Melati (Istri Yang Tak Dianggap)

Melati (Istri Yang Tak Dianggap)
Bab Enam puluh Delapan


__ADS_3

Jino sudah mulai sadar ketika pagi menjelang. Ia melihat Raka dan juga mamanya yang sedang tertidur duduk di sofa.


Jino merasakan kepalanya yang pusing. Udah kedua kalinya ia mengalami kecelakaan, dan itu semua karena kecerobohannya.


Mama terbangun ketika mendengar suara pintu dibuka. Ternyata dokter jaga yang ingin memeriksa keadaan Jino.


"Selamat pagi. bu. Saya ingin memeriksa keadaan Pak Jino"


"Silakan, dokter" ucap mama Jino. Ia berdiri mengikuti dokter menuju ranjang Jino.


"Pak Jino sudah sadar. Saat ini keadaan bapak udah stabil. Hanya tinggal pemulihan saja. Semua normal" ucap dokter setelah memeriksa.


Raka yang baru terbangun dari tidurnya juga ikut berdiri di dekat tempat tidur Jino.


"Nggak ada penyakit yang seriuskan, dok" tanya mama Jino


"Nggak ada, bu. Saya pamit dulu. Pak Jino hanya butuh istirahat"


"Terima kasih dok"


Setelah dokter pergi meninggalkan kamar, Raka mendekati tante Yeni.


"Tante, saya juga mau pamit. Saya mau lihat Melati. Dari kemarin ia tak tampak dirumah tante. Aku sudah menghubungi ponselnya tapi tidak aktif"


"Tante udah tanya satpam. Ia mengatakan Melati pulang dengan membawa Rendra"


"Aku akan keapartemennya , tante"


"Baiklah. Terima kasih telah menemani tante semalaman"


"Nggak perlu terima kasih tante. Aku juga bagian keluargakan. Tante, masih menganggap aku ponakan tantekan"


"Tentu saja , Raka"


"Aku kira tante akan ikutan keluarga yang lain, yang tak menganggap aku bagian dari keluarga lagi"


"Kamu yang sabar ya. Ini mungkin bagian dari ujian buatmu untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius"


"Ya, tante. Jino aku pamit ya...."


"Titip salam buat anakku, Rendra" lirih Jino

__ADS_1


"Baiklah...."


"Hati hati, Raka"


"Ya, tante...."


Raka meninggalkan rumah sakit dan mengendarai mobilnya menuju apartemen Melati.


Mama mengambil kursi dan duduk di samping tempat tidur Jino.


"Kenapa kamu membohongi mama dan seluruh keluarga"


"Maksud mama apa"


"Kamu tidak ada pertemuan dengan klien bukan, tapi kamu pergi hanya tak ingin mendengar Raka yang akan mengabarkan pernikahannya dengan Melati."


"Ma...maaf"


"Katanya kamu udah mengikhlaskan Melati buat Raka. Tapi kenapa kamu masih belum bisa terima kenyataannya. Seharusnya kamu buktikan itu dengan kehadiranmu"


"Ma, aku memang ikhlas. Tapi apa salah jika aku merasakan kesedihan jika orang yang aku cintai ternyata mencintai orang lain dan akan menikah"


"Mama mengerti, Jino. Tapi bukan berarti kamu harus menyakati dirimu begini. Kamu tak seharusnya mabuk mabukan. Kamu bukan anak remaja lagi. Yang jika sedang patah hati dilampiaskan dengan hal negatif. Kamu saat ini memiliki tanggung jawab yang lebih besar, yaitu Rendra"


"Jangan bersikap kekanakan lagi, Jino. Jika memang Melati bukan jodohmu, kamu harus bisa terima semua ini dengan sabar dan ikhlas"


"Aku akan berusaha , ma. Tapi bukan hanya Melati aja yang menjadi beban pikiranku, ma. Aku juga memikirkan semua yang aku alami belakangan ini di hidupku. Dalam waktu kurang dari setahun, kehidupanku berubah drastis. Dimulai dari aku mengetahui pengkhianatan Nia"


"Mungkin ini teguran dari Tuhan, agar kamu kedepannya lebih bijak dalam menentukan pilihan dan bertindak. Jangan melihat dari sampul seseorang. Seperti kamu dulu yang memandang hina Melati, ternyata istrimu Nia lah yang lebih hina kelakuannya"


"Mungkin memang ini teguran dari Tuhan atas semua sikap dan perbuatanku selama ini, terutama sikapku pada Melati. Ma...kapan Raka dan Melati akan menikah"


"Mama nggak tau, Jino"


"Kenapa nggak tau , Ma. Bukankah tadi malam semua keluarga berkumpul untuk bicarakan mengenai pernikahan Raka dan Melati"


"Belum ada kesepakatan. Karena seluruh keluarga menentang pernikahan Raka dan Melati"


"Kenapa, ma..."


