
Melati yang telah mengantuk memilih tidur di sofa yang ada di dalam kamar itu setelah ia melihat Raka yang juga telah tertidur dengan pulasnya.
Ia tidur meringkuk menahan dingin di dalam ruangan. Raka yang baru terbangun, melihat Melati yang terbaring.
Ia bangun sambil membawa tiang infus ke dekat sofa dimana Melati tidur. Raka menyelimuti tubuh Melati dengan selimut miliknya.
Ia berlutut dihadapan wajah Melati dan mengusapnya.
"Melati, aku sangat mencintaimu. Apakah cintaku akan terbalas suatu saat nanti...."
Raka mendekati wajahnya dan mengecup dahi Melati dengan lembut takut membangunkan wanita yang sangat ia cintai itu.
Melati membuka matanya dan kaget melihat wajah Raka yang tanpa jarak dari mukanya. Ia memandangi Raka yang masih mengecup dahinya.
"Raka..." lirih Melati
"Melati...." ucap Raka kaget.
"Maaf...." ucap Raka lagi.
"Kamu kenapa disini, kamu masih sakit. Sebaiknya kembali berbaring" ucap Melati
"Melati...aku sangat mencintaimu" lirih Raka.
Melati kaget mendengar ucapan Raka yang tiba tiba itu. Ia memandangi wajah Raka dengan intens. Melati tetap dalam posisi tidur. Jika ia bangun, pasti wajahnya dan Raka bertemu.
"Sejak pertama aku melihatmu, aku telah menyukaimu. Tapi aku tak berani mengatakannya karena kamu istri sepupuku. Dan aku juga tak mau jika kamu salah paham atas apa yang aku lakukan padamu. Aku takut kamu berpikir jika apa yang aku lakukan karena aku mencintaimu. Aku ikhlas Melati, aku tak pernah mengharapkan balasan dari perasaanku padamu"
"Raka, bisa kamu sedikit menjauh dulu. Aku mau duduk"
Raka berdiri dari posisinya dan duduk di sofa.
"Raka...aku tak bisa mengatakan apa yang aku rasakan saat ini. Kamu taukan, aku baru saja melewati masa pahit dalam hidupku. Saat ini aku belum mau terikat dalam satu hubungan."
"Aku mengerti, Melati. Aku tak mengharapkan balasan dari perasaanku ini. Aku juga tak memintamu menjawabnya sekarang. Aku hanya ingin kamu tau apa yang aku rasakan ini. Aku tak bisa memendamnya lagi. Tapi aku minta, kamu jangan berubah setelah tau perasaanku ini. Aku mohon, tetaplah seperti biasanya"
"Raka...aku senang bisa dicintai pria sebaik kamu. Wanita manapun pasti akan bahagia jika dicintai olehmu. Tapi untuk saat ini aku belum bisa membalasnya. Sebaiknya kita jalani dulu saja seperti biasa. Sambil memahami rasa yang ada dihati kita masing masing"
"Kamu nggak marah, Melati. Kamu nggak akan menjauhi aku setelah tau perasaanku..."
"Tak ada alasan aku untuk menjauhimu"
"Melati...boleh aku memelukmu sebentar saja"
Melati memandangi Raka cukup lama sebelum akhirnya ia mendekat dan memeluk Raka.
"Terima kasih, Melati. Karena hadir dalam hidupku..."
"Aku yang seharusnya berterima kasih karena kehadiranmu di dalam hidupku. Kamu seperti dewa penolong bagiku" ucap Melati sambil memeluk tubuh Raka
Melati melepaskan pelukannya setelah beberpa menit.
"Sekarang kamu harus kembali tidur, biar cepat pulih. Aku nggak mau lihat kamu sakit lagi"
"Iya, aku akan tetap sehat agar bisa melindungimu setiap saat"
"Raka, aku akan mencoba membuka hati ini untukmu. Aku menyayangimu, tapi untuk mencintaimu...saat ini aku belum berani. Aku masih takut untuk memulai hubungan yang serius. Aku juga ragu karena kamu adalah saudaranya Jino. Aku tak mau jika nanti kita berhubungan , akan terjadi kesalah pahaman antara keluargamu"
..........
__ADS_1
Setelah tiga hari di rawat, Raka kembali ke rumah. Melati dan supirnya datang menjemput.
Melati ikut mengantar sampai apartemennya. Ia meminta Raka istirahat sementara itu Melati membuat bubur.
Raka menonton televisi sambil menunggu Melati masak.
"Mau makan sekarang..." tanya Melati setelah bubur di masak.
"Boleh..."
Melati membawa semangkuk bubur dan segelas susu hangat.
"Mela, aku nggak suka susu..."
"Kamu harus mau minum susu mulai hari ini"
"Aku serius, Melati. Aku mual setiap minum susu. Kamu bisa meminta aku melakukan apa saja, asal jangan minum susu..."
