Melati (Istri Yang Tak Dianggap)

Melati (Istri Yang Tak Dianggap)
Bab Enam puluh Satu


__ADS_3

Alex akhirnya memutuskan ia akan menemui Nia. Sehabis mandi ia langsung berangkat menuju Jakarta.


Alex menginap di hotel sebelum besok pagi mengunjungi Nia di rumah sakit.


"Nia, aku tak mau kita hidup bersama karena aku takut tak bisa membuatmu nyaman dan bertahan disampingku. Aku tidak memiliki apa apa yang bisa membuatmu tetap bertahan. Jino saja yang memiliki semua yang diimpikan pria tak juga mampu membuatmu jatuh cinta setelah lima tahun pernikahan kalian"


.............


Pagi hari setelah sarapan, Alex melajukan mobilnya menuju rumah sakit jiwa tempat Nia dirawat.


Perawat mengantarkan Alex menuju ruang rawatnya Nia. Tampak Nia yang sedang berdiri termenung dekat jendela, matanya memandang ke arah luar.


Alex masuk dan mengunci kamar seperti yang di minta perawat. Ia berjalan mendekat ke tempat Nia berdiri.


"Nia...." ucap Alex membuat Nia kaget dan membalikkan badannya menghadap Alex.


"Kenapa kau datang. Apa yang kau inginkan lagi. Kau sekarang puas karena telah membuatku hancur" teriak Nia


"Maafkan aku...."


"Apa kau pikir dengan kata maafmu semua akan kembali. Dasar bajing*n, jika kau tak pernah mencintaiku kenapa kau memberikan aku harapan" ucap Nia lagi sambil berteriak.


"Nia, kita bisa bicara baik baik. Tidak perlu berteriak"


"Aku benci kau. Jika aku diizinkan membunuh orang pertama yang akan ku bunuh itu adalah kau dan setelah itu Melati. Kalian berdua telah merampas kebahagiaanku. Kalian telah menghancurkan hidupku"


Nia makin mendekati Alex dan menarik bajunya lalu menamparnya keras.


"Apa kau datang ingin menertawai hidupku kini. Kau datang ingin melihat keterpurukanku" ucap Nia dan menangis histeris


"Nia...aku benar benar ingin minta maaf. Aku tak pernah menginginkan hidupmu hancur. Jika aku memilih mundur dari hidupmu karena aku sadar, jika aku tak bisa membahagiakanmu. Aku ini sudah tidak memiliki apa apa...."


"Aku tak menginginkan hartamu, Alex. Aku hanya kau ada di sampingku terus. Kamu lihat saat ini. Tak ada satupun orang yang mau menemaniku, mendengar semua keluh kesahku. Orang tuaku saja tak peduli. Padahal aku sudah mengatakan jika aku saat ini telah bercerai. Tapi mereka tetap tak peduli...."


"Nia...aku takut kamu tak bisa bertahan hidup denganku, karena aku ini hanyalah seorang karyawan biasa"


"Alex...aku mau mati saja rasanya. Aku tak mau hidup jika harus begini. Kenapa dokter itu tak membunuhku saja. Aku mau mati, Alex"


Nia terduduk dilantai sambil menangis. Alex berlutut dihadapan Nia dan memeluknya.


"Jangan bicara begitu, Nia. Jika kamu memang bisa hidup sederhana , mari kita coba hidup bersama. Kematian bukanlah solusi dari masalah yang kamu hadapi. Ingat ada Tuhan,ia tak akan menguji melebihi kemampuan"


Alex memeluk Nia dan mengusap punggungnya memberi ketenangan.

__ADS_1


"Baiklah Nia, sebagai penebus rasa bersalahku padamu, aku akan buat kamu kembali sembuh. Setelah pikiranmu kembali normal, kamu bisa rnenentukan sendiri. Mau tetap bersamaku atau pergi dari sisiku. Aku akan menerima apapun keputusan yang akan kamu ambil"


..................


Sudah seminggu berlalu, Nia sudah mulai bisa mengontrol emosinya. Alex selalu mengunjunginya. Nia telah diizinkan kembali ke rumah tapi tetap harus berkonsultasi dengan psikolog.


Hari ini Melati dan Raka akan ke Kuala Lumpur memenuhi undangan Kai. Kebetulan jadwal Melati dua hari ini kosong. Ia membawa Rendra sekalian.