"Karena Melati mantan istrimu. Keluarga tak mau malu. Apa kata orang nanti jika Melati menikah dengan Raka sepupu kamu"

__ADS_1


"Ma, bagaimana Melati. Pasti ia sedih mendengar kenyataan semua keluarga menentang hubungannya dengan Raka"


"Mama rasa Melati memang sangat sedih mengetahui itu. Saat kami mengobrol, Melati ada di kamar Rendra. Mungkin ia mendengar pertengkaran keluarga dengan Raka. Sehingg ia membawa Rendra pergi dari rumah. Mama dan Raka nggak tau pasti kapan Melati meninggalkan rumah. Itulah tadi Raka ingin cepat ke apartemen Melati. Mungkin Raka takut Melati sedih mendengar itu"


"Ya Tuhan, aku memang mencintai Melati. Tapi bukan berarti aku bahagia mendengar keluarga menentang hubungannya dengan Raka. Aku hanya ingin semua yang terbaik buat Melati, bundanya putraku. Jika kebahagiaannya hidup bersama Raka, maka aku berharap keluarga dapat menerimanya"


...............


Raka yang telah sampai di apartemen Melati langsung menuju unit tempat ia tinggal.


Sampai didepan apartemen, Raka menekan belnya. Beberapa kali ia menekan tak ada sahutan. Raka mulai gelisah.


"Kenapa Melati tidak juga membuka pintunya. Kemana ia pergi. Bibi di rumah tante Yeni mengatakan jika Melati tidak berada dirumah itu"


Raka yang memang pemilik apartemen itu lalu menekan kode masuk apartemen. Jika tadi ia menekan bel karena menghargai Melati sebagai penghuninya.


Raka masuk dan meneriaki nama Melati sambil berjalan mengelilingi apartemen. Tidak melihat keberadaan Melati, Raka nekat masuk ke kamar.


Raka melihat pintu lemari yang terbuka sedikit, ia melihat sebagian baju Melati sudah tak ada. Raka melihat ke samping lemari mencari tas koper Melati. Ia tak melihatnya. Hatinya makin cemas.


Raka membuka laci lemari dan melihat paspor Melati juga sudah tak ada. Ketika Raka ingin keluar dari kamar, ia melihat ada surat di atas nakas samping lemari.


Ada dua surat dengan amplop putih. Satu bertuliskan namanya , dan satu nama Jino. Raka membuka surat atas namanya.


"Raka...maaf jika aku memutuskan pergi. Aku tak ingin kehadiranku membuat kamu dan keluarga jadi bertengkar. Aku sudah merasakan betapa tak enaknya hidup tanpa ada keluarga disisi kita. Saat kita sedih dan terpuruk , tak ada tempat mengadu dan bersandar. Mungkin kita memang tak ditakdirkan untuk hidup bersama. Aku bahagia dan senang bisa mengenal dan dekat denganmu. Aku harap kamu bisa mengerti dengan keputusanku ini. Biarlah saat ini kita saling menjauh dulu. Jika kita memang berjodoh, kita pasti akan dipertemukan kembali. Maaf...atas semuanya. Maaf ...karena selama ini aku selalu merepotkan kamu. Terima kasih banyak untuk semua yang pernah kamu lakukan padaku. Aku tak akan pernah melupakan semua yang pernah kamu berikan untukku...Sekali lagi terima kasih atas semuanya"


Raka memasukan surat itu kedalam saku celananya, ia dengan jalan tergesa menutup pintu apartemen dan meninggalkan apartemen Melati.


Raka memasuki lift dengan terburu buru dan ketika keluar ia menabrak tubuh seorang wanita cukup kuat. Sehingga wanita itu hampir saja tersungkur jika ia tak segera menangkapnya.


"Maaf ..." ucap Raka setelah mereka sama sama berdiri dengan tegak.


"Raka..." ucap wanita itu.


Raka memandangi wajah wanita yang ditabraknya. Ia tampak sangat kaget.


"Kimberley..."


"Raka...aku tak menyangka bertemu kamu disini" ucap wanita itu memeluk Raka erat.


"Kimberley...kenapa kamu kembali lagi setelah aku berhasil melupakan dirimu"

__ADS_1


***************


Terima kasih


__ADS_2