Melati (Istri Yang Tak Dianggap)

Melati (Istri Yang Tak Dianggap)
Bab Tujuh puluh Empat


__ADS_3

Raka dan Melati masih diam dengan pikiran mereka masing masing. Melati menyeruput air minumnya perlahan. Dan menarik nafasnya.


"Raka...aku minta maaf" gumam Melati


"Maaf untuk apa..."


"Maaf untuk semuanya. Maaf karena aku harus pergi tanpa pesan dan kabar padamu"


"Apa kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan, Melati. Kamu menghancurkan segalanya. Bukan saja hatiku, tapi juga impianku terutama kepercayaanku pada wanita"


"Raka, aku benar benar minta maaf"


"Apa kamu pernah berpikir tentang perasaanku dengan semua yang kamu lakukan ini"


"Aku tau , Raka. Aku salah, tapi semua yang aku lakukan juga demi kebahagianmu"


"Kebahagiaanku...apa kamu yakin"


"Maksud kamu apa , Raka"


"Apa kamu tidak pernah juga tau perasaanku ini, Melati. Kebahagiaanku adalah bersamamu. Bagaimana kamu bisa berpikir semua yang kamu lakukan itu demi kebahagiaanku. Kamu bahkan menghancurkan hatiku menjadi berkeping keping"


Melati menangis mendengar ucapan Raka.


"Raka, aku tak pernah bermaksud menyakiti hatimu menjadi begini"


"Tapi kamu melakukannya. Perlu kamu ketahui Melati, hatiku dulu pernah hancur juga ketika ditinggalkan wanita yang aku cintai. Aku tak percaya akan namanya cinta sampai aku bertemu kamu. Entah mengapa hati ini langsung terketuk ketika melihat senyummu. Dan kembali hati ini terluka lagi saat aku tau kamu istrinya Jino. Aku berusaha ikhlas menerima semua takdir ini. Dan hati ini kembali berbunga ketika aku tau kamu menerima cintaku. Tapi kembali hatiku harus kecewa lagi saat tau kamu meninggalkan aku tanpa pesan"


Raka menghentikan ucapannya dan melihat ke arah Melati yang hanya tertunduk.


"Melati...kamu sukses mematahkan hatiku hingga hancur berkeping keping"


"Maaf , Raka"


"Tak perlu kata maaf itu lagi , Melati. Apa dengan kata maaf bisa mengembalikan kepingan hatiku yang terlanjur hancur"


"Raka, apa yang harus aku lakukan agar kamu memaafkan aku. Aku pergi karena aku tak ingin kamu dijauhi keluargamu karena aku. Aku sudah pernah merasakan hidup yang sulit karena tidak ada keluarga disamping kita. Hanya berjuang seorang diri itu sangat menyedihkan"


"Kenapa kamu harus pergi. Kenapa kamu tak mau kita berjuang bersama. Kita bisakan mencoba meyakinkan keluargaku jika kamu emang pantas menjadi pendampingku"


"Aku takut , Raka"

__ADS_1


"Apa yang kamu takutkan, Melati. Jika kamu memang mencintaiku, pasti kamu akan berusaha meyakinkan keluargaku jika kamu pantas aku perjuangkan. Kamu pantas menjadi pendampingku. Tapi apa Melati, kamu pergi tanpa mau berusaha meyakinkan keluargaku"


Raka menarik nafasnya dan mengambil gelas air minumnya. Ia meminumnya sedikit sekedar membasahi tenggorokan.


"Tapi akhirnya aku sadar, Melati. Jika kamu tak pernah benar benar mencintaiku. Dengan kepergianmu itu aku tau jika selama ini kamu hanya menerima aku karena rasa kasihan"


"Raka...bukan begitu"


"Katakan dengan jujur, apakah kamu mencintaiku...atau paling tidak dulu kamu pernah mencintaiku.Bukan rasa kasihan atau sekedar balas budi"


"Raka...apakah aku harus menjawabnya. Kamu pasti tau bagaimana perasaanku"


"Aku nggak tau, Melati. Karena perasaan apa yang ada dihatimu hanya dirimu yang tau. Melati...cukup sudah rasa kasihanmu. Sakit banget rasanya ketika kita sadar, jika selama ini hanya kita sendiri yang berjuang untuk cinta ini. Dan aku rasa kamu dapat merasakan sakitnya, saat kamu berjuang sendiri ketika Jino tak pernah memandang apalagi mencintaimu. Aku melepaskan kamu bukan karena tak ada lagi cinta ini untukmu, tapi aku melepaskan kamu karena aku tak mau lagi kamu kasihani. Aku tak mau terluka dan terpuruk terlalu dalam. Aku lelah jika harus berjuang sendiri dengan cintaku...." lirih Raka.


