Melati (Istri Yang Tak Dianggap)

Melati (Istri Yang Tak Dianggap)
Bab Seratus Satu


__ADS_3

Tak terasa kandungan Melati telah memasuki bulan keempat. Setelah mengetahui jenis kelamin calon bayinya, Jino berencana akan mengadakan syukuran atas kehamilan Melati.


Jino berencana akan mengundang anak yatim buat syukuran kehamilan Melati dan juga ulang tahun ke tiga Rendra.


Hari ini jadwal kontrol Melati. Jino sengaja meminta sekretarisnya untuk mengosongkan jadwalnya hingga siang hari.


Ia akan menemani Melati pergi kontrol. Jino duduk di balkon kamar sambil merokok. Melati belum bangun.



Melati terbangun karena merasakan hangatnya matahari pagi yang masuk mengenai tubuh. Ia melihat ke samping, tak ada Jino lagi.


Melati berjalan menuju balkon setelah melihat pintu penghubung antara balkon dengan kamarnya terbuka.


Ia berdiri melihat Jino yang asyik dengan rokok dimulutnya.



"Mas.... " panggil Melati


"Ada apa, sayang. Udah bangun ya"


"Kenapa nggak bangunkan aku. Kita mau kontrol kandunganku bukan"


"Mas lihat tidurmu masih nyenyak. Kasihan kalau dibangunkan"


"Mas merokok... "


"Hanya sesekali... "


"Itu tak baik buat kesehatan mas dan juga buat orang sekitar mas yang menghirup asap rokoknya"


Jino tersenyum dan mematikan api rokoknya dan membuang puntung rokok ke asbak. Ia mendekati Melati dan mengecup bibirnya.


"Mas bau rokok "


"Maaf, sayang... "


"Aku nggak mau lihat mas merokok lagi"


"Iya, mas akan mulai berhenti merokok. Lagipula mas cuma sesekali merokoknya. Udah mandi... "


"Emang mas liatnya gimana"


"Belum mandi sih, masih pakai baju tidur. Mandi yuk"


"Mas mandilah dulu, nanti setelah itu aku"


"Kita mandi bareng aja buat menghemat waktu"


"Bukan menghemat waktu yang ada tambah lama nantinya "


Jino langsung menggendong Melati dan membawanya masuk kamar mandi. Ia mendudukan Melati dicloset.


"Mas... aku nggak mau mandi bareng ya"


"Kenapa sayang... "


"Mas nanti rese...."


"Mas nggak akan ganggu, mandilah"


"Nggak... aku keluar aja. Mas mandi duluan... " ucap Melati. Belum sempat ia berdiri, pintu kamar mandi udah dikunci Jino dan kuncinya ia simpan.


"Mas... " teriak Melati

__ADS_1


"Mandilah... mas nggak akan ngerecokin"


Melati berdiri dari duduknya. Ia menggoda Jino dengan membuka piyama tidurnya. Saat ini hanya tersisa pakaian dalamnya.


Jino memandangi tubuh Melati tanpa kedip. Melati manahan rasa malunya. Walau ia sudah sering berhubungan dengan Jino, tapi baru kali ini ia yang memulai menggoda Jino.


Perlahan Jino mendekat, Melati mundur hingga menabrak dinding kamar mandi.


Jino dengan senyum smirk nya menggendong Melati dan memasukkan ke dalam bathtub.


"Kamu tak boleh menolak, kamu yang memulai menggodaku"


Ia lalu membuka seluruh kain yang melekat ditubuhnya dan juga tubuh Melati. Tangan Jino mulai nakal mengerayangi seluruh bagian sensitif ditubuh Melati.


Akhirnya Jino dapat memanjakan adik kecilnya di pagi hari. Setelah satu jam baru mereka selesai mandi.


..............


Melati memakai pakaiannya dengan wajah cemberut. Jino yang melihat itu memeluk tubuhnya dari belakang dan mengecup tengkuk istrinya itu.


"Jangan memulai lagi, mas. Aku capek... nggak cukup ya di kamar mandi tadi"


"Aku cuma mengecup.... "


Melati membalikkan tubuhnya menghadap Jino dengan wajah yang tetap masam.


"Mas tuh mesum banget. Lihat lebih dari satu jam mandinya"


"Kenapa... nggak ada yang harus dikerjakan pagi inikan"


"Perutku udah lapar banget mas... " ucap Melati dengan manjanya


Jino gemas melihat istrinya yang semakin manja sejak kehamilannya. Ia mengecup bibir Melati.


