Melati (Istri Yang Tak Dianggap)

Melati (Istri Yang Tak Dianggap)
Bab Enam puluh Empat


__ADS_3

Kai mengajak Melati makan siang di salah satu cafe terdekat dengan agensi Raka.


Mereka memilih ruang VIP agar lebih bisa bicara lebih privasi tanpa ada gangguan.


"Ada apa ya ,Kai. Kata Raka ada yang ingin kamu bicarakan"


"Melati, kamu bisa nggak memanggil aku abang. Usiaku jauh lebih tua darimu"


"Abang...."


"Ya , di Malaysia ...saudara laki laki lebih tua dipanggil abang"


"Tapi kamu bukan saudara laki laki aku. Nggak apa panggil abang"


"Kamu udah aku anggap seperti adikku sendiri, Melati. Jadi aku mau kamu memanggilku abang"


"Kamu bisa aja , Kai"


"Abang, Melati...."


"Abang Kai...."


"Ya gitu...kan terdengar lebih enak"


"Abang Kai...mau bicara apa. Katanya ada sesuatu yang penting ingin abang katakan"


"Melati ...awalnya aku ingin bertemu kamu untuk mendaptkan sesuatu yang bisa aku gunakan untuk melakukan tes DNA. Dan itu udah aku dapatkan. Maaf jika aku dan mama melakukan hal illegal untuk melakukan DNA. Jika kami berterus terang , kami takut kamu syok dan malah menjauh"


"Melati....aku ingin kamu menjadi adikku. Maksudnya adik angkatku. Sejak kehadiranmu pada ulang tahun mama, ia tampak sangat bahagia. Senyumnya udah mulai tampak lagi. Apa kamu mau menjadi adikku"


"Aku...jadi adiknya abang"


"Ya, Melati. Aku ingin saat kamu tak ada jadwal pemotretan ,kamu bisa mengunjungi mama. Biar aku yang belikan tiket buatmu. Kamu tinggal ngomong aja kapan kamu mau datang. Aku dan mama mau kamu mengganggap kami sebagai keluargamu."


"Tapi aku nggak bisa , bang. Aku memiliki Rendra , setiap hari libur biasanya aku habisin buat bermain dengan Rendra"


"Kamu bisa bawa Rendra sekalian"


"Aku harus bicara dulu dengan Raka dan meminta izin Jino jika ingin membawanya, bang"


"Ya, kamu bisa bicarakan itu. Tapi aku mohon kamu mau mempertimbangkan ini. Mama seperti melihat Michelle didirimu. Ia ingin lebih dekat denganmu"


"Semirip apa aku dengan Michelle..."

__ADS_1


"Mirip banget..."


"Kenapa bisa mirip banget ya bang"


"Mungkin kamu memang ditakdirkan menjadi bagian dari keluarga kami. Kamu sudah tidak memiliki keluarga , jadi kamu bisa menganggap kami sebagai keluargamu. Mama pasti akan menyayangi kamu seperti ia menyayangi Michelle kami. Aku ingin saat kamu membutuhkan bantuan, aku orang pertama yang kamu hubungi dan aku orang pertama yang menolongmu"


"Abang...aku tak tau harus ngomong apa" ucap Melati menangis


"Kamu mau kan jadi adikku"


"Tentu saja bang, aku bahagia banget bisa memiliki keluarga. Aku tak menyangka, jika perkenalan kita membuat aku menjadi adikmu"


Kai menggenggam tangan Melati dan mengusapnya.


"Melati, aku menyayangi kamu seperti adikku sendiri. Aku harap Raka tidak salah paham nantinya. Aku tidak akan pernah mengganggu hubunganmu"


"Ya, bang. Aku harap Raka bisa mengerti"


"Aku yakin kamu memang adikku, Melati. Aku dapat merasakan ini. Aku juga bahagia banget jika kamu bisa hidup bersama kami"


Setelah selesai makan siang, Kai pamit. Ia akan kembali lagi ke Kuala Lumpur. Seminggu lagi Kai janji akan datang kembali ke Jakarta membawa mamanya.


Melati kembali ke agensi dengan hati bahagia.


.................


Satu minggu berlalu. Kai dan mamanya telah melakukan tes DNA dari rambut Melati yang dibawa Kai.


Hari ini Kai membawa hasil tes itu pada mamanya. Ia ingin membukanya bersama orang tuanya itu.


