Melati (Istri Yang Tak Dianggap)

Melati (Istri Yang Tak Dianggap)
Bab Empat puluh Tiga.


__ADS_3

Sabtu sore, Raka dan Melati sepakat ke rumah kediaman mama Jino buat bertemu Rendra.


Melati duduk dengan gelisah sepanjang perjalanan.


"Jika kamu belum siap ketemu Jino, kita bisa putar balik. Aku nanti tak bisa menemani kamu. Aku masih ada pertemuan" ucap Raka melihat ke arah Melati


"Jalan terus aja , Raka. Aku udah kangen banget bertemu Rendra..."


"Kamu yakin...."


"Iya, Raka. Dengan aku selalu menghindari mas Jino itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah."


"Baiklah jika kamu yakin"


Raka mengendarai mobilnya kembali menuju rumah mama Jino. Sampai dihalaman rumah, Raka kembali bertanya.


"Kamu siap , Mela"


"Aku siap , Raka"


Melati membuka pintu mobil, begitu juga Raka. Melati berjalan di belakang Raka ketika akan memasuki rumah Jino.


"Tante ada ,bi " ucap Raka dengan bibi yang membukakan pintu.


"Ada mas, di taman belakang bersama Rendra"


"Aku boleh langsung ke taman"


"Silakan, mas"


Raka diikuti Melati berjalan menuju taman belakang. Ternyata taman belakang saat ini telah dirubah menjadi tempat bermain Rendra. Banyak permainan tersedia.


"Selamat sore tante..." ucap Raka. Mama Jino membalikan badannya melihat siapa yang menyapa.


"Selamat sore, kamu ternyata Raka. Apa itu Melati" ucap Mama Jino melihat ke arah Melati.


"Selamat sore ,tante"


Mama Jino berdiri dari duduknya dan memeluk Melati sambil menangis.


"Melati, maaafkan mama...maafkan Jino. Mama nggak tau jika kamu menantuku juga"


"Tante nggak perlu minta maaf, nggak ada salah tante"


"Aku ini mama mertuamu. Jangan panggil tante. Kamu tambah cantik, nak" ucap mama mengusap pipi Melati.


Melati yang memakai tanktop dipadukan dengan celana jeans memang tampak sangat cantik dan ceria. Saat ini ia telah bisa berdandan.



"Iya , tante...eh mama"

__ADS_1


"Duduklah sini , dekat mama" ucap mama Jino meminta Melati duduk didekatnya.


"Mama , boleh aku menggendong Rendra"


"Tentu saja. Kamu tak perlu minta izin. Rendra putramu"


Melati melangkah mendekati Rendra yang berada dalam ayunan dan menggendongnya. Melati memeluk erat putranya dan mengecupnya berulang kali.


"Sayang, ini bunda nak. Bunda kangen..."


Melati terus saja mengecup seluruh bagian di wajah putranya.


"Tante, aku titip Melati. Aku ada keperluan. Aku harap Jino tak menyakitinya"


"Kamu jangan kuatir , Raka. Tante tak mungkin membiarkan Jino menyakiti Melati. Dan tante yakin Jino tak akan pernah menyakiti Melati lagi. Tante bisa jamin itu, karena Jino sudah menyadari kesalahannya"


"Baiklah tante, aku pamit. Melati aku pamit. Jika kamu telah selesai , hubungi aku"


"Baik Raka. Hati hati"


Mama Jino melihat interaksi antara Raka dan Melati dengan intens.


"Ada hubungan apa antara Melati dan Raka. Sepertinya Raka sangat perhatian dengan Melati. Apakah Raka menyukai Melati, itu sebabnya ia menyembunyikan Melati selama ini"


"Melati , mama benar benar minta maaf atas apa yang Jino lakukan padamu. Jino sebenarbya anak yang baik. Cuma sejak ia menikahi Nia sifatnya berubah. Karena ia terlalu mencintai istrinya menjadikan ia buta. Ia hanya bersikap lembut pada istrinya. Ia takut menyakiti istrinya. Sebenarnya Jino suami yang setia dan penyayang. Mama mengatakan ini tidak bermaksud agar kamu memaafkan Jino. Mama tau sikap Jino selama ini padamu sangat menyakitikan. Tapi bukankah manusia itu memang tempatnya khilaf, mama harap kamu bisa memaafkan salahnya Jino. Kalian telah memiliki anak, kenapa tidak mencoba memulai kembali dari awal"


"Mama, aku udah memaafkan mas Jino. Tapi bukan berarti aku melupakan semua yang telah ia lakukan padaku. Aku juga bukannya dendam, ma. Aku hanya ingin melindungi diriku aja. Aku belum bisa untuk memulai lagi bersama mas Jino. Lebih baik kita seperti ini. Rendra tetap anakku. Aku tak akan pernah melupakan itu. Kami masih bisa membesarkannya tanpa harus menikah lagi bukan...."


"Mama mengerti Melati, mungkin kamu masih butuh banyak waktu lagi buat bisa melupakan semuanya."


