Melati (Istri Yang Tak Dianggap)

Melati (Istri Yang Tak Dianggap)
Bab Empat puluh Delapan


__ADS_3

Sampai di Jakarta Nia langsung menuju sebuah bar. Pikirannya kacau. Sidang perceraiannya baru saja diputuskan seminggu yang lalu. Dan ia hanya mendapatkan rumah yang ditempatinya dulu bersama Jino. Itupun Jino sengaja memberikan karena ia tak ingin tinggal di sana. Terlalu banyak kenangan pahit di sana.


Nia telah menghabiskan dua botol minuman. Ia sudah tampak mabuk.


"Dasar pria brengsek, bajing*n...setelah kau mengambil uangku sekarang kau tinggalkan aku. Aku tidak akan membiarkan kau bahagia. Kau telah menghancurkan hidupku..."


Nia mengomel sendiri di bar itu. Ia berjalan keluar dari bar menuju mobilnya ketika hari menjelang subuh.


Nia mengendarai mobilnya dalam keadaan mabuk. Baru beberapa meter ia keluar dari halaman bar ia menabrak pembatas jalan yang mengakibatkan kecelakaan. Nia yang memang sudah dalam keadaan mabuk , pingsan karena kecelakaan itu.


Pengendara yang melihatnya berhenti, dan menolong membawa Nia ke rumah sakit. Setelah melihat wajah Nia mereka mengenali jika ia istri Jino.


Penolong membawakan ke rumah sakit milik salah seorang keluarga Jino.


Pagi harinya Nia terbangun. Ia kaget telah berada di kamar rumah sakit.


Nia memegang dahinya yang terluka. Kepalanya masih terasa pusing , mungkin akibat dari kecelakaan dan juga mabuk kemarin.


"Untung saja aku kemarin masih bisa diselamatkan. Kenapa hidupku jadi berantakan begini. Aku harus bisa merayu Jino agar memaafkan semua salahku. Tak mungkin Jino begitu cepatnya bisa melupakan perasaannya padaku. Aku harus bisa meyakinkan Jino kembali"


Nia menghubungi Jino dan mengatakan jika ia mengalami kecelakaan.


Siang harinya Jino datang mengunjungi Nia di rumah sakit. Khusus untuk keluarga besarnya kamar disediakan dilantai paling atas.


Jino mendapat informasi jika Nia berada dikamar nomor 808. Jino langsung masuk tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


Melihat siapa yang masuk, membuat Nia tersenyum.


"Kamu masih mencintaiku , Jino. Kamu kuatir saat tau aku mengalami kecelakaan. Ini saatnya aku merebut hatimu lagi."


"Jino, aku yakin kamu pasti datang. Kamu pasti masih kuatirin akukan"


"Jangan terlalu percaya diri , Nia. Aku datang hanya sebagai seorang manusia yang harus peduli sesama"

__ADS_1


"Aku tak peduli apa maksudmu datang. Tapi sekali lagi, aku ingin minta maaf padamu ,Jino. Aku menyesal karena telah membohongi kmu selama ini. Aku janji Jino, aku tidak akan membohongi kamu lagi. Kita bisa memulai dari awal hubungan kita. Kita menikah lagi..."


"Jangan bermimpi, Nia. Aku tak akan pernah kembali lagi dengan pengkhianat sepertimu. Aku tak akan mau jatuh kelubang yang sama"


"Jino, kamu jangan berkata begitu. Hatiku sakit mendengarnya..."


"Aku datang hanya untuk mengingatkan kamu. Jangan pernah membawa namaku lagi dlam urusan pribadimu. Kita tak ada hubungan lagi.. Kamu dan aku telah berakhir. Dan aku ingatkan ini terakhir kalinya kamu menempati kamar dilantai ini. Karena kamu bukan bagian dari keluargaku lagi. Jika kamu mau berobat disini, kamu harus menempati kamar umum..."


"Jino, apa tidak ada sedikitpun rasa cintamu padaku. Aku tau Jino, aku bersalah padamu. Tapi aku sudah menyadarinya. Dulu aku khilaf karena termakan rayuan gombal Alex. Aku mohon , Jino. Maafkan aku. Tak ingatkah kamu saat saat kebersamaan kita selama lima tahun ini. Aku tak yakin kamu melupakan begitu saja semua kenangan kita..."


"Aku tak ingat satupun kenangan indah bersamamu, yang aku ingat adalah saat kamu membohongiku. Ingat...jangan pernah bawa namaku lagi. Kita bukan suami istri lagi..."