"Kita buka bareng ya, ma." ujar Kai dan membawa mama duduk di sofa ruang keluarga.


"Iya, Kai. Mama yakin benar Melati itu adikmu"


Kai membuka amplopnya. Dan membaca hasilnya berdua mama.


"Mama..." ucap Kai memeluk mamanya erat.


"Perasaan seorang ibu pasti benar. Dari awal melihat Melati mama sudah yakin jika ia putri mama"


Kai melihat hasilnya sekali lagi. Dan memang hasilnya akurat jika Melati adalah putri kandung ibunya.


"Kita harus bagaimana ,ma. Apakah Melati kita beritau sekarang"

__ADS_1


"Mama memang ingin secepatnya memberitau. Tapi mama juga takut jika Melati tidak siap menerima semua ini dan menjauh. Apa sebaiknya kita sembunyikan dulu ,sampai ia sudah sangat akrab dan dekat dengan kita baru kita katakan kebenarannya"


"Tapi aku yakin Melati bisa mengerti dengan keputusan mama. Dari yang aku lihat Melati wanita yang sangat baik, ma"


"Erik dan Mia mendidiknya dengan baik. Walaupun ia juga salah, karena telah mengambil Melati, tapi mama tetap bersyukur karena ia merawatnya dengan penuh kasih sayang"


"Aku besok akan ke Jakarta. Apa mama mau ikut"


"Kamu bawa aja Melati kesini , nak. Oh, ternyata Melati itu Richelle ku...." gumam mama


"Apa setelah Melati tau kebenarannya, mama akan merubah semua identitas Melati termasuk namanya dan nama orang tuanya"


"Mama tidak akan memaksa, Kai. Mama akan bertanya padanya, apakah akan tetap memakai nama Melati atau Richelle. Dan juga mama tidak akan memaksanya untuk mau tinggal bersama mama. Ia mau memaafkan mama aja udah udah lebih dari cukup"


"Itu memang lebih baik, ma. Jika kita terlalu menuntut, aku takut Melati menjadi tak nyaman bersama kita...."


"Kai, berarti Rendra cucu mama. Dan kamu tau kenapa Melati pisah dengan suaminya"


"Aku tak pernah tanyakan itu ma. Bukankah itu privasi. Tapi jika Melati telah tau jika aku abangnya, aku bisa bertanya hal pribadinya"


"Jika saja kita cepat bertemu Richelle mungkin nyawa Michelle bisa tertolong. Siapa tau sumsum tulang belakang Richelle cocok dengan Michelle...."


"Udahlah, ma. Jangan disesali lagi. Semua sudah menjadi takdir dari Tuhan. Melati hadir untuk menggantikan posisi Michelle"


"Tapi kasihan Richelle...ia tak pernah melihat wajah papa. Begitu juga papa yang tidak pernah melihat wajah Richelle sejak kami meniggalkannya"


"Sekarang aku mau mama jangan bersedih lagi. Sudah ada Melati putri mama...."


"Kamu pergilah besok. Jika ia libur, bawa kemari. Mama ingin memeluk dirinya" ucap mama


"Yang penting mama jangan bersedih lagi. Aku mau mama selalu tersenyum...." ujar Kai memeluk tubuh mamanya


"Aku akan bawa Melati kembali ke pelukan mama. Aku akan usahakan agar Melati bisa menerima mama dengan tulus. Dan aku harap tidak akan ada kesalah pahaman. Aku janji, akan lebih banyak menghabiskan waktuku bersama mama dan Melati saat ia telah memutuskan untuk hidup bersama kita nantinya".


.................


Sejak Raka dan Melati memutuskan untuk menjalin hubungan, Jino selalu saja mengurung dirinya. Sepulang kerja dari kantor ia akan kembali bekerja di ruang kerja yang ada dirumahnya.


Senyum Jino hanya akan tampak jika ia sedang bermain dengan Rendra. Jino melihat putranya yang sedang tidur pulas. Ia mengusap rambuat Rendra.


"Sayang, papi. Hanya kamu yang dapat menghibur papi saat ini, nak. Kamu segalanya bagi papi. Papi bersyukur kamu hadir dihidup papi. Jika bunda menikah dengan om Raka dan memiliki anak lagi, papi harap bunda bisa melepaskan hak asuh kamu untuk papi. Kita akan tinggal berdua saja. Papi akan membesarkan kamu dengan penuh kasih sayang. Tak akan papi biarkan kamu tersakiti dan terluka"


******************

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2