Melati. Dulu kamu sangat trauma atas keguguran bayimu. Aku pikir akan sulit bagimu mau kembali hamil anaknya Jino"


"Ya, ma. Buat apa aku bercanda"


"Udah berapa usia kandungannya, Melati "


"Masuk lima minggu, ma"


"Semoga kamu dan calon bayinya sehat"


"Hhhhmmmm.... " deheman Raka membuat obrolan terhenti.


"Raka... " ucap mama dan langsung berdiri memeluknya.


"Selamat sore tante... "ucap Raka


"Selamat sore... apa kabarmu, sayang" ucap Mama Jino mengecup pipi Raka.

__ADS_1


Mama Raka memang sangat menyayangi Raka seperti anak kandungnya sendiri. Sejak orang tua Raka meninggal, ia paling dekat dengan mama Jino dari pada tante yang lainnya.


"Tidak baik baik saja" lirih Raka, namun masih dapat didengar.


"Kamu udah makan, nak. Tante tadi masak opor ayam kesukaanmu. Makan dulu ya"


"Aku nggak lapar tante... "


"Kalau gitu duduklah, tante ada buat puding. Tante ambilkan ya" ucap mama membawa Raka duduk di sofa dekat Jino.


"Bagaimana agensimu Raka. Makin sukses ya" ucap Jino. Ia nggak tau harus bicara apa. Sejak menikah dengan Melati, baru kali ini mereka bertemu lagi.


"Ya begitulah... tapi nggak sesukses kehidupan percintaanku"


"Kamu bisa aja. Ada Kimberley... apa lagi kurangnya" ucap Jino


"Kimberley tidak ada kekurangan tapi kamu tahukan terkadang cinta itu tak butuh kesempurnaan dari pasangan. Walau kita tau pasangan kita banyak kekurangan dan sering melakukan kesalahan terkadang kita masih tetap mencintainya. Karena cinta itu datang dari mata baru turun kehati. Tapi kita sering menutup mata atas apa yang dilakukan pasangan kita karena hati kita yang terlanjur terisi olehnya"


"Raka... tante rasa Jino benar, Kimberley wanita yang baik dan cantik. Kenapa kamu nggak mencoba membuka hatimu buatnya"


"Aku sedang mencoba membuka hatiku buatnya. Bukankah lebih baik dicintai dari pada mencintai. Karena aku merasakan kecewa karena mencintai..."


Melati yang dari tadi hanya diam, lalu berdiri dari duduknya.


"Ma... biar aku buatkan air dan bawa puding yang mama buat. Aku pamit dulu..." ucap Melati undur diri. Ia nggak tahan mendengar ucapan Raka yang seolah menyindir dirinya.


Setelah beberapa saat akhirnya Melati kembali ke ruang keluarga. Disana hanya tinggal mama Jino dan Raka.


"Silakan minum, Raka"


"Terima kasih " ucap Raka datar


"Mas Jino dan Rendranya mana, ma" ucap Melati lagi


"Ke kamarnya Rendra. Ia mengantuk, jadi Jino ingin menidurkannya... "


"Kamu makan malam disini, Raka"


"Mungkin nggak tante... aku datang cuma ingin mengundang tante untuk datang ke pesta ulang tahun agensiku yang kelima"


"Hebat banget... nggak terasa udah lima tahun aja"


"Lebih hebat Jino tante... perusahaan yang dipimpinnya maju dengan pesat"


"Agensimu juga, sayang" ujar mama Jino mengusap punggung Raka.


"Oh maaf ya, ada yang harus tante kerjakan. Kamu ngobrol dengan Melati aja dulu. Sebentar... jangan langsung pulang. Tunggu tante ya... "


Mama Jino melangkah ke lantai atas menuju kamarnya. Melati dan Raka tampak kikuk. Mereka diam dengan pikiran masing masing.

__ADS_1


Setelah lebih dari sepuluh menit saling diam, Melati memecahkan keheningan.