Setelah mengucapkan itu, Jino melangkahkan kakinya ingin keluar dari kamar. Tapi langkahnya terhenti karena Nia yang memeluk pinggangnya dari belakang.


"Jino, aku mohon maafkan aku...." ucap Nia sambil menangis.


Bertepatan dengan itu pintu kamar terbuka. Ternyata Melati yang masuk. Melati melihat Nia yang memeluk pinggang Jino.


"Maaf mas...mbak , aku mengganggu. Aku slaah kamar sepertinya" ucap Melati dan menutup kembali pintu kamar itu.


Jino tersadar dari keterkejutannya ketika Melati sudah menutup pintu. Ia melepas tangan Nia yang memeluk pinggangnya.


"Ini terakhir kalinya kau menyentuhku, Nia. Aku tak ingin tubuhmu yang telah kau beri juga untuk pria lain itu menyentuhku. Aku tak akan lagi bersabar jika kamu terus begini. Aku sudah berbaik hati memberikan kamu rumah yang pernah aku dan kamu tempati dulu. Jadi jangan melunjak. Sampai kapanpun , aku tak akan sudi kembali padamu. Sekali pengkhianat akan tetap pengkhianat selamanya. Aku tak mau lagi menanam duri dalam tubuhku..."


Jino pergi meninggalkan Nia yang terpaku memandangi punggungnya.


"Apa yang tadi aku lihat itu benar, Melati. Ia tambah cantik dan modis. Apa ia janjian bertemu Jino di rumah sakit ini. Tapi beruntung juga ia melihatku sedang berpelukan. Agar ia salah paham nantinya dengan Jino. Aku dapat melihat mata Jino yang memandang penuh cinta pada Melati,"


Melati masuk ke kamar yang bersebelahan dengan kamar Nia. Ia melihat Raka yang sedang terbaring lemah.


Raka mencoba bangun dari tidurnya melihat Melati masuk. Melati berlari mendekati ranjang dan membantu Raka duduk.


"Aku marah denganmu" ucap Melati dengan cemberut

__ADS_1


"Maaf...aku tak ingin kamu kuatir"


"Jika saja Chandra nggak keceplosan bicara pasti sampai kamu kembali ke rumah , aku tak akan pernah tau kamu sakit dan di rawat"


"Aku sudah biasa sakit begini"


"Kamu nggak boleh meremehkan penyakit. Nanti bisa berbahaya jika kamu biarkan. Mulai besok aku akan bawa bekal untuk sarapan dan makan siang buatmu. Tidak boleh menolak, dan awas jika aku tau kamu tidak memakannya"


"Melati, itu akan merepotkan kamu. Kamu pasti pulang kerja udah capek. Masa harus bangun pagi untuk membuatkan bekal sarapan dan makan siangku pula"


"Raka, aku hanya melakukan hal kecil seperti ini. Kamu harus menerimanya. Bantuanmu selama ini jauh lebih besar dari apa yang akan aku lakukan. Jika kamu masih melarangnya, aku juga tak akan pernah mau meminta bantuan padamu lagi"


"Baiklah...jika kamu nggak keberatan. Tapi kamu harus mau jika bahan makanannya aku yang beli"


"Oke...aku setuju. Tapi jangan melarangku jika aku juga terkadang ingin membelinya sendiri"


Melati melihat ke atas meja , tampak bubur buat makan siang Raka masih belum disentuh.


" Kamu belum makan siang ya. Ini udah lewat jam dua siang. Kamu mau lama di rumah sakit." ucap Melati dengan sedikit marah


"Aku tadi ketiduran..."


"Alasan...pasti kamu juga belum minum obat. Makan dulu...biar aku suapin. Setelah itu minum obatnya"


Melati duduk ditepi ranjang dan menyuapi Raka sambil mengomel seperti ibu yang memarahi anaknya. Raka tersenyum mendengarnya.


"Kamu kok malah tertawa, aku benar loh. Asam lambung jika dibiarkan bisa mengakibatkan kanker lambung. Aku tak mau kamu sakit lagi. Mulai besok aku akan hidupkan alarm diponselmu untuk mengingatkan"


"Kamu ternyata cerewet ..." ujar Raka sambil mengusap kepala Melati.


Tanpa mereka tau, Jino mengintip dari jendela apa yang mereka berdua lakukan.


"Melati, kamu baik dan perhatian. Aku juga rindu dengan masakanmu. Beruntung sekali Raka...setiap hari akan dapat merasakan masakanmu"

__ADS_1


*********************


Terima kasih


__ADS_2