Rendra berada dalam gendongan Raka, mereka telah sampai siang ini di Kuala Lumpur. Malam nanti pesta ulang tahun orang tuanya Kai. Melati meminta Raka menemaninya mencari kado sebelum mereka menuju hotel tempat menginap.


Rendra selalu tersenyum. Tampaknya ia senang dibawa jalan jalan. Setelah mendapatkan kado untuk hadiah ulang tahun mama Kai, berupa sebuah jam tangan wanita, Melati dan Raka mencari restauran buat mereka makan siang.


Melati menyuapi Raka makan dengan bubur yang ia bawa tadi. Ia memang sengaja membuat bubur ayam buat makan putranya. Rendra makan dengan lahapnya.


"Kamu suka ya masakan bunda, lahap banget makannya" ucap Raka sambil memegang tangan Rendra.


"Enak sayang masakan, bunda" ucap Melati.


"Nak...nak..." jawab Rendra.


"Besok bunda akan memasak terus buat kamu makan" ucap Melati sambil mengusap pipi Rendra



Mereka kembali sore harinya setelah berjalan jalan terlebih dahulu. Raka merental mobil dan sekalian supir untuk membawa mereka.


Sampai di kamar hotel Melati membaringkan tubuhnya dan Rendra. Ia menidurkan Rendra, setelah itu baru Melati mandi.


Raka juga beristirahat di kamarnya. Ia janji akan menjemput Melati jam tujuh malam menuju kediaman Kai.


Kai sudah beberapa menghubungi Melati memastikan jika ia akan datang.


Setelah mandi Melati ikut tidur disamping putranya. Masih ada waktu dua jam buatnya istirahat.


Jam enam Melati terbangun ketika merasakan Rendra yang naik ke atas tubuhnya.


Melati mengajak Rendra bercanda sebelum akhirnya ia memandikan Rendra. Setelah Rendra selesai mandi, giliran Melati yang mandi.


Ia berdandan untuk menghadiri pesta ulang tahun mama Kai. Tepat jam tujuh Raka mengetuk pintu kamar Melati.


Melati keluar sambil menggendong Rendra. Dengan baju warna biru metalik Melati tampak tambah cantik.


__ADS_1


Raka terpesona melihatnya, hingga ia terdiam tak bersuara.


"Raka, kenapa diam aja. Ayo kita berangkat."


"Eh..iya. Kamu cantik banget, Melati"


"Udah Raka. Jangan mulai gombalnya...."


"Kamu memang cantik, kok. Sini Rendra aku yang gendong"


Raka mengambil alih Rendra dari gendongan Melati. Mereka menuju mobil diparkiran. Supir telah menunggu mereka.


Raka memberi alamat yang diberikan Kai pada supir. Sampai di alamat tujuan tampak telah ramai dengan para tamu yang berdatangan.


Raka dan Melati masuk menuju ke tempat pedta berlangsung. Mereka mengedarkan pandangan mencari keberadaan Kai. Melati mencoba menghubungi Kai.


Kai juga mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Raka dan Melati. Setengah jam yang lalu Melati mengatakan jika ia telah hampir sampai.


Kai mendengar ponselnya berdering dan melihat nama Melati . Ia mengangkat dan menanyakan keberadaan Melati.


Setelah itu Kai menghampiri mereka. Tampak Raka dan Melati berdiri ditengah keramaian.


Kai melihat ke arah Raka yang menggendong Rendra.


"Apa ini putramu, Melati"


"Iya..."


"Cakep...seperti ibunya. Siapa namanya" ucap Kai. Raka mendengarnya sedikit cemburu.


"Terima kasih, om. Nama aku Rendra."


"Melati, nanti setelah acara pemotongan kue, aku akan bawa kamu ke hadapan mama. Pasti mama senang melihatmu. Aku harap kehadiranmu bisa membuat mama kembali tersenyum. Sejak kematian Michelle dan disusul papa mama selalu murung. Itu sebabnya aku mengadakan pesta ini buat menghibur mama"


"Ya, Kai. Aku ngikut kamu aja...."


"Ayo Raka, Melati ikut aku. Kasihan Rendra jika dibawa berdiri aja. Kamu juga pasti capek menggendongnya"


Kai membawa Raka dan Melati duduk dekat meja yang telah ia sediakan. Beberapa orang keluarga Kai memandang ke arah Melati. Mereka mungkin kaget melihat wajah Melati yang mirip dengan Michelle.


*********************


Terima kasih.....

__ADS_1


__ADS_2