"Habis gemesin"


"Nggak bosan tiap waktu cium aja"


"Nggak akan pernah bosan, kalau bisa mas ingin mengecupmu terus"


"Sarapan lagi... anak mas udah minta makan nih"


Jino menunduk dan mengecup perut Melati. Ia mengusap perut istrinya.


"Maaf ya sayang... gara gara papi kamu jadi lapar" ucap Jino diperut Melati.


Jino lalu menggendong Melati dan membawanya menuju ruang makan.


"Mas... turunkan. Aku bisa jalan sendiri. Malu sama mama"


Jino tak menghiraukan ucapan Melati ia tetap menggendongnya. Melati yang mau menyembunyikan wajahnya di dada Jino.


"Bunda... kenapa" tanya Rendra yang sedang sarapan disuapin neneknya.


"Bunda udah lapar banget. Nggak kuat jalan" ucap Jino sambil tersenyum.


"Udah buruan sarapannya... " ujar mama.


"Ini gara gara mas Jino, ma"


"Kok gara gara mas... "


"Mas nggak bangunkan aku tadi. Udah tuh mas juga ganggu aku mandi"


Setelah mengucapkan itu, Melati melihat mamanya yang tersenyum akhirnya tersadar dengan perkataan dan ucapannya.

__ADS_1


"Udah sarapanlah. Kamu akan kontrol kandungan hari inikan" ucap mama lagi


"Iya , ma... "


"Ma... minggu depan abang Kai bisa datang ketika acara syukuran ulang tahun Rendra dan kehamilan Melati" ucap Jino


"Abang usahakan katanya"


"Aku nanti akan hubungi abang. Kalau abang nggak hadir, aku akan marah" ujar Melati


"Kalau kamu yang hubungi abang langsung, pasti ia akan usahakan datang." ucap mama lagi


"Sayang... lahap benar makannya. Bunda senang banget lihatnya"


Melati berdiri dan duduk sambil memangku putranya.


"Enak, bunda"


Melati mengecup seluruh bagian diwajah putranya.


"Udah, jangan dipangku Rendranya. Biar aja ia duduk di kursi. Perutmu udah mulai membesar, takut nanti menyakiti bayi dikandunganmu" ucap mama


"Mama benar, Mela. Rendra semakin besar, dan perutmu juga udah mulai membuncit. Mas takut nanti akan menyakiti calon adik Rendra"


"Tapi aku pengin pangku Rendra"


Jino menghela nafasnya, sejak kehamilannya selain manja Melati juga tampak sedikit keras kepala. Jino selalu memakluminya. Ia akan mengatakan pada dirinya sendiri, jika semua ini belum seberapa dengan pengorbanan Melati selama ini.


Apapun yang Melati inginkan, akan selalu dengan cepat Jino kabulkan. Ia membaca buku mengenai kehamilan, dimana hormon tubuh yang meningkat pada wanita hamil akan membuat perubahan sikap yang tak menentu. Terkadang senang dan dalam beberapa saat akan merasa sedih.


Jino selalu mempelajari tentang wanita hamil dan melahirkan. Ia selalu menyesali diri kenapa tak bisa mendampingi Melati saat kehamilan dan lahiran putranya Rendra dulu.


Setelah sarapan, Melati dan Jino pamit akan kontrol kandungan. Ia membawa Rendra sekalian. Mama juga diajak ikut. Tapi mama lebih memilih diam dirumah.


Jino akan membawa istri dan anaknya ke kantor setelah dari rumah sakit.


Melati sudah tak sabar ingin tau jenis kelamin bayinya. Bulan kemarin, bayi dalam kandungannya dalam keadaan sehat dan pertumbuhannya normal.


Rendra yang duduk di kursi belakang, asyik dengan tabletnya. Sepanjang perjalanan tangannya sibuk bermain dengan tab.


Sampai di halaman parkir rumah sakit, Melati muka pintu belakang.


"Sayang, sudah ya mainnya. Kita telah sampai"


"Sudah sampai, nda"


" Iya, sini tab nya bunda simpan"


"Biar Rendra mas gendong, Mela"


Melati lalu menyingkir dari pintu dan memberi jalan buat Jino menggendong Rendra.


Mereka berjalan di lorong rumah sakit menuju ruang praktik dokter. Perawat yang berjaga mempersilakan Melati dan Jino masuk.


*******************


Terima kasih.


Buat pembaca semua, aku akan memberi Pulsa senilai 10k , untuk lima orang yang bisa menebak jenis kelamin calon adik Rendra.


Aku akan mengundi bagi pembaca yang tebakannya benar. Dan akan aku umumkan pemenangnya di novel ini juga.


Mampir juga ya ke novel anak onlineku yang berjudul HAY PAK GURU karya susanti 31


__ADS_1


__ADS_2