"Apa kabar Raka... " ucap Melati akhirnya


"Seperti yang kamu lihat...aku masih baik baik saja"


"Raka... maaf. Aku tau tak mudah bagimu untuk dapat menerima keputusan aku ini. Tapi awal aku menerima mas Jino kembali emang demi Rendra. Ia menderita leukemia. Mas Jino sudah mau menyumbangkan sumsum tulang belakangnya. Tapi ternyata tidak cocok dan satu satunya cara ialah dengan darah dari tali plasenta adiknya"


"Kamu yakin hanya karena Rendra, Mel.. jujurlah Mel. Walau akan sakit aku mendengarnya tapi itu lebih baik dari pada aku terus dibohongi. Mel... aku akan turut bahagia jika kamu emang bahagia bersama Jino. Aku hanya belum bisa menerima alasanmu saja"


"Raka... aku bersumpah, aku menerima Jino karena Rendra. Aku tak bisa melihat ia menderita terus. Dan jalan terbaik yang dokter tawarkan adalah pengobatan dengan darah dari plasenta adiknya dan itulah aku dan Jino senang dengan kehamilanku saat ini"


"Apakah Rendra memang sakit serius, Mel"


"Raka... buat apa aku berbohong dengan mengatakan Rendra sakit "


"Dan bagaimana pengobatannya saat ini"


"Ia harus menjalankan kemoterapi sebelum mendapatkan transplantasi darah tali pusar"


"Maafkan aku, Mel. Aku pikir ini hanyalah alasanmu aja. Aku tak berpikir penyakit Rendra serius"


"Nggak apa Raka. Aku bisa memakluminya. Pasti sulit bagimu menerima alasanku karena kamu belum tau pasti apa yang sedang Rendra alami. Aku sebagai bundanya akan melakukan apa saja demi kesembuhan Rendra. Jangankan harus kembali dengan mas Jino, jika aku diminta menyerahkan nyawaku untuknya, itu juga akan aku lakukan. Dan aku berani melangkah untuk kembali bersama mas Jino karena aku juga melihat kesungguhan mas Jino buat berubah."


"Semoga saja Jino memang benar berubah" gumam Raka


"Jikapun nanti mas Jino akan kembali menyakitiku, itu mungkin sudah menjadi takdirku. Tapi aku tak akan menyesalinya karena aku telah bisa mengobati Rendra. Aku siap apapun yang terjadi kedepannya. Tapi selama dua bulan ini mas Jino telah menampakkan perubahan sikapnya. Aku juga telah membuka hatiku kembali buat mas Jino. Kami akan sama sama berusaha menjadi orang tua yang baik buat Rendra dan adiknya"


"Syukurlah jika Jino memang begitu. Aku ikut bahagia. Aku tau Jino sebenarnya pria yang baik."


"Kamu masih marah dan benci padaku, Raka "


"Harus betapa kali aku katakan, Mel. Aku bukan malaikat, aku ini manusia. Aku punya *****. Jelas saja rasa dendam dan marah ada padaku. Lebih baik bukan aku membencimu karena itu akan membuat aku cepat melupakan mu"


"Aku tak tau, Raka. Bagaimana caranya agar kamu bisa memaafkan dan mengikhlaskan semua keputusan yang aku ambil. Tapi apapun keputusanmu, akan aku terima karena aku sadar semua salahku"


"Beri aku waktu buat menerima semuanya, Mel. Aku yakin waktulah yang akan mengobati semua lukaku"


"Aku akan selalu berharap waktu itu akan tiba, saat dimana kamu telah merelakan dan mengikhlaskan semua yang pernah terjadi. Doaku...semoga kamu selalu diberi kebahagiaan dan kesuksesan... "


"Aku juga mendoakan kamu bahagia dan Rendra bisa sembuh. Agar semua yang kamu lakukan tidak sia sia. Mel, kamu percaya atau tidak. Aku juga menyayangi Rendra. Jika emang semua ini yang terbaik buat Rendra, aku akan belajar ikhlas dan rela atas keputusan yang kamu ambil. Aku saat ini telah mulai membina hubungan yang lebih serius dengan Kimberley. Semoga aku juga dapat menyusul kepelaminan"


Melati dan Raka kembali diam, larut dengan pikiran mereka masing masing.


"Kamu harus tau Melati, tak ada yang lebih menyakitkan saat kita sadar jika orang yang kita cintai itu ternyata adalah segala galanya bagi kita tapi ia tak pernah menganggap kita ada.... "


*******************


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2