Melati (Istri Yang Tak Dianggap)

Melati (Istri Yang Tak Dianggap)
Bab Seratus Sebelas


__ADS_3

Melati dan Jino berjalan di lorong rumah sakit menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai paling atas rumah sakit tempat dimana Raka di rawat.


Sampai didepan kamar ruang rawatnya, Melati mengetuk pintu. Setelah terdengar sahutan dari dalam baru mereka membuka pintu dan melangkah masuk.


Tampak Raka yang sedang berbaring dengan tubuh yang sudah kurus dan wajah yang pucat.


Melati mencoba menahan air mata yang sudah menganak dipelupuk matanya agar tak jatuh.


Kimberley yang duduk di samping Raka tampak sedang menggenggam tangannya.


"Selamat siang, Raka" ucap Melati mendekat ke arah tempat tidur dengan didampingi Jino.


Tante Erma dan mama Jino melihat mereka dari tempat mereka duduk.


"Selamat siang" lirih Raka


"Bagaimana keadaanmu" ucap Melati, ia tak tau harus berkata apa.


"Seperti yang kamu lihat"


"Maaf, aku baru sempat melihatmu sekarang"


"Nggak apa, Mel. Aku juga minta maaf karena tak bisa menjenguk saat kamu lahiran"


"Jangan kamu pikirkan itu. Aku mengerti .... "


"Apa udah ada perkembangan, udah ada pendonor buatmu"


"Belum, mungkin emang takdirku begini. Aku sudah pasrah. Dan aku sudah siap kapanpun Tuhan memanggilku"


"Raka, kamu nggak boleh putus asa begitu. Kamu orang baik. Pasti akan ada pertolongan buatmu. Aku yakin itu" ucap Melati


"Siapa yang mau dengan sukarela mendonorjan ginjalnya walau dibayar mahal" gumam Raka


"Ada, aku yakin pasti akan ada orang yang bersedia mendonorkan ginjalnya"


"Semoga.... "


"Kamu dengarkan sayang, kamu harus optimis. Jangan menyerah. Pasti ada keajaiban itu. Tuhan pasti tidak akan memberi cobaan melebihi kemampuan umatnya. Jika saja aku bisa mendonorkan ginjalku, pasti sudah aku lakukan. Tapi dokter mengatakan jika ginjalnya juga tidak terlalu baik"


"Jika memang kamu bisa, aku juga tak menginginkan. Aku tak mau pendonor dari orang terdekat ataupun keluarga. Aku tak mau nanti keluarga yang telah mendonorkan ginjalnya akan merasakan sakit juga. Aku akan merasa bersalah seumur hidup jika itu terjadi"


Melati dan Jino pamit setelah cukup lama berbincang.


.............


Hari ini acara aqiqah putri Melati diadakan. Ia mengundang anak yatim piatu dari salah satu yayasan dimana Jino menjadi salah satu donaturnya.


Kai akhirnya bisa membawa Yuni calon istrinya untuk ikut. Melati tampak bahagia dikelilingi keluarga dan orang terdekat.


Putri Melati diberi nama NAURA ARASHYA. Tapi kebahagiaan keluarga Jino kurang lengkap karena saat ini Raka masih di rawat dan belum mendapatkan donor ginjal.

__ADS_1


Tante Erma dan Om Ratno yang menjaga Raka di rumah sakit. Keadaannya makin memburuk.


Kimberley tak berhenti menangis. Padahal pernikahan mereka telah direncanakan akan berlangsung tiga bulan lagi.


Putri kecil Melati yang dipanggil Naura tampak mencuri perhatian semua tamu. Ia sangat cantik.




"Bunda, adik Naura cantik" ucap Rendra mengecup pipi adiknya yang terlelap.


Naura tidak terganggu dengan keributan dan suara para tamu. Ia tetap memejamkan matanya.


"Rendra juga sangat tampan" ucap Melati mengusap pipi putranya.


Abang Kai dan Yuni mendekat ke arah Melati duduk.