"Raka...maafkan aku. Tak pernah aku bermaksud melukai hatimu hingga sedalam ini. Aku berpikir kehadiranku akan merusak hubungan keluargamu, untuk itu aku mundur diri. Aku tak mau kamu harus memilih antara aku dan keluarga."


"Tak ada yang harus dipilih Melati. Jika kemarin kamu bertahan dan tak pergi, aku akan memperjuangkanmu tanpa melepaskan ikatan kekeluargaan. Aku rasa cukup pembicaraan ini. Aku sudah melepaskanmu. Kamu tak perlu terbebani dengan hubungan kita"


"Semoga kamu mendapat gadis yang jauh lebih baik dariku, Raka. Seperti Kimberley..."


"Kimberley hanyalah mantan kekasih yang juga pernah melukaiku. Aku tak tau apa aku masih bisa melangkah bersamanya"


"Setidaknya keluarga mendukung hubunganmu dengan Kimberley. Kamu hanya perlu menata hatimu saja"


Setelah mengucapkan itu Raka pergi tanpa memandangi Melati.


"Aku tau Melati, dihatimu masih ada cinta buat Jino. Aku tak mencarimu selama ini karena aku berharap kamu datang kembali dengan cinta yang jauh lebih besar tapi ternyata harapanku terlalu tinggi, kamu bahkan tak pernah mencintaiku dari dulu. Buktinya untuk mengucapkan kata cinta saja kamu tak mampu"


Melati mengusap air matanya yang jatuh membasahi pipinya.


"Maaf , Raka...aku tak pernah bermaksud melukai hatimu sedalam ini. Walau aku tak pernah mencintaimu, tapi hatiku menyayangimu dengan tulus. Aku tak akan pernah lupa dengan segala pengorbananmu. Jika saja keluargamu merestui, aku akan mencoba mencintaimu. Karena aku yakin tak sulit mencintai pria sebaik kamu. Tapi semua harus dilupakan karena kita terhalang restu. Aku tulus mendoakan kamu dapat wanita yang jauh lebih baik dariku. Aku tak pantas buat pria sebaik kamu"


Melati keluar dari restauran dan mengendarai mobilnya menuju perusahaan Jino. Sepanjang perjalanan air matanya tak bisa dibendung. Melati menghapus air matanya sebelum masuk ke kantor Jino.


Melati minta izin menemui Jino. Ia masuk setelah mengetuk pintu.


"Mas, Rendranya mana"


"Ada dikamar..."


"Kamar..."

__ADS_1


"Itu dibalik lemari buku ada kamar buat aku istirahat" tunjuk Jino.


Melati duduk di sofa dengan pandangan menerawang. Sudut matanya masih tampak berair.


"Apa kamu menangis karena Raka, Melati. Apa yang terjadi sebenarnya"


"Melati..."


"Ya , mas..."


"Kita ke rumah mama ya. Bawa Rendra, mama udah kangen"


"Baik mas. Rendra bersamaku apa mas"


"Kita satu mobil aja. Mobilmu biar supir yang antarkan ke apartemen"


"Nggak ngerepotkan supir nanti, mas"


"Nggak lah, Mela. Aku ambil Rendra dulu ya"


"Apa mas udah nggak ada kerjaan. Ini baru jam tiga sore"


"Nggak ada, Mel. Udah selesai semua"


Jino berjalan menuju kamar yang ada di ruang kerjanya. Jino biasa beristirahat dan bercinta dengan Nia dulu di kamar itu.


Melati mennggendong Rendra dipangkuannya. Jino yang mengendarai mobil. Jino sesekali mencuri pandang ke arah Melati yang matanya tampak bengkak karena menangis.


"Kamu kenapa menangis, Mel" ucap Jino akhirnya.


"Nggak ada ,mas. Siapa yang menangis"


"Matamu bengkak begitu. Jangan bohong"


"Oh...aku tadi memang menangis. Aku jahat, mas. Aku telah menyakiti dan melukai Raka begitu dalam. Aku tak pernah berpikir jika kepergianku membuat ia sangat marah. Dan aku memang pantas dibenci"


"Melati...sudah pasti Raka terluka. Ia begitu mencintaimu. Tapi semua itu akan terobati dengan berjalannya waktu. Kamu nggak boleh sedih begini"


"Bagaimana mungkin aku tak sedih, mas. Raka telah banyak membantuku selama ini tapi apa balasan yang aku beri, aku membuat hatinya terluka"


"Kamu sepertinya sangat peduli dengan Raka. Walau tak ada cinta dihatimu buat Raka, tapi aku tau kamu memiliki perhatian lebih pada Raka. Kamu sangat menyayanginya...."

__ADS_1


********************


Terima kasih


__ADS_2