"Sayang, ngantuk ya. Ma, mana susu Rendra...biar aku buatkan susunya. Rendra sepertinya mengantuk"


"Ada di dapur. Masuk aja ya... tidurkan di dalam kamar aja"


Setelah membuatkan susu, mama Jino menunjukan kamar Rendra. Ia meninggalkan Melati berdua dengan Rendra. Mama Jino akan masak buat makan malam. Ia ingin Melati makan malam bersama.


"Sayang, bunda rasanya nggak percaya bisa memeluk kamu lagi nak. Bunda ingin membawamu, biar kita bisa hidup bersama terus. Kamu yang sabar ya sayang. Bunda akan cari uang yang banyak, agar nanti kamu tak seperti bunda. Kamu harus sukses dan sekolah yang tinggi biar pintar. Agar tak seorangpun bisa merendahkanmu"


Melati mengeloni putranya hingga Rendra tertidur. Melati tanpa sadar juga ikutan tertidur disamping Rendra.


Jino yang baru pulang, langsung menuju kamar putranya seperti biasanya. Jino kaget melihat ada wanita yang tidur membelakanginya bersama Rendra di ranjang.


Jino berjalan perlahan agar tak membangunkan. Ia makin kaget melihat wajah wanita itu.


"Melati, apakah ini benar kamu. Apa aku tidak sedang bermimpi. Kamu cantik banget ,Melati. Rasanya aku ingin memeluk tubuhmu"


Jino duduk ditepi ranjang memperhatikan Melati dan Rendra. Ia menitikan air mata.


"Melati, aku ingin bersamamu lagi. Apakah kamu mau menerima aku lagi. Aku rasanya ingin menghentikan waktu berputar, agar kamu tetap berada disini bersamaku selamanya...Melati, seandainya waktu dapat berputar kembali ku ingin menebus semua kesalahanku. Tak akan pernah aku menyakiti kamu. Tak akan aku biarkan air matamu mengalir karena aku. Melati...aku mau kamu memberikan aku satu kesempatan lagi untik membuktikan jika aku pantas menjadi pendampingmu"


Melati membuka matanya mendengar suara isak tangis. Ia memandangi Jino.

__ADS_1


"Melati, maafkan aku " lirih Jino


Melati bangun dari tidurnya. Ia duduk ditepi ranjang sisi yang lain.


Jino berlutut dihadapan Melati sambil menggenggam kedua tangannya.


"Melati, aku mohon padamu...maafkan aku. Aku tau salahku begitu besar padamu"


"Berdirilah mas. Kenapa kamu harus berlutut. Aku bukan Tuhan ataupun orang tuamu" ujar Melati


"Aku tak akan berdiri sebelum kamu memaafkan aku Melati"


"Aku sudah memaafkan kamu, mas. Jadi berdirilah..."


Jino melepaskan genggaman tangannya dengan Melati, ia berdiri dihadapan Melati saat ini.


"Apa benar kamu memaafkan aku, Melati"


"Ya, mas"


"Terima kasih , Melati"


"Tapi aku punya satu permintaan mas"


"Apa itu, Melati"


"Aku ingin kamu segera menanda tangani surat perceraian kita,mas. Agar status aku dan kamu jelas"


"Melati...aku tak bisa mengabulkan itu."


"Tapi mas , bagaimanapun kita sudah bercerai. Kamu sudah menjatuhkan talak padaku. Dan ada saksinya Raka. Jadi buat apa kamu tetap bertahan. Aku ingin surat perceraian itu hanya agar tidak ada tuntutan apapun nantinya"


"Melati...aku tak bisa. Kita bisa menikah secara resmi lagikan..."


"Aku tak mau menikah kembali denganmu ,mas"


"Kenapa ,Melati. Apa kamu takut aku menyakiti kamu lagi. Aku akan membuat surat perjanjian yang menyatakan jika aku memukulmu kamu bisa menuntut aku dan penjarakan aku."


"Tapi aku benar benar tak bisa ,mas. Aku masih selalu terbayang atas perbuatanmu. Aku yakin tak bisa tenang jika hidup bersamamu"


"Melati, aku akan buktikan padamu jika aku akan berubah. Aku akan buat kamu bisa melupakan semuanya"


"Lebih baik kita berpisah saja dulu mas. Beri aku waktu . Agar bisa meyakinkan hati kita kemana hati ini akan berlabuh. Jika kita memang ditakdirkan hidup bersama, pasti Tuhan akan mempertemukan kita kembali. Tapi aku minta... izinkan aku tetap bisa melihat Rendra ,mas"


"Kamu bisa melihat Rendra kapanpun kamu mau. Aku tak akan melarangnya..."


"Terima kasih, mas. Aku ingin Rendra tetap mendapatkan kasih sayang dari bunda dan papinya"


"Ya, Mela. Kamu datang saja jika kamu ingin bertemu Rendra"


"Tapi aku tetap tak akan mau berpisah , Melati. Akan aku buktikan padamu jika aku ini memang telah berubah dan pantas buatmu. Akan aku perjuangkan cinta ini. Aku tak akan menyerah mengejar dan meyakinkan kamu. Jika dulu aku memintamu jangan pernah jatuh cinta padaku, saat ini akan aku buat kamu bisa mencintaiku sepenuh hatimu...."

__ADS_1


*******************


Terima kasih


__ADS_2