"Udah...buat aku aja. Sekarang makan dulu"
Melati mengambil piring yang berisi bubur dan mulai menyuapi Raka.
"Aku bisa makan sendiri, Mela"
"Dulu waktu aku sakit, kamu juga suapin"
"Melati...jika kamu terlalu baik begini, akan sulit bagiku untuk menepis rasa cinta ini. Rasa ini pasti akan lebih mendalam"
Bunyi bel apartemen membuat Melati dan Raka kaget. Melati berdiri dan membuka pintu.
"Mama...mas Jino, masuklah"
"Melati...kamu disini" ucap Mama Jino
Mama memberikan Rendra. Jino dan mama masuk ke dalam apartemen Raka.
"Raka...kamu tuh selalu aja begini. Udah diomongin, makan itu jangan telat apa lagi kalau sampai lupa" omel mama Jino.
"Tante...duduklah dulu. Jangan ngomel langsung" ucap Raka sambil tersenyum.
Melati duduk disamping Raka. Jino hanya diam , entah apa yang ada dalam pikirannya.
"Om Raka, lihat Rendra makin gantengkan" ucap Melati mendekatkan Rendra pada Raka
"Iya, Rendra makin ganteng aja. Pasti juga makin pintar ya..."
Melati, Raka dan Rendra becanda, mereka seperti gambaran satu keluarga bahagia. Mama dan Jino hanya memperhatikan.
"Kamu tinggal sama tante aja , selama masa pemulihan"
"Aku udah sehat , tante. Besok juga udah bisa kerja"
"Jangan pekerjaan aja yang dipikirkan. Kamu masih harus istirahat. Dari pada kamu sendirian di sini. Kalau di rumah, tante masih bisa perhatiin kamu "
"Ada Melati..." ucap Raka
"Melati tinggal bersamamu" tanya mama Jino dengan kaget
"Bukan mama, aku akan datang pagi mengantarkan sarapan dan makan siang. Setelah pulang kerja aku datang buatkan makan malam"
__ADS_1
"Lebih baik kamu tinggal bersama kami. Nanti kalau Melati tetap mau memasak buat kamu ,bisa dirumah mama. Melati juga bisa sekalian melihat Rendra" ucap Jino
"Aku terserah Raka aja mas"
"Apa kamu tidak keberatan jika kerumah tante" gumam Raka
"Nggak apa, aku lebih tenang jika kerja nanti. Kamu nggak akan sendirian, ada mama"
"Baiklah, tante. Jika Melati nggak keberatan..."
"Kalau gitu aku siapin baju kamu dulu ya" ucap Melati
"Sini Rendra biar aku yang gendong"
Melati meletakkan Rendra ke dalam pangkuan Raka. Melati masuk ke kamar Raka dan menyiapkan pakaiannya.
"Kamu kelihatannya makin dekat dengan Melati. Kamu ada hubungan dengan Melati" ucap mama. Jino kaget mendengar apa yang mamanya tanyakan.
"Tante bisa aja. Hubungan kami masih seperti dulu. Melati aja yang memang baik, ia perhatian pada semua orang"
Melati keluar dengan satu tas yang berisi pakaian Raka. Jino berdiri mengambil tas dari tangan Melati.
"Sini biar aku yang bawa. Kamu gendong Rendra aja"
"Terima kasih, mas"
Melati mencuci piring kotor sebelum mereka meninggalkan apartemen.
Sampai di rumah mama Jino. Mereka semua berkumpul diruang keluarga sambil menonton televisi. Melati pamit pulang setelah ia menidurkan Rendra.
"Kamu tidur aja disini. Hari sudah malam" ucap Jino ketika Melati ingin pamit.
"Jino benar , Melati. Kamu tidur di sini aja"ucap Raka
"Aku nggak bawa pakaian, Raka..."
"Pagi kamu bisa pulang" ucap Raka lagi.
"Aku pulang aja. Nggak nyaman aku tidur dengan pakaian begini"
"Kalau memang kamu tetap ingin pulang, aku yang antar. Harus mau. Bahaya jika harus menggunakan taksi, sudah malam"
"Melati, memang sebaiknya kamu diantar. Aku juga kuatir jika kamu menggunakan taksi pulang"
"Baiklah, Raka. Mama ...Raka...aku pamit. Kamu besok mau aku buatkan sarapan apa" tanya Melati
"Nggak usah, Melati. Di sini aja aku sarapannya. Bibi pasti bisa buatkan"
"Kalau gitu. Aku besok kesini siang ya. Habis aku pemotretan. Aku ada jadwal pagi. Nanti aku masakin kamu di sini aja"
"Terima kasih, hati hati ya..."
"Iya, kamu harus istirahat"
"Kamu juga. Sampai apartemen langsung tidur" ucap Raka.
"Iya..."
Setelah mengucapkan itu Melati berjalan keluar dari rumah beriringan dengan Jino. Raka melihat kepergian mereka sampai hilang dari pandangannya.
__ADS_1
********************
Terima kasih