"Lelap banget boboknya sicantik" ucap Yuni mengelus pipi Naura


"Iya, kak. Naura siang tidurnya lelap tapi malam begadang"


"Pantasan kamu sedikit kurusan, dek" ucap Kai


"Tapi nggak apa, bang. Aku menikmati semua proses ini. Nanti Kak Yuni juga pasti tau rasanya"


"Harus itu, Jino membantu kamu menjaga si kecilkan "


"Tentu kak, malahan mas Jino yang lebih sering begadang"


"Wah ... abang emang pria terbaik. Beruntung kak Yuni dapatkan abangku"


"Kamu salah, bukan kak Yuni yang beruntung dapatkan abang, tapi abang yang lebih beruntung bisa menjadi pendamping kak Yuni. Karena apa ... karena ia wanita tersabar yang pernah dekat dengan abang"


"Betul, bang"


"Abang kamu itu hanya ngegombal, Mela. Agar kak Yuni kegeeran"


"Betul loh, sayang" ucap Kai sambil nyengir


"Kamu libatkan, Mela. Ngomong sayangnya aja nggak tulus. Sambil nyengir "


"Kak Yuni, abang aku ini pemalu. Abang nyengir untuk menutupi malunya.


Melati, Kai dan Yuni berbincang dan bercanda. Kai senang Yuni bisa juga akrab dengan Melati.


Hingga sore acara aqiqah diadakan. Semua tamu undangan yang hadir diberi suvenir yang terdiri dsri handuk dan boneka.



....................

__ADS_1


Sudah dua hari sejak acara aqiqahnya Naura putri mereka. Abang Kai dan Kak Yuni juga telah kembali.


Pagi hari, Melati yang masih terlelap dalam tidurnya tidak mendengar suara tangisan Naura. Dari malam ia sedikit rewel.


Jino mengambilnya dari box bayi, dan menggendongnya berusaha membujuknya agar diam. Ia tau Melati pastilah sangat capek karena harus begadang.


Jino memegang dahi putrinya, terasa sedikit hangat. Ia menjadi sangat kuatir. Jino meletakkan Naura diatas ranjang dan membangunkan Melati.


"Sayang, bangun.... " ucap Jino sambil mengguncang pelan tubuh Melati


"Ya, mas. Ada apa"


"Naura badannya sedikit hangat " ucap Jino dengan cemas.


"Apa ... Naura sakit, mas"


"Mungkin, mas rasa dahinya hangat"


Melati duduk dan memegang dahi putrinya. Ia juga merasakan tubuh putrinya hangat.


"Iya, mas. Hangat suhu tubuhnya"


"Kita bawa ke rumah sakit aja"


"Aku bersihan badan sebentar, mas. Setelah itu baru pergi ke rumah sakit"


"Iya, sayang"


Setelah Melati selesai mandi dan berpakaian, ia mengganti pakaian Naura dan segera membawanya kerumah sakit.


Jino telah menghubungi dokter anaknya dan ketika sampai dirumah sakit, perawat meminta mereka langsung saja masuk.


Dokter lalu memeriksa suhu tubuh bayi Jino dan Melati.


"Bagaimana dok, apa sakit anak saya" ujar Jino dengan wajah kuatir.


"Sebenarnya bayi bapak Jino tidak sakit"


"Maksud dokter apa:


"Sebenarnya, demam adalah proses mekanisme tubuh yang sehat ketika menghalau penyakit. Bahkan boleh dibilang, demam berfungsi sebagai “alarm”  yang menunjukkan kalau tubuh sedang melakukan “perlawanan” terhadap adanya gangguan. Baik infeksi maupun perubahan lainnya.


Saat sel-sel darah menggempur penyakit, ada zat-zat kimia yang dilepas dalam aliran darah dan “berkelana” mengirim laporan ke otak. Laporan ini kemudian direspons dengan perintah agar tubuh mendongkrak suhunya. Alasannya? Agar menghambat perkembangbiakan penyakit serta merangsang pembuatan antibodi dalam tubuh." ucap dokter menjelaskan.


Setelah dokter menjelaskan, barulah Melati dan Jino lega. Mereka kuatir jika Naura mengidap suatu penyakit.


Ketika akan pulang, mereka sempatkan mampir ke ruang Raka. Tampak Raka yang makin kurus dan juga wajah yang sangat pucat.


Melati meminta tolong mama menggendong putrinya saat ia masuk keruang rawat Raka.


Melati dan Jino tampak sedih melihat keadaan kesehatan Raka yang makin memburuk.

__ADS_1


******************


Terima kasih


__ADS_2