
Tak terasa kehamilan Melati sudah memasuki bulan ke delapan. Jino lebih sering membawa pekerjaan ke rumah. Sejak pemeriksaan terakhir dokter mengatakan jika Melati akan melahirkan sekitar satu bulan lagi, Jino makin posesif. Dan ia juga menjadi suami yang siaga.
Ia akan ke kantor hingga siang hari. Ketika tiba waktu makan siang Jino akan kembali kerumahnya. Jika pekerjaan belum selesai ia akan meneruskan di rumah.
Jino telah berjanji tidak akan melewatkan saat Melati melahirkan buah hatinya yang sedang didalam kandungan Melati, seperti saat Rendra lahir dulu.
Jino dan Melati juga telah berkonsultasi dengan dokter kandungannya untuk dapat mengambil sel punca atau darah dari tali pusar bayinya untuk pengobatan penyakit Rendra.
Tengah malam Jino terbangun. Ia melihat Melati duduk bersandar di kepala tempat tidur.
Jino ikut bangun dan duduk disamping istrinya.
"Sayang, kenapa belum tidur. Ini udah tengah malamkan"
"Tadi udah tertidur, cuma terbangun karena perutku terasa sesak"
"Sakit.... "
"Nggak mas. Ini karena perutku udah membesar. Jadi tidur miring sulit, terlentang juga kadang terasa sesak"
"Apa dulu ketika hamil Rendra kamu juga begini"
"Tentu mas. Tapi nggak apa, kok. Sebentar lagi aku tidur kembali. Aku tadi terbangun juga karena mau pipis"
Jino memandangi Melati tanpa kedip. Dari sudut matanya keluar air mata yang membasahi pipinya.
"Mas... kenapa menangis" ucap Melati heran
"Maafkan mas" ucap Jino memeluk Melati
"Kenapa mas minta maaf. Aku nggak apa kok. Semua ibu yang hamil tua pasti merasakan ini. Dan aku menikmatinya sebagai proses kehamilan. Nggak semua wanita dapat merasakan nikmatnya kehamilan ini"
"Mas salah... " ucap Jino terisak, membuat Melati tambah kaget.
"Mas... aku udah katakan. Aku nggak apa apa. Mas kenapa menangis"
"Jika saja aku bisa memutar waktu kembali...aku ingin kembali ke waktu saat kamu hamil Rendra. Tak akan aku biarkan kamu menghadapi kehamilan seorang diri tanpa ada yang menemani. Aku bukan papi yang baik bagi Rendra. Waktu ia masih dalam kandunganmu, banyak waktu yang aku habiskan percuma. Aku tak menemani saat kamu ngidam, saat kamu sendirian karena nggak bisa terlelap karena kehamilan. Terutama aku tak bisa mendampingi saat kamu melahirkan Rendra"
"Mas... jangan mengungkit masa lalu. Semua tak akan mungkin dapat kembali. Yang penting mas telah menyadari kesalahan mas. Dan mas telah membuktikan jika mas telah berubah."
"Mela... jujutlah pada mas, apakah kamu saat ini bahagia hidup bersama mas. Apakah kamu mencintai mas... "
"Mas... apakah semua itu masih perlu jawaban. Apa semua perbuatan aku tak bisa menjawabnya"
__ADS_1
"Mas mau dengar langsung dari mulutmu"
"Aku sangat mencintai mas. Aku bahagia bisa menjadi istri mas saat ini. Aku dapat merasakan cinta yang mas berikan. Aku selalu berdoa jika cintaku dan cinta mas akan tetap dihati dan tak akan pernah berubah. Aku ingin selamanya bersama mas... "
"Mela... mas juga sangat mencintaimu. Jika suatu saat mas khilaf dan melakukan kesalahan, mas mohon... jangan pernah tinggalkan mas. Kamu bisa menghukum mas dengan cara apapun itu asal jangan pernah pergi dan meninggalkan mas.... "
"Mas... kita akan saling mengingatkan jika melakukan kesalahan "
"Iya, sayang.... " ucap Jino dan berpindah duduk ke dekat kaki Melati.
Jino meletakan kaki Melati diatas bantal dan mulai memijatnya.
"Bagaimana sayang, udah agak enakan"
"Udah... kita tidur lagi aja mas."
"Ayo, kamu udah ngantuk lagi .... "
"Iya, mas"
Jino membantu Melati membaringkan tubuhnya dan setelah itu ia ikut berbaring di samping Melati.
Jino mengusap perut Melati hingga istrinya tertidur. Setelah dilihatnya Melati terlelap barulah ia berusaha memejamkan matanya.
.............
Pagi hari Jino sarapan dengan Rendra. Saat ini ia telah mulai sekolah. Jino akan mrngantar putranya sambil ke kantor.
"Selamat pagi jagoan bunda. Udah sarapannya"
"Belum bunda... "
"Makan yang banyak ya... "
"Bunda nggak sekalian sarapan" ucap Jino
"Sebentar lagi, mas"
"Mama kapan kembali. Kamu udah dekat lahiran loh. Mas takut saat kamu lahiran nggak ada mama."
"Dua hari lagi mama akan datang bersama abang. Mama mau melamar kak Yuni dulu. Bukankah menurut perkiraan aku akan lahiran dua minggu lagi"
"Jadian juga abang sama Kak Yuni"
__ADS_1
"Mama memaksa dan merayu. Karena mama tau kak Yuni wanita yang baik dan pantas untuk mendampingi abang. Lagi pula abang juga telah mengenal kak Yuni dari dulunya"
"Semoga semua berjalan lancar. Kapan rencana pertunangannya"
"Abang dan mama berencana akan mengadakan acara pertunangan setelah aku melahirkan. Sekarang hanya melamar aja dulu "
"Memang sebaiknya setelah kamu melahirkan acaranya. Semoga saat itu Rendra telah sembuh dari penyakitnya"
"Semoga mas. Aku nggak sabar menanti saat Rendra divonis sembuh dari penyakitnya"
"Apapun akan aku lakukan buat kesembuhan Rendra "
Setelah sarapan Jino pamit akan mengantar Rendra ke sekolah sekalian ke kantor.
"Mas pamit... jika ada apa apa cepat hubungi mas. Mas cuma sampai siang di kantor. Pulang nanti kamu mau mas beliin apa"
"Aku nggak mau apa apa. Aku hanya mau mas dan Rendra selamat pergi dan pulang nanti "
"Mas akan berhati hati.... "
"Bunda... Enda pergi dulu" ucap Rendra dan menyalami Melati
"Hati hati sayang. Belajar yang rajin... biar tambah pintar" ucap Melati dan mengecup pipi putranya.
Jino lalu mengecup dahi Melati dan membungkuk untuk mengecup perut Melati.
"Sayang, papi dan kak Rendra berangkat dulu. Jagain bunda ya. Papi udah nggak sabar pengin bertemu dan melihat wajah cantikmu"
"Papi juga harus hati hati. Jangan ngebut"
"Iya, sayang" ucap Jino dan mengecup bibir Melati sebelum melangkah menuju mobilnya.
Ia mengendarai mobilnya dengan perlahan meninggalkan pekarangan rumah.
"Semoga kamu dan Rendra selalu dalam lindungan Tuhan."
Setelah mobil Jino hilang dari pandangannya, barulah Melati masuk ke dalam rumah.
********************
Terima kasih
Untuk Fania Nia dan Yuli Astuti, mohon kirim nomor ponselnya. Biar aku bisa kirim Pulsa sekalian semua pemenang kuis kemarin.
__ADS_1